
Keesokan paginya di kantor.
Novan sudah sampai lebih dulu dari pada Juan, ia sadar bahwa kemarin sudah membuat atasannya kerepotan. Kali ini, ia datang ke kantor bukan untuk bekerja, melainkan untuk meminta cuti karena ia dan istrinya akan mengadakan acara resepsi pernikahan.
Orang tua Nadien sudah sepakat untuk mengadakan acara tersebut. Terlebih dengan kandungan Nadien, mereka tidak ingin ada gosip mengenai kehamilan yang bisa menyebabkan orang-orang berpikir bahwa kehamilannya di luar nikah. Pernikahan mereka tak diketahui siapa pun selain orang-orang terdekat.
Dan tak lama, Juan pun datang dan langsung melihat Novan yang tengah duduk di ruangannya. "Aku kira kamu sudah bosan bekerja," celetuknya tiba-tiba.
"Kedatanganku kemari memang bukan untuk bekerja, aku mau minta cuti," jawab Novan.
"Apa? Cuti? Tidak bisa, tidak bisa! Sehari saja aku repot tidak ada kamu," jawab Juan.
"Kan masih ada Maya, aku cuti karena akan mengadakan resepsi pernikahan."
"Nanti saja tahun depan kalau mau resepsi, sekarang fokus saja pada kerjaan," kata Juan.
"Tidak bisa, keburu brojol nanti," ucap Novan.
"Brojol? Apanya yang brojol?" tanya Juan.
"Istriku sedang hamil dan aku mau mengadakan respsi untuk menghindari gosip."
"Wah, pintar juga kamu sekali tancap langsung hamil," ledek Juan.
"Jadi aku dapat cuti tidak?" tanya novan.
"Iya dapat, kapan acaranya?" tanya balik Juan.
"Lebih cepat lebih baik, aku maunya minggu ini. Soalnya minggu depan aku harus kembali ke Amerika, mungkin akan menetap di sana," jelas Novan.
Juan tidak bisa menahan kepergian lelaki itu, tugas Ardinata lebih berat, dan ia rasa Novan bisa memegang amanah itu. Terpaksa Juan kembali turun tangan mengenai pekerjaannya.
Novan bernapas lega karena sudah mengantongi surat izin. Ia pun beranjak karena harus menyiapkan semuanya dari sekarang. Bukan hanya dirinya yang sibuk, Sonia lebih sibuk karena mengurus surat undangan. Ia mengundang semua kolega suaminya.
Novan langsung pergi meninggalkan sang bos sendirian. Juan langsung saja bekerja pagi ini, ia tak ingin lagi ada keributan dengan istrinya. Cepat-cepat ia menyelesaikan pekerjaan karena ingin pulang lebih cepat.
__ADS_1
Hingga akhirnya, pekerjaan itu selesai. Juan bersiap-siap untuk segera pulang. Kini, bukan hanya istrinya yang menunggu kedatangannya. Ada baby Han yang ikut menunggu di sana. Juan memakai jas dan langsung menyambar kunci mobil yang terletak di atas meja.
***
Sahara tengah memangku anaknya, sejak tadi baby Han rewel. Bayi itu tidak mau minum susu formula karena sudah merasa enak minum ASI sang mama. Sahara tengah kesakitan dibagian putin*nya. Ujungnya lecet karena ini pertama kali ia menyusui.
"Ma, bagaimana ini? Ini aku sakit, Baby Han gak mau minum susu di botol," keluh Sahara.
"Pompa saja ya?" kata Jihan. "Eh, pompanya belum ada ya? Mama suruh Juan saja beli di apotik kalau begitu." Jihan langsung menghubungi putranya dan Juan langsung mengangkatnya karena dia tengah perjalan pulang.
"Ya, Ma," jawab Juan di sebrang sana.
"Beli pompa ASI di apotik sekarang, Baby Han tidak mau minum susu formula," kata Jihan.
Juan langsung memutar arah karena apotik sudah terlewati. Tak membutuhkan waktu lama baginya mendapatkan alat itu, setelah mendapatkannya ia langsung pulang.
