
"Sahara? Kamu di mana?" Juan mencari istrinya, sejak ia kembali setelah pergi beberapa jam yang lalu. Wajahnya mulai panik karena tak menemukan istrinya itu. Ia sudah menyesuri rumah sakit, tapi tak ada jejak dari wanita itu.
"Apa yang tadi itu Sahara?" Juan jadi mengingat kejadian tadi di depan ruangan Nadien.
"Mbak, jangan mengintip itu tidak sopan." Suara itu terdengar di pendengarannya.
"Mau kemana? Tetap di sini jika kamu memang terpaksa menikah dengannya. Aku perlu bukti, apa semua perkataanmu itu benar?" tanya Nadien saat Juan hendak berdiri. Nadien memberikan kesempatan pada Juan, bahwa apa yang dikatakan laki-laki itu benar atau tidak? Nadien tidak percaya bahwa dibalik semua ini adalah ibunya.
Juan tak lagi mengedahkan suara bising di luar sana, ia tetap fokus pada tangannya yang digenggam oleh kekasihnya. Suara itu tak lagi terdengar, sedikit pun, Juan tak menyangka bahwa di luar sana adalah Sahara. Pikirannya pun kini mulai jernih.
"Sial! Sepertinya dia marah karena aku terlalu lama menemui Nadien, makanya dia pergi."
Juan memang mendapat izin dari istrinya untuk menemui kekasihnya itu, sehingga ia lupa akan permintaan Sahara yang bilang, 'boleh menemuinya tapi sebentar.'
Juan memastikan bahwa istrinya memang benar pergi, karena sejak semalam Sahara meminta tetap ingin segera pulang. Kalau dirinya pergi, bagaimana dengan Nadien? Model cantik itu baru saja memberikannyan kesempatan.
"Tapi Nadien tidak tahu kalau Sahara hamil, bagaimana ini?" Juan menimbang-nimbang, antara siapa yang ia pedulikan. "Anakku lebih penting." Juan segera pergi dari rumah sakit untuk mencari istrinya. Meski tidak mencintai Sahara, bagaimana pun wanita itu tengah mengandung darah dagingnya
Tak harus mencari kemana-mana karena ia tahu kemana wanita itu pergi.
***
Sahara berjalan kaki menuju rumah neneknya, sambil memegang perut yang tengah sakit. Lambungnya kumat, ditambah lagi ada janin yang ada dalam kandungannya.
"Aku harus kuat, ayo Sahara, jangan lemah seperti ini. Perut kosong kamu sudah terbiasa." Sahara menyemangati diri sendiri. Wanita itu terus berjalan menuju rumah neneknya, ia harus pulang walau kondisi tidak memungkinkan.
__ADS_1
Saat hampir sampai, ia melihat sebuah mobil terparkir di tepi jalan. Sahara tahu siapa pemilik mobil tersebut, ia harus hadapi ini. Ia tak boleh menghindar. Sahara melanjutkan perjalanan menuju rumah Sahida.
***
"Nek, tolong jangan salah paham pada, Sahara. Dia tidak menjual diri, waktu itu dia bingung harus kemana mencari uang untuk biaya rumah sakit, makanya kami menikah."
Sahara mendengarkan percakapan Juan yang tengah berada di rumah neneknya. Sahara terus menguping, apa kelanjutan percakapan mereka? Kenapa Juan membela dirinya? Apa lelaki itu punya alasan lain sehingga tetap menyembunyikan perbuatannya kepada neneknya?
"Ku mohon, jangan marah lagi pada cucumu. Pertemukan aku dengannya, Nek. Dia sedang mengandung anakku."
Sahida tak menjawab, tubuhnya malah bergetar hebat. Sahida shok saat mendengar penuturan suami dari cucunya itu. Bukannya percaya pada omongannya, nenek tua itu malah berpikir sebaliknya. Kalau tidak menjual diri kenapa bisa hamil sebelum menikah? Bahkan Sahida tidak tahu kalau cucunya memiliki kekasih.
"Pergilah, dan jangan kembali. Sahara tidak ada di sini." Ucap Sahida dengan nada bergetar. Memang begitu adanya, Sahara memang tidak bersamanya karena kedatangan Juan lebih cepat dari Sahara. "Nenek kecewa padanya," ucap Sahida lagi.
