
Di dalam mobil, Novan sangat gelisah. Pasalnya ia tidak tahu akan kemana orang-orang ini akan membawanya, ditambah rencana apa yang akan terjadi. Jantungnya berdebar bahkan berkeringat dingin.
Nadien pun menyentuh tangannya dan itu terasa dingin sekali. "Kamu gak papa 'kan?" tanya Nadien pelan.
"Kaya mau dibawa ke hukuman pancung saja ini, sumpah aku tidak tau mereka siapa," jawab Novan berbisik.
"Udah kita ikuti saja alur cerita ini," kata Nadien lagi.
"Kalian ngomongin apa sih? Dari tadi bisik-bisik terus, apa rencanamu, Novan?" tanya Sonia.
"Ti-tidak ada, Ma," jawab Novan.
"Mama kenapa sih galak bener?" tanya Nadien.
"Bukannya galak, Mama penasaran aja sebenarnya kita itu mau kemana?" jawab Sonia.
Nadien menghela napas sejenak lalu berucap. "Kurang jelas apa kata mereka tadi? Kita itu mau ke rumah Novan, dan ibunya sudah menunggu kita. Bukankah Mama perlu bukti keseriusan Novan!" Nadien mencoba buat mamanya itu diam dan ia tidak ingin calon suaminya itu direndahkan meski meski sebenarnya dugaan ibu memang tidak pernah salah.
Mobil terus melaju, pemandangan di luar berubah menjadi pemandangan yang indah. Komplek yang didatangi oleh mereka ternyata perumahan elit, taman bunga yang bagus dan tersorot oleh lampu-lampu membuat warnanya terlihat. Sonia hanya melihat dari kaca jendela.
Sonia jadi penasaran, sebenarnya siapa sosok Novan ini? Pemuda ini masih misterius. Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah besar berwarna putih dengan pagar yang menjulang. Sonia yang melihat pun tercengang. Pintu gerbang terbuka dengan otomatis.
"Rumah siapa ini, Van?" tanya Sonia.
"Mama, ya ini rumahnya Novan-lah. Rumah siapa lagi?" jawab Nadien. Sonia tak bersuara lagi, bibirnya hanya bergerak melengkung ke bawah, lalu tiba-tiba para pelayan menyambut kedatangan Novan dan yang lainnya.
Para pelayan yag mengenakan seragam itu menunduk saat tamu keluar dari mobil, mereka hormat. Dan salah satu menghampiri, membuka jas yang dikenakan Novan.
"Malam Tuan, Nyonya besar sudah menunggu dari tadi," ucap pelayan.
Novan hanya mengangguk, lalu mereka semua mengikuti langkah para pelayan. Bi Ranum pun akhirnya berdiri dari tempat duduk mewahnya. Novan yang melihat tampilan ibunya tidak mengenalinya karena berubah drastis.
__ADS_1
"Ibu," panggil Nadien. "Ibu cantik sekali malam ini?" tanya Nadien menghampiri sambil cipika cipiki.
"Ibu?" ulang Novan cengo. "Betul itu Ibu?" Novan masih tak percaya.
"Calon besan sudah datang, mari silahkan duduk," ucap Ranum. "Van, kenapa kamu diam saja? Sini!" ajak ibunya.
Pak Chandra dan yang lainnya duduk di sofa empuk, bahkan kenyamanannya mengalahkan sofa Sonia yang berharga ratusan juta. Sonia menyentuh sofa, memastikan Novan itu orang kaya atau bukan? Bahan sofa itu sangat lembut sehingga Sonia bisa mentafsir berapa harga sofa tersebut. Setelah mereka duduk, para pelayan datang memberi jamuan. Meletakkan beberapa gelas minuman, Sonia langsung meminum minuman itu.
"Enak minumannya," batin Sonia. Ia melihat tampilan ibinya Novan, perhiasan yang dikenakan Ranum menyilaukan mata. Ingin sekali rasanya Sonia menyentuh kalung liontin bermata berlian itu. Dari sinarnya saja Sonia tahu bahwa itu barang asli, ia sering berkumpul dengan teman-teman arisannya dan membicarakan masalah berlian. Apa lagi, kalau yang dipakai Ranum adalah keluaran terbaru.
"Maaf, Nyonya. Makan malam sudah siap," ucap pelayan baru saja tiba.
