
Di dalam kamar, Sahara baru mengecek isi lemari baju yang katanya sudah disiapkan oleh suaminya. Melihat isi lemari itu penuh dengan baju-baju long dres.
"Kenapa bajunya begini semua?" gumamnya.
"Karena itu cocok untuk orang hamil," sahut Juan yang baru saja tiba. Pria itu membawa laptop dan berkas-berkas yang baru saja dikirim oleh sekretarisnya.
"Perutku belum buncit, kamu juga tau cara berpakaianku seperti apa. Aku tidak terbiasa memakai baju perempuan," protes Sahara.
"Lambat laun perutmu akan besar dan jangan pakai pakaian seperti itu." Ucap Juan sambil melirik tubuh Sahara. Sahara berpenampilan tomboy jika sedang di rumah, dan wanita itu akan berubah cantik jika saat sedang ada acara.
"Apa itu pekerjaanmu?" tanya Sahara saat melihat laptop yang diapit di dada suaminya.
"Hmm," jawab Juan. "Mandilah dan segera ganti bajumu, mulai sekarang jangan pakai baju ketat-ketat," ujarnya.
Sahara tidak protes, ia langsung pergi ke kamar mandi karena akan membersihkan diri. Hari pun sudah mulai sore. Dan Juan, pria itu tengah mengerjakan pekerjaan yang sedang mengecek laporan yang biasa dilakukan satu minggu sekali.
Tak lama dari situ, ponsel milik Juan berdering.
"Nadien," ucapnya saat melihat ID pemanggil. Ia beranjak dari tempatnya, lalu pergi ke balkon untuk menerima panggilan dari kekasihnya.
***
Sahara baru selesai mandi, masih menggunakan jubah handuk serta kepalanya yang masih terbungkus oleh handuk. Wanita itu hendak mengambil baju dari lemari, tapi ia malah mendapati suaminya yang sedang bertelepon di luar. Sahara mengintip dari jendela bahkan ia menguping, ia yakin kalau itu pasti dari kekasihnya.
Dan benar saja, ia mendengar suaminya menyebut kata 'sayang' wajah Sahara memerah karena kesal. "Mereka pasti mau ketemuan, aku harus menggagalkannya. Setidaknya buat kekacaun saat mereka bertemu, tapi apa ya?" Sahara berpikir sambil menyentuh dagu. Ia tahu apa yang harus di lakukan olehnya. Senyum licik itu nampak di bibir Sahara.
Juan selesai bertelepon, ia kembali ke dalam kamar, lalu melihat Sahara tengah memilah baju yang akan dikenakannya. Juan tak mengganggu, ia kembali ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Sahara, ia kembali ke kamar mandi untuk memakai baju di sana.
Beberapa menit kemudian, Sahara keluar dari balik pintu. Memakai long dres bermotif bunga mawar dengan ukuran besar. Model long dres itu dengan seutas tali karet di bagian pundak. Rambut basahnya digerai, dan Juan melihatnya tanpa berkedip. Wanita itu sangat cantik, baju berwarna merah itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Sahara berjalan menuju tempat rias. Juan benar-benar menyiapkan semua keperluan Sahara. Sahara duduk di kursi, bercermin melihat pantulannya di sana. Melihat banyak make-up di sana, ia sedikit memoles wajahnya. Lalu memberikan warna di bibir, dengan warna merah menyala. Ia sengaja memakai warna itu karena akan melancarkan aksinya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Juan melihat penampilan Sahara yang beda dari biasanya.
"Tidak akan kemana-mana, hanya ingin tampil cantik saja. Memangnya tidak boleh?" tanyanya.
"Boleh, itu lebih bagus malah. Jangan buat aku malu," ucapnya jujur.
Sahara hanya memutar mata jengah. "Ya, aku memang tak secantik kekasihmu," ujar Sahara. Lalu ia keluar dari kamar.
***
Juan masih mengerjakan pekerjaannya. Sahara datang sambil membawakan kopi.
"Ini, aku rasa kamu pasti lelah dan membutuhkan minuman untuk merilex-kan otakmu." Ucap Sahara seraya meletakkan kopi di atas meja.
