
Keesokan paginya.
Sesuai janji Sahara, Juan menagih itu. Ia membelai pucuk kepala istrinya sampai wanita itu menggeliat. Kedua pu*ing yang menantang membuat Juan melahapnya karena Sahara masih dalam keadaan polos setelah aktivitas semalam.
Sahara merasa nikmat saat suaminya memainkan lidah di pu*ingnya. Bahkan ia menjambak rambut suaminya. Rasa sakit dan nikmat menjadi satu, karena Juan memompanya seperti bayi yang kehausan.
"Aku akan menagih janji itu," kata Juan setelah melepaskan bibir dari gunung himalaya.
Karena sudah janji, Sahara langsung beranjak dari posisinya. Ia langsung saja duduk di perut suaminya. Juan memainkan kedua gunung yang menggantung tepat di depannya. Mengusapnya lalu sedikit mere*asnya. Sahara mendaratkan tubuhnya di atas dada suaminya, lalu menautkan kedua bibir mereka.
Kepemilikan pria itu sudah menegang, bahkan sudah dalam keadaan on. Sahara yang peka pun langsung memasukkan milik suaminya ke bagian intinya. Perlahan, ia memajukan pinggul. Perlaha tapi pasti.
Pagi ini dibuat indah oleh Sahara. Juan hanya menikmati apa yang dilakukan istrinya. Ia sangat puas karena Sahara begitu pandai. Mereka terus bergelung di dalam selimut. Bahkan mentari pagi sudah menyongsong menerobos masuk ke dalam kamar lewat celah jendela.
Jam menunjukkan pukul 8. Juan sangat terkejut saat melihat jam di dinding, ia terlalu anteng dengan mainan barunya.
"Sayang, kita udahan ya. Aku harus ke kantor, dan aku sudah telat," ucap Juan.
"Di kantorkan ada Novan, Maya pasti memberi arahan padanya. Si jabang bayi minta dielus," ucap Sahara dengan manja.
"Si jabang bayi apa ibunya?" Meski begitu, Juan tetap melakukan apa yang diingikan istrinya. Sahara tengah manja dan itu tidak setiap hari, jadi Juan putuskan untuk tidak ke kantor pagi ini. Biar Novan belajar menghandle pekerjaannya. Novan pasti semangat bekerja apa lagi kerja bareng dengan Nadien.
Nadien mendapat kontrak kerja sehingga mereka pasti bertemu setiap hari. Semoga dengan begitu, Sonia tak lagi menganggu Juan juga Sahara.
"Kita mandi yuk?" ajak Juan. Sahara mengangguk, lalu suaminya menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Tak ada aktivitas lain selain mandi bersama di dalam sana. Karena keduanya sudah sangat lelah, entah berapa kali Juan mencapai puncaknya sampai ia pun menyerah.
Susai mandi, Sahara membuatkan sarapan. Dan Juan pun ikut membantu, ia membuatkan susu untuk istrinya. Sedang asyik berdua, tiba-tiba mereka kedatangan tamu. Juan dan Sahara menoleh ke jendela, jendela itu terletak di dapur sehingga mereka bisa melihat ke luar dengan sangat jelas.
"Mama," ucap Juan saat melihat ibunya turun dari mobil. Sahara dan Juan pun tersenyum bahagia ketika tahu siapa yang datang. Mereka menyambut kedatang Jihan dan Ardinata.
__ADS_1
***
"Wah, perutmu sudah mulai terlihat," ucap Jihan. Lalu mereka berpelukan. Jihan dan Ardinata masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Ardinata mengerutkan kening saat tahu anak dan menantunya lebih memeilih tinggal di rumah ini. Padahal, rumah dulu lebih besar juga bagus. Tapi kenapa mereka tinggal di sini? pikirnya.
"Aku lebih nyaman tinggal di sini," tutur Sahara saat menyadari ekpresi papa mertuanya
"Iya, tidak apa-apa," timpal Jihan. "Mau tinggal di mana pun sama saja, yang penting teduh tidak kehujanan juga tidak keanginan," sambung Jihan. Sahara persis dirinya, tidak terlalu suka rumah besar dan itu malah menakutkan menurutnya. Terbiasa hidup di perkampungan, dan rumah-rumah di kampung tidak ada yang besar juga mewah jadi Jihan juga Sahara merasa nyaman tinggal di rumah sederhana.
