Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Mengikhlaskan Takdir


__ADS_3

Juan langsung menyusul istrinya karena Sahara tak mendengarkan perintahnya yang disuruh tidur kembali. Sahara menuju kamar neneknya, bumil itu langsung membuka pintu begitu saja karena pintu tidak dikunci.


Sahara terdiam sejenak setelah berhasil membuka pintunya. "Gak dikunci," ucapnya. Sahara berjalan dengan pelan karena takut mengganggu sang nenek yang tertidur dengan lelap. Wanita tua itu tengah meringkuk membelakangi, perlahan Sahara duduk di sisi ranjang sambil melihat neneknya.


Sahara meraih tangan Sahida, merabanya dan sedikit merema*. "Nek," panggilnya. "Tangan Nenek kok dingin?" sambungnya.


Juan yang mendengar terpaku di ambang pintu. Dingin apa maksudnya? pikirnya. Karena penasaran ia pun menghampiri.


"Nenek kedinginan ya? Aku selimuti Nenek ya?" ucap Sahara sambil bergetar. Tubuh itu tidak merespons, bahkan saat Sahara merubahkan neneknya langsung terlentang begitu saja. Tubuh itu terasa kaku.


Juan terkejut melihat wajah nenek Sahida yang pucat, ia bisa menebak apa yang terjadi pada nenek tua itu. Tapi Sahara menganggap tidak terjadi apa-apa pada neneknya. Juan mengecek napas nenek Sahida dari lubang hidung, lalu mengecek denyut nadi.


"Nenek kedinginan, tolong ambilkan selimut," titah Sahara pada suaminya. "Cepat! Ambil beberapa selimut yang tebal untuk, Nenek!" bentaknya, karena Juan diam saja.


"Sayang, Nenek ..."


"Diam-lah! Lakukan perintahku!" titahnya lagi sambil menangis. Sebenarnya Sahara sadar apa yang terjadi pada neneknya, dengan diamnya tubuh itu dan terbujur kaku. Sahara menyelimuti neneknya sambil menangis, tubuhnya pun bergetar. "Cepat ambil selimutnya!" teriaknya.


Juan pun segera berlari untuk mengambil beberapa selimut dan memberikannya pada istrinya. Dengan cepat, Sahara membalutkan selimut pada tubuh neneknya. "Masih kurang, tubuh Nenek masih dingin, lihatlah wajahnya juga pucat, apa kamu tidak kasihan padanya?" kata Sahara. Tak kuasa, ia menangis dan tubuhnya mulai merosot bersandar pada sisi ranjang.


Juan langsung berjongkok memeluk istrinya yang tengah menangis. "Sabar ya, Nenek sudah ..."


"Sudah apa? Nenek-ku baik-baik saja, dia hanya kedinginan!" pungkas Sahara.


"Tapi ..."


"Sudah ku bilang Nenek baik-baik saja, dia sedang tidur. Apa kurang jelas?!" ucapnya sambil terus menangis. "Nenek tidak mungkin meninggalkanku 'kan? Dia bilang akan menunggu cicitnya lahir, Nenek tidak bohong padaku 'kan?" tanyanya pada suaminya.


Juan terus mendekap, dan Sahara menangis sambil memukul dada bidang suaminya tanpa henti. Juan menenangkan istrinya. "Sabar ya, Nenek sudah tenang kamu jangan nangis terus, kita harus iklhas." Juan membenamkan sebuah kecupan di pucuk kepala istri.


Terdengar ribut-ribut dan suara tangisan membuat kedua asisten di rumah itu terbangun dan segera menghampiri.

__ADS_1


"Ibu kenapa, Pak?" tanya asisten bernama Rina.


"Iya, kenapa Ibu nangis?" tanya asisten satunya lagi bernama Mina. Mina melihat ke arah ranjang dan melihat tubuh nenek Sahida yang terbalut tebal oleh selimut. "Itu, Nenek kenapa? Nenek sakit? Demam? Kenapa tidak langsung dibawa ke dokter?" cerocosnya, karena Mina yang cukup dekat dengan nenek Sahida.


Juan meletakkan jari telunjuk di bibirnya menyuruh Mina untuk diam, karena ucapan Mina membuat Sahara semakin menangis. "Hubungi orang tuaku, dan suruh mereka kemari. Bilang saja kalau Nenek sudah ..."


Mina terperanga, menutup mulutnya karena ia pun berpikir bahwa sudah terjadi sesuatu pada nenek Sahida. "Nek," lirih Mina.


"Cepat hubungi orang tuaku!" titah Juan.


