
Juan tidak mendengarkan apa kata Sahara, ia terus menuju sofa dan meletakkan bantal lalu merebahkan tubuhnya di sana. Bukan tak percaya akan cinta, ia tak ingin sakit hati untuk yang kedua kali oleh perempuan meski Sahara istrinya tetap saja soal perasaan tidak bisa dipaksakan.
Sahara menghela napas, lalu menyusul suaminya dan berdiri tepat di depan Juan.
"Kenapa masih belum tidur?" tanya Juan.
"Geser, aku tidur di sini juga." Sahara ingin tidur dan dipeluk dari belakang, dielus perutnya sampai ia tertidur. Tapi Juan tidak peka akan hal itu, Sahara ingin kepekaan suaminya.
"Jangan tidur di sini, nanti punggungmu sakit. Di sini terlalu sempit," ujar Juan. Sahara tetap tidak peduli, wanita hamil itu ikut berbaring dan meringkuk membelakanginya di sofa. Juan pun ikut memiringkan tubuhnya karena sofa itu tidak muat ditempati oleh mereka. Takut Sahara terjatuh, ia langsung menghalanginya oleh tangan seraya memeluk.
"Bandel, nanti kamu jatuh," bisik Juan.
Sahara tidak ingin mendengar alasan suaminya yang jelas tangan itu kini sudah melingkar di perutnya. Dan Sahara ikut menyentuh tangan suaminya dan melenempelkan di bagian perut. Karena gengsi keduanya jadi keras kepala.
Juan pun akhirnya mengelus perut Sahara dengan lembut, dan Sahara tersenyum saat Juan melakukan apa yang diinginkannya. Juan memeluk dengan posisi dagunya menempel di pundak Sahara. Hembusan napas Juan menerpa pada bagian pinggir wajah istrinya. Aroma mint itu tercium oleh Sahara.
Dengan tubuh yang wangi sehabis mandi membuat Sahara nyaman dengan aromanya, bumil itu membalikkan posisi tidurnya, jadi mereka saling berhadapan. Sahara mendongakkan wajah dan Juan pun menolehkan wajah istrinya. Sahara terus menatap wajah suaminya sehingga Juan menjadi salah tingkah.
"Kenapa masih belum ngaku kalau kamu cinta padaku, kenapa tidak meyakinkanku dengan perasaanmu, hmm?" bisik Juan.
"Karena kamu belum membuka hatimu untuk wanita lain," jawab Sahara.
__ADS_1
"Kamu istriku, jadi tidak perlu bertanya kapan aku harus membuka hatiku untukmu aku juga tidak tau kenapa hidupku jadi begini, aku tidak berniat menyakiti siapa pun, Sahara. Aku rasa kamu tau sifatku seperti apa. Kamu juga tau perasaanku padamu 'kan? Ada tidak aku mengabaikanmu?"
"Iya, aku tau perasaanmu. Kamu juga baik padaku kamu bertanggung jawab tentang hidupku." Tanpa disadari, mereka menuntut kewajiban masing-masing. "Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku minta kamu lupakan dia. Aku dan anakmu masa depanmu." Setelah mengatakan itu, Sahara memeluk suaminya. Ia ingin rumah tangganya baik-baik saja meski tidak ada cinta untuk saat ini.
"Maafkan aku, Sahara. Terima kasih sudah mengerti aku. Tidurlah, tidak baik bagi kesehatanmu ini sudah malam." Juan pun membenamkan sebuah kecupan di kepala istrinya. Tak tega tidur di sofa ia Juan memindahkan istrinya dengan cara menggendongnya.
"Tidurlah bersamaku, bayimu ingin tidur bersama papanya," tutur Sahara manja.
Juan hanya tersenyum, sikap bumil itu terkadang tidak menentu. Lagi pun, ia belum tahu akan sikap Sahara yang sebenarnya. Bagaimana sifat aslinya, yang jelas wanita itu baik dan bertanggung jawab kepada neneknya yang menjadi tanggungannya.
Juan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Sahara memeluk dan Juan membalasnya. Akhirnya mereka tidur bersama, hanya tidur dan tidak terjadi sesuatu di antara mereka karena Juan ingat akan kata dokter yang tidak boleh melakukan hubungan suami istri.
