Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Kedatangan Nadien


__ADS_3

"Kamu kenapa bengong?" tanya Sahara pada Novan. "Kamu tidak bilang mengenaiku pada nenek 'kan?" tanyanya lagi.


"Ti-tidak, aku hanya kepikiran dengan orang tadi penampilannya sangat mencurigakan," jawab Novan.


Juan pun jadi ikut berpikir, ia jadi terbayang-bayang akan dirinya juga Sahara. Ia harus lebih waspada karena kejadian kemarin. Mungkin benar apa kata Sahara, ia memang butuh pengawal untuk menjaganya juga keluarganya.


"Bagaimana? Kamu setuju tidak kalau Novan membantumu?" kata Sahara pada suaminya.


Juan melihat Novan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dari segi fisik terlihat sempurna, bahkan tubuhnya yang lumayan kekar masuk kriteria sebagai bodyguar. Akhirnya, Juan memasrahlan semuanya pada istrinya.


"Terserah kamu saja, tapi aku tetap akan menilainya layak atau tidaknya," ujar Juan.


"Layak? Maksudmu?" sungut Novan.


"Cara kerjamu, apa kamu cocok jadi pengawal pribadiku? Aku tidak mau salah mengambil keputusan." Juan masih curiga mengenai perasaan Novan kepada istrinya. Sahara cantik, berteman sejak dulu, apa iya tidak ada perasaan sedikit pun? pikirnya.


Ponsel Juan berdering.


"Ya, Maya. Ada apa? Apa?" Juan sangat terkejut mendengar penuturan Maya, dan ia putuskan untuk segera datang ke kantor.


"Ada apa?" tanya Sahara.


"Ada urusan di kantor, aku harus ke sana untuk menyelesaikannya. Novan, kamu jaga istriku." Rela atau tidak rela, akhirnya Juan menyuruh Novan untuk menjaga Sahara saat ini. Kesehatan istrinya lebih penting, ia takut ada orang yang berniat jahat karena menurutnya hidupnya sekarang bermasalah setelah berpisahnya dengan Nadien.


Apa lagi Sonia tidak bisa diremehkan, wanita itu datang saat dirinya lengah.


***


Juan keluar, disaat itu juga Nadien melihatnya. Ia sangat ingin bertemu dengan Sahara, meski tidak menyukainya ia tetap harus menemuinya karena takut mamanya bermasalah. Bagaimana pun Sahara terlibat dengan mamanya.


Nadien sedikit mengintip ke dalam, tapi ia melihat Sahara tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaninya saat itu. "Bagaimana aku bisa masuk? Aku takut mereka mengira aku akan berbuat jahat." Penampilan Nadien yang memang mencurigakan, ia berpenampilan seperti itu karena takut ada wartawan yang melihatnya.


Di dalam ruangan.

__ADS_1


"Sahara, sebenarnya kamu itu kenapa? Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit? Terus kenapa nenek Sahida tidak boleh tau soal ini?" tanya Novan.


Novan memang tidak tahu apa-apa, apa lagi dengan pernikahan Sahara yang terbilang sangat mendadak. Akhirnya, Sahara menceritakan semuanya termasuk mengenai Sonia yang menyuruhnya hingga akhirnya ia masuk perangkapnya sendiri.


"Oh ... Jadi begitu. Terus, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Novan mengenai Nadien.


"Tidak tau, tapi aku yakin dia pasti marah karena aku merebut Jua darinya."


"Ya, aku bisa membayangkan jadi dirinya, wajar kalau dia marah padamu. Sekarang sudah kapok 'kan dengan pekerjaanmu ini, hah? Dari dulu aku sudah pernah bilang jangan bermain api, tapi ini bukan salahmu juga sih. Kenapa Sonia jadi seperti ini? Bukankah dia yang menyuruhmu memisahkan mereka?"


"Ini semua salah paham, Sonia mengira Juan lelaki brengsek. Tapi nyatanya tidak, bahkan dia baik. Dia bertanggung jawab menurutku."


"Dan kamu jatuh cinta padanya, iya 'kan?"


Sedangkan Nadien mendengar semua perbincangan mereka. Hatinya sakit saat mendengarnya. Dengan mudahnya Juan melupakannya. Nadien melamun sampai-sampai ia tidak tahu bahwa Novan keluar dari ruangan itu. Nadien yang bersandar di pintu pun tubuhnya hampir terjatuh.