"Iya, sebentar lagi kami kesana," jawab Ranum. "Nadien, ayok kita makan malam dulu," ajak Ranum kemudian.
"Iya, Bu." Nadien ikut berdiri karena ibu Novan sudah lebih dulu berdiri. Mereka semua mengikuti langkah Ranum.
Tibalah mereka di ruang makan. Meja makan itu sangat bagus, bahkan Sonia pun memang menginginkan meja makan seperti ini. Semua perabotan yang ada di rumah itu keluaran terbaru. Hidangan makan malam itu kalah dengan restoran mahal di luar sana.
"Ayo silahkan, jangan sungkan-sungkan," titah Ranum. Mereka pun makan malam bersama, orang tua Nadien menerima jamuan itu dengan bahagia, keinginan Sonia terkabul. Mendapatkan menantu orang kaya raya tidak hanya menjadi angan. Ia setuju sekali kalau Nadien menikah dengan Novan. Menikah malam ini pun ia rela dan akan merestuinya.
"Jadi begini," Ranum mulai membuka pembicaraan. "Saya menjemput kalian datang kemari memang ada hal yang saya mau bicarakan, berhubung anak kita sudah saling mencintai saya tidak mau menunda hubungan mereka lama-lama," tutur Ranum.
"Iya, saya mengerti," timpal pak Chandra.
"Sebentar lagi, Novan dan Nadien akan pergi ke Amerika soal kerjaan saya inginnya sebelum mereka berangkat kita nikahkan mereka, bagaimana? Ya, untuk menghalalkan menghindari yang tidak-tidak. Kalau sudah suami istri 'kan tenang mau pergi lama pun karena Nadien ada yang menjaga," jelas Ranum.
"Oh ... Begitu, saya bagaimana anak-anak saja, Jeng," sahut Sonia.
"Mereka sih sudah seneng karena Novan sudah membicarakan ini sebelumnya," kata Ranum.
"Ngomong-ngomong, papanya Novan kemana ya, Jeng?" tanya Sonia.
__ADS_1
"Ayah Novan sudah meninggal sejak Novan berumur 5 tahun," jawab Ranum.
"Oh maaf, saya tidak bermaksud-" ucap Sonia menggantung.
"Iya, tidak apa-apa. Lagian itu sudah lama sejali," pungkas Ranum. "Jadi kita sudah sepakat ya," kata Ranum.
"Iya, nikah sekarang pun tidak apa-apa," timpal Sonia.
"Untuk selarang seperrinya tidak ya, itu terlalu mendadak sekali, kami belum ada perlengkapan. Besok atau lusa mungkin," jawab Ranum.
Pak Chandra menyerahkan semua kepada istrinya, ia ngikut saja apa yang dibicarakan kedua wanita itu Karena sudah sepakat, Novan dan Nadien lega. Keduanya menghela napas. Lalu, Sonia dan keluarga pamit karena hari ssmakin larut.
"Jeng, kami permisi dulu ya, terima kasih jamuannya," pamit Sonia.
Novan dan Ranum mengantar mereka sampai depan rumah, mereka naik mobil yang sama. Lalu mobil pun melaju
Novan dan ibunya kembali masuk, di dalam Novan melihat keberadaan Sahara dan suaminya. "Kalian?"
"Iya kami, jangan kaget gitu ini semua rencana suamiku. Suamiku hebat 'kan?" bangga Sahara.
"Hebat, tapi bikin jantungku mau copot tau gak? Kenapa tidak bilang sebelumnya? Tau begitu aku ikut berakting. Tapi akting Ibu meyakinkan sekali," kata Novan.
"Demi rumah ini, Van. Ibu harus meyakinkan calon mertuamu yang mantre itu," sahut Ranum.
"Rumah ini?" ulang Novan.
"Iya, rumah ini jadi milikmu setelah kamu dan Nadien menikah. Jangan buat malu Ibuya? Kamu harus buktikan kalau kamu itu layak untuk Nadien."
"Iya, Bu. Terima kasih ya, Ra. Terima kasih juga padamu, Juan. Aku kira kamu todak sebaik ini sama aku," ucap Novan.
"Harusnya aku yang terima kasih padamu." Juan dan Novan berpelukkan untuk yang pertama kalinya. Dan ini berjalan sesuai rencana.
__ADS_1
...----------------...
Jangan luoa beri otor dukungan๐๐๐ terima kasih sebelumnya