
Dua hari kemudian.
Juan dan Sahara ikut mengantar sepasang suami istri itu ke Bandara. Juan benar-benar menyerahkan pekerjaannya pada Novan, ia sudah percaya penuh kepada pria yang menjadi sahabat istrinya. Tak sia-sia, karena perusahaannya berkembang semakin pesat. Berkat model cantik juga pintar yang kini menjadi wakil mengharumkan nama bangsa Indonesia.
Untuk pertama kalinya, Sahara dan Nadien berpelukkan. Mereka pun ikut menjalin persahabatan.
"Hati-hati selama di sana, jangan lupa memberi kabar," ucap Sahara.
"Hmm, kamu juga baik-baik. Jaga kandunganmu," balas Nadien.
Juan dan Novan tersenyum melihat keakuran mereka. Sedangkan sang lelaki adu jotos sebagai perpisahan mereka, mengepalkan tangan lalu diadukan. Novan dan Nadien mulai pergi dan menjauh sampai menghilang dari pandangan Juan dan Sahara. Dan mereka pun membalikkan tubuh sambil berangkulan.
Sahara menyentuh perut sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan mereka berjalan menghampiri mobil yang akan ditumpangi mereka saat pulang.
"Tiba-tiba aku rindu mama," ucap Sahara. Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa perlu kita susul Novan dan Nadien? Sekalian menemui mama?" kata Juan.
Sahara langsung menoleh, ia ingin sekali pergi menemui mereka. "Apa boleh?" tanya Sahara.
"Emang kata siapa tidak boleh? tanya Juan. Sahara berpikir kalau lagi hamil tidak boleh naik pesawat makanya ia ragu ingin mengajak suaminya pergi mengunjungi orang tuanya. "Tidak sekarang ya? Tunggu besok, takut Maya kewalahan di kantor karena tidak ada Novan."
"Iya, aku berdoa semoga Maya tidak sibuk," kata Sahara. Juan mencubit hidung mancung istrinya gemas. Akhirnya mereka pun pulang dan langsung bertemu Sahida di rumah.
"Sebaiknya banyak-banyak istirahat, kamu jangan terlalu cape, Ra," kata sang nenek.
"Aku tidak apa-apa, Nek. Bagus juga banyak gerak, aku bosan di rumah terus. Oh iya, kalau aku pergi mengunjungi mama boleh tidak, Nek?" tanya Sahara, ia takut neneknya tidak mengizinkan karena perjalanan cukup jauh.
"Sebenarnya Nenek tidak mengizinkan kamu pergi jauh-jauh, Nenek khawatir," jawab Sahida. "Apa tidak sebaiknya mama mu saja yang ke sini? Nenek tidak mau ditinggal." Bukan tanpa alasan Sahida berkata demikian, sudah beberapa hari ini wanita tua itu kurang enak badan. Dan Sahara tidak tahu karena Sahida menyembunyikannya.
"Ya sudah, aku di rumah saja," jawab Sahara, lalu masuk ke dalam karena sedikit kecewa. Tapi ia juga kasihan jika harus meninggalkan neneknya. Ini pertama kali sang nenek tidak mengizinkannya.
"Apa dia marah pada, Nenek?" tanya Sahida yang menyisakan cucu mantunya, karena suaminya pun ditinggalkan istrinya ke dalam.
"Tidak, Nek. Mungkin dia lelah saja." Juan mencoba menenangkan perasaan nenek tua itu. "Ya udah, aku masuk dulu ya, Nek." Juan segera pergi menyusul istrinya.
__ADS_1
***
Sahara sedang duduk di sofa sambil menatap ke arah luar lewat jendela, lalu bumil itu menoleh karena suaminya memeluknya dari belakang. Mencium pundak sang istri dengan sangat dalam. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya itu. Sahara memang merajuk karena tak diizinkan, sikap istrinya tidak bisa berbohong karena Juan tau bagaimana istrinya kalau sedang marah.
"Jangan marah, usul nenek ada baiknya juga. Kita hubungi mama biar mereka yang datang kemari, kasian juga kalau nenek ditinggal sendirian," bujuk Juan.
"Aku tidak marah kok, aku gimana baiknya saja. Nurut apa kata orang tua itu yang terbaik, nenek tidak mau aku kenapa-napa 'kan?" jawab Sahara. Ia juga heran, kenapa neneknya melarangnya pergi? Biasanya nenek tua itu selalu mengizinkan kemana pun yang ia mau.
