
Kediaman Novan.
Novan baru sampai rumah pada jam delapan malam. Mertuanya masih berada di sana dan berniat akan menginap, mereka tahu kalau menantunya sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga harus mereka yang mendatanginya.
"Baru pulang?" sapa pak Chandra.
"Iya, Pa," jawab Novan, lalu menutup pintu. Novan duduk sebentar bersama mertuanya juga ibunya. Banyak hal yang ditanyakan oleh Ranum, mengenai kerjaan dengan rumah tangga anaknya. Ia menanyakan lebih ke intinya, karena ia ingin sekali mendapatkan cucu. Apa lagi saat ia mendengar Sahara sudah melahirkan, dan sayangnya ia belum bisa melihat karena ada besannya di rumah.
Novan hanya menjawab tanpa balik bertanya, inginnya ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Nadien tak ikut bergabung karena ia tahu bahwa Nadien pasti tengah di kamar dan beristirahat.
Untungnya, pak Chandra dapat mengerti bahwa menantunya sedang lelah.
"Ma, biarkan Novan istirahat. Besok saja kita bicara lagi," kata pak Chandra.
"Kau memang mertuaku yang paling pengertian," batin Novan.
"Iya, sebaiknya kamu tidur. Tapi, sudah makan apa belum?" tanya Ranum.
"Belum, nanti saja aku mau mandi dulu," jawab Novan. Ia pun segera ke kamar dan langsung ke kamar mandi, tak mengulur waktu lagi ia langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berharap tubuhnya akan kembali segar setelah mandi. Sebelum ke kamar mandi, sekilas ia melihat istrinya yang tengah meringkuk di tempat tidur. Ia pikir istrinya sudah tidur bahkan kedatangannya pun tidak diketahui.
Beberapa menit kemudian, Novan selesai membersihkan diri. Keluar dari sana ia hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggannya.
"Sayang, apa kamu sudah benar-benar tidur?" tanya Novan, ia membuka lemari karena akan mengambil baju. Nadien tak menjawab wanita itu hanya merubahkan posisi tidurnya ke arah suaminya. Lalu membuka mata sebentar setelah itu kembali terpejam.
Tubuhnya lemas tak berdaya, bahkan sejak pulang ia tak kemana-mana. Membersihkan diri pun tidak, baju yang dikenakannya masih itu. Novan tidak tahu karena Nadien menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Novan menghampiri istrinya setelah memakai baju lengkap, hanya kaos oblong dan boxer yang dikenakannya malam itu.
Novan membelai rambut istrinya. Ia sedikit terkejut saat menyentuh keningnya, tubuh Nadien sedikit hangat. "Kamu sakit, yang?" tanya Novan.
Lagi-lagi Nadien tak menjawab, model cantik itu malah mendaratkan kepalanya di pangkuan suaminya. "Pijat kepala coba, kepalaku pusing sekali," pinta istrinya.
"Ke dokter ya?" tawar Novan.
__ADS_1
"Tidak mau, pijat saja nanti juga pusingnya hilang," tolak Nadien.
"Sebentar kalau begitu, aku ambil minyak angin biar kamu enakkan." Novan sangat gesit karena ia khawatir terhadap kesehatan istrinya. Padahal, ia pun tengah lelah dan merasakan remuk redam di seluruh tubuhnya. Bagaimana tidak lelah, selama di Amerika mereka terus bercinta disetiap malamnya. Saat kembali ke Indonesia tubuh mereka berdua menjadi ambruk.
Novan kembali ke tempat tidur dan langsung memijat kepala sampai ke tengkuk leher istrinya. Posisi Nadien bertelungkup, sehingga Novan memijat dari samping.
"Buka bajumu," titah Novan.
Seketika, Nadien langsung terbangun dan melotot. Dikira, suaminya mau ngapa-ngapain. Nadien tidak mau bercinta kali ini, karena merasa tak enak badan. Tapi suaminya malah menyuruhnya membuka baju, sangat menyebalkan, pikir Nadien.
Baru tersadar bahwa istrinya belum mengganti pakaiannya, tidak biasanya istrinya seperti itu. Apa jangan-jangan Nadien memang beneran sakit? pikir Novan.
"Ayo buka, aku urut punggungmu. Gini-gini juga aku pandai memanjat, eh memijat maksudku. Kalau memanjatmu lebih jago," Novan terkekeh sendiri. Sontak, Nadien langsung memukul suaminya dengan sebal dan bibirnya mengerucut karena kesal. Suaminya malah bercanda disaat dirinya tengah tidak enak body.
