
"Nek, ayok masuk!" Sahara menarik tangan Sahida, namun wanita tua itu masih bertahan di tempat. Sedikit pun Sahida tidak bergeser. Sahara pun menjadi bingung ada apa dengan neneknya itu? Sahara menoleh ke arah ibu mertuanya. Jihan pun terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa mereka berdua saling mengenal? pikir Sahara.
Jihan menghampiri Sahara, wanita itu melihat wajah menantunya dengan seksama, lalu kembali melihat Sahida.
"Rara," ucap Jihan.
"Iya, aku sering dipanggil Rara," jawab Sahara.
"Tidak! Namamu memang Rara, bukan Sahara," kata Jihan, lalu wanita itu memeluk Sahara dengan sangat erat bahkan sambil menangis sesegukkan. Rara yang berarti (gadis) Rara adalah anak gadisnya yang ia tinggalkan sejak bayi.
"Lepaskan! Kamu tidak berhak menyentuh cucuku!" Sahida menarik bahu Jihan dengan kasar, bahkan wanita paruh baya itu hampir terjatuh. Untung, Ardinata yang sebagai suaminya langsung sigap dengan kelakuan Sahida yang merupakan ibu mertuanya.
Ardinata tahu cerita Jihan dimasa lalu karena ia terlibat dengan masa lalu itu, yang di mana, ia menawarkan sejumlah uang pada Jihan untuk pengobatan suaminya yang sakit keras. Jihan terpaksa melakukan itu karena ingin suaminya sembuh. Tapi, Sahida yang tidak tahu apa yang dilakukan Jihan pada suaminya beranggapan bahwa menantunya itu meninggalkan anak dan suaminya demi laki-laki lain.
Ardinata yang waktu itu sangat mencintai Jihan mengambil kesempatan itu, hingga akhirnya, Jihan rela kehilangan laki-laki yang ia cintai. Hanya karena ingin melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Randy, sebagai ayah Sahara waktu itu sembuh setelah operasi yang dilakukannya. Tapi sayang, umur siapa yang tahu. Randy meninggal karena tertabrak, ia hendak menyebrang karena ingin mengejar Jihan waktu itu.
Dari situ, Sahida sangat marah kepada menantunya. Sebelum Randy menghembuskan napas terakhir, ia berkata 'jaga Rara dengan baik, dan jangan pertemukan dengan ibunya karena Jihan berkhianat'
"Saya mohon jangan bersikap kasar!" sentak Ardinata, ia tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu oleh Sahida.
"Kenapa?" tanya Sahida. "Apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang saya lakukan saat ini," sambungnya.
Sahara dan Juan pun terdiam karena tidak mengerti, apa yang mereka bicarakan?
"Kita pulang, Sahara!" ajak Sahida.
"Ku mohon jangan bawa anakku!" Jihan berlutut di kaki Sahida.
"Anak." Juan melongo. Kalau Sahara anak mamanya itu artinya ia dan istrinya bersaudara? "Apa maksudnya ini, Ma? Aku dan Sahara adik kakak?" tanya. Sahara dan Juan pun saling pandang.
__ADS_1
Sahara yang terkejut tak bisa menahan diri, Sahara jatuh pingsan karena ia mengira telah menikah dengan saudaranya. Sepasang suami istri itu bukan saudara kandung. Ardinata waktu itu berstatus duda dan usia Juan berusia 3 tahun, selama ini mereka menyembunyikan semuanya pada Juan.
"Rara ..." Jihan menghampiri Sahara yang tengah dibopong oleh suaminya.
***
"Apa kalian tidak bisa menjelaskannya padaku?" tanya Juan yang sudah menggebu dengan kabar ini. Sahara tengah di dalam kamar dan sedang diperiksa oleh dokter. Sahida pun ada di dalam. Juan dan orang tuanya di ruangan lain.
Juan mengitrogasi kedua orang tuanya mengenai kemarahan nenek Sahida. "Katakan! Jangan buat aku marah karena sudah menikahi saudaraku sendiri!" desak Juan.
Ardinata menghela napas sebelum berucap, sebenarnya ia tidak tega mengatakan ini. Mungkin jika ini tidak terjadi, selamanya mereka akan menybunyikan semuanya dari Juan.
"Kamu bukan anakku," timpal Jihan.
Kenyatahan pahit tapi bernapas lega bahwa ia tidak menikah dengan saudaranya. Meski sakit, tapi itu lebih baik baginya. "Katakan semuanya sekarang! Aku akan lebih sakit kalau istriku ternyata saudaraku."
