
Seakan menjadi candu, Juan menahan kepala istrinya saat Sahara hendak melepaskan pautannya. Juan yang kini melanjutkan aksinya, ia menciumnya dengan dalam hingga ada permainan beberapa detik sampai pada akhirnya ...
"Sahara ...," panggil nenek Sahida.
Sahara langsung melepaskan ciumannya, lalu mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. Juan kembali menangkup kedua pipi sehingga tak melepaskan Sahara begitu saja.
"Nenek memanggilku," ucap Sahara.
"Biarkan saja, itu pasti tidak terlalu penting," bisik Juan. "Aku menginginkannya," bisiknya lagi.
"Tapi di depan ada nenek juga bi Ranum, aku tidak enak lama-lama di sini. Aku temui mereka sebentar ya?" Sahara memohon agar suaminya melepaskannya kali ini.
"Hmmm, baiklah. Tapi nanti-."
"Iya, aku mengerti." Pungkas Sahara sembari memcium bibir suaminya sekilas. "Aku janji tidak akan lama, kamu bisa tunggu sambil rebahan." Sahara berlalu.
***
"Ada apa, Nek?" tanya Sahara.
"Gimana ini cara pakai toiletnya? Nenek tidak nyaman pakai toilet begini." Sahida menunjuk closet duduk yang diganti oleh Juan.
"Terus, selagi di rumah Juan 'kan toiletnya begini, Nek."
"Ya, Nenek tidak nyaman terus Nenek naik ke toilet dan jongkok," terang Sahida.
"Ya ampun, Nek. Ada-ada saja Nenek ini." Mau tidak mau, Sahara akan mengatakannya pada suaminya agar mengganti closet dengan model closet jongkok. "Bi Ranum sama Novan di mana? Apa mereka sudah pulang?" tanyanya.
"Sudah, baru saja."
"Oh iya, Nek. Aku sampai lupa, bagaimana keadaan Nenek? Bekas operasinya masih suka sakit gak?"
"Tidak terlalu, tapi Nenek baik-baik saja."
__ADS_1
"Ya udah, Nenek istirahat saja. Kamar Nenek pasti lebih bagus dariku, Nenek pasti nyaman."
"Sahara? Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"
"Kenapa Nenek bertanya seperti itu? Tentu aku bahagia."
"Syukur kalau kamu bahagia, Nenek takut kalian bersandiwara di belakang Nenek. Melihat suamimu yang kaya raya apa dia tidak merasa malu? Terus bagaimana tanggapan orang tuanya? Kenapa Nenek belum dikenalkan dengam mereka?" Sebenarnya, Sahida ingin mengungkapkan perasaannya yang mengganjal dari kemarin, ia tidak tahu seperti apa keluarga cucu menantunya itu.
"Nenek tenang ya, keluarga suamiku sangat baik. Mereka menerima kehadiranku, apa lagi dengan calon anakku. Aku beruntung menikah dengannya," terang Sahara apa adanya. Awalnya ia juga ragu dengan perasaan suaminya, tapi semua sudah terjawab dengan cara Juan yang sudah menyentuh dirinya kembali.
"Nenek ikut seneng mendengarnya, ya sudah sana, temui suamimu jangan buat dia menunggu terlalu lama. Nenek mau tidur siang saja nyoba tempat tidur baru." Ucapnya sambil tersenyum. "Jangan lupa bilang, ganti toiletnya Nenek mau yang model jongkok saja."
"Iya, aku akan bilang padanya."
***
Sahara sudah kembali ke kamar, mendapati suaminya yang sedang berada di ranjang. Duduk sambil memainkan ponselnya. Tahu istrinya kembali, Juan meletakan ponsel tanpa mengembalikan ponsel ke semula sehingga Sahara melihat apa yang dilihat suaminya dalam benda pipih tersebut.
Karena Sahara tak kunjung menghentikan ceramahnya, Juan langsung membekap mulut Sahara dengan bibirnya. Suasana menjadi hening, hanya suara tetangga yang berisik dari luar sana. Juan melepaskan bibir lalu Sahara kembali mengoceh.