Mina segera berlari, dan Rina ikut menenangkan majikannya.


"Bu, sebaiknya jangan duduk di lantai. Tidak baik untuk kesehatan, Ibu," kata Rina.


Juan mengangkat tubuh istrinya dengan cara menggendongnya dan mendudukkannya di sofa di sudut ruang.


"Hubungi dokter, aku harus memastikan apa penyebab Nenek seperti ini," titah Juan pada Rina. Wanita itu mengangguk melakasanakan tugasnya.


***


"Ini sudah takdir, Tuan. Tidak terjadi apa-apa pada nenek," terang dokter. Memang tidak ada penyakit serius karena nenek Sahida memang sudah sembuh pasca operasi, hanya penyakit tua seperti gampang lelah yang dirasakan oleh Sahida.


Sahara masih menangis karena tak percaya bahwa neneknya akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Setelah hasil pemeriksaan, dokter pun undur diri.


***


Pagi pun tiba.


Ardinata dan Jihan sampai di Indonesia. Novan dan Nadien pun terpaksa harus kembali ke tanah air. Sahara duduk di depan jenazah, mendoakan neneknya yang telah tiada. Setibanya di rumah, Jihan langsung memeluk anaknya.


"Yang sabar ya, sayang," ucap Jihan.

__ADS_1


Sahara kembali menangis sesegukkan, Sahida yang merawatnya sejak kecil, mau tak mau harus rela ditinggalkan. "Nenek, Ma," ucap Sahara.


"Semua pasti kembali pada sang pencipta, kamu jangan menangis terus. Biarkan nenek pergi, ikhlaskan biar nenek tenang di sana." Ucap Jihan seraya mengelus punggung Sahara.


Jasad sudah dimandikan, dan siap untuk dikuburkan. Novan dan Nadien pun sampai. Kini jasad nenek Sahida akan di makamkan di TPU terdekat. Semua ikut mengantar ke tempat peristirahatan nenek Sahida. Juan membantu istrinya berjalan, karena bumil itu sudah sangat lelah sejak pukul 00.02 sudah menangis. Matanya sangat sembab, saat tiba di pemakaman dan selesai dikuburkan, Sahara jatuh pingsang.


Jihan panik karena takut kesehatan anaknya terganggu, wanita paruh baya itu pun akhirnya menangis tak kuasa melihat betapa lemahnya Sahara ditinggalkan oleh nenek sekaligus menjadi ibunya. Juan langsung membopong dan membawanya ke mobil untuk segera pulang.


Novan dan Nadien ikut khawatir dan merasa kasihan. Tak hanya itu, mereka juga harus kembali ke luar negri karena pekerjaan itu memang tak bisa ditinggalkan, untung acaranya akan dilaksanakan besok.


***


Sahara sudah sadar, ia tak ingin diganggu. Hanya foto Sahida yang selalu ada dalam dekapannya. Bahkan suaminya sendiri pun tak bisa apa-apa, hanya ikut menemani istrinya yang sendirian di dalam kamar.


"Pergilah, aku ingin sendiri," ucap Sahara.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, aku tetap akan di sini bersamamu," kata Juan. "Kamu belum makan dari pagi, makan dulu ya walau sedikit tidak apa-apa. Kasihan calon anak kita," bujuk suaminya.


"Aku tidak lapar, aku hanya ingin sendiri. Biarkan aku sendiri." Sahara terus menyeka air mata yang berjatuhan dengan sendirinya tanpa henti. Sedetik pun, Juan tak akan pergi meninggalkannya. Sekali pun istrinya mengusirnya


Tak lama dari situ, Jihan datang membawakan makanan serta susu juga vitamin untuk Sahara.


"Juan, kamu suapi ya, jangan biarkan istrimu mengosongkan perut."


Juan menerima nampan itu dari mamanya.


"Sayang, makan ya? Kamu harus pikirkan anak kita juga, kamu tidak sendiri anak kita butuh asupan." Juan menyodorkan sendok ke mulut istrinya.


Sahara pun membuka mulut, ia tidak boleh egois. Sesakit apa pun ia harus memikirkan anak dalam kandungannya. Juan pun memberikan susu setelah itu vitamin. "Sekarang istirahat ya, matamu sudah lelah. Ini sudah malam." Juan membantu istrinya merebahkan tubuhnya, lalu menyelimutinya. Sahara mencoba mengikhlaskan takdir dari yang maha kuasa.


...----------------...

__ADS_1


Mampir lagi di sini ya kawan-kawan, terima kasih sudah meluangkan waktunya. Mohon dukungannya ya🙏🙏



__ADS_2