
"Suster ...," teriak Juan setibanya di rumah sakit. Wajah cantik itu kini terlihat pucat, Juan merutuk perbuatannya. Andai ia tak menginginkan pertemuan dan bicara berdua kala itu, mungkin ini tidak akan terjadi.
"Aku tidak percaya kamu akan senekat ini, Nadien," gumam Juan, ia menyangka bahwa Nadien-lah yang menjebaknya. Juan membopong tubuh Sahara, lalu suster datang mendorong brankar ke arahnya. "Selamatkan istri saya, dia sedang mengandung," ucap Juan setelah merebahkan tubuh istrinya di atas brankar.
Suster mendorong brankar, dibantu oleh Juan. Namun langkah Juan terhenti kala brankar sampai di pintu UGD. "Maaf, Pak. Bapak tidak boleh masuk," kata suster.
"Tolong selamatkan istri saya, dia sedang hamil, dia mengalami pendarahan," terang Juan.
"Iya, Pak. Kami akan memberikan yang terbaik untuk pasien, silahkan urus administrasi," ucap suster, lalu menutup pintu UGD.
Juan merogoh saku celana, ia menghubungi Maya. "Ke rumah sakit sekarang!" titahnya, lalu kembali menutup ponselnya. Tak lama, Maya pun datanh dengan raut wajah bingung.
"Sedang apa Bapak di sini? Siapa yang sakit?" tanya Maya. Seingatnya, tadi siang atasannya itu bersama Nadien.
"Urus administrasi atas nama istriku," kata Juan.
"Apa yang terjadi dengan bu, Rara?" tanya Maya.
"Jangan banyak tanya, lakukan cepat!" bentak Juan hilang kendali. Isi kepalanya lagi runyam, ia tak bisa menahan kemarahannya. Selama ini tak pernah berprilaku buruk kepada siapa pun, apa lagi sampai mengusik ketenangan orang.
Manusia ada batas kesabaran, dan ini sudah keterlaluan, menurutnya. Sahara orang terpenting yang kini ada dalam hidupnya, nyawa istrinya pun sampai terancam karena masalah tidak jelas. Kenapa ada orang yang begitu tega kepadanya?
Beberapa menit kemudian, Maya datang setelah menyelesaikan administrasi. "Jaga di sini, aku mau pergi. Kabari aku jika ada sesuatu," ucap Juan.
__ADS_1
Maya hanya mengangguk dan tak berani bertanya. Baru kali ini ia melihat wajah atasannya yang begitu menyeramkan. Selama ini, Juan selalu berkata lembut dan sopan, kali ini Juan tak menunjukkan jati dirinya. Sudah cukup bersabar menyikapi apa yang terjadi. Hari ini, nyawa yang manjadi taruhannya. Ia tak akan memaafkan jika sesuatu terjadi pada istri dan calon anaknya.
***
Juan mengendarai mobilnya sendiri, ia akan menemui Nadien dan meminta penjelasan. Ia yakin kalau wanita itu tahu siapa yang sebenarnya ada di balik ini semua. Juan tahu bagaimana rasanya ada diposisi Nadien, bisa saja wanita itu nekat karena sakit hati.
Juan berniat menemui Nadien di apartemen, ia yakin kalau wanita itu ada di sana. Sesampainya di sana, Juan langsung menekan tombol kode pintu apartemen yang di tempati oleh Nadien, semoga kode itu belum diganti oleh wanita itu. Apartemen itu pemberian darinya. Tentu, Nadien tidak mengganti pasword pintu tersebut.
"Sudah ku duga, dia pasti tidak akan menggantinya," ucap Juan yang berpikir disengaja karena Nadien pikir ia akan datang menemuinya sewaktu-waktu.
Brak ...
Pintu terbuka, dan benar saja, Nadien berada di sana dan baru selesai mandi. Gadis itu sangat terkejut mendapati Juan di tempatnya. Nadien yang takut akan kejadian tadi siang langsung menyilangkan tangan di dada.
"Kenapa? Seharusnya kamu senang aku datang, tidak perlu repot-repot memberiku obat perangsang bukan?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan macam-macam kamu!"
