
Juan dan istrinya tak langsung pulang, apa lagi ini cukup larut sehingga Ranum menyuruh mereka menginap. Dengan senang hati, Sahara menerima ajakan bi Ranum. Wanita itu sering bersamanya waktu dulu, Sahara juga menganggap bi Ranum seperti ibu kandungnya.
"Ra, bagaimana kandunganmu?" tanya Ranum.
"Baik, Bi. Dia sehat." Jawab Sahara sambil menyentuh perutnya yang kian terlihat besar. Mereka duduk berdampingan, lalu Juan datang membawa susu yang memang selalu tersedia di dalam mobil, jadi kemana pun mereka pergi ia tak perlu repot-repot membelinya lagi.
"Nenekmu sendirian dong, Ra. Gak kasian?" tanya Novan.
"Bilang aja gak boleh aku nginap, bawa-bawa nenek segala! Kamu nyuruh kita pulang?" tanya Juan.
Ya ampun, baru saja peluk-pelukkan. Pikirannya sudah jelek lagi, batin Novan.
Juan sudah mancing-mancing emosi Novan lagi, emang dasar wataknya begitu ya susah. Tapi di balik itu Juan baik dan perhatian, hanya saja hatinya sensitif sekali. Dan itu sejak awal kehamilan istrinya.
"Ya udah, kita pulang aja ya, sayang. Sepertinya orang kaya ini ngusir kita," ajak Juan pada istrinya.
"Ya elah ... Baper banget sih calon Bapak yang satu ini, bawaan dede apa emang bawaan lahir?" kata Novan. "Pikiranmu itu selalu jelek, aku tidak setega itu mengusir kalian. Apa lagi Sahara tengah hamil gitu."
Juan semakin tidak suka, ia tidak suka ada laki-laki lain yang perhatian pada istrinya. Hanya ia yang boleh perhatian!
"Jangan pulang dong, aku masih betah di sini," tolak Sahara.
"Besok kita cari rumah yang sebesar ini, kalau kamu suka dari kemarin aku belikan. Katanya gak suka rumah besar," kata Juan.
"Kalau penghuninya banyak aku suka, tapi kalau hanya tinggal berdua untuk apa rumah besar? Tidak ada penghuninya jadi serem," jawab Sahara. Tiba-tiba, bumil itu menguap. Bi Ranum yang melihat langsung menyuruhnya tidur.
"Nak Juan, ajak Rara istirahat. Kasian udah ngantuk gitu," titah Ranum.
"Mau tidur sekarang?" tanya Juan Sahara mengangguk. "Ya udah, abisin dulu susunya," titahnya kemudian.
Ranum dan Novan pun istirahat di kamar masing-masing. Untuk Sahara dan Juan, mereka pun sudah berada di kamar tamu. Dan kamar itu cukup luas. Lalu, Juan hendak keluar kamar.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Sahara.
"Mau ambil sesuatu di mobil, aku lupa mengambilnya, cuma bentar doang kok." Juan langsung saja keluar setelah menjelaskannya pada istrinya.
Sahara pun merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Tubuhnya terasa pegal, padahal tak ada aktivitas yang berat hari ini. Banyak diam membuatnya malah sering pegal-pegal. Bumil itu meregangkan otot, tak lama melihat suaminya telah kembali membawa sebuah paper bag.
"Apa itu?" tanya Sahara penasaran.
"Ada deh." Juan sengaja buat istrinya penasaran sehingga Sahara langsung terbangun dan merampas paper bag itu. Setelah tahu apa isinya, ia langsung mencampakkan paper bag itu. Bibirnya mengerucut karena kesal, ia pikir apa? Ternyata, pakaian kurang bahan.
"Pakai dong, aku kangen tau," bujuk Juan.
"Tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Pijitin dulu, setelah itu kita ..."
"Kita apa?" goda Juan.
"Itu apa?"
"Udah ah, mau apa tidak? Kalau gak aku mau tidur nih." Sahara langsung menarik selimut.
"Iya-iya ... Tapi pakai dulu bajunya, biar aku semangat pas pijitnya," rayu Juan. Juan pun membantu melepas pakaian istrinya, hanya menyisakan bra dan segitiga berenda warna merah. Lalu memakai pakaian dinasnya, dan itu sangat menggoda iman seorang Juan.
Buah dada yang terlihat berisi sangat memenuhi bra hingga hampir tumpah.
