Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Bahwa Kamu Suamiku


__ADS_3

"clien-nya perempuan apa laki-laki?" tanya Sahara.


"Perempuan," jawab Juan apa adanya.


"Oh ... Aku belum tau apa pekerjaanmu, kalau clien-mu tanya nanti aku jawab apa tentangmu? Aku 'kan tidak tahu siapa kamu." Sahara menoleh ke arah Juan yang kini sedang menyetir.


Seperti biasa, Juan tak memperlihatkan siapa jati dirinya. Selama ini ia tak memakai jasa supir, ia tak ingin terlihat mencolok bahwa ia seorang pemimpin. "Mereka hanya akan bicara padaku, nanti kamu duduk di meja terpisah saja. Aku hanya akan membicarakan soal pekerjaan dengannya, setelahbtanda tangan semuanya selesai," jawab Juan.


Karena semua sudah diatur oleh Maya, Juan hanya ingin bertemu dengan manager dari model tersebut, ia juga tidak tahu siapa yang menjadi modelnya. Karena selama ini ia tak langsung turun tangan, semua Maya yang mengerjakannya. Wanita itu tak hanya sekretaris bisa dibilang Maya tangan kanannya.


"Apa masih jauh?" tanya Sahara.


"Sebentar lagi, Maya sudah ada di sana," jawab Juan.


"Siapa, Maya?" tanya Sahara, ia sama sekali tidak tahu siapa saja yang bekerja dengannya.


"Dia sekretarisku, dia yang menghandle semua pekerjaanku," jawabnya.


Sahara hanya manggut-manggut. Tak lama, mobil yang ditumpanginya memasuki area parkir. Gedung tinggi yang dilengkapi restauran mewah sebagai tempat pertemuan mereka. Karena sang model dan manager-nya sudah berada di sana bersama Maya.


Juan turun dari mobil terlebih dulu, lalu menuju pintu yang diduduki Sahara. Juan bersikap baik pada istrinya, meski tidak cinta tapi wanita itu tengah mengandung calon anaknya. Sahara harus selalu happy dan tidak boleh stres. Diam-diam, Juan selalu konsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Maka sebab itu ia selalu sabar menyikapi istrinya.


Sikap baik kepada istri tak harus dengan cinta atau gombalan, karena sejujurnya Juan tak pandai bergombal seperti pria pada umumnya. Juan menjadi lelaki apa adanya. Semua dijalani seperti air mengalir.


Juan membuka pintu, dan Sahara pun turun. Wanita itu terlihat sangat anggun, menggunakan dres berwarna pink motif daun bolong-bolong. Juan meraih tangan Sahara dan melingkarkan tangan istrinya di lengannya. Ia harus mengakui di depan publik bahwa Sahara istrinya.


Sahara melirik ke arah tangannya yang melingkar, ia tersenyum. Lalu berjalan bersama menuju lif. Semua mata tertuju pada mereka, sampai Sahara merasa tidak PD karena takut ada yang salah dengan penampilannya.


"Apa ada yang aneh dengan penampilanku? Kenapa semua melihat ke arah kita?" tanya Sahara dengan bisikan. "Aku takut kamu malu karena mengajakku," bisiknya lagi


Juan langsung menggenggam tangan Sahara sebagai jawaban, lalu tersenyum sambil menoleh ke arah wajah istrinya. Sahara tak berkutik saat melihat senyum manis itu, hatinya meleleh dengan tatapan suaminya.


Ya, Tuhan ... Beruntungnya aku.

__ADS_1


Sahara jadi salah tingkah, sepertinya sudah tumbuh perasaan pada suaminya itu. Tapi apa daya, yang ia tahu Juan hanya mencintai kekasihnya. Bolehkah ia merampas hati suaminya dari wanita itu?


Beberapa detik kemudian.


Ting ...


Pintu lif terbuka. Sahara dan Juan keluar bersama bahkan Juan tak melepaskan genggaman tangannya, entah kenapa ia tak ingin melepaskannya. Wajah cantik Sahara menjadi pusat perhatian. Perlahan, Juan tak memikirkan Nadien bila sedang bersama istrinya. Komitmen-nya selalu ia jaga. Tak ada nama Nadien jika mereka sedang berdua.


Lambat laun, mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Juan mengedarkan pandangan mencari meja yang di tempati oleh Maya. Di sebrang sana, seorang wanita melambaykan tangannya ke arahnya.


