
Beberapa hari kemudian.
Juan dan Sahara tengah mengantar Jihan dan suaminya ke Bandara. Pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan oleh lelaki paruh baya itu kini harus kembali memboyong istrinya. Ardinata tak mengizinkan istrinya tinggal bersama putrinya, tentu ia akan merasa kesepian jika tak bersama istrinya.
Kedua wanita itu kini saling berpelukan, bahkan Jihan menangis saat harus berpisah lagi dengan putrinya. Sahara pun ikut menangis melepas sang mama. Ardinata menghampiri, lalu meraih tangannya untuk segera pergi karena sebentar lagi pesawat akan terbang.
"Ayo, Ma. Nanti kita ke sini lagi, pas kesini cucu kita sudah lahir," kata suaminya.
"Berat rasanya ninggalin mereka," ucap Jihan.
"Aku pasti merindukanmu, Ma. Kabari aku kalau sudah sampai," kata Sahara. Jihan mengangguk dan sekali lagi ia memeluk putrinya.
"Jaga kesehatan dan si kecil, Mama titip Rara ya," ucapnya pada anak sekaligus menantunya itu.
Jihan dan Ardinata pun pergi dan mulai menghilang dari pandangan. Sahara dan suaminya pun segera pulang karena Sahida ikut bersamanya dan tinggal bersama. Jihan yang menyuruh ibu mertuanya tinggal bersama Sahara, melihat umurnya yang sudah tua dan Jihan tak ingin wanita tua itu sendirian di masa tuanya.
"Sayang, kamu mau mampir kesuatu empat dulu gak?" tanya Juan.
"Kemana ya? Aku kangen makan bakso langgananku," jawab Sahara.
"Di mana itu tempatnya, jauh tidak dari sini?"
"Lumayan sih, tapi aku sudah kebayabang sama kuahnya, duh bikin ngiler deh."
"Ya udah, kita mampir dulu ke sana. Kayaknya aku juga mau coba, kamu sering ke sana sama siapa?"
"Novan, siapa lagi?"
"Tapi jangan lama-lama ya? Kasian nenek," kata Juan.
"Hmm, sekalian bungkus buat nenek ya?"
__ADS_1
***
Sesampainya di sana, Juan melihat sebuah mobil yang terparkir di sana. Mobil yang sangat familiar. Ini memang bukan jam kantor, mungkin si pemilik mobil itu tengah makan siang di sana. Siapa lagi kalau bukan Novan, pria itu pun pasti bersama kekasihnya.
"Kayaknya Novan di sini juga deh," kata Juan.
"Kok tau?" tanya Sahara.
"Tuh ..." Juan menunjuk sebuah mobil berwarna silver dari dalam mobil, dan Sahara pun melihatnya.
"Ya udah, kita gabung saja sama mereka." Sahara langsung turun bahkan tak menunggu suaminya terlebih dulu, ia langsung saja masuk ke sebuah ruko yang tidak terlalu besar namun cukup ramai.
Dari dulu Juan memang tidak sombong dengan keadaannya, ditambah menikah dengan wanita yang sederhana seperti Sahara. Sahara tidak begitu menyukai makan makanan aneh, ia lebih suka makanan khas Indonesia. Namun, betapa terkejutnya saat ia melihat Novan. Tidak hanya Nadien, kedua orang tuanya pun ada di sana. Siapa lagi kalau bukan Sonia, tapi anehnya wanita itu mau diajak oleh Novan ke tempat makan seperti ini, bahkan canda tawa menghiasi mereka.
Keberadaan Novan menyadarkan Sonia, bahwa kini ia tak sekaya dulu. Pak Chandra merintih kariernya kembali dari nol pasca ketipu oleh sahabatnya sendiri, dan Sonia kini tau semuanya tentang perusahaan suaminya. Tapi tidak dengan siapa Novan, pria itu masih belum jujur dengan keadaan yang sebenarnya. Novan hanya berusaha membuktikan menjadi yang terbaik untuk Nadien, yang terpenting Nadien sudah menerimanya apa adanya.