"Stop, beri aku waktu untuk menjelaskan!" Juan mengambil ponsel lalu memperlihatkannya pada Sahara. Ada beberapa foto yang ia tandai, Juan berniat menghapus foto Nadien dari ponselnya. Tinggal satu tekan saja foto itu akan hilang.
"Coba, aku mau liat apa kamu benar menghapus semuanya tanpa tersisa?" kata Sahara.
Juan tak menjawab, ia langsung meneka tombol delete. Tak ada lagi foto model cantik itu di dalam ponselnya. Lalu, Juan mengajak Sahara untuk berfoto selfy. Keduanya berfoto dengan beberapa banyak gaya, dari rangkulan, ciuman serta wajah jelek mereka. Sahara antusias saat melihatnya.
"Jelek banget sih kamu." Sahara meledek suaminya dengan gaya mata juling serta hidung merekah. "Amit-amit, jangan sampai seperti itu."
"Mana mungkin anakku jelek, kita bibit unggul loh. Keturunan kita pasti cakep-cakep." Dengan bangga Juan mndusungkan dada. "Kamu cantik, aku juga tampan," terangnya lagi.
"Ya, ya ... Kamu tampan dan tidak terkalahkan," kata Sahara.
"Ra."
__ADS_1
"Hmmm."
"Aku mencintaimu."
"Secepat itu?"
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku seneng aja dengernya. Semoga cinta kita kuat, godaannya terlalu banyak," kata Sahara. Memiliki suami tampan juga mapan ia harus ekstra sabar saat ujian datang menerpa rumah tangganya. Juan terlalu sempurna, sedangkan dirinya hidup saja tanpa orang tua. Hanya Sahida yang dimiliki olehnya. Dan kini wanita itu semakin tua.
"Kamu percaya saja padaku, aku tak hanya janji aku akan membuktikannya." Juan kembali mencium bibir Sahara sehingga terjadi permainan yang membuat mereka ingin lebih melakukannya.
"Aku mau anak kita sempurna tanpa kekurangan suatu hal, maka dari itu aku akan terus memupuknya sampai besar nanti. Aku janji akan melakukannya dengan sangat hati-hati." Setelah mengatakan itu, Juan bangkit untuk menutup jendela dan gorden. Rumah Sahida terdapat dipemukiman yang cukup padat sehingga Juan harus memastikan tidak ada yang melihat dan mendengar pertempurannya kali ini.
Saat Juan menutup jendela yang terbuka, di sebrang sana terdapat Novan yang juga melihat ke arah jendela. Namun, Juan tak melihat keberadaan Novan di sana.
"Kenapa tutup jendela? Ini 'kan masih siang. Apa tidak gerah tidak ada angin masuk ke dalam sana?" Pemikiran Novan terlalu polos sampai ia melupakan rumah yang sudah direnovasi. Tentu Juan nemasang AC di dalam rumah Sahida. "Atau jangan-jangan ... Ah, sial sekali kalau aku harus memikirkan mereka begituan." Novan mendadak kegerahan.
"Ada yang tidak beres dengan otakku, aku harus mandi," gumamnya.
***
"Semua sudah aman," kata Juan, lalu ikut duduk di samping Sahara. Perlahan, ia merebahkan tubuh istrinya sampai Sahara berada dalam kungkungannya. Tak peduli pada terik matahari di sana, Juan terus melancarkan aksinya sehingga ia ingin melakukannya lagi.
Bibit itu harus sempurna, Juan tak memberi celah sedikit pun kepada istrinya. Sampai Sahara kewalahan mendapatkan serangan yang bertubi-tubi di bagian wajahanya.
Lalu, Juan membalikkan posisi sehingga Sahara-lah yang berada di atas tubuhnya.
"Puaskan aku, aku hanya akan medapatkan perlakuan darimu kepadaku," bisik Juan.
"Kamu tamuku, dan aku harus menjamu tamu dengan baik." Sahara mulai dari hal terkecil, meraba kepemilikan suaminya dari luar. Kepemilikkan itu sudah menegang dengan sangat on. Membuka ikat pinggang dan membuka kancing kemeja suamimya satu persatu.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku pasrah," terang Juan.
__ADS_1