
Di rumah sakit.
Novan dan Nadien baru sampai, mereka sudah tidak sabar untuk kabar bahagia ini. Semoga saja Nadien benar hamil dan melengkapi bahagia mereka. Sebelum ke rumah sakit, Novan memang sudah mendaftar lebih dulu sehingga mereka tak menunggu antrian, pas tiba nama Nadien langsung dipanggil.
Pasangan suami istri itu langsung masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan duduk," ucap dokter. "Mbak Nadien,ya?" Dokter itu mengenali model cantik itu.
"Dokter kenal? Dia istriku, Dok," ucap Novan bangga.
Dokter mengerutkan kening, setahunya Nadien belum menikah. "Mas jangan ngaku-ngaku, Mas itu hanya supirnya 'kan?" tanya dokter tak percaya.
Segitu tidak serasinya mereka sampai-sampai dokter itu mengira majikan dan supir? Novan terlihat cemberut dan hidungnya kembang kempis. Nadien yang melihat langsung menyentuh tangannya seolah meminta suaminya untuk bersabar.
"Dia memang suami saya, Dok. Kamu sudah menikah satu bulan lalu," jawab Nadien.
Dokter yang mendengar jadi merasa bersalah karena sudah mengatakan Novan hanya seorang supir. "Maaf," sesal dokter.
"Tidak apa-apa, Dok. Suami saya penyabar kok, iyakan sayang?" katanya pada Novan.
"Jadi, kedatangan Mbak Nadien mau konsultasi kehamilan atau mau periksa kandungan?" tanya dokter.
"Saya mau periksa, Dok. Kebetulan saya memang sudah telat datang bulan," jawab Nadien.
"Serius?" tanya Novan. Ia semakin yakin kalau istrinya pasti hamil. Novan terus tersenyum merekah.
"Baiklah, Mbak tespack dulu ya." Dokter memberikan alat tespack kepada model cantik. Dan Nadien menerimanya lalu pergi ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, Nadien muncul dan membawa alat tespack itu. Lalu memberikannya pada dokter. Nadien tak berani melihat karena takut hasilnya negatif. Tespack itu menunjukkan garis dua, satu yang warnanya jelas dan satunya lagi remang-remang. Novan melihat hasil itu.
"Kok warnanya yang satu lagi tidak jelas, Dok? Apa itu menandakan hasilnya negatif?" Belum apa-apa Novan sudah kecewa karena ia mengira itu tidak akurat.
Dokter nampak tersenyum, ia berpikir bahwa pasangan itu sangat menantikan buah cinta mereka. "Ini positif, Mas. Mbak Nadien sepertinya memang lagi hamil, kalau mau lebih jelas saya perikasa."
Nadien disuruh berbaring dan dokter mulai memeriksanya, menyentuh perut Nandien sambil menekan-nekannya secara pelan.
"Kenapa tidak pakai alat saja, Dok? Itu yang pagi gini-gini." Novan menirukan gaya dokter yang tengah memeriksa pake alat USG karena memang tidak tahu namanya Novan hanya memperagakannya.
__ADS_1
"Oh, USG," ucap dokter.
"Iya itu," sahut Novan.
"Hasilnya sudah positif, Mas. Diraba juga sudah kerasa kok, jadi tidak perlu USG," terang dokter. "Bulan depan ke sini lagi ya," sambungnya.
Nadien beranjak dari brankar dibantu oleh suaminya. "Jadi, kira-kira berapa usia kandungan istri saya, Dok?" tanya Novan.
"Sekitar dua minggu, kandungannya masih rentan ya, Mas. Jadi kalau bisa jangan dulu berhubungan, apa lagi dengan gaya yang terlalu berlebihan," jelas dokter.
"Baru tadi pagi kami melakukannya, Dok. Apa tidak apa-apa?" tanya Novan, lalu ia menadapat pukulan dari istrinya. Nadien nampak kesal, tidak seharusnya suaminya mengatakannya bukan? Bikin malu saja, pikirnya.
Dokter pun tersenyum melihat Nadien memukul suaminya. "Tidak apa-apa, tapi besok-besok jangan pake gaya yang aneh-aneh ya," ucap dokter.
***
Hari sudah larut. Sahara nampak menunggu kepulangan suaminya, tapi lelaki itu tak kunjung pulang bahkan seharusnya Juan sudah pulang sejak tadi.