"Jangan munafik, bukan kah ini yang kamu mau sejak dulu? Kamu ingin aku menyentuhmu 'kan? Harus ku bayar berapa tubuhmu?"
"Jangan asal bicara, kamu sudah gila ya?"
"Ya, aku sudah gila, Nadien. Bahkan mama-mu membeli wanita untuk aku tiduri, dan sekarang ibumu menyuruhmu untuk melakukan apa yang seperti istriku lakukan padaku waktu itu, hah? Apa yang mama-mu inginkan? Uang? Dengan cara mengobral tubuhmu padaku begitu?"
__ADS_1
Sepertinya Juan sudah salah paham ia kira apa yang terjadi adalah salah Nadien sepenuhnya. Tanpa ia tahu, Nadien pun tidak tahu apa-apa. Entah kenapa, Nadien pun merasa aneh dengan sikap mamanya yang begitu ambisius dengan keinginannya. Sonia begitu menginginkan menantu yang sempurna. Disaat sudah mendapatkannya ia membuangnya begitu saja. Sonia menilai orang selalu dari penampilannya.
Kesederhanaan Juan membuat mata Sonia buta. Tidak ada yang kurang satu pun dari sosok Juan Ardinata. Juan memiliki segalanya tanpa harus diperlihatkan kepada orang-orang. Itu hanya akan membawanya kepada orang-orang serakah seperti Sonia.
Juan mengambil sisi baiknya dari kejadian ini, sampai ia memiliki istri yang memandang siapa dirinya, dan wanita beruntung itu adalah Sahara, si gadis yang sudah tak memiliki orang tua.
"Berapa aku harus mengeluarkan uang agar mama-mu tak lagi merusak hidupku? Selama ini aku sudah cukup sabar, Nadien. Sampai kamu ikut membenciku karena ulah mama-mu sendiri."
Baru kali ini, Nadien melihat api di mata Juan. Mana pria yang selalu bersikap lembut padanya itu? Nadien sadar penuh dengan sikap Juan yang sperti ini, sekecilnya apa pun semut jika terinjak pasti menggigit.
"Maafkan mama-ku, Juan. Tapi kamu harus percaya bahwa aku tidak melakukan apa pun, aku tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi," bela Nadien. "Kita sudah lama saling kenal, begitu kamu kenal dengannya kamu melupakan aku begitu saja, kamu berpikir tidak berada diposisiku saat ini? Aku terluka, dan aku mencoba merelakanmu bersamanya." Tangis Nadien pecah dan tak terbendung lagi.
"Hatiku sakit saat mendengar kabar pernikahanmu, lalu dia hamil dan sekarang kamu menyalahkanku atas kejadian yang menimpamu, kamu pikir menjadi aku, Juan." Tubuh Nadien ambruk, akhirnya kepadihan yang ia rasakan tercurahkan kepada orang yang tepat.
Nadien kembali berdiri, ia memperlihatkan cengkraman Juan tadi siang. "Lihat ini." Tunjuk Nadien membuka jubah handuk di bagian bahu. "Cengkramanmu terlalu kuat sampai aku merasa sakit saat melepasnya, jika aku yang melakukan itu semua tidak mungkin aku menolaknya. Mungkin sudah terjadi sesuatu di antara kita. Saat istrimu datang, aku merasa ada Dewi yang menyelamatkan hidupku."
Juan terdiam mendengar penuturan Nadien.
"Jangan salahkanku jika terjadi sesuatu dengan istrimu, kamu lihat itu!" Nadien menunjuk sebuah koper yang sudah ia bawa pergi. "Apa kamu lupa saat aku menolek ajakanmu tadi? Gara-gara kamu aku ketinggalan pesawat, aku mencoba mengikhlaskanmu, Juan. Apa kamu masih berpikir ini semua salahku, hah?"
"Kamu selalu mengundur waktu saat aku meminta bertemu dengan orang tuamu, bahkan aku tidak tau kalau orang tuamu tidak menyukai gadis spertiku. Kamu tidak pernah memberiku kesempatan sampai aku merasa akhirnya aku tau jawabannya."
"Jawaban apa yang kamu tau?" tanya Juan.
__ADS_1
"Kita bukan jodoh, pergilah, aku sudah mengikhlaskanmu. Maafkan mamaku," lirih Nadien.