Setelah mendengar kata 'kecewa' Sahara pun langsung masuk untuk kembali meminta maaf pada neneknya.
Pintu terbuka dengan kasar, Sahara tak dapat menerima bahwa neneknya kecewa kepadanya. Istri dari Juan Ardinata itu langsung bersimpuh kembali di kaki Sahida. Menelusupkan wajah dikedua lutut wanita tua itu.
Sahara menangis sesegukan. "Nenek boleh membenciku karena aku tau letak kesalahanku, dan aku menyesal, Nek. 'Ku mohon jangan seperti ini, aku hanya memilikimu. Tidak ada yang peduli padaku selain Nenek."
Juan langsung menoleh saat mendengar ungkapan istri yang tak dicintainya itu. Mendengar itu hatinya terasa tercabik, ia sadar kalau Sahara memiliki suami. 'tidak ada yang peduli padaku selain nenek' kata-kata itu sungguh terngiang di telinganya.
Jahat sekali aku ini, bahkan dia istriku, mengandung anakku. Lalu, aku harus bagaimana? Ada dua wanita yang tersakiti olehku.
"Kamu sudah menikah, tentu ada yang peduli padamu, Sahara. Jadilah istri yang baik, Nenek tidak ingin mendengar keburukan tentangmu lagi. Jalani rumah tanggamu karena itu pilihanmu," kata Sahida.
__ADS_1
"Nenek merestui pernikahan kami?" tanya Sahara sembari mendongakan wajah, lalu mengusap pipinya yang basah.
"Nenek tidak ingin ada kabar yang tak mengenakan tentang rumah tanggamu."
Sahara menoleh ke arah suaminya, ia bisa menebak apa pikiran lelaki itu. Aku harus bagaimana? Nenek malah menginginkan rumah tanggaku baik-baik saja, sementara yang ada dalam hati suamiku bukan diriku.
"Sudah malam, apa tidak sebaiknya kalian bermalam di sini?" Sahida mencoba menerima pernikahan cucunya, ia pun tak memiliki siapa pun di dunia ini selain Sahara. Apa lagi melihat wajah lelah Sahara, ia menjadi kasihan. Dalam keadaan hamil, tentu ingin diperhatikan lebih.
"Aku menyayangimu, Nek." Sahara memeluk Sahida dan mencium wajahnya bertubi-tubi.
***
Di dalam kamar sempit, terang yang tak begitu terang. Hanya lampu bulat berwarna kuning yang menerangi. Sepasang suami istri yang tengah duduk berdampingan.
"Lain kali jangan pergi tanpa izin dariku," ucap Juan tiba-tiba.
"Bukannya itu yang kamu inginkan? Aku tidak mungkin bertahan dalam hubungan seperti ini, aku tahu kamu type lelaki yang setia, dan kamu juga pria yang bertanggung jawab. Kamu masih bisa bertanggung jawab kepada anak ini tanpa harus saling menyakiti," jawab Sahara.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Kamu sudah menikahiku, dan aku rasa itu sudah cukup kamu bertanggung jawab. Jadi biarkan aku hidup bersama anakku."
"Enak sekali itu lidah bicara, datang merusak, pergi pun mau bikin kacau. Apa kata orang tuaku? Kamu sudah berhasil menghancurkan hubunganku dengan Nadien, dan sekarang kamu mau membuat orang tuaku kecewa padaku? Kamu mau semua orang membenciku? Sebenarnya apa masalahmu?" Tangannya mengepal karena kesal, rahannya pun mengeras.
Kalau tidak ingat wanita itu hamil, hampir Juan lepas emosi karena Sahara terus memancingnya.
__ADS_1
"Karena aku tau kemana sampah akan dibuang!" Tidak sekarang, nanti pun ia tahu bahwa mereka akan berpisah. Kalau bisa sekarang kenapa harus menunggu nanti? Sahara takut, lambat laun perasaannya akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Juan lelaki yang sangat baik, ia tak yakin bahwa ia akan tetap pada pendiriannya. Menjadi seorang gadis bayaran, itu fokus utama. Dan hubungannya sudah terlampau jauh dari target, Sahara takut jatuh cinta kepada seorang Juan Ardinata.
Ia sadar siapa dirinya, hanya gadis miskin yang beruntung memiliki suami dengan cara yang licik.