Sahara dan Jihan masih menenangkan baby Han yang masih rewel, dan tak lama Juan pun tiba. Setibanya di hadapan istrinya, Sahara langsung ngomel karena merasa lama menunggu kedatangan suaminya. Setelah melahirkan, Sahara tak bisa mengontrol emosi, apa lagi sekarang tengah panik karena bayinya tidak menyusui.
"Lama banget sih, kamu kemana dulu? Beli beginian harusnya 'kan sebentar," omel Sahara.
"Maaf, ini aku sudah cepet. Tadi 'kan Mama nelponnya telat, apotik sudah lewat dan aku harus putar balik," jelas Juan. "Baby Han kenapa? Kenapa nangis terus? ASI-nya masih belum banyak ya?"
"Kamu sabar ya, jangan pancing emosi istrimu. Dulu juga Mama begitu, rasanya pengen marah-marah," ucap Jihan kepada Juan.
"Iya, Ma. Aku coba tenangin Baby Han, mana susu formulanya?" Juan hendak membawa anaknya ke kamar lain, ia tak ingin mengganggu istrinya yang tengah kesakitan.
Juan sudah berada di kamar lain, meski cape ia terus menenangkan anaknya. Juan berhasil membuat baby Han tenang malah tertidur dengan sangat nyenyak. Mungkin bayi itu lebih nyaman bersama papanya, bayi mungil itu merasakan hawa berbeda antara ibu dan ayahnya. Juan sabar, tidak seperti Sahara yang terkadang emosinya meletup-letup.
***
"Sakit, Ma." Sahara tengah memompa buah dadanya, ASI itu langsung dimasukkan ke dalam botol dan simpan rapat-rapat.
"Iya memang begitu rasanya, tapi nanti juga tidak kok. Kamu belum terbiasa saja memberi ASI, nanti tidak lecet lagi. Kamu terus biasakan baby Han menyusu ya? Mama tidak denger baby Han nangis lagi, suamimu sepertinya berhasil menenangkan baby Han," ucap Jihan. "Mama temui mereka dulu."
Bukan hanya Jihan yang pergi, Sahara pun ikut menyusul. Kedua wanita itu nampak tercengang melihat Juan dan baby Han. Pria-pria itu tengah tertidur. Baby Han tidur berada di pangkuan ayahnya. Posisi Juan duduk bersandar di sofa, baby Han terletak di kedua paha Juan beralaskan dengan bantal.
__ADS_1
Sahara jadi merasa bersalah karena tadi sudah membentak suaminya. Juan begitu sabar menyikapi sikapnya yang terkadang kasar.
"Lihat, mereka tidur. Kasihan suamimu, baru pulang sudah harus menjaga baby Han. Sebaiknya kita jangan ganggu mereka," ucap Jihan. "Ayok," ajaknya kemudian.
"Mama saja, aku mau bersama mereka," jawab Sahara.
"Baiklah, Mama bantu bi Lastri masak saja kalau begitu."
Sahara mulai mendekat ke arah suaminya. Pelan-pelan ia duduk di samping suaminya, menatap kedua wajah mereka secara bergantian.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu," bisik Sahara sambil membelai pipi suaminya. Lalu Juan pun membuka mata karena ia memang tidak tidur, ia hanya ingin beristirahat sejenak melepas lelahnya dengan memejamkan mata.
"Seharusnya aku yang minta maaf, karena anakku kamu jadi kesakitan," ucap Juan.
"Kamu tidak salah, aku saja yang manja."
"Masih sakit?" tanya soal buah dada istrinya.
"Sedikit, tapi kalau Baby Han menyusu rasanya tidak kuat, perih sekali."
"Kalau memang sakit jangan dipaksakan."
"Tapi Baby Han tidak mau susu botol."
"Kata siapa? Ini buktinya tidur nyenyak, kamu kurang sabar saja."
"Iya aku-nya kurang sabar, dan kamu suami paling sabar. Aku semakin kagum dan aku juga beruntung memiliki suami penyabar sepertimu." Sahara membelai pipi suaminya.
"Jangan pancing-pancing, aku masih puasa juga." Perkataan Juan membuat Sahara memukul lengan suaminya, dan mereka terkekeh bersama.
...----------------...
Rekomdasi hari ini, mampir di karya temanku juga yuk?
Judul : Ketika cinta benci dan rindu menyatu
__ADS_1
By : Santi Suki