"Minuman ini tidak ada obatnya 'kan?" tanya Juan curiga.
"Tidak, lagian obat apa?" jawab Sahara. Juan teringat akan kelicikan Sahara waktu itu, memasukkan obat perangsang pada minumannya sampai mereka berakhir tidur bersama.
Sahara melihat suaminya sudah rapi, ia semakin curiga bahwa lelaki itu akan menemui kekasihnya. Tapi Sahara tidak akan melarang karena ini bagian dari rencananya. Bibirnya merahnya sudah siap dengan rencananya.
"Sahara, aku ada urusan sebentar," kata Juan.
"Hmm, pergilah." Jawab Sahara tanpa menoleh karena ia tengah fokus pada majalah yang sedang dibaca.
Tumben tidak melarangku? Tadi saja dia curiga kalau aku mau menemui Nadien. Tapi baguslah.
Saat Juan akan melangkah, Sahara pun bangkit. Wanita itu seolah tersandung saat akan berjalan, lalu dengan sigap Juan menangkap tubuh istrinya. "Hati-hati, Sahara." Kata Juan yang berhasil menangkap tubuh istrinya. "Kalau tadi kamu jatuh bagaimana? Jangan ceroboh, belajar jalan dengan anggun," cetusnya.
Padahal, Sahara sengaja melakukan itu. Kini, warna bibir itu mendarat dengan sempurna di kemeja yang dipakai oleh Juan. Sahara berharap itu akan menjadi bumerang saat suaminya bertemu dengan kekasihnya.
"Ya, maaf. Aku akan lebih hati-hati, kalau mau pergi, pergi-lah. Selagi aku tidak melarangmu, cepat pergi mumpung aku sedang baik hati." Dalam hati, Sahara tertawa puas. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Bener gak papa kalau aku pergi?" tanya Juan memastikan.
"Hmm, pergilah."
Dan Juan pun akhirnya pergi.
***
Di rumah sakit.
Nadien menunggu kedatangan Juan, ia meminta kekasihnya untuk menjemputnya. Keadaannya sudah membaik pasca operdosis kemarin. tak lama, Juan pun akhirnya sampai. Dengan rasa bahagia kalau kini ia mendapatkan kesempatan kedua dari Nadien.
Tapi, apa yang terjadi setibanya di sana?
Nadien hendak memeluk dan mencium, tapi itu tidak terjadi kala ia melihat tanda bibir di kemeja kekasihnya. Tentu Nadien marah, ia tahu siapa pemilik bibir itu, siapa lagi kalau bukan wanita itu. Wanita yang kini menjadi istrinya.
"Katanya kamu tidak mencintainya, tapi apa ini?" Nadien sangat marah. "Mau sampai kapan kamu membohongiku? Aku bukan anak kecil, Juan!"
Juan yang tidak mengerti apa maksud kekasihnya hanya bisa diam mendapat cecaran amukan dari Nadien. "Akhir-akhir ini kamu sering marah-marah tidak jelas, kamu itu kenapa?" tanya Juan.
"Apa kamu bilang? Aku marah tidak jelas! Kamu yang selalu memancing emosiku, apa ini? Mau pamer kalau sekarang sudah bisa bebas melakukan apa pun dengan istri yang katamu tidak kamu cintai itu!"
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti!"
Nadien mengambil sesuatu dari dalam tasnya, mengambil kaca lalu memberikannya pada Juan. "Lihat, apa itu masih kurang jelas?!"
Juan melihat bekas bibir itu yang menempel di kemajanya. Sahara ...!!!
"Masih mau mengelak? Kamu benar-benar keterlaluan, Juan ..." Nadien pergi meninggalkan Juan. Lelaki itu menyusul, tapi Nadien menepis tangan Juan yang sempat meraih tangannya
"Aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Nadien. Ini salah paham!"
__ADS_1
Untuk yang kesekian kalinya Nadien merasa dibohongi, kini gadis itu sudah tidak percaya lagi. Nadien benar-benar pergi dan Sahara berhasil mengacaukan semuanya dengan tanda bibirnya.