"Sakit," keluh Novan saat menerima pukulan dari istrinya. "Aku 'kan hanya bercanda. Jangan dianggap serius, hidup itu dinikmati saja," ucap Novan santai.
"Aku lagi tidak mau bercanda, badanku sakit-sakit. Ini semua gara-gara kamu!" kata Nadien menyalahkan suaminya.
"Sudah ah, pijat saja yang bener!" Nadien kembali merebahkan tubuhnya bahkan ia membuka baju karena suaminya akan mengurut punggungnya.
Perlahan, Novan mulai mengurutnya. Rasa rilex mulai dirasakan oleh Nadien, pijatan suaminya memang sangat enak. Perlahan, Nadien kembali terpejam. Wanita cantik itu merasakan rilex sehingga ia dapat tertidur kembali.
Suara Nadien menghilang, berubah menjadi dengkuran halus. Novan menyudahi pijatannya karena ia tahu kalau istrinya sudah tidur. Dan ia pun menyelimutinya sampai tubuh itu tertutup dengan sempurna.
***
Novan tengah berada di dapur, perutnya minta diisi. Setelah istrinya tidur dengan nyenyak ia langsung pergi mencari makanan. Dan makanan itu sangat banyak, mungkin ibunya memang menyiapkannya untuknya. Dan benar saja, saat ia makan tiba-tiba ibunya datang untuk menemaninya makan sendirian.
Orang tua Nadien sudah beristirahat karena sekarang sudah pukul sepuluh malam.
"Ibu belum tidur? Ini sudah malam loh, Bu," kata Novan.
__ADS_1
"Ibu belum ngantuk, Nadien sudah tidur ya?" tanya Ranum kemudian.
"Iya, tadi badannya sempet panas dan pusing. Tapi aku sudah pijat semoga besok baik-baik saja. Kecapean juga mungkin, Bu. Kena angin keknya," jelas Novan.
"Syukurlah kalau sudah baikan, kamu sendiri bagaimana? Ini 'kan pengalaman pertamamu kerja di kantoran, apa tidak pusing mikirin kerjaan?" Ibunya kepo karena Novan tidak sekolah terlalu tinggi, hanya lulus SMA saja.
"Aku hanya merasa sakit-sakit saja sedikit, Bu. Besok juga sembuh setelah minum obat," jelas Novan.
"Mau kerokan gak?" tawar ibunya.
"Tidak usah, Ibu tidur saja. Ini sudah malam sebentar lagi aku juga selesai kok," tutur Novan.
"Ya sudah kalau begitu." Ranum beranjak sambil menepuk bahu anaknya. Niat menemuinya karena ingin membicarakan respsi pernikahannya. Permintaan Sonia karena resapsi harus sangat meriah dan mewah. Ranum takut putranya tidak memiliki uang banyak karena bikin acara besar-besaran pasti mengeluarkan uang banyak. Ranum juga tidak ingin merepotkan keluarga Ardinata. Selama ini, mereka selalu membantu. Bahkan anaknya diangkat sebagai orang kepercayaannya.
Ranum juga takut kalau Novan tidak amanah menjalankan perusahaan keluarga Sahara. Apa lagi adanya Sonia yang mata duitan, ia tak ingin Sonia memperalat anaknya demi mencapai keinginan wanita itu.
"Abis makan kamu istirahat, Ibu tidak mau kamu sakit," kata Ranum kembali menengok ke arah anaknya.
"Iya, Bu. Aku langsung tidur," jawab Novan.
***
"Sebaiknya aku juga tidur," ucap Novan, ia sendiri merasakan tubuhnya kurang vit.
Tanpa mengganggu istrinya, Novan langung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Ia juga membenarkan selimut karena Nadien tertidur tanpa atasan, hanya bra saja yang melekat di bagian tubuh atasnya.
Andai tubuhnya vit malam ini, mungkin ia sudah tergoda dengan belahan memabukkan itu. Tapi ia tak bisa melakukan itu, ia hanya mencium gunung kembar itu saja tanpa berbuat apa-apa. Lalu memeluk tubuh istrinya. Tubuhnya butuh istrirahat, ia harus menahan keinginannya. Akhirnya, ia pun memejamkan mata dan berharap besok terbangun dengan tubuh yang segar.
...----------------...
Rekomendasi lagi, mampir di sini juga sebelum nunggu aku up.
__ADS_1