
"Tapi permennya tinggal satu, aku juga mau," kata Novan.
"Belah dua saja," usul Nadien.
"Dikit dong kalau di belah, gini aja mau gak?" Novan mengupas permen lalu memasukkan permen ke dalam mulutnya. "Ini, gantian saja." Novan memberikan permen menggunakan mulut dan Nadien hanya melihat tanpa ekspresi. "Tidak mau ya? Apa jijik?"
"Jadi anak nurut saja sama orang tua," kata Nadien. "Mending beli dulu sana, aku tunggu di sini," titahnya.
"Di luar rame sekali, mau lewat aja susah acaranya belum selesai. Tunggu sampai selesai dulu ya?" kata Novan.
***
Jihan dan Sahara duduk berdampingan sambil menyaksikan pengajian yang diadakan oleh ibu-ibu pengajian setempat. Jihan juga menanyakan tentang Nadien yang menjadi pacar Novan saat ini.
"Pacarnya Novan itu gadis yang kemarin datang saat pertama kita bertemu 'kan?" tanya Jihan.
Sahara seraya berpikir, karena ia tidak tahu kalau pacar Novan sudah datang.
"Ituloh yang pas kita ketemu di restoran," kata Jihan lagi.
"Nadien? Emang dia sudah datang?" tanyanya. Jihan mengangguk. "Itu ceritanya panjang sebenernya, Ma. Sebenernya itu tuh aku yang salah," jelas Sahara.
"Maksudnya?" Jihan kurang faham dengan apa yang diucapkan anaknya. Sahara pun tidak akan berani cerita kalau dia hanya sekedar jadi menantu. Berhubung Jihan ibu kandungnya, ia akan menceritakan yang sebenarnya kepada ibunya itu, dari awal mereka bertemu sampai menikah.
"Nanti aku cerita, tapi tidak sekarang," kata Sahara. Mereka pun kembali fokus dengan pengajian, hingga beberapa saat semua acara selesai. Juan dan papanya ada di tempat berbeda, ibu-ibu dan bapak-bapak di tempatkan di tempat berbeda. Setelah semuanya selesai, para tamu yang datang serta ibu penagjian pun undur diri satu persatu.
"Terima kasih semuanya ya, Ibu-ibu," ucap Jihan
"Iya, sama-sama. Terima kasih jamuannya," sahut ibu-ibu sebelum pulang.
__ADS_1
Bi Ranum masih sibuk membantu membereskan, sekalian ia bekerja diacara empat bulanan Sahara. Karena sudah mulai sepi, Novan dan Nadien pun keluar.
"Dari mana saja? Kenapa baru muncul?" tanya Juan.
"Apa baru muncul, kita dari tadi sudah ada di sini kamu saja yang tidak tau," jawab Novan.
"Novan, kalau bicara itu yang sopan. Nak Juan itu atasanmu," hadrik Ranum.
"Itu kalau di kantor, Bu. Sekarang bukan jam kantor, dia suami Rara, dan Rara itu sahabatku. Jadi hubungan kami ya seperti teman saja kalau di rumah." Novan membela diri, karena saat bekerja Juan pun selalu semena-mena terhadapnya.
"Ya, ampun ... Anak siapa sih kamu ini?" kesal Ranum.
"Ya anak Ibu-lah, terus anak siapa?" tanya Novan.
"Ish ... Jangan begitu," timpal Nadien.
"Dari dulu kamu tidak berubah, Num. Selalu saja bertengkar masalah sepele, dulu sama saudaramu sekarang sama anakmu," timpal Jihan.
Kejadian itu mereka anggap hanya sepintasan saja, tidak ada yang serius. Bahkan sikap Juan dan Novan sudah terbiasa jadi pertengkaran itu tidak akan lama. Mereka akan serius jika mengenai pekerjaan. Nadien yang melihat keakraban mereka jadi rindu kepada orang tuannya. Sikap Sonia pun kini berubah jadi lebih baik, tidak mengkekangnya dan itu semua berkat Novan.
