
Sehari setelah kepergian nenek Sahida.
"Ma, apa Mama akan kembali ke luar negri dan meninggalkanku?" tanya Sahara yang tengah duduk di kursi meja makan. Ia sedang menemani mamanya yang sedang membuat sarapan bersama asisten di sana.
Setelah kepergian Sahida, Jihan sangat memperhatikan Sahara. Ia tak ingin anaknya merasa kehilangan sosok sang nenek. Sejenak, Jihan terdiam sambil menatap putrinya, lalu tersenyum.
"Mama akan menetap di sini, biarkan saja papa yang di luar negri," jawabnya.
"Enak saja, Papa tidak mau. Kalau Mama di sini, Papa juga di sini," ucap Ardinata tiba-tiba. "Kita akan berkumpul di sini," sambungnya.
"Papa serius?" tanya Jihan.
"Serius dong, mana mungkin Papa tega membiarkan Mama di sini," jawab Ardinata. "Sudah terlalu lama kita meninggalkan anak-anak kita, biarkan Juan yang mengurus perusahaan. Apa lagi sekarang ada Novan 'kan?"
"Ada apa bawa-bawa namaku?" sahut Novan. Kini, pengantin baru itu sudah siap untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Eh, ayo sini," ajak Jihan. "Kita sarapan sama-sama," sambungnya. Sikap Jihan tidak membeda-bedakan, ia menganggap Novan seperti anaknya sendiri.
"Van, Om dan Tante akan menetap di sini. Kamu urus usaha Om yang ada di luar negri ya? Kalian bisa tinggal di rumah Om di sana," ucap Ardinata.
Novan dan Nadien saling pandang, mereka tidak menyangka bahwa rezeki datang dengan tiba-tiba tanpa terduga. Novan sangat bersyukur dengan keadaannya sekarang. Ia tak akan mengecewakan keluarga Ardinata yang sudah membantunya sampai kini menjadi seorang suami dari model cantik itu.
Sahara ikut senang, dan keberadaan mereka membuatnya sedikit terhibur. Tak lama, Juan muncul dan langsung menghampiri istrinya. Mencium pucuk kepala sambil menyentuh perutnya. Sahara melayani suaminya sarapan, dan Juan terus memperhatikan istrinya, apa Sahara sudah baik-baik saja pasca ditinggalkan orang terkasihnya?
"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Juan, dan itu menghentikan aktivitas Sahara. Bumil itu tersenyum lalu mengangguk.
"Aku baik-baik saja, aku tidak boleh terus berduka. Aku tidak mau buat nenek sedih, dia paling tidak suka melihatku menangis." Jawabnya kembali melanjutkan aktivitasnya.
Jihan melihat dan mendengar penuturan putrinya. Sahara tumbuh menjadi wanita yang kuat, dan Jihan bangga akan hal itu. "Andai kamu masih hidup, Mas. Kamu juga pasti bangga," batin Jihan. Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya. Namun, buru-buru ia menghapusnya karena tidak ingin ada yang melihatnya.
Sayang, suaminya itu melihat dan Ardinata tahu betul apa yang membuat istrinya menangis. Tatapan Jihan terus terarah pada Sahara dan Juan.
***
__ADS_1
Sarapan selesai.
Novan dan Nadien segera berangkat. Kepergian mereka hanya diantar oleh sang supir. Mereka mengerti bahwa keluarga Ardinata masih berduka.
Juan pun pamit sebentar untuk ke kantor. Ia bisa pergi dengan tenang karena ada orang tuanya yang pasti menjaga istrinya.
"Pulang jam berapa?" tanya Sahara saat mengantar suaminya ke depan rumah.
"Aku tidak akan lama, hanya mengambil beberapa berkas. Aku kerjakan di rumah, sekalian mau melihat keadaan kantor," jawab Juan. Juan pun pamit dan mencium kening istrinya.
"Hati-hati," ucap Sahara. Bumil kembali masuk ke dalam, Sahara pergi menuju kamar neneknya. Melihat ruangan itu dengan teliti, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia terus berjalan ke arah tepi ranjang, lalu duduk dan mengusap tempat tidur itu. Ini terasa mimpi baginya. Kemarin baik-baik saja, tapi takdir siapa yang tahu?
