
Sahara tidak terima disebut istri nakal, ia langsung menarik kerah baju suaminya. Mencengkramnya dengan sangat kuat. Wajah mereka sangatlah dekat.
"Apa? Kamu mau apa?" tanya Juan santai menyikapi sikap Sahara yang ia rasa sudah mulai menyukainya.
"Iihhh ... Menyebalkan!" cetus Sahara sembari menghempaskan tangan dari cengkramannya. Sahara langsung saja beranjak.
"Loh, kok jadi kamu yang marah sih!" kata Juan, lalu menyusul Sahara yang hendak membuka pintu. Juan menahan kepergian istrinya, ia langsung bersandar di balik pintu.
"Apa?" tanya Sahara dengan ketus.
Juan malah tersenyum kecut karena merasa aneh, kenapa istrinya itu? Apa Sahara diam-diam cemburu padanya? "Kamu marah aku menemuinya?" tanya Juan ingin meyakinkan perasaan istrinya itu.
Sahara malah tertawa dengan mulut lebar. "Apa? Aku, cemburu! Yang benar saja," elaknya.
"Jangan bohong, matamu tidak bisa membohongiku kalau ada cinta di matamu," goda Juan.
"Jangan asal bicara! Awas minggir! Aku mau keluar!" Sahara berniat menggeserkan tubuh suaminya, tapi yang ada ia malah terjerembab sendiri di pelukkan suaminya itu karena Juan menarik lengannya.
Namun tiba-tiba lampu mati begitu saja, sontak Sahara terkejut dan merasa takut. Ia langsung memeluk suaminya untuk berlindung. Tanpa disadari, pahanya mengenai sesuatu di balik celana suaminya.
Deg
Juan merasakan, sehingga ... Hanya dia yang merasakannya sendiri. Yang anehnya, hanya lampu kamarnya yang mati. Tidak dengan lampu luar, sehingga wajah Sahara terawang oleh cahaya lampu dari luar sana. Karena posisi mereka saling berhadapan, tinggi mereka hampir sama.
Jantung Sahara berdegub kencang. Mungkin jika ada suaranya Juan pasti mendengarnya. Sahara mengakui ketampanan suaminya, dan sayangnya bukan ia yang dicintai. Lama mereka berada dalam seperti itu.
__ADS_1
Juan menyelipkan jari jemarinya di leher jenjang Sahara. Mereka terbawa suasana. Hembusan napas menerpa di antara wajah mereka, sangat-sangat dekat. Hampir menyatu, hingga akhirnya kedua bibir mereka saling bersentuhan. Dan tiba-tiba ... Lampu menyala dengan sendirinya.
Kedua manusia itu menyadari dan langsung menarik diri lalu menjauh. Canggung yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sahara ingin sembunyi karena malu, apa yang mereka lakukan barusan? Cinta 'kah? Atau hanya suasana yang mendukung?
"A-aku," ucap Sahara bingung. Dan Juan pun sama seperti dirinya jadi salah tingkah.
"Sahara ...," panggil nenek Sahida dari luar kamar. Dan panggilan itu mengalihkan kecanggungan mereka.
"A-aku keluar dulu," pamit Sahara. Ia membuka pintu dan Sahida berada tepat di depan pintu. "Ya, Nek?" jawab Sahara.
"Makan dulu, kamu belum makan. Lagian ngapain pura-pura tidur? Jangan kosongkan perut, ingat, ada calon cucu Nenek di dalam perutmu. Nenek tunggu di meja makan." Sahida pun pergi.
"Oh ... Jadi itu pura-pura tidur," kata Juan dari arah belakang Sahara. Dan wanita hamil itu langsung membalikkan tubuhnya. "Tadi nakal, sekarang modus. Kalau mau bilang saja," katanya lagi.
"Ma-mau apa?" tanyanya dengan ekspresi berlaga tidak tahu apa-apa. "Jangan asal menebak, tebakanmu itu tidak benar!" sungutnya. Lalu Sahara berlalu menyusul nenek Sahida, ia berjalan sambil menyentuh bibirnya yang tadi sempat menempel di bibir suaminya.
