Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 100


__ADS_3

Embun dengan tekatnya akhirnya membuka paksa pintu kamar besannya itu. Ia sudah tak habis pikir lagi haurs bagaimana.


Namun betapa terkejutnya ia melihat kamar itu kosong, Ia pindah ke kamar Bibi Gati. Dia sana juga kosong ternyata.


"Astaga! Pada kemana mereka?" Gumam Embun mulai panik. Dia berjalan keluar rumah utama, Jalanan juga sepi rumah-rumah juga tampak berjauhan. Ia bingung. Akhirnya Embun punemutuskan menyusul Malvin saja.


"Jika harus berakhir. Biar kami berakhir sama-sama." Gumamnya bertekad.


Embun berjalan mengendap ke pondok ditengah sawah. Memang disana terlihat ada beberapa bayangan orang.


"Astaga. Itu lebih dari Sepuluh orang. Kenapa banyak sekali?" gumamnya dengan bahu terguncang saking takutnya. Ia mengendap, dari belakang sebuah tangan menariknya dan membekap mulutnya. Embun meronta dengan kuat.


****


Disisi lain, Cathy yang membungkus tubuhnya dengan selimut karena saking dinginnya malam itu merapatkan tubuh pada badan Kennan yang hangat. Kennan berbalik memeluknya. Wajah Catty menghangat merasakan desiran yang menyenangkan mengalir ditubuhnya.


"Uugghh, nggak bisa tidur kalau kek gini." Jantung Cathy terus terpacu dengan kuat. " Om Ken pasti dengar suara detak jantungku ini." sambungnya lagi dalam benaknya.


Sesaat lamanya, hanya keheningan yang memeluk mereka.


"Om..."


"Heem."


"Om Ken belum tidur?"


"Bisa nggak jangan memanggilku Om lagi?"


"Suamiku?" panggil Cathy dengan wajah merah.


"Heemm...."


"Kamu merasa panas nggak?"


"Panas. Dari tadi malah."


"Benarkah?"


"Heemm... Sepertinya panas ini bakal hilang kalau kita...." Ken mengambangkan kata-katanya.


"Kalau kita?" Cathy menatap Ken penuh tanya dan minat. Kenan berbalik menatap Cathy juga. Dalam keheningan malam itu mereka saling beradu pandang, wajah Kennan semakin mendekat. Detak jantung Cathy makin tak berirama.


Bibir Ken sudah menempel di bibir Cathy. Pria itu mengeratkan pelukannya menambah panas di dalam tubuh mereka. Hingga tubuh mereka berkeringat. Bukan karena aktifitas fisik atau pun berolahraga. Tapi memang hawa malam itu sangat panas.


"Cathy, ada yang nggak beres." Ken melonggarkan pelukannya.


"Yun.. Panas banget, Om." Cathy mengusap kening dan wajahnya yang berpeluh karena saking panasnya.


Kenan bangun dari pembaringannya, ia memindai sekeliling. Netranya menyipit saat lagi-lagi dia melihat hal Janggal namun biasa terjadi jika mereka tidur di pondok itu.


Kennan menatap Cathy yang juga sudah terduduk di samping nya. Kennan menempelkan telunjuknya di bibir. Lalu pindah menunjuk ke celah lantai kayu yang berasap. Netra Cathy membelalak.


"Lagi?"


Ken menempelkan telunjuknya di bibir Cathy agar diam.


"Kenapa mereka suka sekali melakukannya?" bisik Cathy heran dengan kelakukan mertuanya dan tetangga Kennan di kampung.


"Ada Daddy disini. Bagaimana kalau Daddy melihat dan kesal. Tadi saja dia sudah tampak kesal, nanti pasti...."


Kennan mengambil tengkuk Cathy tanpa aba-aba lagi melummat bibir mungil Cathy yang terus nyerocos itu.


"Uuummmmppp....."

__ADS_1


Kennan membaringkan lagi tubuh Cathy diatas pembaringan dan mengunci tubuh mungil gadis itu.


"Karena ini yang mereka harapkan, kita lakukan saja." bisik Kenan di telinga Cathy dengan mata menggantung.


Kennan menjilat daun telinga Cathy. Gadis itu menggelinjang kegelian. Terkekeh sendiri saat mulut Kennan memakan telinganya.


Di sisi luar pondok. Mak Yun dibuat sibuk mengipasi bara dibawah pondok panggung itu. Mendengar suara kekehan Cathy yang lebih mengarah ke ******* membuat Mak Yun makin semangat mengipasi bara.


"Cepat! Cepat! Tambahkan arangnya. Buat mereka menggelinjang kepanasan didalam. Ha-ha-ha...."


Mak Yun bersuara pelan dalam kegirangannya.


"Mak Yun, apa boleh aku mengintip?" bisik tetangga MakYun.


"Apa kau belum pernah makan bara haah?"


"Iya.. iya... aku hanya bercanda."


"A-apa-apaan ini?" suara Malvin yang terkejut melihat aktifitas besannya dan warga kampung Kennan. Mak Yun menoleh memandang Malvin dan Embun yang memergoki mereka tengah memanggang Kennan Dan Cathy. Mimik muka wanita tua bernama Mak yun itu berubah.