Juan hanya menelan saliva melihat belahan dada itu, cahaya lampu temaram membuatnya semakin terbawa suasana. Desakan, dan dorongan yang kuat membuatnya ingin menyentuhnya.
Lakukan jika kamu menginginkannya, dia istrimu kata dokter juga boleh melakukannya asal dengan sangat lembut.
Juan menarik napas lalu memejamkan mata sejenak. Tangannya mulai terhuyun ingin menyentuh belahan yang memabukkan itu, perlahan tapi pasti, jarinya mulai menyentuhnya. Terus menerus menelan saliva. Jantungnya mulai berdegub tak beraturan, ini pertama kali ia melakukannya dengan kesadaran.
Lalu membenamkan wajah di belahan dada itu, mencium aromanya yang begitu memabukan. Andai Sahara tidak tertidur, mungkin ia tak akan berani karena gengsi yang terlalu besar. Munafik sekali bukan dengan tingkahnya yang sok jual mahal namun membuatnya tersiksa.
Sahara tidak terusik sehingga Juan terus melakukan aksinya. Tangannya mulai meraba ke belakang mencari pengait untuk melepas yang membuatnya kesusahan saat ingin melihat daging yang tak bertulang itu. Model pakaian Sahara membuat Juan dengan mudah melepasnya dari mulai mengeluarkan tali lewat tangan lalu menariknya dari arah depan.
__ADS_1
Gunung itu terlepas dari sangkarnya, karena Sahara sedang hamil ditambah lagi belum ada yang menjamahnya selain dirinya membuat bentuk gunung itu masih sangat bagus dan sekal. Kedua pu*ing itu sangat terlihat dari luar, bentuknya yang kecil tapi sangat menantang.
Lalu Sahara, wanita itu terjaga dari tidurnya. Ia merasakan saat ada yang menyentuh tubuhnya dari luar. Posisi Juan dengan wajah yang tepat berada di bagian dadanya. Sahara menyentuh kepala suaminya dan membenamkan kepala itu di belahan dadanya. Saat hamil seperti ini membuat hasratnya terpancing, Sahara butuh belaian.
Juan jadi sedikit malu akan tingkahnya, tapi ia senang ternyata Sahara juga menginginkannya. Wanita itu membenarkan perkataannya, Sahara akan membuat suaminya jatuh cinta padanya. Karena Sahara menarik kepalanya sehingga Juan pun tak ragu untuk mencium belahan dada itu, lalu menarik baju Sahara agar gunung itu benar-benar terlihat dengan sempurna. Perlahan mulutnya terarah pada pu*ing dan menghisapnya seperti bayi yang kehausan.
Tidak ada lelaki yang menolak itu, apa lagi melakukannya dengan istri sahnya.
"Ehmmm ...," Sahara bersuara, lenguhan itu membuat Juan semakin terbakar dengan hasratnya.
"Bolehkah aku melakukannya, Sahara?" Akhirnya permintaan itu lolos dari bibir Juan, ia tak dapat menahan gejolak hasratnya yang kini terpancing dengan kemolekan tubuh istrinya.
"Hmm, lakukanlah. Aku milikmu, aku istrimu," bisik Sahara. Sahara merasakan kenikmatan yang dilakukan oleh suaminya. Wanita mana yang tidak terbuai saat ada yang menyentuh bagian tubuhnya yang paling sensitif.
Medengar Sahara berkata demikian, Juan semakin lincah melanjutkan aksinya. Ia suka dengan bentuk tubuh Sahara, dan ia dapat meluapakan Nadien untuk yang pertama kalinya. Yang ada dalam pikirannya sekarang Sahara istrinya dan ia ingin melakukannya dengan penuh kesadaran.
Sahara menjambak rambut suaminya saat Juan terus menghisap kulitnya yang sensitif.
...****************...
Minta dukungannya gaes, kalian bisa kirim hadiah ya. Maaf menggantung🤭🤭🤭 biar tambah lancar beri otor semangat.🤣🤣🤣
__ADS_1