Biar kata ibunya jelek tapi kata Nadien Novan segalanya sekarang. Pria itu memberi warna dalam hidupnya, tak lagi memandang siapa yang akan menjadi pendampingnya tutur kata Novan berubah setelah mereka saling terbuka dengan perasaan masing-masing. Tidak saat diawal bertemu, mereka sering bertengkar. Dan sekarang semua berubah menjadi candaan.
Tiba-tiba saja, Novan berlutut di depan semua orang. Nadien tidak menyangka apa yang dilakukan pria petakilan itu. Novan mengulurkan tangan seraya menadah dan meminta tangan kekasihnya. Semua orang yang ada di sana pun terus melihat aksi Novan.
"Aku mau kamu jadi istriku, apa kamu sedia menjadi Ibu dari anak-anakku?" tanya Novan.
Nadien tidak percaya, apa kekasihnya itu melamarnya? Ia pun menutup mulutnya yang menganga saking tak percayanya. Antara haru dan bahagia menjadi satu, ia rasa ini momen yang paling spesial. Di hadapan ibunya Novan melamar sang pujaan hati.
Ranum yang melihat pun menitikkan air mata, tak menyangka bocahnya kini sudah besar dan jadi pria dewasa. Ranum mengusap pipinya yang basah, ia pun menanti jawaban calon menantunya itu. Ranum takut anaknya ditolak karena keadaan yang jauh dari kata sempurna. Begitu pun dengan latar belakang yang jauh berbeda.
__ADS_1
Semua ikut deg-degan, termasuk bumil dan calon bapak itu. Sahara meraih tangan suaminya, ia ikut gemas karena Nadien tak kunjung memberi jawaban.
"Ayo terima!" gumam Juan ikut gemas.
"Kalau Nadien menerimanya apa yang akan kamu berikan untuk Novan?" tanya Sahara. Juan menoleh ke arah wajah istrinya.
"Aku akan membantu semuanya sampai hari pernikahan mereka," jawab Juan.
"Serius?" tanya Sahara.
"Hmm, serius-lah. Dia 'kan sekarang karyawanku, aku akan ikut bertanggung jawab karena ini memang ulahku." Kalau bukan karena Juan, Sonia pun tidak akan tahu soal hubungan mereka, mungkin sampai saat ini mereka tidak akan bertemu lagi kalau Juan tidak menjadikan Novan sebagai asistennya.
"Aku seneng, dibalik judesmu pada Novan ternyata kamu peduli sama sahabatku." Sahara memeluk suaminya dari samping, dan Juan pun mempererat pelukkan istrinya.
Sedangkan Nadien masih diam saja, Novan sampai sudah merasa pegal. Pria itu dibuat sport jantung malam ini. Novan sudah mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang di dalamnya terdapat sebuah cincin. Memang bukan berlian, tapi ia membelinya dengan jerih payah selama masih bekerja di bengkel.
Tak lama, Nadien pun mengulurkan tangan. Ia meminta Novan menyematkan cincin di jari manisnya. Novan pun akhirnya tersenyum, hatinya sempat gelisah karena Nadien tak kunjung menunjukkan ekspresinya.
"Iya, aku mau jadi Ibu dari anak-anakmu," jawab Nadien.
Ranum pun ikut heboh, anaknya di terima dan mungkin tidak akan lama lagi anaknya akan melepas masa lajangnya. Novan menyematkan cincin di jari manis kekasihnya, lalu menciumnya dengan sangat lembut.
"Ini hanya simbol bahwa kamu sudah menjadi milikku, setelah aku punya uang aku akan mengganti cincin ini," jelas Novan.
"Cincinnya bagus aku suka." Nadien tidak mungkin mengeluarkan kata-kata yang membuat kekasihnya patah hati, ia menghargai apa yang telah diberikan Novan untuknya.
"Terima kasih sudah menerimaku, aku mencintaimu." Novan hendak memeluk, tapi Ranum langsung menarik tubuh anaknya.
"Dasar bandel ... Ibu sudah bilang tunggu halal dulu." Ranum menjewer kuping anaknya sampai Novan mengaduh, dan yang lainnya malah menertawakan Novan yang dijewer.
__ADS_1