"Astaga! Apa kalian sedang mencoba memanggang anakku?" Malvin Mandang tak percaya pada Besannya itu. Sementara Embun hanya melebarkan matanya saking terkejutnya dengan apa yang dia lihat. Mak Yun duduk berjongkok dengan tangan memegang kipas, sementara di depannya ada bara yang menyala.


"Cathy!"


Malvin menggedor pintu gubuk itu.


"Cathy! Putri ku, apa kau baik-baik saja?"


Malvin mengetuk pintu makin tak sabar.


"Astaga, besan! Kau bisa merusak pintunya kalau begitu." protes Mak Yun tak terima langsung berdiri.


"Nyonya, apa kau tak sadar sedang memanggang putriku disini?"


"Sayang, jangan berlebihan!" bisik Embun tak enak pada besannya.


"Putri kesayanganku ada didalam. Bagaimana jika dia mati kepanasan?"


"Itu tidak mungkin." Mak Yun menimpali, "Putraku juga ada didalam. Kalau mereka kepanasan dan keberatan, pasti sudah berlari keluar sejak tadi."


"Benar! Saat ini mereka pasti sudah berkeringat." susul tetangga Mak Yun terkekeh dengan bersemangat.


"Astaga! Apa-apaan kau ini." Bibi Gati memukul lengan tetangganya itu.


"Cathy!" Malvin yang kesal berteriak dan mengetuk pintu kamar khusus itu.


"Sayang sudah hentikan!"


Sementara didalam ruang pengantin. Suara dessahan nafas yang tak berirama milik Pasangan itu, terus terdengar bersahutan. Kenan yang mengukung tubuh Istrinya itu perlahan memelankan ritme permainannya. Lalu ia berhenti.


"Om? Kenapa berhenti."


"Diluar berisik sekali."


"Biarkan saja. Lanjutkan, sedikit lagi."


Kennan tersenyum, merasakan milik Caty yang berkedut memijit-mijit lembut sossissnya yang masih nyaman didalam sana.


"Jangan memanggilku Om."


"Suamiku...." Nafas hangat Cathy menerpa wajah Kennan. Pria matang itu melummat lagi bibir Istrinya disertai gerakan di pinggulnya.


BRRAAK!

__ADS_1


"Astaga!"


Kennan dan Catherine sama-sama terkejut, menoleh ke arah pintu utama ruang pengantin. Mereka terkejut mendapati Malvin dan Embun yang berdiri di depan pintu. Malvin tampak memegangi handel pintu.


Walau posisi di dobrak oleh Malvin, namun engsel pintunya tidak rusak.


"Astaga Kennan, Apa yang kau lakukan pada putriku?" Suara Malvin histeris melihat Kennan menindih putrinya dengan selimut yang menutupi dibagian tertentu di tubuh mereka.


Netra Embun melebar. "Astaga, Suamiku, apa yang kau lakukan?" Embun menepuk tubuh suaminya. Dan segera menutup kembali pintu yang sempat terbuka itu.


"Kenapa kau bertingkah konyol sekali." Mimik muka Embun berubah antara kesal dan malu.


Sedangkan di dalam kamar yang sudah menutup itu. Cathy dan Kennan yang sama-sama masih terkejut saling berpandangan.


"Apa-apaan Daddy?" wajah Catty memerah malu akan kelakuan Daddy-nya itu.


"Tiba-tiba aku kehilangan moment."


"Aku juga."


"Bagaimana dengan yang berkedut dibawah sana?"


"Huuhh bagaimana dengan sosiss yang sudah lemas?"


Kennan tertawa geli tapi juga jengkel. Cathy pun sama. Lalu tawa mereka terhenti oleh celetukan suara salah satu tetangga.


"Apa mereka sedang main kuda-kudaan?"


Diluar ruangan itu, Embun melongo mendengar pertanyaan tetangga Mak Yun yang sedari tadi emang kepo dan ikut campur.


KRIIEEETT (suara pintu dibuka.)


Kenan melongok dengan hanya mengenakan celana pendek dan membiarkan bagian tubuh atasnya terekspos sempurna. Tentu itu membuat histeris mata emak-emak tetangga.


"Kenapa diluar berisik sekali?"


"Bisnis kami jadi terganggu." timpal Cathy yang berdiri dibelakang tubuh Ken dengan hanya berbalut selimut dengan wajah ditekuk.


"Jika seberisik ini kami kesulitan mencapai puncak dan memberi kalian cucu yang lucu pun hanya tinggal angan-angan.." Ucap Kennan dengan senyum palsu.


"Apa?" mata Malvin melebar, namun Embun justru tersenyum geli mendengar ucapan Kennan.


"EHEM, kita pergi ke rumah utama saja." Mak Yun berdehem dengan melangkahkan kakinya perlahan kerumah utama.


"EHEEMM...." Dehemnya lagi setelah menoleh dan memandang Malvin yang masih mematung didepan pintu.


"EHEM..." deheman lain menyusul dengan langkah dari para tetangga dan tetua mengikuti Mak Yun melangkah menuju rumah utama.


Embun mengulas senyum geli. "Ayo sayang, kita juga pergi." menarik lengan Malvin.


____^_^____


Jangan lupa ya Readersku,


like


dan


komennya


ditunggu,


salam

__ADS_1


☺️


__ADS_2