Dengan mudahnya, Tuhan membalikkan kehidupan. Sahara menghela napas dengan berat, lalu beranjak. Saat ia beranjak ternyata mamanya datang.
"Mama kira kamu ikut ke kantor," duga Jihan. "Ternyata di sini."
"Kenapa memangnya?" tanya Sahara.
"Mama buat kue, kamu cobain. Ayo, kuenya sudah matang," ajak Jihan.
***
Sahara pun terhibur, ia tak lagi sedih seperti kemarin. Keberadaan mamanya membuat lukanya terobati. "Mama jangan pergi lagi ya?" ucap Sahara.
"Tidak, sayang. Mama akan tetap di sini, Mama mau lihat cucu pertama. Cucu Mama pasti cantik sepertimu," pujinya.
"Mama juga cantik makanya anak Mama ini cantik." Sahara dan Jihan tertawa renyah.
"Kalian tidak ajak-ajak, Papa. Papa juga mau dong itu kuenya," sahut Ardinata. Pria itu sibuk menelpon dengan pekerjanya yang di luar negri, ia juga berkata bahwa akan ada orang nanti datang ke kantornya. Siapa lagi kalau bukan Novan. Pria itu sangat beruntung dikelilingi orang-orang baik.
"Papa sibuk terus makanya Mama sama Sahara saja," jawab Jihan.
"Papa sedang urus perusahaan, Ma. Nanti Novan ke sana setelah urusannya selesai," jawab suaminya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun akhirnya mengobrol, dan Sahara menceritakan tentang pertemuannya dengan Juan, ia sudah janji akan bercerita. Ardinata dan Jihan awalnya terkejut. Jihan jadi merasa sangat bersalah pada Nadien karena sudah memarahinya waktu itu. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan Sahara, karena semua ini ulah Sonia.
Sahara merasa lega karena sudah mengatakan semuanya pada orang tuanya. "Intinya, kalian itu berjodoh. Dan jodoh itu ada ceritanya masing-masing. Seperti kami," kata Ardinata.
Semua mempunyai hidup baru, Sahara bertemu dengan mamanya. Dan untuk Novan sudah jadi orang kaya dan telah menikah. Takdir, rizki, jodoh dan maut sudah ada yang mengatur.
Tak lama, Juan pun pulang.
"Duh yang lagi pada santai," ucapnya. "Eh apa ini?" tanya Juan melihat kue di piring, lalu mencicipinya. Juan pun bergabung dan duduk di samping istrinya.
"Cepet pulangnya?" tanya Ardinata.
"Iya, Pa. Hanya ambil beberapa berkas saja," jawab Juan.
"Sebaiknya kalian istirahat saja," ucap Jihan.
"Ayo, yang," ajak Juan pada istrinya. Juan dan Sahara pun pergi ke kamar.
Setibanya di sana, Sahara merebahkan tubuh. Dan Juan membuka laptop. Setelah itu selesai, ia menyusul istrinya yang tengah berbaring sambil memainkan ponselnya. Sahara melihat-lihat baju bayi, kandungannya sudah semakin besar. Dan keperluan bayi belum dibeli.
"Ada yang cocok tidak?" tanya Juan. "Kalau ada dibeli saja," ucapnya lagi. Juan mencoba buat istrinya tak larut dalam kesedihan.
"Aku mau beli langsung, gak mau online," jawab Sahara. "Ini hanya lihat modelnya saja kok."
"Mau kapan? Aku siap saja, mau hari ini pun aku siap," kata Juan.
"Nanti saja, tunggu sampai selesai tujuh harian nenek. Setelah itu baru kita siapkan kebutuhan calon anak kita. Aku mau kamu siapkan kamar yang cantik untuknya."
Sahara mengalihkan bayang-bayang wajah neneknya dengan menyibukkan diri menyiapkan kebutuhan calon anaknya. Dan Juan akan menyiapkan apa pun yang diinginkan istrinya. Apa yang ia punya memang untuk membahagiakan keluarga kecilnya, apa lagi kebahagiaan Sahara yang paling utama
...----------------...
Rekomendasi hari ini.
__ADS_1