"Berapa usia kandunganmu, Ra?" tanya Jihan.
"Tiga, Ma. Bentar lagi masuk 4 bulan," jawab Sahara.
"Empat bulan? Berarti sebentar lagi adain syukuran, dulu Mama gitu saat hamil suamimu. Usia kandungan 4 bulan kita adain syukuran," kata Jihan.
"Oh iya, Mama sampai lupa, kamu gak kenalin Mama sama keluargamu? Mama dan Papa 'kan tidak tau siapa orang tuamu," ucap Jihan.
Sahara diam, ia tak bisa menjawab karena dari dulu berbohong akan keadaan orang tuanya. Mau tidak mau, Sahara mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang tua Juan awalnya terkejut, tapi apa boleh buat? Sahara kini sudah menjadi menantunya dan sebentar lagi akan memberikan seorang cucu untuk mereka.
"Maafkan aku, Ma Pa. Aku tidak bermaksud membohongi kalian," kata Sahara.
"Aku yang salah," timpal Juan.
"Sudahlah, di sini tidak ada yang salah atau bener. Yang Mama harap kalian hidup bahagia, jadi kapan kamu mau kenalkan Mama pada nenekmu?" tanya Jihan.
"Nanti aku suruh orang jemput nenek," sahut Juan.
***
__ADS_1
Kedatangan orang tua Juan membuat Sahara semakin dicintai. Jihan sangat memanjakan dirinya, makanan apa pun yang diinginkan Sahara langsung dibuatkan oleh ibu mertuanya. Jihan merasa tidak direpotkan, justru ia senang bisa memberikan apa yang diinginkan calon cucunya itu.
"Jangan sungkan, Mama akan berikan apa yang kamu minta," ujar Jihan.
"Iya, Ma. Untuk saat ini udah dulu, aku sudah kenyang." Sahara tidak berdaya, jika ia tinggal satu rumah dengan mertuanya bisa-bisa timbangannya naik drastis, Sahara tidak mau gemuk tapi Jihan terus memaksa menantunya itu banyak makan agar kandungannya sehat.
Saat Sahara dan Jihan bersama, Juan pun menghampiri mereka. "Kalian berdua anteng sekali, apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Juan penasaran.
"Ini rahasia perempuan kamu jangan ikut-ikut!" timpal Sahara. Sahara tidak mungkin membicarakan mertuanya kepada suaminya, Juan pasti lebih memilih ibunya yang terus menyuruhnya banyak makan.
"Oke! Aku tidak akan ikut campur. Oh iya, aku pamit keluar dulu ya," kata Juan.
"Mau kemana? Jangan tingglkan aku." Sahara benar-benar manja, bahkan suaminya sampai tidak boleh kemana-mana.
"Aku pergi hanya sebentar kok, cuma jemput, nenek saja. Lagian itu juga disuruh Mama," jawab Juan.
Kalau sudah menyangkut orang tua, di situ juga Juan paling terdepan. Ia akan menjaga nama baik ibunya. Juan pun pergi untuk menjemput nenek Sahida, dan ia pamit pada istrinya juga mamanya.
"Hati-hati," kata Jihan.
"Iya," jawab Juan pada ibunya. "Sayang aku berankat dulu."
***
Nenek Sahida bersiap-bersiap karena cucu menantunya menjemputnya. Ditambah lagi ia sangat senang bahwa Sahara akan menggelar acara syukuran 4 bulanan. Sahida sudah tidak sabar menunggu kelahiran cicitnya itu. Namun, ia kepikiran akan orang tua Juan. Ia takut mereka tidak menerima kehadiran dirinya.
Sahida sampai di rumah Sahara, lalu melihat Jihan. Nenek itu tertegun saat melihatnya. Wajah Jihan mengingatkannya pada masa lalunya.
"Ayok, Nek," ajak Juan, tapi wanita tua itu enggan dan masih diam saja di ambang pintu. Tak lama, Sahara pun datang langsung menghampiri neneknya dan melewati tubuh ibu mertuanya.
__ADS_1