Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
O.K.B (Orang Kaya Baru)


__ADS_3

Sore hari, tepatnya setelah usai jam kantor. Novan dan Nadien undur diri dari pekerjaan yang seharian ini cukup melelahkan bagi mereka. Novan juga lelah pikiran, ia belum bisa tenang jika belum bisa meyakinkan calon mertuanya, ditambah lagi dengan Sonia yang memandangnya karena dari hartanya.


Kini, Novan tengah duduk di hadapan kedua orang tua Nadien. Kakinya gemetar karena takut ditolak oleh mereka, pasalnya, Novan belum cukup membahagiakan mereka.


"Ada apa? Kata Nadien ada yang ingin dibicarakan?" Pak Chandra membuka topik.


"Mmm, anu." Novan menjeda ucapannya, tiba-tiba ia gugup. Bagaimana kalau ditanya soal persiapan resepsi? Tempat tinggal dan yang lainnya, harus jawab apa?


"Jangan buat Papa penasaran, sebenarnya ada apa, Novan, Nadien? Apa yang ingin kalian bicarakan?" desak pak Chandra.


"Sa-saya ...," ucap Novan kembali menggantung.


"Ngomong yang jelas! Jangan anu, saya aja," gemas Nadien.


Novan menarik napas dalam-dalam, ia jadi grogi. "Saya mau ajak nikah, Nadien," ucap Novan mantap.


"Nikah?" Sonia terkejut, pasalnya, diam-diam ia sering mengikuti Novan. Dan selama ini ia tahu siapa laki-laki yang ada di hadapannya ini. Tapi kali ini ia tidak ingin memutuskan hubungan anaknya secara sepihak, dan sekarang ia meminta Novan untuk membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya. "Sudah punya apa saja kamu berani ngajak Nadien menikah? Pernikahan itu bukan hanya dijalani sehari dua hari, Mama tidak mau kamu menelantarkan anak Mama satu-satunya, Nadien harus hidup dengan layak, jangan ajak susah anak Mama!" tegas Sonia.


Novan pun kini terdiam, ucapan Sonia seakan membuka jati dirinya. Bagaimana ini? Apa lagi dengan tujuanku yang mau ajak nikah tapi akad dulu, mama Nadien pasti marah karena merasa terhina. Ini lagi, Juan mana sih katanya mau beri bonus tapi sampai saat ini belum ada kabar.


"Kenapa diam? Kalau belum siap sebaiknya tunda dulu, setidaknya sudah punya rumah kek," cetus Sonia.


"Mama ...," protes suaminya.


"Lah, bener 'kan, salah emang kalau Mama ngomong kayak gitu?" tanya Sonia.


Di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara deruman mobil. Sonia dan pak Chandra pun penasaran akan siapa yang datang ke rumahnya.


"Papa ngundang tamu?" tanya Sonia. Pak Chandra menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Terus siapa dong itu?"

__ADS_1


Tiba-tiba, pembantu di rumah datang dan berkata. "Bu, Pak. Di luar ada yang jemput Den Novan," ujar seorang wanita paruh baya.


Novan dan Nadien saling melempar pandangan, keningnya berkerut karena bingung. "Siapa yang menjemputmu?" tanya Nadien.


"Tidak tau," jawab Novan.


"Tunggu sebentar gitu, sebentar lagi Novan keluar," ujar pak Chandra, pria itu tak menerima sembarangan tamu apa lagi sampai masuk ke dalam. Dan akhirnya, ia menyuruh Novan keluar untuk menemuinya.


Sonia yang kepo pun mengikuti dan mengajak suaminya, ia sangat penasaran apa jangan-jangan polisi atau pihak bank yang akan mengambil mobil yang dibawa oleh Novan. Tapi setibanya di luar. Beberapa orang mengenakan baju berwarna hitam itu menunduk kepada Novan.


"Sore, Tuan," sapa mereka.


Novan semakin bingung, siapa mereka? Kenapa memanggilnya tuan? Novan masih belum bersuara lalu melihat kearah kekasihnya sambil mengangkat kedua bahu seolah bertanya mengenai mereka, mungkin Nadien tahu siapa mereka?


Nadien menggelengkan kepalanya pelan.