Juan pun masuk, dan ia pun ikut terkejut apa lagi keberadaan Sahara yang masih berada di ambang pintu. Tak lama, keberadaan Juan dan Sahara pun diketahui oleh Sonia. Wanita itu tidak mengeluarkan kata apa pun, bahkan langsung menunduk seperti malu saat melihat Juan dan Sahara. Lalu, kini Novan yang melihat keduanya, tanpa ragu langsung mengajak Sahara bergabung.
Kenapa Novan malah ajak mereka? Kenapa mereka terlihat begitu akrab? batin Sonia. Apa Novan memang teman bisnisnya?
Novan tak mencegah, ia juga tidak ingin membuat Nadien merasa tidak nyaman dengan keberadaan mantannya. Nadien dan Sahara belum begitu akrab, kedua wanita itu masih sama-sama canggung.
Mereka pun duduk terpisah.
Juan dan Sahara sudah memesan bakso, tak lama bakso yang dipesan pun datang. Juan begitu romantis, ia menyuapi istrinya, meniup bakso terlebih dulu baru diberikan, dan Sahara menerimanya, makan dengan sangat lahap karena itu jenis makanan favoritnya.
"Sonia sudah berubah ya, dia mau makan di tempat seperti ini," bisik Sahara. Ia ingat betul wanita macam apa Sonia itu.
"Ya baguslah, kehadiran Novan bisa merubah hidupnya yang terlalu sombong," jawab Juan. "Aku denger sih perusahaannya sudah mulai bangkrut."
"Oh ya, Novan harus hati-hati aku takut wanita srigala itu hanya memanfaatkan Novan. Apa jangan-jangan dia sudah tau siapa Novan makanya diam saja, aku takut dia punya rencana untuk balas dendam." Firasat Sahara tidak enak, apa lagi dengan sikap Sonia yang berubah drastis.
__ADS_1
"Iya, kita harus tetap waspada wanita licik selalu banyak akal," sahut Juan, apa lagi mengingat kejadian di mana Sonia hampir membunuh calon bayi mereka. "Aku takutnya Sonia sudah tau siapa Novan," sambungnya.
"Iya, aku juga beepikirnya begitu, tapi semoga saja tidak." Mereka pun melanjutkan aktivitasnya.
"Ra, kami duluan," pamit Novan.
"Ah, iya," jawab Sahara.
***
Karena makanan mereka sudah habis, Sahara pun memesan 2 bungkus untuk di bawa pulang, satunya untuk Sahida, satunya lagi untuk security.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang. Sahida senang mendapati cucu mantunya yang begitu perhatian. Juan tak segan menganggapnya sebagai nenek sendiri.
"Terima kasih selalu ingat sama Nenek," kata Sahida yang senang dengan perhatian cucunya.
"Ah, Nenek. Gitu aja mesti berterima kasih, justru aku yang harus berterima kasih kalau tidak ada Nenek entah bagaimana nasibku saat ini." Sahara memeluk neneknya dengan sayang. Kebahagiaan itu menyelimuti keluarga kecil mereka.
***
Malam pun tiba.
Sahara tengah di tempat tidur, perutnya dielus oleh suaminya.
"Aku jadi tidak sabar menunggunya lahir, oh iya, kapan kita periksa lagi?" tanya Juan. "Diusianya sekarang kalau di USG apa kelami*nya sudah ketauan?"
"Gak tau, inikan hamil pertamaku. Besok kita periksa aku juga lupa kapan tanggal harusnya ke dokter lagi, bukunya aja lupa."
"Kok bisa? Kenapa bisa begitu?"
"Kan waktu kejadian kemarin itu buat hatiku kacau, aku lupa di mana terakhir kali aku meletakkan buku kandunganku. Sudah malam, aku ngantuk kita tidur yuk?" ajak Sahara.
__ADS_1
"Ish ... Jangan tidur dulu dong, kita olah raga sebentar, udah lumayan lama nih kita ..." Ucapan Jaun menggantung karena Sahara langsung membekap mulutnya dengan bibirnya. Sontak, buat Juan langsung menahan tautan itu, bahkan memperdalam ciuman mereka.
Kaki Sahara saja sudah membelit di pinggang suaminya, Sahara cukup agresif malam ini dan membuat Juan begitu gencar dengan aksinya. Di sepanjang malam mereka mengahabiskan waktunya dengan kucuran keringat. Keduanya bahagia, sangat bahagia.