"Sudah waktunya makan siang, kita makan siang sama-sama yuk aku sudah laper?" ajak Juan.
"Kamu duluan saja ya, aku mau mandi dulu gerah banget." Ucap Sahara sambil beranjak menuju kamar mandi. Dan Juan langsung menyusul dan mencegatnya di ambang pintu kamar mandi.
"Kita mandi bareng ya? Aku juga gerah." Kata Juan sambil menaikturunkan kedu alisnya.
"Gak ada," tolak Sahara. "Yang ada bakal lama kalau mandi sama kamu. Katanya laper, kok tiba-tiba gerah?! Jangan cari alasan, udah ah, aku mau mandi tunggu di ruang makan saja," usirnya.
Juan langsung mendadak lemas karena istrinya menolaknya. Ya sudah, mau apa lagi? Ia pun tak bisa memaksa karena mood istrinya yang kurang baik.
***
Juan mendudukkan tubuh di kursi lalu berkata. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, Sahara lagi mandi katanya gerah. Apa ini Nenek yang masak?" tanya Juan.
"Iya, Nenek sengaja masak makanan kesukaan Rara. Sudah lama Nenek tidak memasakkan makanan yang disukanya, Nenek takut tidak bisa memasakkannya lagi."
"Ngomong apa sih, Nek?" Tiba-tiba Sahara memeluk dari belakang sambil mencium pipi yang mulai keriput itu. "Aku tidak marah, sejak kapan aku bisa marah pada Nenek-ku yang cerewet ini?"
"Sini makan, Nenek suapi." Sahida langsung mengambil makanan kesukaan cucunya itu, Sahara dengan lahap memakannya. Bumil itu sangat bahagia karena neneknya masih memperlakukannya seperti dirinya masih kecil.
"Gantian, sekarang aku yang suapi Nenek." Sahara mengambil alih piring dan sendoknya lalu menyuapi neneknya sampai selesai.
***
Malam menjelang.
Sahara dan suaminya sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sahara terlentang, sedangkan Juan mengusap perut istrinya sebelum tidur.
__ADS_1
"Kamu merasa ada yang aneh gak sih?" tanya Sahara menghentikan aktivitas suaminya.
"Aneh gimana?" Kini Juan menatap ke arah istrinya, ia penasaran apa yang dimaksud istrinya.
"Gak biasanya nenek memanjakanku, aku jadi teringat masa kecilku dulu. Betapa sabarnya nenek mengurusku, kok aku jadi takut ya?"
"Takut kenapa?"
"Takut nenek ninggalin aku."
"Ssttt ... Jangan ngomong gitu ah, nenek sehat sampai nanti ketemu cicitnya. Udah ah, kita tidur ngomongmu itu ngelantur aku ngantuk," ajak Juan.
Sahara pun akhirnya memejamkan mata untuk segera tidur.
***
Sahara berada ditempat yang tidak ia kenali, tempat itu sangat luas tanpa ada pepohonan. Tempat itu bagaikan lapang, lalu dari kejauhan ia melihat nenek-nya sambil melambaikan tangan dan perlahan menjauh dan menghilang. Sahara yang tertidur nyenyak pun langsung terbangun karena bunga tidurnya yang aneh.
"Nenek ...!" teriaknya.
Napasnya tersengal karena ini pertama kali mimpinya itu cukup menyeramkan baginya. Juan pun ikut terjaga karena teriakkan istrinya.
"Kamu mimpi?" tanya Juan. Sahara mengangguk dan ketakutan. Juan mendekapnya sambil mengelus kepala istrinya. "Tenang, itu hanya mimpi.
"Tapi itu terasa nyata, nenek pergi meninggalkanku. Aku takut." Sahara menangis dalam dekapan suaminya.
"Itu hanya mimpi, sayang. Nenek baik-baik saja kok, lupakan mimpi buruk itu sekarang tidur lagi ya." Juan melihat jam di ponsel, waktu menunjukkan pukul 00.02.
"Aku tidak bisa tidur, aku mau ke kamar nenek. Mau mastiin kalau nenek baik-baik saja." Sahara tak menuruti apa kata suaminya, ia langsung turun dari tempat tidur dan segera pergi.
...****************...
Mampir lagi di sini yuk, masih karya teman
__ADS_1