Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Tiba-tiba Ngajak Nikah


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sesuai janji, Sahara mengajak suaminya ke dokter kandungan. Mereka sudah sampai ditujuan, Sahara tengah berbaring dan ada suster di sebelahnya yang sedang mengolesi gel di perut buncit itu. Juan tidak sabar ingin melihat hasilnya, anaknya itu perempuan atau laki-laki? Ia sendiri tidak mempermasalahkan jenis kelami* anaknya, yang penting lahir dalam keadaan sehat dan sempurna tanpa kekurangan apa pun.


"Bagaimana, Dok? Perempuan apa laki-laki?" Juan melihat layar monitor, tapi ia tidak begitu mengerti.


"Calon bayinya kayaknya perempuan nih," jawab Dokter.


Sahara tersenyum saat mendengarnya, bayi perempuan memang itu yang diinginkannya.


"Apa bayinya sehat, Dok?" tanya Juan.


"Bayinya sangat sehat banyak-banyak istirahat ya, Bu," pesan dokter.


"Pasti, Dok. Saya tidak mengizinkan melakukan pekerjaan berat, hanya sering ngeyel sedikit saja, Dok," sahut Juan.


"Ya, kalau hanya beraktivitas seperti pada wanita pada umumnya tidak apa-apa, Pak. Yang tidak boleh itu saat melakukan hubungan dengan gerakan yang terlalu heboh," jelas dokter.


Juan langsung terdiam karena semalam ia melakukan gaya sedikit brutal karena merasa istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Ia pikir sudah bisa melakukan gaya apa saja, ternyata tidak. Tapi mendengar kondisinya baik-baik saja ia menjadi lega dan tak lagi buat Sahara kelelahan di atas ranjang.


"Bapak mengerti 'kan apa yang saya maksud?" tanya dokter lagi.


"Iya, Dok. Saya mengerti, kapan periksa lagi?" tanyanya, Juan yang lebih ekstra menjaga istrinya, dari pola makan dan sebagainya ia semua yang menontrolnya. Juan meninggalkan perusahaan dan menyerahkan semuanya kepada Novan.


Hampir setengah jam mereka berkonsultasi, setelah semuanya merasa puas mereka pun undur diri karena masih ada yang mau periksa setelahnya. Saat Sahara dan Juan keluar, ada beberapa pasang mata yang melihat tidak suka kepada mereka karena mereka pasien yang paling lama berada di dalam.


"Dia pikir ini rumah sakit nenek moyangnya apa?" Ucap seorang suami yang tengah kesal karena mengantri. Hampir saja Juan terpancing.


"Sudah, jangan diladeinin. Dia kesal karena menunggu kita terlalu lama tadi di dalam," kata Sahara.


"Ya wajarlah lama, orang kita bayar lebih dari tarif kok. Karena aku ingin puas dengan hasil pemeriksaannya," tutur Juan sedikit emosi. "Apa mau langsung pulang?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Iya, kayaknya langsung pulang aja deh. Cuacanya sedikit mendung nih," jawab Sahara.


"Tidak mampir ke rokos perlengkapan bayi?'


"Masih lama, nanti saja. Aku mau istirahat, tidur siang kayaknya lebih menyenangkan."


"Oke, baiklah. Kita langsung pulang." Kali ini, Juan menggunakan jasa supir, tak hanya itu, ia juga memiliki dua orang asisten di rumahnya. Ini semua ia lakukan karena tak ingin istrinya pergi ke dapur walau hanya sekedar membuat susu.


Di dalam perjalanan, tiba-tiba ponsel milik Sahara berdering. "Mama," ucap Sahara saat melihat ID pemanggil. "Ya, Ma? Aku lagi di jalan, baru saja abis dari dokter."


"Oh syukurlah, Mama tadinya mau ingetin kamu soal itu. Ya sudah kalau begitu, Mama jadi lega. Bagaimana? Sehat 'kan?" tanya Jiham di sebrang sana.


