
Hari-hari berlalu begitu cepat, Sahara baru terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sesuatu di dalam perutnya. Namun, ia mengkhiraukannya karena sering terjadi kontraksi palsu. Sudah beberapa kali ia tertipu, dan rasanya sudah malu saat datang ke rumah sakit karena kontraksi palsu itu. Perkiraan dokter, Sahara melahirkan 1 minggu lagi.
Juan baru saja selesai mandi besar, semalam ia sudah bercinta dengan istrinya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan selagi bisa menjamah tubuh istrinya. Bahkan dokter menyarankan sering-sering berhubungan agar persalinan lancar. Sahara ingin melahirkan secara normal.
"Sayang kamu mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat," titah Juan. Cuaca hari ini memang sedikit mendung, jadi Juan berinisiatip menyiapkan air hangat untuk istrinya.
Tapi, Sahara malah menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut. Ia meringkuk menahan sakit, sakitnya semakin terasa dan semakin melilit di bagian pinggang. Sesekali ia merema* selimut, keringat sudah bermunculan di area kening. Dan sayangnya, Juan tidak tahu akan hal itu. Sahara memang seperti ini setiap pagi, bumil itu sangat malas jika disuruh mandi pagi olehnya.
Dengan santai, Juan memakai dasi sambil bercermin. Menyentuh dagu dan memutarkannya ke kiri dan ke kanan, jambangnya sudah mulai tumbuh dan merasa tidak nyaman tapi Sahara melarang mencukurnya. Bumil itu ada-ada saja, keinginannya ketika mendekati persalinan malah aneh-aneh.
"Sayang, bangun. Aku mau berangkat nih," ucap Juan lagi.
"Hmmm, pergi-lah. Aku mau tidur sebentar lagi," jawab Sahara di balik selimut.
Juan menghela napas, jawaban itu hampir setiap hari ia dengar. Tapi ia tak mempermasalahkannya. "Ya udah, aku berangkat." Juan mendekat hendak mencium istrinya terlebih dulu, tapi Sahara malah menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
"Jangan cium kali ini, aku bau," kata Sahara tiba-tiba. Padahal ia tak ingin merepotkan suaminya pagi ini. Juan memang harus ke kantor karena ada meeting penting sehingga ia tak bisa meninggalkannya. Karena Novan masih berada di luar negri, dan pagi ini mereka kembali ke tanah air untuk mempersiapkan kepindahan mereka dan rencananya akan menetap di sana setelah resepsi pernikahannya nanti digelar.
"Ya udah, aku berangkat sekarang," ucap Juan sambil berlalu.
***
"Mana Rara?" tanya Jihan yang tengah berada di ruang makan bersama suaminya. Ardinata tak lagi mengurus pekerjaan karena ia ingin menikmati masa tua bersama istrinya dan saat ini tengah menantikan cucu pertama mereka.
"Biasa, Ma," jawab Juan. Jihan sudah tahu arti jawaban biasa itu sehingga ia pun tak mempermasalahkannya, paling sebentar lagi Sahara akan muncul, pikir Jihan. "Ma, Pa. Aku berangkat dulu ya," pamit Juan.
"Iya," jawab orang tuanya bersamaan. Setelah kepergian Juan beberapa saat, Jihan mulai berpikir. Kenapa putrinya tak kunjung datang? Biasanya bumil itu akan muncul sekitar jam setengah delapan atau jam delapan, tapi ini sudah jam delapan lewat. "Pa, aku temui Rara dulu ya? Dia 'kan belum sarapan."
Ardinata hanya mengangguk sambil meminum kopi, lalu kembali membaca koran pagi itu. Lalu ia hanya menatap punggung istrinya yang kian menghilang menaiki anak tangga. Dan tak lama ....
__ADS_1
"Pa ...," teriak Jihan. "Papa ....," teriaknya lagi.
Ardinata yang mendengar langsung meletakkan koran di atas meja dan membuka kacamatanya. Ia pun segera berlari menuju kamar Sahara. Tak biasanya istrinya itu berteriak.
"Ya, Ma. Ada ap---," ucap Ardinata terputus, ia shock melihat darah sudah berceceran di lantai.
"Pa, Rara mau melahirkan," ucap Jihan. "Telepon ambulan, kita harus segera bawa Rara ke rumah sakit."