"Sekarang besar ya, tidak seperti dulu," ucap Juan. Mata Sahara langsung melotot karena ia tahu arah pembicaraan suaminya. "Tapi aku suka, sangat suka." Juan menyentuhnya dengan lembut, dan sedikit memberi pijatan.
"Sebenarnya mau pijat yang mana? Pagalnya tuh bukan disitu!" cetus Sahara.
__ADS_1
Juan hanya nyengir kuda seakan tidak ada salah, padahal ia sudah janji akan pijat istrinya terlebih dulu. "Lalu yang mana yang harus aku pijat?" tanya Juan.
"Kaki, kaki-ku pegal sekali. Terus pundak, tangan. Pokonya semuanya deh," jawab Sahara.
"Oke, aku mulai dari kaki saja."
Sahara duduk bersandar di sandaran ranjang dengan kaki terselonjor di pangkuan suaminya. Juan memijatnya pelan seraya diurut. "Bagaimana? Enak tidak pijatanku?" tanyanya.
"Hmm, lumayan. Ke bawah dong, telapak kakinya."
Juan sangat nurut demi memperlancar keinginannya itu. Ia akan memanjakan istrinya terlebih dulu, membuat rilex agar nanti pas bermain merasa enakan. Kedua kaki sudah diurut, lanjut ke tangan dan yang terakhir dibagian pundak. Sahara sampai bersendawa karena pijatan itu mampu mengeluarkan angin dari dalam tubuh.
"Setelah ini sudah 'kan? Apa ada yang lain?" tanya Juan di telinga karena posisinya sekarang Juan berada di belakang Sahara.
"Tapi ini masih enak, jangan udah dulu," kata Sahara.
"Oke." Juan kembali memijat. Sesekali tangannya nakal, ia meraih bulatan di depan. Sehingga Sahara memukul tangannya yang ganjen. "Loh, kok dipukul sih!"
"Pijat saja dulu yang benar, nanti juga dapat jatah kok." Juan tidak protes, ia langsung melanjutkannya karena tidak ingin mengulur waktu. Sampai satu jam kemudian, Sahara malah ketiduran. Juan yang melihat mendengus kesal.
"Lah ... Kok tidur," ucap Juan. Melihat istrinya tidur pulas, ia pun tidak ingin menganggunya. "Kayaknya emang kecapean," katanya lagi. Lalu, ia memposisikan istrinya tidur dengan nyaman, menyelimuti tubuh seksi itu dengan selimut Akhirnya, ia pun ikut tidur.
"Masih ada hari besok, aku tagih besok pagi saja deh. Meski malam ini gagal total tapi besok aku tidak akan membiarkannya," gumamnya sambil memeluk istrinya. Mendekap tubuh yang mulai berisi itu.
Hingga keesokan paginya, Juan benar menagih janji istrinya yang katanya akan melakukan itu setelah dipijat namun malah berakhir ketiduran. Juan mulai menciumi wajah istrinya, si empu terganggu karena kelaukan suaminya. Tangannya mulai berkeliaran, menjelajah kesetiap lekuk tubuh indah istrinya.
Sahara menggeliat saat suaminya mengecup buah mengkalnya, mengendusnya lalu menyesapnya. Sahara menjambak rambut suaminya, tidak tahan akan kenikmatan di pagi buta itu.
"Aku menginginkannya, Sahara." Juan kembali mengecupnya. Tangannya mulai merambat ke belakang punggung, mencari pengait di sana. Dan itu sudah terlepas dengan sempurna. Ia melemparnya ke sembarang arah, hasratnya sudah menggebu sejak semalam.
"Sayang, buka matamu dan lihat aku," pinta Juan.
__ADS_1
Sahara pun membuka mata dan mereka saling menatap. "Aku akan melakukannya sekarang, kamu cukup diam dan nikmati apa yang aku lakukan," bisik Juan. Aksi pertama yang dilakukan pria itu adalah menyentuh daging tak bertulang itu, merema*nya pelan. Memberikan rasa sensasi geli dan nikmat.
Sahara hanya bisa menggigit bibir bawahnya, meresapi setiap sentuhan jari jemari suaminya. Bahkan jari jemari itu sudah pindah tempat, menari-nari di hutan rimba. Sahara sudah tidak kuat sehingga ia meminta suaminya untuk segera melakukannya. Dengan senang hati, laki-laki itu melakukannya dengan penuh semangat 45. Pagi ini, tiba-tiba turun hujan. Menambah kehangatan sehingga mereka ingin dan ingin lagi.