Untung, Novan sigap menangkap tubuhnya. Penutup kepala yang digunakan Nadien pun terlepas bahkan kacamatanya pun ikut terjatuh. Sahara melihat dan mengenali siapa wanita itu.


"Nadien," ucap Sahara.


"Sakit, lepaskan!' berontak Nadien.


"Tidak akan aku lepaskan, kamu mau menyakiti Sahara, 'kan? Yang salah itu ibumu, bukan Sahara." Novan semakin mencengkram tangan Nadien sehingga gadis itu semakin meringis.


"Novan, hentikan!" kata Sahara.


"Kedatanganmu hanya mengganggu, pergi sana!" usir Novan, lalu menghempaskan tubuh model cantik itu.


Nadien menyentuh pergelangan tangannya yang merah karena ulah Novan. Matanya menyorot tajam kepada lelaki kasar itu. "Beraninya hanya pada perempuan," gumamnya. Moodnya hancur, Nadien pun akhirnya pergi.


"Seharusnya kamu tidak kasar seperti itu, Novan. Bagaimana pun dia perempuan," kata Sahara.


"Dia itu mau menyakitimu, Sahara. Kalau ada apa-apa denganmu, suamimu pasti mencincangku."

__ADS_1


***


Nadien tak langsung pergi dari rumah sakit, ia malah pergi ke kantin rumah sakit. Memesan air dingin untuk mengompre lengannya yang merah. "Sakit sekali," gerutunya.


Saat Novan hendak keluar tadi karena akan pergi ke kantin untuk mencari buah segar semacam rujak untuk Sahara. Namun, ia melihat Nadien yang tengah mengompres lengannya. Melihat seperti itu Novan jadi kasihan, karena memang pada dasarnya Nadien tetap perempuan dan tidak seharusnya ia bersikap kasar seperti tadi.


Tiba-tiba saja Novan duduk di depan model cantik itu. Ia mendengar Nadien masih tetap mengoceh tidak jelas. Tanpa sadar, Nandien tidam tahu adanya Novan di sana, ia terlalu sibuk mengurus tangannya yang sakit.


"Lain kali jangan seperti maling," cetus Novan. Yang ia tahu Nadien sama jahatnya seperti ibunya karena alasannya cukup kuat bahwa Nadien pasti tidak terima begitu saja atas hubungannya yang berakhir bersama Juan.


"Kamu! Ngapain di sini? Buat mataku sepet saja." Nadien tak kalah ketus dari Novan. Novan salah paham akan keberadaannya. Salahnya, Novan tidak tahu siapa Nadien karena pria itu jarang menonton televisi.


Nadien hendak berdiri, namun ia melihat beberapa wartawan di sana sehingga ia kembali memakai kacamata serta masker dan penutup kepala. Lalu setelah itu pergi tanpa permisi kepada Novan.


"Dasar cewek aneh," ucapnya melihat kepergian Nadien.


***


"Ini." Novan memberikan pesanan untuk Sahara.


Saat mereka bersama dan bersendau gurau, Juan datang dan melihat becandaan mereka. Sahara terhibur adanya Novan di sana. Wajahnya langsung cemberut, Juan tidak percaya kepada Novan.


Juan terlihat lelah sekali, di kantor sedikit ada masalah mengenai prodak yang diluncurkan kemarin namun masih bisa teratasi. Dan Nadien masih terlibat kontrak prodak terbaru sehingga masih ada pekerjaan bahkan harus pergi ke luar kota bersama Nadien untuk mengenalkan prodaknya.


Juan kira, pekerjaan Nadien selesai hanya sampai di situ. Namun mereka harus mengadakan promosi pengenalan prodak terbarunya. Juan tidak bisa pergi meninggalkan Sahara dalam keadaan seperti ini.


"Apa ada masalah di kantor?" tanya Sahara.


"Kata Maya aku harus pergi kebeberapa kota bersama Nadien untuk mengenalkan prodak ke pasaran."


"Tapi kenapa harus bersamamu?" tanya Sahara.


"Manager Nadien ingin aku ikut, katanya agar promosi lancar. Ah, entalah pokoknya aku kurang paham masalah ini." Juan memang baru di bagian prodak kecantikkan, biasanya ini ditangani langsung oleh Ardinata.

__ADS_1


"Pergilah, Novan akan ikut bersamamu. Aku bisa menginap di rumah nenek disaat kamu pergi. Percayalah Novan bisa menjagamu dari gangguan siapa pun."


__ADS_2