"Tuan, bukankah Tuan yang meminta kami datang kemari untuk menjemput calon mertua Anda, apa Anda lupa dengan janji Anda dengan nyonya besar?" kata orang itu.


Sonia pun tercengang, orang-orang berbaju hitam itu memperlakukan Novan bak tuan muda. Apa selama ini ia salah mengikuti orang? Tapi itu benar Novan, tapi kenapa jadi seperti ini? Pikirnya.


"Kalian siapa?" tanya pak Chandra.


"Kami orang-orang yang diperintahkan nyonya besar untuk menjemput Tuan Novan, nyonya di rumah sudah menunggu katanya mau mengenalkan calon menantunya," jelas mereka.


"Apa iya ini ulah ibumu?" bisik Nadien, tapi mana mungkin? Pikirnya.


Novan pun akhirnya menyimpulkan apa ini perbuatan bosnya? Ia memang cerita kepada Juan kalau ia ingin menikahi kekasihnya sebelum pergi ke Amerika. Tapi Juan tidak pernah mengatakan apa-apa, apa lagi sampai seperti ini.


"Ya sudah, sebaiknya kita ikut saja. Mungkin beliau memang sudah menunggu di rumah," ajak Novan.

__ADS_1


"Ini serius kita mau ikut mereka? Kalau ternyata mereka culik bagaiman?" tanya Nadien pelan.


"Tidak mungkin, aku rasa ini ulah mantan pacarmu." Ucapan Novan seperti itu membuat Nadien mencubitnya. Novan kesakitan tapi dapat ia tahan karena tidak ingin orang tua kekasihnya itu bahwa mereka tengah kebingungan.


***


Di tempat lain.


Bi Ranum sudah dibuat cantik oleh beberapa orang suruh Juan, kali ini ia harus membuktikan kepada Sonia. Uang bisa membeli harga dirinya, Juan sakit hati oleh perlakuan Sonia waktu dulu. Maka dari itu, ia tak ingin Novan dihina.


"Bi Ranum cantik juga ya, cocok banget pake baju itu," puji Sahara.


Juan lakukan ini semua demi harga diri yang dulu pernah diinjak-injak oleh Sonia. Dan Novan menjadi seorang Raja malam ini di hadapan Sonia.


"Bi, ingat ya? Bibi harus meyakinkan orang tua Nadien kalau Bibi itu orang kaya, jangan sampai Novan ditolak. Bibi maukan kalau Novan menikah, ya salah satunya dengan cara seperti ini," terang Sahara.


"Tapi kenapa harus berbohong? Kalau ketauan bagaimana? Nanti Novan malag dihina dan dipecat jadi calon mantu," kata bi Ranum.


"Bibi yakin saja, orang tau Nadien pasti setuju. Makanya Bibi harus yakin, Bibi suka tidak rumah ini?" tanya Juan. Bi Ranum mengangguk. "Kalau akting Bibi meyakinkan, aku hadiahkan rumah ini untuk Novan juga Bibi," sambung Juan.


"Serius?" tanya bi Ranum.


"Serius dong, Bi. Suamiku mana mungkin berbohong, dia sudah janji akan membantu Novan sampai menikah," terang Sahara.


"Jadi, Bibi orang kaya dong, Ra?" ucap bi Ranum gembira.


"Iya, Bibi jadi orang kaya baru," ucap Sahara.


Bi Ranum melihat seisi rumah megah itu, tentu ia bahagia jika rumah sebesar ini menjadi miliknya. Ditambah, anaknya sudah kerja di kantor.

__ADS_1


"Bibi harus menyakinkan mereka ya, kami mau mengumpat dulu," kata Juan. "Sebentar lagi Novan sampai, Bibi duduk yang anggun saja di sana." Juan menunjuk sebuah sofa berwarna merah menyala. Bi Ranum nurut saja.


Beberapa pelayan pun dikerahkan untuk lebih meyakinkan bahwa Novan memang orang kaya. Juan berharap Sonia tak lagi meremehkan orang lagi, apa lagi hanya karena uang. Harta hanya titipan Tuhan, jadi ia akan menolong Novan demi harga diri seorang lelaki.


__ADS_2