
Di dalam kamar mendadak panas, sepasang suami istri itu kini akhirnya melabuhkan perasaannya. Juan sadar kala cintanya tak lagi dapat bersatu dengan Nadien. Ia mencoba menerima takdir yang digariskan Tuhan untuknya. Mencoba mencintai Sahara 'istrinya' apa lagi ada ikatan kuat di antara mereka.
Juan melakukan permainannya dengan sangat lembut, ia tak ingin menyakiti calon anaknya yang kini berusia 2 minggu. Sahara menikmati perlakuan suaminya, membelainya menciumnya dengan sangat mesra. Merasakan kehati-hatian bahwa Juan memang pria lembut.
"Terima kasih, Sahara," ucap Juan merasa puas karena Sahara memberikannya kenikmatan yang hakiki.
Sahara memeluk tubuh suaminya yang bergelung di dalam selimut dengan tubuh mereka yang sama-sama polos. Sahara kini merasa dicintai karena Juan benar-benar melakukannya dengan sangat lembut.
"Aku mencintaimu," bisik Sahara tak lagi menyembunyikan perasaannya. Juan membalas ucapan itu dengan mencium pucuk kepala Sahara.
"Tidurlah, besok kita ke rumahmu. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan, jaga hatimu karena aku tidak mau kecewa lagi sama yang namanya perempuan," kata Juan. Tentu Sahara mengerti, lagi pun ia bukan wanita yang suka mengobral cinta. Ini pertama kali baginya mengenal pria tanpa pacaran ia langsung menikah.
***
Pagi hari.
Sahara tengah menyisir rambutnya yang basah, tak lama, muncul Juan dari arah kamar mandi. Hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Lalu membantu istrinya menyisir rambutnya yang panjang. Juan memulai hidupnya yang baru bersama Sahara, mencoba melupakan Nadien yang kini ia tahu sudah ikut membenci dirinya.
Setelah keduanya berpakaian, mereka ikut bergabung di ruang makan bersama Sahida juga Ranum dan Novan. Juan bersikap biasa kepada Novan karena Sahara mencintainya dan tak mungkin mengkhianatinya dengan sahabatnya itu. Mereka makan dengan tenang. Ranum pun sudah mewanti-wanti untuk tidak berulah kepada Sahara.
Sejak dulu, mereka hanya berteman. Juan terlalu takut mereka memiliki perasaan karena sering bersama. Setelah makan selesai, Sahida meminta Juan untuk ikut pulang bersamanya. Dengan senang hati, karena Juan memang berniat mengajak Sahara ke sana untuk melihat rumah baru mereka.
***
Sahara melihat motor yang hendak dikendarai Novan, ia rindu ingin menaiki motor butut tersebut.
"Ayo," ajak Juan. Namun Sahara tak bergeming ia terus memandang motor tua itu.
"Ayo, Bu," ajak Novan pada ibunya.
__ADS_1
"Aku mau naik motor," ucap Sahara. Juan mengerutkan kening lalu melihat ke arah motor Novan.
"Tidak, itu terlalu bahaya untukmu naik motor itu," ujar Juan. "Naik mobil saja biar aman," katanya lagi.
"Novan, aku ikut bersamamu. Bi Ranum sama Nenek saja naik mobil." Sahara langsung menghampiri motor. Sedangkan Juan menghela napas, ada-ada saja wanita hamil itu. Ngidamnya aneh-aneh, orang-orang seneng naik mobil mewah, sedangkan ia menginginkan naik motor butut.
"Ya sudah, kamu naik mobil biar aku naik motor bersama istriku," kata Juan pada Novan. Sahara yang mendengar langsung tersenyum senang.
"Suamiku memang baik," puji Sahara.
"Kalau kamu sedang tidak hamil mana mungkin aku mengizinkannya, semua aku lakukan demi keinginan anakku. Ayo naik," ajak Juan.
"Alasanmu selalu demi anak ini, sampai kapan mengakui bahwa kamu juga cinta sama aku, hmm?" Sahara kesal karena Juan terkadang menyebalkan.
***
"Jangan seperti itu, nanti jatuh," teriak Juan.
"Aku sudah terbiasa seperti ini, jangan khawatir. Kamu fokus saja ke jalan."