"Itu dia," ucap Juan. Sahara pun melihat ke arah Maya, lalu mereka menghampiri. Ada dua wanita di depan Maya, dan posisi mereka membelakangi arah datangnya Juan dan Sahara.


Setibanya di sana, betapa terkejutnya Juan saat melihat model dan seorang wanita di sebelahnya itu adalah manager-nya. Dan, Nadien. Ia pun tak kalah terkejut, apa lagi saat melihat tangan Juan yang menggenggam tangan Sahara dengan erat.


Seketika, Juan melepas tangannya dari tangan istrinya. Inginnya, Juan menjelaskannya. Tapi ini tempat umum, ia harus bersikap profesional. Wajah Nadien nampak merah, gadis itu menahan kesalnya. Juan semakin menjadi-jadi, kemarin ia melihat tanda bibir di kemejanya dan sekarang, dengan mata kepala sendiri kekasihnya itu mengajak istrinya.


Ini yang disebut tidak cinta? Pikir Nadien.


Sahara bengong, merasa aneh saat melihat sikap sekretaris suaminya. Nadien kekasih Juan, tapi kenapa Maya tidak tahu kalau mereka pacaran? pikir Sahara.


Juan menjabat tangan Nadien juga Rani sebagai manager. "Silahkan duduk," ucap Juan


"Iya," jawab Rani ramah.


Tapi tidak dengan Nadien, wanita itu terlihat BT. Kekecewaannya tak dapat disembunyikan, kalau tidak ingat tempat umum, rasanya ia ingin menjambak rambut wanita yang ada disebelah kekasihnya.


Maya berbincang dengan Rani, sedangkan yang lainnya terdiam seperti patung. Apa lagi dengan Sahara.


"Aku permisi ke toilet," pamit Nadien.


Tak lama, Juan pun ikut-ikutan ke toilet. Sahara tahu perasaan suaminya, ia juga menebak bahwa Juan menyusul Nadien ke toilet.


Susul mereka, Sahara. Jangan buat orang lain tau tentang hubungan mereka, kamu istrinya, kamu yang lebih berhak. Dia suamimu!

__ADS_1


Sahara tak tinggal diam, ia segera menyusul mereka sebelum terlambat.


Maya dan Rani hanya melihat kepergian mereka, tentu dalam hati bertanya, kenapa ke toilet barengan seperti itu? Tapi mereka melanjutkan obrolan tentang pekerjaan.


***


Sahara jalan dengan cepat, ia ingin segera menyusul. Tapi terjadi sesuatu, Sahara tertabrak seseorang dan terjatuh. Untung, posisinya saat terjatuh tubuh Juan sudah terlihat sehingga pria itu mendengar suara Sahara.


"Aww," pekik Sahara. Ia terjatuh karena tersenggol oleh seseorang yang berjalan dari arah lawan.


"Sahara ..." Juan langsung menghampiri. Dan disebrang sana Nadien melihat adegan mereka Juan terlihat begitu khawatir. Nadien semakin kesal terhadap Juan.


"Dasar pembohong!" umpat Nadien, lalu ia melanjutkan ke toilet.


"Kamu gak papa 'kan?" tanya Juan.


"Kaki ku sakit," keluh Sahara.


"Bisa berdiri gak? Kenapa tidak hati-hati, perutmu sakit tidak? Kalau sakit kita ke dokter," Juan begitu khawatir.


"Aku tidak apa-apa," jawab Sahara.


"Kamu tidak apa-apa, tapi calon anakku?" Lagi-lagi Juan hanya peduli pada calon anaknya.


*Apa kamu hanya peduli pada anakmu? Kalau tidak anak ini mungkin kamu sudah meninggalkanku, bolehkah aku egois? Aku ingin kamu peduli padaku, bukan hanya karena anak ini. Kam*u suamiku, akan aku tunjukkan kepada dunia bahwa kamu suamiku.


"Kalau ibunya tidak apa-apa berarti anaknya juga tidak apa-apa," jelas Sahara. Nada bicara Sahara terdengar beda, seperti kesal.


"Kamu marah?" tanya Juan.


"Untuk apa aku marah? Kamu suamiku, dan aku percaya kalau kamu juga peduli tak hanya pada anak ini, bukan?" tanya Sahara.


Juan tak menjawab, ia langsung membantu Sahara dan kembali ke meja mereka.

__ADS_1


__ADS_2