"Apa dia marah? Apa aku telepon saja ya?" Sahara nampak gelisah, apa lagi mengingat kejadian tadi pagi. Sahara jadi menyesal karena sudah membuat suaminya pergi dalam keadaan kesal padanya.
Sahara menghubungi suaminya, namun tak kunjung dijawab. Sudah beberapa kali panggilan itu diabaikan. Sahara semakin kepikiran, tak biasanya suaminya mengabaikan telepon darinya. Lalu, ia pun menghubungi Novan untuk menanyakan suaminya. Jawaban Novan tidak memuaskan karena pria itu tidak ke kantor seharian.
"Kenapa Han menangis?" tanya Jihan setibanya di dalam kamar. "Juan mana? Apa dia belum pulang?" tanyanya kemudian.
Sahara menggelengkan kepala sebagai jawaban, lalu memberikan ASI-nya kepada anaknya. Baby Han sudah tidak rewel lagi karena bayi itu memang kehausan. Jihan menamani Sahara sampai anaknya tertidur.
"Mungkin suamimu sibuk di kantor, sudah coba hubungi dia?" tanya Jihan.
"Sudah, tapi tidak diangkat," jawab Sahara.
Tak lama, suara deruman mobil terdengar. Jihan pun mengintip dari jendela. "Itu suamimu sudah pulang, kalau begitu Mama ke kamar ya? Kamu istirhat yang cukup, kalau Baby Han rewel kamu bangunkan Mama ya?" ucap Jihan.
***
"Kenapa baru pulang? Kenapa panggilanku tidak dijawab? Kamu marah?" Deretan pertanyaan dilayangkan kepada suaminya yang baru saja tiba.
"Aku sibuk di kantor, Maya juga tidak masuk kerja," jawab Juan yang terdengar lelah. "Aku cape, aku mau mandi dulu." Tanpa menoleh Juan langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Kamu marah?" tanya Sahara lagi. Juan berhenti di ambang pintu.
"Tidak," jawab Juan singkat, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sahara menunggu suaminya kembali. Baby Han juga sudah tidur nyenyak. Beberpa saat kemudian, Juan muncul dengan wajah segar. Sahara segera menghampirinya.
"Maafkan aku," ucap Sahara tiba-tiba.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Juan.
"Soal tadi pagi, aku tidak bermaksud membela Novan," jelas Sahara.
"Aku tidak marah, aku hanya lelah karena seharian bekerja sendiri. Jangan beranggapan aku marah." Juan mengambil baju lalu memakainya. Dan Sahara masih setia mengikuti kemana pun suaminya pergi. "Tidurlah, biar aku yang jaga Han malam ini. Seharian kamu pasti cape jaga anak kita." Juan mengelus pipi istrinya lalu menciumnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Sahara melihat suaminya membuka pintu.
"Laper, karena sibuk aku belum makan," jawab Juan, setelah itu ia pergi karena memang kelaparan.
Sahara menyusul, demi menebus kesalahannya ia akan menemani suaminya makan. "Kenapa ikut ke sini? Apa kamu juga laper?" tanya Juan. "Kasian baby Han sendirian, aku bawakan makanan untukmu nanti, sekarang kembali saja ke kamar," titah Juan.
"Aku mau di sini saja, baby Han tidur nyenyak kok," sahut istrinya.
Sahara melayani suaminya makan, dan mereka hanya berdua malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 22.15. Dan makan pun selesai. Mereka sudah kembali ke kamar. Baby Han tidak tidur di kereta bayi, Juan membawa anaknya tidur bersama dan meletakkannya di tengah-tengah.
"Tidurlah, ini sudah larut sekali," titah Juan.
Tapi Sahara merasa ada yang ganjal, ia tetap mengira suaminya masih kesal soal kejadian tadi pagi. Namun begitu, ia nurut kepada suaminya karena memang sudah mengantuk dan ia pun tidur. Juan menatap wajah putranya lalu menciumnya.
"Anak Papa tidur yang nyenyak ya? Hari ini Papa sangat lelah, Papa ngantuk," ucap Juan seraya mengajak anaknya berbicara.
"Iya, Papa. Kalau Papa ngantuk tidur saja, ada Mama yang akan menjagaku," jawab Sahara menirukan suara anak kecil.
Juan yang mendengar pun menoleh dan tersenyum. Senyum itu membuat Sahara lebih tenang, senyum itu mewakili perasaan suaminya.
...----------------...
Selagi nunggu mampir di sini juga ya.
__ADS_1