"Sehat, Ma. Calon cucu mama perempuan," kata Sahara. Terdengar tawa bahagia di sebrang sana, akhirnya mereka pun menyudahi percakapan mereka. Lalu Sahara bersandar di dada bidang suaminya karena Juan menarik tubuhnya.


"Aku ingin kamu selalu happy, jadi kalau ada masalah jangan dipendam kamu curahkan semuanya," titahnya.


"Iya, aku ngerti. Aku juga akan meminta apa pun yang aku inginkan, tapi sepertinya calon anakmu baik sekali, aku tidak pernah ngidam yang aneh 'kan?"


Tapi itu semua ditolak oleh Sahara, ibu hamil itu lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar, dan ia masih kenyang. Kedua asisten itu melipir karena majikannya tidak membutuhkan sesuatu.


***


Di tempat lain.


Novan sedang mengadakan rapat mengenai keberangkatan Nadien ke luar negri, walau bagaimana pun ia ikut bertanggung jawab dengan kekasihnya. Kepergiannya kali ini cukup lama, yakni sebulan berada di Amerika. Ia juga berpikir, pergi bersama kekasih dalam keadaan waktu yang cukup lama ditambah akan keberadaannya di negri bebas.


"Apa aku nikahi saja dulu ya dengan cara akad nikah dulu?" gumam Novan melamun.


"Pak, Pak Novan ..." Maya melambaikan tangan di depan wajah Novan dan pria itu terkesiap.


"Oh iya, sampai di mana percakapannya?" Novan benar-benar tidak bisa konsentrasi meeting pagi ini. Mau tidak mau rapat dijeda, dan akan dilanjut nanti sore, Novan takut tidak konsentrasi lagi dan pikirannya malah buyar akan kepergiannya bersama Nadien.

__ADS_1


Novan menyudahi meeting, ia langsung saja menemui Nadien di ruang make-up dan langsung mendudukkan diri di samping kekasihnya.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Nadien.


"Kita 'kan mau ke luar negri dalam waktu yang cukup lama sekali, apa tidak sebaiknya kita menikah dulu?" tanya Novan.


Krik ... Krik ... Krik ...


Nadien terdiam, ada apa dengan kekasihnya itu? Kesambet? Tiba-tiba saja ngajak nikah? Apa dia sudah siap dengan semuanya? Sudah siap meyakinkan orang tuanya? pikirnya.


"Kok diam? Kamu meragukanku? Aku serius!"


"Bu-bukan maksudku, sudah bisa meyakinkan orang tuaku? Sudah ada keberanian mengatakan semuanya? Apa lagi soal mamaku!"


"Kita coba dulu ya? 'Kan kita bisa akad nikah dulu, terus sepulang dari Amerika nanti kita bisa buat resepsi, aku akan meyakinkan orang tuamu."


"Kok aku jadi gemetar gini sih, tiba-tiba saja kamu ngajak nikah gak ada hujan gak ada angin."


"Aku hanya ingin saat kita pergi lama status kita sudah halal, nanti apa kata ibuku? Dia bilang tunggu halal, terus pekerjaan kita bagaimana?


"Ah bilang aja kamu sudah kebelet, iyakan? Ibumu jadi kambing hitam."


"Kok gitu sih ngomongnya, aku serius tau!"


"Iya aku tau, tapi apa ini tidak mendadak? Keberangkatan kita satu minggu lagi, gimana caranya ngomong sama orang tuaku? Nanti mereka ngira aku sudah bunting karena nikah mendadak."


"Iya juga sih, gimana caranya ya? Kamu bantu ngomong dong sama orang tuamu, biar kedekatan kita gak jadi fitnah."


"Ah kamu aneh, jangan ngedadak gitu dong, lamar dulu kek apa kek, jangan langsung ajak nikah gitu. Aku jadi deg-degan gini kerja jadi gak fokus."


"Ya udah nanti pulang pas aku anter sekalian ngomong sama orang tuamu, aku harap mereka merestui, tapi aku janji akan buatkan resepsi paling meriah." Bukan hanya sekedar janji, Novan memang sudah ada bonus dari Juan maka dari itu ia beranai ngajak Nadien nikah.

__ADS_1


__ADS_2