
Novan terus membolak-balikkan tubuhnya karena tak bisa memejamkan mata, belum lagi pertanyaan ibunya yang menanyakan soal Nadien. Ia belum bisa menjawab segerombolan pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Bahkan ia langsung pergi ke kamar dan langsung mengunci pintu karena ibunya terus memaksa sejak kapan mereka menjalin hubungan.
Sudah beberapa kali ia berpindah tempat namun tetap saja tidak bisa tidur. Jantung terus berpacu ingatan tentang Nadien tak bisa dilumpuhkan begitu saja. "Bangun Novan! Sadar! Kamu tidak pantas dengannya jangan berkhayal terlalu tinggi!" Novan menggaruk kepala dan menghempaskan tangannya ke udara.
Setelah sibuk dengan pemikirannya, akhirnya ia bisa memejamkan mata. Namun waktu terasa cepat berlalu, baru saja tidur dan hari sudah menunjukkan pagi. Novan mencoba mengubur kejadian semalam, anggap itu mimpi lagian kapan lagi dan di mana mereka akan bertemu? Dari dulu sampai sekarang ia tak pernah kemana-mana karena pekerjaannya hanya sebagai tukang servis motor itu pun hanya pekerja bukan pemilik bengkel itu.
***
"Kenalkan pada Ibu, siapa gadis itu!" desak Ranum.
"Bu, denger aku! Perbedaan kita terlalu jauh. Dia langit dan aku bumi, Ibu taukan maksudku? Sudah, lupakan dia, dia hanya sepintas dalam hidupku aku tidak mau bermimpi terlalu tinggi."
"Tapi kata, Rara-."
"Jangan dengarkan dia, Bu. Nasib ku tak seberuntung dia aku harus pergi dan bekerja. Aku mau fokus pada rumah ini, aku tidak mau rumah ini ambruk karena diterpa angin."
Juan sudah siap dengan motor bututnya, ia akan pergi ke bengkel tempatnya bekerja. Namun tiba-tiba ...
"Novan?" panggil Sahara.
Novan menoleh. "Ya, ada apa?"
"Mau kemana? Kenapa tidak pakai baju kantor? Kenapa berpenampilan jelek seperti itu?" tanya Sahara.
__ADS_1
"Kerja-lah, dari dulu pekerjaanku ya begini."
Sahara menghampiri. "Maksudmu bicara begitu apa? Suamiku memecatmu? Apa dia tidak menerimamu karena kamu pacaran sama mantannya?" Pikiran Sahara jadi ngelantur.
"Aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini, dan ini tidak ada kaitannya dengan itu. Aku sudah bilang aku tidak pacaran, ini salah paham. Sudah ah, aku mau kerja dulu." Novan menaiki motor lalu menyalakan mesinnya dan segera berlalu dari hadapan Sahara.
"Salah paham? Tapi suamiku bilang dia melihatnya berciuman." Sahara pikir Novan masih malu-malu.
***
"Bangun, ini sudah siang loh, Nadien? Kamu tidak berniat pergi dengan kekasihmu? Kamu kan libur seharusnya dia mengajakmu jalan-jalan." Sonia membuka gorden kamar anaknya.
Silau dari cahaya matahari membuat Nadien akhirnya terbangun dan langsung mendudukkan diri, menggeliat sambil meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Ia tak mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya karena nama Novan membuatnya ... Ah, entahlah sulit untuk dijabarkan seperti apa. Nadien belum bisa membuka hati pasca ditinggal nikah oleh Juan. Kata cinta itu nonsence.
"Jangan ikut campur urusanku, Ma. Belum cukup sampai aku kehilangan Juan? Apa Mama tidak mau aku mendapatkan jodoh? Lelaki mana pun akan kabur jika terus direcoki oleh calon mertuanya beri aku kebebasan sedikit saja untuk hidupku." Nadien turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi, walau pun ia akan pergi tentu tidak akan bersama Novan.
Nadien memang butuh liburan, dan ia akan pergi ke tempat yang indah seperti danau atau tempat yang membuatnya tenang. Ia inging melumpuhkan ingatannya tentang Juan Ardinata. Ia akan mengubur masa-masa itu dan mengganti dengan lembaran baru.
