Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Salah Prediksi


__ADS_3

"Pa, bayinya," ucap Jihan.


"Kenapa bayiku, Ma? Dia tidak apa-apa 'kan? Dia terlahir sempurna 'kan?" tanya Sahara. Walau masih lemas ia menanyakan itu karena takut anaknya kenapa-kenapa.


"Iya sayang, bayinya sehat, dia sempurna," jawab Jihan. Lalu ia menggunting tali pusar, dan setelah itu memberikan bayinya kepada Lastri. Wanita itu pun sedikit terkejut, tapi Jihan langsung meletakkan jari di bibirnya agar Lastri tetap diam dan tak mengatakan apa-apa.


Jihan kembali mengurus Sahara karena persalinan belum selesai, tak lama dari situ seorang bidan datang bersama Juan.


"Sayang," kata Juan saat tiba di sana. Juan melihat perut istrinya sudah rata, hatinya lebih tenang karena anaknya ternyata sudah lahir.


"Anakku," ucap Juan saat melihat seorang bayi yang baru saja selesai dibersihkan dan pakaikan baji oleh Lastri. Juan tak menghampiri bayi itu, ia lebih menemani istrinya lebih dulu karena masih ada yang belum keluar dari perut istrinya.


Bidan langsung mengambil alih Sahara dari ibunya, dan Jihan pun langsung menyingkir. "Kenapa tidak ke rumah sakit?" tanya bidan.


"Saya tidak tau anak saya mau melahirkan, Bu. Pas saya datang darah sudah bersimbah di lantai," terang Jihan. Darah sudah bersih di lantai karena dibersihkan oleh Mina.


Juan mencium istrinya, ia merasa bersalah karena tak ikut menemani istrinya yang tengah kesakitan. Melahirkan itu mempertaruhkan nyawa, Juan tak dapat membayangkan betapa kesakitan istrinya itu. Ia sampai menitikkan air mata saat melihat istrinya dibersihkan oleh bidan melalui kewanita*nnya. Tangan bidan itu masuk lewat lubang di bawah sana, Sahara sedikit meringis.


"Tapi ini bagus, tidak ada robek sedikit pun. Jadi tidak perlu dijahit" terang Bidan. "Ibu hebat bisa membantu putrinya melahirkan," sambung bidan pada Jihan.


Jihan hanya tersenyum, betapa was-wasnya ia saat tadi. Tapi bangga pada putrinya, Sahara cukup kuat. Bahkan putrinya tidak merengek mengeluh. Saharanya hanya berkata sudah tidak kuat menahan karena anaknya akan segera lahir.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah melahirkan anak yang sangat cantik," kata Juan.


"Wah, anaknya perempuan ya?" kata bidan. "Pasti cantik seperti Mamanya, mana bayinya?" tanyanya kemudian. Karena bidan akan memberikan suntikkan pertama pada bayi itu.


"Ini, Bu Bidan," kata Lastri. Bayi mungil itu sudah memakai pakaian lengkap.


Bidan pun menghampiri, lalu kembali membuka bedongan bayinya karena akan disuntik. Bidan itu terkejut saat melihat bayi yang katanya perempuan, tapi ini malah terlihat burung, pikirnya. "Apa mereka sangat menginginkan bayi perempuan? Sampai-sampai bayi lelaki itu dibilang cantik," gumamnya.


"Apa, Bu Bidan?" tanya Juan, ia mendengar penuturan bidan itu tapi kurang jelas hanya bayi lelaki yang ia dengar.


"Apa Bu Bidan sudah membantu persalinan yang lain?" tanya Juan kembali.


Bidan itu nampak menggelangkan kepala, karena ini bayi pertama yang ia tangani hari ini. "Maksud saya, apa kalian sangat menginginkan bayi perempuan?" tanyanya.


"Tidak terlalu, saya bagaimana dikasihnya saja," jawab Juan. Tapi pertanyaan bidan itu sedikit menyimpang baginya, merasa ada yang aneh ia pun menghampiri lebih dekat pada bayi yang tengah bertelanjang kembali. Juan menutup mulutnya rapat-rapat. Apa benar yang dilihatnya saat ini? Juan mengucek kedua matanya karena ingin lebih memastikan apa benar anaknya seorang perempuan.

__ADS_1


"Bapak yakin kalau anak Bapak perempuan?" tanya Bidan.


"I-iya, sa-saya yakin sekali, Bu. Terakhir USG bayinya perempuan, bahkan dari awal USG memang perempuan, tapi ini kok malah ..."


"Malah apa?" tanya Sahara ikut penasaran.


