Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Tidak Mau Kehilangannya


__ADS_3

Perkataan Nadien membuat Juan merasa terpojok, ia menekan pada orang yang salah. Juan kalang kabut karena tidak tahu harus apa, mungkin, pikiran Sahara mengenai dirinya dengan Nadien pasti ada apa-apa.


"Ya, Tuhan ... Argghhh." Juan mencampakkan rambutnya, ia sangat frustrasi. Memijat pelipis karena pusing. Setelah itu Juan keluar meninggalkan Nadien yang masih terisak. Gadis itu kembali ambruk, terduduk di atas lantai merasakan sesak di dada. Bukan cuma Juan yang tersakiti, ia pun merasakan sakit yang luar biasa. Kehilangan orang yang dicintai membuatnya rapuh, hanya Juan yang ia cintai.


***


Di rumah sakit.


Sahara belum sadarkan diri, dokter menunggu kedatangan Juan karena harus meminta persetujuan. Sahara kritis karena pendarahan yang dialami. Kandungannya sangat lemah, pendarahan tak kunjung berhenti. Dokter harus melakukan operasi untuk mengeluarkan janin yang ada dalam kandungannya, kalau tidak itu berakibat fatal bagi pasien. Terlalu beresiko untuk dipertahankan.


Juan pun sampai di rumah sakit, ia langsung menemui Maya yang masih setia di sana.


"Apa ada kabar tentang istriku?" tanya Juan.


"Dokter ingin bicara," jawab Maya.


Lalu, dokter pun datang dan menghampiri Juan. Waktu menunjukkan pukul 02.15. Namun, keputusan harus sudah dipastikan sekarang karena ini bersangkutan dengan nyawa pasien. Karena sampai saat ini Sahara belum sadar. Wajah dokter nampak serius, dan Juan semakin kalang kabut.


"Mari, ikut saya. Kita bicara di ruanganku," ucap dokter.


Juan pun mengikuti langkah dokter, dan kini mereka sudah ada di ruangan untuk membicarakan soal Sahara.


"Jadi begini, Pak Juan. Kondisi bu Sahara sangat kritis, kami perlu tindakan mengenai penanganan ini, saya minta izin dari Bapak untuk melakulan operasi," terang dokter.


"Operasi?" Juan terkejut dengan raut wajah yang begitu menyedihkan. "Apa tidak bisa diselamatkan, Dok?" tanya Juan dengan gemetar.


"Kemungkinan itu sangat tipis, usia kandungannya pun masih sangat muda. Masih berupa gumpalan darah, gumapalan darah itu memang belum pecah sepenuhnya. Terlalu beresiko untuk dipertahankan."


"Apa istri saya belum sadar?" tanya Juan, walau bagaimana pun ia harus membicarakan ini dengan istrinya.


"Belum, karena kondisinya kristis. Pak Juan berdoalah semoga bu Sahara cepat sadar. Kami akan melakukan operasi setelah bu Sahara melewati masa kritisnya," jawab dokter.

__ADS_1


"Kalau sudah ada keputusan, Anda bisa datang kemari untuk menandatangani persetujuan operasi."


***


Juan keluar dari ruangan, tubuhnya terasa tak berpijak. Separuh jiwanya hancur karena kejadian ini, pria yang selalu tersenyum itu kini menangis. Calon anaknya terancam dalam kematian.


"Pak," panggil Maya.


Juan tak menjawab, menoleh pun tidak. Ia hanya mengangkat tangan sebagai jawaban, isyarat bahwa ia tak ingin diganggu. Juan duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan UGD, istrinya masih berada di dalam sana. Kritisnya belum dilalui. Tak lama, suster keluar dari ruangan itu. Juan beranjak langsung menghampiri suster.


"Suster, apa saya boleh masuk? Saya suaminya, saya ingin melihat kondisinya."


"Boleh, tapi sebentar saja," jawab suster.


Juan pun akhirnya masuk ke dalam, memakai masker, penutup kepala serta pakaian yang diberikan oleh suster. Untuk kesekian kalinya, Juan kembali menangis. Ia duduk di kursi sebelah brankar, lalu meraih tangan Sahara yang ditempeli alat dibagian telunjuk.


