
Jihan berlutut sambil memeluk kaki ibu mertuanya, siapa pun yang melihat pasti akan menangis. Betapa tersiksanya Jihan selama ini, mencari anak gadisnya sampai saat ini. Diam-diam, Jihan selalu mencari keberadaan putrinya karena sering pergi keluar negri membuatnya terhenti. Hingga ia pasrah karena tak ada nama Rara yang ia cari.
"Ku mohon izinkan aku bicara untuk menjelaskannya." Jihan terus menangis bahkan saat suaminya menarik tubuhnya ia menepis tangan suaminya.
"Ma jangan seperti ini," ucap Ardinata. Pria itu pun ikut memohon kepada Sahida. "Ku mohon maafkan Jihan, aku menikahinya karena aku tidak tega harus melihat Jihan dilecehkan setiap kali bekerja, hanya dia wanita satu-satunya yang tidak terlibat dengan wanita malam. Dia selalu bilang bahwa dia melakukan pekerjaan itu demi anak dan suaminya," kata Ardinata pada Sahida.
Jihan tak pernah mengeluh saat kondisi keuangannya memburuk, bahkan ia juga harus membeli susu untuk Rara karena ia harus bekerja dan meninggalkan anaknya yang masih bayi. Jihan ikhlas, ia juga harus mengobati Sahida waktu itu. Jihan tulang punggung keluarga, dan Sahida yang menjaga Sahara juga Randy jika Jihan sedang bekerja.
Namun, mulut tetangga yang selalu bergosip tentang Jihan yang bekerja di club membuat Jihan berhenti dari pekerjaannya, hingga akhirnya ia menerima tawaran dari Ardinata yang selalu menjadi tamunya waktu itu.
"Jihan perempuan baik-baik, Bu. Di sini aku yang salah, apa Ibu tidak mau memaafkan menantumu yang sudah berjasa terhadapmu? Jihan juga yang membiayai pengobatanmu waktu itu," terang Ardinata.
Sahida memiliki anak satu lagi, seorang laki-laki, bahkan yang diketahui Sahida anak laki-lakinya itulah yang membiayai hidupnya. Mendengar penuturan pria ini membuat Sahida melepaskan pelukan Jihan yang sedari tadi memeluk kakinya.
"Apa itu benar, Jihan?" tanya Sahida.
Jihan tak menjawab, karena ia selalu diam jika kakak iparnya meminta uang padanya. Kakak iparnya selalu mengancam dan ia takut berbuat jahat pada bayinya waktu itu, karena kakak iparnya pemabuk berat. Jihan pun akhirnya tak ada pilihan antara menikah atau menyelamatkan suaminya.
"Jawab Jihan!" sentak Sahida.
Jihan pun mengangguk. "Aku terlalu lemah hingga aku tidak bisa melawan, aku tidak mau mas Halid menyakiti putriku dia selalu meminta uang padaku dan memberikannya pada Ibu. Semua yang diberi mas Halid adalah uang dariku," jelas Jihan.
Sahida tak lagi bisa membendung tangisannya, kesalahpahaman ini berlarut puluhan tahun. Bahkan ia selalu membandingkan Jihan dengan menantunya yang lain, karena pekerjaan Jihan membuat Sahida berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Sahida meraih tubuh Jihan dan menatap wajah sendu itu.
"Peluklah dia, maafkan Ibu karena tidak tau semuanya. Mata hati Ibu buta karena pekerjaanmu yang hina itu, Ibu tidak tau kalau kamu masih menjaga nama baik suamimu," tutur Sahida.
Jihan menatap Sahara, lalu menghampirinya dan memeluknya. Sahara tak menolak pelukkan itu karena sedari tadi ia mendengarkan apa yang dijelaskan Ardinata juga mamanya. Ia bisa membayangkan perjuangan mamanya waktu itu, harus menghidupi keluarga mengobati suami. Rasa salut Sahara pun timbul dan mencoba memaafkan meski ia ikut menderita setelah ditinggal pergi oleh mamanya.
"Maafkan Mama. Mama tidak tau kalau papamu meninggal, setelah tau Mama langsung mencari keberadaanmu tapi tak kunjung bertemu karena namamu diganti." Jihan menciumi wajah anaknya itu tanpa terkecuali, bahkan perutnya pun ia ciumi. "Mama akan punya cucu," katanya lagi lalu kembali memeluknya.
__ADS_1
Semua ikut tersenyum karena sudah saling memaafkan.