Sahara terus meringis bahkan sudah ngeden. Ia mencengkram sisi ranjang kuat-kuat, seketika ia ambruk terduduk di lantai. "Aku sudah tidak kuat, Ma. Sepertinya bayinya udah mau lahir," ucap Sahara sambil ngeden.
"Tahan dulu ya, kamu tidak mungkin melahirkan di sini," kata Jihan. "Telepon Juan kalau begitu, sekalian bawa dokter atau bidan terdeka," titahnya pada suaminya. Melihat keadaan Sahara memang sudah tidak memungkinkan jika harus dibawa ke rumah sakit, ketubannya saja sudah pecah.
"Mama ....," teriak Sahara. Ia mengatur napasnya sendiri. "Huhuhuhh," sambil ngos-ngosan. Sahara kembali ngeden.
"Panggil bi Mina atau Lastri," ucap Jihan. Ia menyuruh asisten-nya datang untuk membantu proses kelahiran cucunya. Tiba-tiba, Jihan menjadi seperti bidan. Ia menyuruh anaknya mengatur napas sebisa mungkin ia melakukan yang terbaik untuk anaknya.
Ardinata malah diam seakan terhipnotis, melihat darah bersimbah mengingatkannya pada mantan istrinya yang bunuh diri waktu itu. Tubuhnya malah lemas dan tak bisa berbuat apa-apa, sampai-sampai Jihan merasa kesal pada suaminya itu. Keadaan lagi genting, suaminya malah terlihat seperti kena ayan.
Ia langsung berlari sambil mencoba menghubungi Juan.
Tut ... Tut ... Tut ....
Ponsel Juan berdering, ia tengah dalam perjalanan menuju kantor.
"Papa," ucap Juan sambil melihat layar ponselnya. "Iya, pa. Ada apa?" tanya Juan.
"Panggil dokter atau bidan, bawa ke rumah sekarang istrimu mau melahirkan," ucap Ardinata di sebrang sana.
Juan malah melongo dan tak percaya. "Jangan becanda, Pa. Tadi dia baik-baik saja dan tidak menunjukkan kontraksi, mungkin kontraksi palsu lagi," jawab Juan santai.
__ADS_1
Ardinata nampak kesal pada anaknya karena tak percaya, lalu pria paruh baya itu berlari menghampiri istrinya yang tengah bersama Sahara. Ia menyodorkan ponsel agar Juan dapat mendengar istrinya yang tengah kesakitan.
"Ma, rasanya aku sudah tidak kuat, bayinya mau lahir," ucap Sahara, dan itu terdengar langsung oleh Juan.
"Hallo, hallo, Pa! Aku akan segera pulang dan bawa dokter atau bidan, tunggu aku jangan dulu lahir," kata Juan.
"Pak, kita tidak jadi ke kantor, pergi ke rumah sakit saja," titah Juan pada supir. Tapi ia kembali berpikir, akan membutuhkan waktu lama jika harus ke rumah sakit. "Kita cari bidan terdekat saja, Pak. Kita harus cepat sampai rumah istriku mau lahiran," kata Juan lagi dan itu terlihat sangat panik.
***
"Atur napas, lalu dorong," ucap Jihan membantu persalinan. Sahara sudah di tempatkan di tempat tidur, kakinya terlipat dan siap melahirkan. Sahara mengatur napas siap mendorong kuat-kuat.
Kedua asisten di rumah ikut membantu majikannya. Lastri terlihat sedang menyialkan pakaian bayi, dan Mina tengah menyangga tubuh Sahara karena bumil itu bersandar di tubuh wanita itu.
Sesekali, Jihan melirik jam yang menempel, waktu sudah menunjukkan pukul 09. 45. Sampai saat ini Juan masih belum juga sampai.
Sahara sudah berkeringat dingin, sekali dorongan masih belum cukup bahkan tubuhnya sudah terasa lemas. Mungkin jika berada di rumah sakit wanita itu sudah di infus.
"Pa, Juan masih di mana? Lama sekali dia!" gerutu Jihan.
"Sebentar lagi, Ma. Katanya sudah di jalan dan dia bersama bidan," jelas Ardinata.
Huhuhuh ... Sahara masih mengatur napas, sekali lagi ia mencoba ngeden dan mendorong kuat-kuat. Jihan menjadi bidan dadakan sehingga ia berhasil membantu putrinya melahirkan.
Dan seketika, suara bayi pun terdengar.
"Pa, bayinya," kata Jihan.
...****************...
__ADS_1
Tambahan bacaan hari ini.