"Duduk!"
"Iya-iya ..." Sahara duduk lalu melingkarkan tangan di pinggang suaminya.
Tak jauh dari posisi motor yang dikendari Juan, di sisi kiri terdapat mobil mewah. "Kamu keterlaluan, Juan. Kamu benar-benar melupakan aku," kata Nadien yang melihat Juan bersama Sahara. "Kesempatan ini kamu jadikan sebagai alasan bahwa kamu memang tak berniat serius denganku," gumamnya. Dadanya terasa sesak melihat kemesraan mereka.
Nadien bersama Sonia kala itu, tapi Sonia tidak melihat Juan dan Sahara karena tengah fokus pada ponselnya. Lalu, Sonia menoleh ke arah Nadien, dan mengikuti kemana arah mata anaknya itu.
Itu mereka, kenapa mereka terlihat begitu bahagia? Sial ternyata Juan malah jatuh cinta beneran dan Sahara memanfaatkan itu. Awas saja kamu, Sahara!!! Sonia merasa Sahara semakin jauh dalam hubungannya, dia hanya memintanya untuk membuat Juan berpisah dengan anaknya bukan malah menikah dengan pria itu.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, Mama akan melakukan sesuatu Mama akan menebus semua kesalahan Mama padamu, Juan akan kembali padamu, percayalah," kata Sonia.
"Stop, Ma. Aku tidak mau ada masalah, karier-ku sedang bagus aku tidak mau ada gosip bahwa aku merebut suami orang."
"Wanita itu yang merebut kekasihmu."
"Cukup, Ma. Mau Mama itu apa? Bukannya ini rencana Mama memisahkan aku dengannya? Terbuktikan kalau Juan bukan pria brengsek, sudahlah, biarkan saja mereka. Akuau fokus pada kerjaanku," cetus Nadien.
Sonia sudah salah melangkah dan akhirnya membawa Nadien kedalam kehancuran percintaannya. Gadis itu seakan menerima nasib pada dasarnya Nadien memang gadis baik dan tak pernah mengusik hidup orang lain.
Juan dan Sahara terus melanjutkan perjalanan mereka hingga mereka sampai tujuan. Kini Juan tak berhenti di gang sempit karena ia menggunakan motor milik Novan. Setibanya di sana, Sahara membulatkan mata karena melihat rumah yang tak dikenalnya, namun posisi rumah itu berada tepat di mana rumahnya berada.
"Rumahku di mana?" tanya Sahara. "Rumahku hilang, ini rumah siapa?" Sahara yang tidak tahu terus meracau, karena merasa ada yang mengambil rumahnya dan rumah itu langsung berubah.
Juan yang mendengar malah tertawa, dan itu membuat Sahara kesal. "Kok kamu malah ketawa sih? Rumahku gak ada, ini rumah siapa berani sekali rumahku dihilangkan!"
Juan menarik tangan Sahara dan membawanya masuk ke dalam rumah itu. Foto-foto Sahara dan nenek Sahida terpajang di dalam sana. Serta foto pernikahannya pun terpajang. Sahara tercengang dan baru tersadar bahwa itu rumahnya.
"Ini yang ingin ku tunjukkan, kamu suka tidak?" tanya Juan.
"Serius ini rumahku?" tanya Sahara, belum lama dirinya meninggalkan rumahnya hanya beberapa hari Juan sudah menyulap rumah itu menjadi sangat bagus. Tak lama, nenek Sahida pun sampai. Wanita tua itu menangis saat melihat kondisi rumahnya yang sudah bagus.
"Nek, rumah kita," ucap Sahara. "Terima kasih sudah memberikan hidup yang layak untukku juga, Nenek," kata Sahara pada suaminya.
"Aku seneng kalau kamu suka, semoga Nenek semakin betah di rumah ini."
"Kita bermalam di sini ya? Aku mau melihat kamarku." Sahara langsung pergi ke sebuah kamar yang terletak di kamar depan lalu Juan menyusulnya.
Memeluk Sahara dari belakang setibanya di dalam kamar. Sahara pun membalikkan tubuhnya, reflek, bumil itu mencium bibir suaminya.
__ADS_1