***
"Makan yang banyak, apa perlu aku buatkan sesuatu?" tanya Juan, mereka sedang makan malam bersama nenek Sahida.
"Sahara makannya memang sedikit, lihat saja badannya kurus begitu," celetuk nenek Sahida.
"Segini tuh nggak kurus, Nek. Ini ideal, kalau gemuk malah jelek!" bantah Sahara.
"Iya-iya ... Kamu nggak kurus. Tapi beberapa bulan lagi kamu pasti gemuk," timpal Juan.
__ADS_1
Sahara memutar bola mata jengah, ia kesal tapi dalam hati merasakan sesuatu entah apa itu. Saat saling berhadapan, yang dirasakannya dag dig dug tak menentu. Juan seperti memiliki magnet. Pantas kalau ada wanita yang tergila-gila padanya, haruskah Sahara beruntung karena menjadi istrinya?
Tak ada percakapan lagi di antara mereka, bahkan Sahida pun sudah undur diri dari ruang makan. Hanya menyisakan Sahara dan Juan di ruangan itu. Mereka benar-benar canggung saat berduaan, apa lagi teringat akan kejadian tadi saat mati lampu.
"Aneh, kenapa tadi bisa mati lampu?" gumam Sahara pelan.
"Apa? Kamu bilang apa?" tanya Juan mendengar samar-samar.
"Ti-tidak! Aku tidak ngomong apa,apa," elak Sahara. "Aku ngantuk, aku mau tidur." Ucapnya sambil berdiri.
***
Sahara tidak bisa tidur, ia terus membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur. Tak lama, Juan datang membawakan segelas susu untuk istrinya. Ia juga sudah menggunakan piama, tapi ia harus mengecek email masuk sebelum tidur.
"Ra, minum susu dulu," kata Juan karena tahu bahwa istrinya belum tidur, ia meletakkan susu di atas nakas. Lalu pergi menuju sofa yang terdapat laptopnya di sana. Duduk di sofa lalu membuka laptop. Dan Sahara, ia pun mendudukkan diri. Menoleh ke arah nakas dan melihat segelas susu. Juan sangat perhatian jika mengenai calon anaknya. Karena memang pada dasarnya, Juan lelaki yang bertanggung jawab.
Sahara meminum susu itu sampai habis, setelah itu ia tak langsung tidur. Sahara malah menatap suaminya dari kejauhan, tersenyum sendiri sambil mendekap guling. Sementara Juan, pria itu fokus pada layar laptopnya. Ia tahu kalau ia sedang diamati oleh istrinya itu, tapi ia mengabaikannya.
Juan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang dikirim melalui email dari Maya, sekretarisnya. Beberapa menit kemudian, ia pun akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Merasa pegal, Juan meregangkan otot dengan cara memutarkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Lalu menutup laptop.
Saat beranjak, ia melihat Sahara sudah tidur dalam keadaan bersandar di sandaram ranjang. "Dasar bar-bar." Ucapnya seraya menggelengkan kepala. Lalu menghampiri istrinya, membenarkan cara tidur istrinya itu. Setelah Sahara terbaring, ia melihat wajah Sahara dengan seksama.
Tidak ada yang salah dengan wanita itu, tapi Juan merasa mimpi bisa menikah dengan Sahara. "Sebenarnya kamu baik, Sahara. Hanya caramu yang salah, kamu melakukan ini karena butuh uang untuk pengobatan nenek-mu 'kan?" ucap Juan sendiri. "Maafkan aku yang belum bisa mencintaimu."
Juan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, lalu ia pergi ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Menatap langit-langit kamar, sambil mengingat wajah kekasihnya. Juan sangat merasa bersalah karena tidak sengaja ia menyakiti dua hati wanita. Ia tahu dan dapat merasakan perasaan Sahara. Dari mata wanita itu terlihat jelas bahwa istrinya mulai menyukainya, hanya saja Sahara belum jujur dengan perasaannya.
__ADS_1
Lambat laun, Juan pun memejamkan mata. Hari ini ia lelah, dan ia juga harus ekstra sabar menghadapi Sahara. Tidak mudah menjadi dirinya yang belum mencintai istrinya.