"Bayinya tampan, Bu. Bukan cantik," jawab Bidan.


"Tampan? Maksud Bu Bidaan? tanya Sahara.


"Bayinya laki-laki, Bu. Kenapa ini dipakaikan baju perempuan?" tanya bidan.


"Laki-laki?" ulang Sahara.


"Iya, Bu. Ini laki-laki, Ibu bisa lihat." Bidan itu mendekatkan bayi itu pada Sahara. Ia memang sangat menginginkan anaknya laki-laki, dan doanya terkabul.


"Serius, B?" tanya Sahara.


"Iya, lihat saja ini." Bidan itu memperlihatkan tubuh bayi itu pada Sahara.


Sahara tersenyum bahagia. Tapi tidak dengan Juan, ia bukan kecewa dengan kelahiran anaknya yang laki-laki. Masalahnya perlengkapan bayi semuanya adalah cewe.


"Itu sering terjadi, Pak. Itu bukan kesalahan dokter, mungkin layar monitor itu membentuk seperti jenis laki-laki bukan perempuan," jelas Bidan.


Tapi semua senang dengan kehadiran bayi mungil itu, wajahnya mendominan pada Juan. Hidung mancung bibir mungil dan alis yang sudah terlihat. Setelah bidan memberikan suntikkan, dan bidan pun sudah selesai mengurus Sahara. Wanita itu tidak perlu infus atau apa pun. Melahirkan normal akan lebih cepat pulih ketimbang sesar.


"Jadi siapa nama anak kita?" tanya Juan pada istrinya.


"Sarhan Ardinata Putra," jawab Juan.


Juan menggendong bayi itu, yang awal namanya Sarah kini menjadi Sarhan Ardinata Putra. Nama panggilan bayi itu adalah 'Han' Juan mendekatkan bayi itu pada Sahara dan ia mencium bayinya.


"Nama yang bagus, apa nama itu memang sudah disiapkan?" tanya Ardinata.


"Hmm, meski hasil USG perempuan, aku tetap menyiapkan nama itu. Entah kenapa serasa ada yang mengetuk hatiku bahwa aku harus menyiapkan namanya," jelas Sahara.


"Itulah ikatan batin seorang Ibu, tidak akan ada yang bisa mengalahkan perasaan Ibu," timpal Jihan. "Sini, Mama mau gendong."

__ADS_1


Juan mengalihkan bayi itu pada Jihan.


"Maaf, karena semuanya sudah selesai, saya pamit," ucap bidan itu. "Saya hanya akan memberi beberapa resep obat yang harus dibeli." Bidan itu menyodorkan selembar kertas pada Juan, dan pria itu mengambilnya.


"Terima kasih, Bu Bidan," ucap Juan.


"Iya, sama-sama. Saya permisi," ucap bidan itu.


Jihan yang mengantar bidan keluar, sementara yang lain berada di kamar bersama Sahara.


"Aku mau menghubungi Maya, aku mau suruh dia ganti ruangan kamar bayi kita," ucap Juan.


"Apa aku bilang, dulu 'kan aku pernah ngomong. Beli peralatan bayi nanti saja," ujar Sahara.


"Ya, 'kan aku hanya menyiapkan semua kebutuhan, aku percaya saja kalau anak kita itu perempuan," jawab Juan tak mau kalah.


"Sudah-sudah, ini sudah terlanjur kok. Kamu cepat suruh karyawanmu menggantinya," timpal Ardinata.


Juan langsung saja menghubungi Maya, dan ternyata gadis itu tengah menjemput Novan di Bandara, sehingga Juan langsung menyuruh Novan dan Maya kalau begitu.


***


"Novan, kita mampir ke toko bayi dulu ya," ucap Maya yang sudah bersama Novan di dalam mobil. Lalu Novan menoleh ke arah Nadien, seoalah meminta izin. Meski cape, Novan harus melakukan perintah sang bos.


Nadien hanya mengangguk, dan ia akan ikut menemani. Novan senang karena istrinya bisa mengerti. Suaminya itu tetap bawahan mantannya sehingga mau tak mau ia harus ikut.


"Kita ngapain ke toko baju bayi dulu? Bukannya semuanya sudah disiapkan?" tanya Novan.


"Semuanya salah," jawab Maya.


"Salah?" ulang Novan.


"Iya, salah prediksi. Anaknya laki-laki, bukan perempuan," jelas Maya.


Novan dan Nadien pun saling pandang tak percaya.


...----------------...

__ADS_1


Mampir di sini ya selagi nunggu, tapi aku usahakan update beberapa bab hari ini.



__ADS_2