"Bukan, dia istrimu. Bukan saudaramu," timpal Ardinata. "Mamamu sudah meninggal karena bunuh diri, mamamu tidak mencintai, Papa. Dia lebih memilih bunuh diri dari pada harus hidup bersama, Papa." Rasa sakit Ardinata kembali mencuat. Jihan yang mengerti langsung mengusap punggung suaminya.
"Ceritanya panjang, yang penting kalian bukan saudara kandung," jawab Ardinata. "Lebih baik kita temui istrimu, Sahara pasti shock karena yang dia tau kamu itu saudaranya."
***
Sahara sudah sadar, bahkan sudah duduk di sandaran ranjang. Ia memijat pelipisnya sendiri. Ia berharap mimpi buruk ini tidak terjadi, tak terasa air matanya pun terjatuh. Lalu, Sahida pun duduk di samping cucunya.
"Ra, kita pulang ya? Tempatmu bukan di sini," ajak Sahida.
"Lalu suamiku bagaimana, Nek? Aku menikah dengan saudara kandungku," kata Sahara.
"Tidak! Kamu bukan saudaraku, kamu istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku." Juan datang dan langsung memeluk Sahara dengan posisinya berdiri menggunakan lutut.
__ADS_1
"Ma-maksudmu?" Sahara pun berharap seperti itu. "Tapi kenyataannya kamu saudaraku dan mama Jihan adalah mamaku." Sahara menangis karena sudah mendengar cerita dari neneknya yang selama ini disembunyikan selama 22 tahun.
"Kamu memang putriku, tapi suamimu bukan anak kandungku," sahut Jihan di ambang pintu.
Mendengar cerita neneknya, Sahara enggan melihat wanita yang sudah melahirkannya. Ia merasaka sakit yang amat luar biasa. Hidup tanpa kedua orang tua dan hanya tinggal bersama seorang nenek-nenek. Melihat keadaan ibunya hidup dengan bergelimang harta, sedangkan ia, untuk makan pun harus bersusah payah.
"Rara, ini tak seperti yang kamu bayangkan. Kamu harus dengar apa kata, Mama," ucap Jihan.
Sahara tidak ingin mendengar, padahal ia rindu sosok ibu selama ini. Sahara pun beranjak dari tempat tidur, berdiri karena ia akan pergi bersama neneknya. "Sekarang terserah kamu, mau ikut silahkan tidak ikut pun tidak apa-apa," kata Sahara pada suaminya.
Juan jelas akan ikut bersama istrinya, untuk saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri belum tahu bagaimana kronologinya. Sahida membantu Sahara berjalan karena wanita hamil itu masih sedikit pusing.
"Rara, Mama mohon jangan pergi. Kamu belum memberikan kesempatan pada Mama untuk menjelaskan semuanya," ucap Jihan. "Ra ..." Jihan menahan kepergian putrinya. Tapi Sahara yang masih belum terima akan perlakuan ibunya padanya juga ayahnya, ia langsung melepaskan tangan Jihan dari pergelangannya.
"Rara ...," teriak Jihan.
"Sudah, Ma. Biarkan putrimu sendiri dulu, nanti kita susul dia kalau dia sudah tenang. Kamu tidak salah, kamu istri terbaik yang aku kenal." Ardinata membujuk istrinya agar bisa tenang.
"Dia putriku, dia membenciku. Bagaimana aku bisa tenang." Jihan kembali menangis, menangisi kepergian anaknya bersama anak sambungnya.
"Nanti Papa bantu bujuk Juan biar dia yang menjelaskannya, Rara pasti mengerti dengan keadaanmu dimasa lalu."
***
"Aku mau sendiri, bisa minta tolong tinggalkan aku," pinta Sahara setelah berada di rumah nenek Sahida.
Wanita tua itu pun membuka album foto yang selama ini ia sembunyikan dari Sahara. Sahida juga merasa yakin kalau Juan bukan anak kandung dari menantunya, dari umur sudah membuktikan bahwa Juan lahir lebih dulu dari pada Sahara.
Sahida menunjukan album foto itu kepada Juan. Ada gambar sepasang pengantin yang merupakan foto Jihan juga ayah dari Sahara.
__ADS_1
"Ini ayah Sahara, nasibnya sangat memprihatinkan," tutur Sahida. "Ini kenyataan pahit yang harus Sahara alami."
Sahara mendengar itu, ia langsung meraih album foto dan melemparnya ke lantai.