Beberapa jam kemudian, Nadien sudah siap. Ia akan pergi ke tempat yang paling disukainya. Pekerjaan yang sempat sibuk dan membuatnya lelah kini berakhir, ia mendapat masa cutinya dan akan dipergunakan dengan sebaik mungkin. Nadien pergi sendiri dan membawa mobil sendiri. Ia memutar sebuah lagu yang sedikit ngerock, dengan begitu ia dapat melupakan semua yang sudah terjadi.
Mobil yang dikendarainya sudah menjauh dari ibu kota bahkan sudah memasuki perkampungan. Danau yang didatanginya cukup jauh dari keramaian, tempat inilah yang cocok untuknya saat ini. Sayang, perjalanan masih jauh tapi tiba-tiba ... Mobil yang dikendarainya mogok di tengah jalan.
"Loh, kok berhenti sih?" Nadien kembali menyalakan mobil, namun tetap tak bisa. Nadien tidak begitu mengerti soal mesin yang bisa ia lakukan hanya menghubungi Rani.
__ADS_1
"Rani, tolong aku bubungi montir dan suruh datang ke sini aku butuh bantuan." Setelah percakapan itu selesai, Nadien mengetik sesuatu memberikan alamat di mana ia berada kepada Rani.
***
Novan sibuk dengan aktivitasnya seperti biasa, memperbaiki motor yang rusak. Terus menyibukkan diri padahal bayang-bayang Nadien sangat menjelma. Entah kenapa semenjak gadis itu mencuri ciuman pertamanya wajahnya selalu terbayang.
"Van, ada kerjaan," kata Jarwo si pemilik bengkel. "Ada mobil mogok di tengah jalan menuju danau kamu ke sana sekarang biarkan kerjaan di sini aku yang handle."
Novan mengangguk lalu segera pergi menuju lokasi yang memang tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Sebuah mobil berwarna putih memang terparkir tepat di tengah jalan. Novan bisa langsung menebak bahwa mobil itulah yang sedang mogok.
"Permisi, bisa saya bantu," ucap Novan.
Si pemillik mobil langsung menoleh karena posisi Novan datang dari arah belakang. Keduanya sangat terkejut saat mereka tahu. Nadien mau pun Novan berlaga tidak saling mengenal, Nadien masih malu dengan kejadian semalam sedangkan Novan sadar diri bahwa sampai kapan pun ia tak pantas bersanding dengan seorang wanita seperti Nadien Chandra Kirana.
Dunia terlalu sempit, baru semalam bertemu. Bahkan Novan tidak menyangka kalau mereka kembali dipertemukan. Novan mulai memeriksa mesin tersebut. Sedangkan Nadien menunggu Novan sampai selesai dengan pekerjaannya.
Hampir 1 jam Novan berkutat memperbaiki mobil. Sampai-sampai Nadien lama menunggu. Di sana terdapat bangku terbuat dari bambu gadis itu duduk dan menunggu di sana. Karena lama menunggi Nadien sampai ketiduran. Dan Novan pun selesai dengan pekerjaannya. Karena Nadien tidur, Novan tidak berani membangunkannya.
Novan menunggu Nadien sampai gadis itu terbagun dari tidurnya. Dunia benar-benar sempit baru semalam berpikir, bagaimana bisa bertemu lagi? Dan ini jawaban yang tak bisa dibantah. Nadien lama tak kunjung terbangun sampai langit berubah warna menjadi gelap karena mendung. Hujan tiba-tiba saja turun sontak membuat Novan langsung membopong tubuh Nadien dan memindahkannya ke dalam mobil.
Hujan turun dengan deras, Novan terjebak di dalam mobil bersama Nadien. Gadis itu pun sudah terbangun dan melihat hujan sehingga ia tak bisa mengusir Novan begitu saja. Rasa kemanusiaannya masih berjalan normal ditambah lagi Novan yang sudah membantu memperbaiki mobilnya.
__ADS_1
Keduanya masih saling terbata. Nadien menjadi diam seribu bahasa biasanya gadis itu cerewet dan tidak ingin dekat-dekat bersama Novan.Terjebak dalam derasnya hujan membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.