Wajah Sahara masih terlihat pucat. Juan mencium tangan itu dengan sangat dalam. Berharap ada keajaiban, Sahara melewati masa kritisnya dan berharap janin yang ada dalam kandungannya bisa diselamatkan walau kemungkinan itu sangat tipis, kata dokter tadi menerangkan.


Walau bagaimana pun, Nadien masih berstatus kekasihnya. Dan hari ini, Nadien sendiri yang mengikhlaskannya. Lalu bagaimana dengan Sahara? Ia takut malah menjadi salah paham karena kedatangan Sahara pas ia tengah berada di atas tubuh Nadien.


Juan masih menggenggam tangan istrinya, lalu tangan itu bergerak. Memberi respons seolah Sahara tahu bahwa suaminya bersamanya.


"Sayang, ayo bangun. Aku yakin kamu kuat, kamu bisa melewati masa sulit ini. Jangan biarkan anak kita pergi, aku tidak mau kehilangannya juga denganmu. Kalian sangat berarti untukku."


Lalu, Sahara membuka mata. Ia menoleh ke samping dan melihat suaminya di sana tengah menangis. "Ju-juan," lirihnya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Tunggu, aku panggil dokter dulu." Juan segera keluar untuk memanggil dokter mau pun suster yang berada di luar. Kebetulan, suster melintas.


"Suster?" panggil Juan. "Istri saya sudah sadar," ucapnya lagi.


Suster segera masuk ke dalam untuk mengecek keadaan pasien. "Saya panggil dokter dulu," kata suster sambil tersenyum.

__ADS_1


Juan pun ikut tersenyum, semoga itu pertanda baik. Beberapa menit kemudian, dokter datang untuk mengecek keadaan Sahara. Juan pun menyaksikan itu.


"Bagaimana, Dok? Istri saya sudah melewati masa kritisnya 'kan?" tanya Juan.


"Syukur, ini mukzizat dari Tuhan, Bu Sahara bisa dipindahkan ke ruang rawat. Tapi saya harus memastikan apa pendarahannya masih berlangsung atau tidak. Kalau masih berlangsung, seperti yang saya bilang tadi. Keputusan ada di Bapak," terang dokter.


"Baik, Dok. Saya akan bicarakan ini dulu bersama istri saya," jawab Juan. Tidak ada pilihan lain jika memang harus operasi ia tidak boleh egois karena ini tidak bisa dipaksakan, ia takut ini malah akan menyiksa keadaan istrinya.


***


Sahara dipindahkan di ruang rawat VVIP. Ruangan yang di mana tidak bisa orang sembarangan masuk, Sahara memang harus dijaga ketat. Juan tidak ingin ada yang berniat jahat kepada istrinya itu.


Sahara pun sudah dipindahkan. Sahara terus meringis karena merasakan sakit dibagian perut, serasa diaduk-aduk. Nyeri yang amat luar biasa. Juan terus mendampingi, bahkan sedetik pun tak melepaskan genggamannya.


"Apa aku keguguran?" tanya Sahara. "Perutku sakit sekali," jelasnya.


Mendengar itu, Juan tidak tega. Sahara sangat kesakitan. Apa ia setujui saja untuk dilakukannya operasi? Tapi ia tidak ingin kehilangan bayinya. Apa tidak ada cara lain? pikirnya.


"Kenapa diam? Apa aku keguguran?" tanya Sahara lagi.


"Tidak, tapi harus operasi," jawab Juan.


Sahara tersenyum karena kandungannya baik-baik saja. "Tapi kenapa harus operasi?" tanyanya bingung.


"Pengangkatan janin, jika tidak dilakukan sangat beresiko. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," jawab Juan.


"Tidak, aku tidak mau operasi. Kalau janin ini masih hidup kenapa harus diangkat? Aku ingin dia selamat," terang Sahara.


"Itu masih berupa gumpalan darah, terlalu beresiko untuk dibiarkan. Dokter menyarankan untuk operasi saja, aku tidak mau kamu kesakitan saat mengandungnya."


"Aku tidak mau operasi, aku ingin dia tetap hidup! Lakukan apa pun agar calon anak kita selamat, aku tidak mau kehilangannya," pinta Sahara.

__ADS_1


__ADS_2