***
Malam ini, Ardinata juga Jihan ikut bermalam di rumah Sahida. Mereka bercengkrama bahkan Ranum pun ikut serta karena mendengar Jihan teman lamanya sudah kembali. Ia tak menyangka ternyata selama ini Sahara sudah bertemu dengan ibu kandungnya. Semua nampak bahagia dan menghangat di rumah itu.
Sahara pun terus di peluk oleh mamanya, duduk berdampingan tanpa melepaskan pelukkannya. Mereka juga membahas acara 4 bulanan yang akan diadakan oleh Jihan. Mereka sepakat akan menyelenggarakan syukuran itu di rumah Sahida, sekalian merayakan berkumpulnya kembali keluarga mereka.
"Aku ikut bahagia," ucap Novan.
"Kapan mau melamar Nadien?" tanya Juan.
"Berikan hartamu separuh padaku agar aku bisa mendapatkan restu dari calon mertuaku itu!" tagih Novan.
"Enak saja! Kerja dulu!" cetus Juan.
"Novan," protes ibunya.
"Kalau bosnya gila, anak buahnya lebih gila!" oceh Juan yang tak terima dengan kelakuan anak buahnya itu.
Mereka sampai larut berkumpul, hingga akhirnya semua merasa mengantuk. Jihan menyuruh Rara untuk segera beristirahat, dan ia sendiri pun sudah merasa lelah apa lagi dengan pikirannya yang sempat putus asa untuk mendapatkan kata maaf dari ibu mertuanya. Penuturan Ardinata membuat mata hati Sahida terbuka. Pria asing pun sampai tidak tega melihat keadaan Jihan kala itu.
Sahida mencoba menerima takdir akan kematian putra bungsunya yang bernama Randy. Untuk anaknya yang bernama Halid entah kemana, pria itu pun ikut pergi meninggalkannya setelah Randy meninggal. Sahida dan Rara tidak mau menjadi tanggungannya maka dari itu Halid memilih pergi bersama anak dan istrinya.
***
Sahara sudah berada di kamar bersama suaminya. Malam ini ia dapat tidur dengan nyenyak karena masalah sudah selesai. Sahida sudah menerima ibunya kembali.
"Maafkan aku sempat membencimu," kata Sahara yang kini sudah mendaratkan kepala di dada bidang suaminya. "Aku bahagia karena akhirnya bertemu dengan mamaku."
__ADS_1
"Semua sudah terjadi, aku mengerti. Sudahlah, sekarang tidur ya matamu bengkak sekali," kata Juan.
"Kamu lupa tidak membuatkan susu untukku malam ini, ini sudah jam 10 malam," kata Sahara.
"Ya, ampun ..." Juan menepuk jidat. "Kenapa aku bisa lupa? Ya udah, tunggu sebentar aku buatkan dulu. Susunya masih ada 'kan?"
"Aku rasa masih ada sisa kemarin waktu nginap."
"Ya udah aku ke dapur dulu." Juan pun beranjak setelah istrinya pindah ke bantal.
Di dapur, Juan melihat kedua orang tuanya. Entah sedang apa mereka di sana.
"Ehem." Suara Juan mengejutkan Ardinata yang tengah memeluk istrinya dari belakang. Mereka pun terkejut dan Ardinata melepaskan pelukkannya. pria itu menjadi sedikit malu karena memeluk istrinya.
"Sedang apa?" tanya Juan.
"Buat kopi," jawab Jihan.
"Maksudku Papa lagi apa? Kalau Mama lagi buat kopi kenapa Papa tidak duduk saja menunggu kopi itu," kata Juan.
"Emangnya kenapa? Apa cuma anak muda yang boleh begitu? Papa 'kan juga masih muda!"
"Malu sama umur, Pa. Kadang istriku suka merasa risih kalau aku menggangunya di dapur."
"Kamu mau apa? Apa perlu Mama buatkan sesuatu?" tanya Jihan yang mempedulikan pembicaraan suaminya dan anaknya.
"Aku mau buatkan susu untuk istriku," jawab Juan.
"Sini, biar Mama aja yang buat," kata Jihan.
__ADS_1
"Tidak usah, Ma. Sahara hanya ingin meminum susu buatanku, katanya susu buatkanku lebih enak."
"Oh begitu ya, ya udah Mama duluan kalau begitu." Jihan pun pergi meninggalkan Juan. Sementara Juan membuatkan susu untuk istrinya. Ia juga merasa lega karena masalah sudah selesai