Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
bab 21


__ADS_3

📞:"Malvin?"


📞:["Siapa bicara?"]


📞:"Aku adalah bayanganmu. Yang sedang bersiap menelanmu hidup-hidup."


📞:"[terdiam sejenak. "Daniel."]


Daniel terkekeh, dengan menyesap minuman kuning memabukkan dengan bongkahan es batu didalam gelasnya.


📞:"Aku memiliki beberapa penawaran untukmu."


📞:["........."]


📞:"Aku yakin kau akan tertarik."


📞:["Baiklah! Lagi pula kita punya banyak hal yang harus diluruskan."]


Sambungan ditutup. Alunan musik jass yang mengalun lembut menemani Daniel dengan suasana hati yang terbilang indah.


Pria itu terkekeh sebelum menyesap lagi minumannya. Dan menatap kehampaan dengan tajam.


***


####


"Ada apa, Tuan?" Ken yang melihat Malvin terdiam dengan menggenggam hp ditangannya.


"Daniel menelponku."


Mata Ken sedikit melebar.


"Dia ingin membuat kesepakatan."


"Tuan, sepertinya kita juga harus membuat rencana."


Malvin berpikir sejenak. Dia juga menyetujui apa yang Ken utarakan. Mereka masih belum tau apa keinginan Daniel berikut dengan rencananya. Akan tetapi bukankah lebih bagus jika mereka membuat rencana untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk?


****


Siang itu Gara tengah berlatih pukul bola. Mata pria itu fokus menatap tajam pada lobang pelontar bola. Tangannya mengenggang kuat pemukul yang menempel di bahunya.


Satu bola terlontar kearahnya, dengan cepat Gara mengayunkan tongkatnya.


TAAKK!


PLOK PLOK PLOK!


"Bravo!"


Gara menoleh. Daniel berdiri diluar pagar lapangan dimana Gara tengah memukul bola. Gara kembali fokus pada lobang pelontar.


"Ada apa, Yah?"


"Siang ini Ayah ada pertemuan dengan klien Ayah."


TAAAKK!


Gara memukul bolanya lagi. Melambung tinggi dan jatuh entah kemana.


"Klien ini sangat penting. Dia akan menghasilkan banyak uang untuk kita jika pertemuan kali ini berjalan lancar."


"Lalu?"


Gara kembali memfokuskan pandangannya pada lobang pelontar bola.


"Ikutah dengan ayah."


TAAAKK!


Bola Gara kembali melayang jauh.


"Untuk apa?"


"Kau seorang peretas. Dan ayah butuh dukungan untuk menyempurnakan kekuatan ayah didepannya."

__ADS_1


Gara menghela nafasnya.


"Jika aku menolak?"


"Kau tidak punya pilihan, putraku."


"Baiklah."


***


###


Malvin memasuki sebuah mobil bersama Ken. Dibelakangnya sudah bersiap beberapa deret mobil lain yang siap mengawal mereka.


"Daniel ingin kita bertemu di hotel Seaside."


"Dia sengaja memilih tempat yang ramai."


Malvin hanya diam tanpa memberi jawaban. Mobil yang ditumpangi Malvin melaju, melesat begitu cepat menuju Seaside Hotel.


Di Gedung bangunan berbentuk kapal pesiar itu. Malvin berjalan menuju ruangan dimana Daniel sebutkan sebagai ruang meting mereka. Tepat didepan pintu. Langkah Malvin dan Ken terhenti. Di lorong yang berlawanan, Daniel berjalan bersama seseorang yang cukup Malvin kenal. Matanya memyipit memastikan matanya tidak rabun.


"Gara!"


"Seven!"


Sebut Malvin dan Ken bersamaan. Keduanya begitu sangat terkejut. Bagaimana bisa kini Seven justru berada di sisi yang berlawanan dengan mereka?


Dengan penuh kepercayaan diri dan puas, Daniel berjalan mendekat pada Malvin. Tentu saja dia sangat puas melihat reaksi Malvin yang terlihat terkejut melihat Gara berada disisinya kini.


Sedang Gara hanya melirik kecil pada ayahnya. Bagaimanapun Gara merasa dimanipulasi oleh ayahnya. Dia sangat kecewa.


****


Dilain sisi, Caty sedang bersiap untuk makan siang yang sedikit tertunda. Caty yang berjalan ke kantin bersama Arsya tak sengaja melihat Daddy Malvin dan Ken berjalan terburu dengan wajah serius. Tentu itu menarik perhatian Caty.


Gadis itu tidak menyiakan kesempatan.


"Kak Arsya!" panggil Caty tanpa mengalihkan pandangannya dari Ken dan Daddynya.


"Aku ada urusan sebentar. aku akan maKan diluar."


Tanpa menunggu jawaban Arsya, Catty melangkah dan mengikuti Daddy Malvin dan Ken pergi. Caty pun menggunakan ojek yang lagi mangkal.


Sesampainya di Seaside Hotel Caty mengendap-ngendap mengikuti Dady Malvin dan Ken. Bahu Catty tertahan oleh tangan yang kuat. Caty menoleh, melihat salah dua pengawal Malvin yang ikut serta masuk kedalam hotel.


Caty yang kesal melotot pada mereka.


"Awas saja jika bilang pada Daddy Mal. " Caty melewatkan tangannya di leher. Seolah sedang memotong.


"Krreeeekkk."


"Kami mengerti, Nona." sahut keduanya bergidig.


Caty kembali mengendap. Dia melihat Daniel dan Gara di belakangnya.


"Sudah kuduga! Brengsek sialan itu!" Gumam Catty mengeluarkan hpnya dan bersiap memfoto.


****


"Senang bertemu denganmu Malvin."


Malvin hanya tersenyum tipis. Matanya masih tak lepas menatap Gara. Pandangan mata Gara menatap lurus tanpa memperdulikan bagaimana Malvin menatapnya.


"Aaahh, aku kenalkan padamu. Dia Gara anak lelakiku."


Baik Ken, Malvin dan Caty sedikit terkejut. Tidak pernah ada dalam pikirannya, Gara adalah bagian dari Daniel.


Malvin tersenyum kecut.


"Sungguh diluar dugaan kau memiliki seorang putra."


"Iya. Dan dia peretas terbaik."


Malvin tertawa palsu.

__ADS_1


"Mari kita bicarakan didalam saja." ajak Ken.


Mereka pun memasuki ruangan yang sudah dipesan. Catty menyusul, walau bagaimanapun dia tidak mungkin untuk masuk. Menunggu diluar pun dia juga tak bisa mendengar apa yang di bicarakan di ruang yang kedap udara itu.


"Tak ada yang bisa kulakukan disini. Sebaiknya aku kembali ke kantor. Masalah ap yang terjadi didalam sebaiknya aku tanyakan nanti saja pada Om Ken." gumamnya.


Sebelum Caty memutuskan pergi.


***


###


"Ini Adalah pengalihan aset milikmu untuk perusahaanku." Daniel menyodorkan berkas pada Malvin.


"Apa?"


"Aku akan mnghentikan serangan web ini asal kau mengalihkan sebagian asetmu pada perusahaanku."


Senyum licik Daniel mengembang.


"Hanya itu?" cibir Malvin dengan senyum mencemooh.


"Tentu saja tidak. kau harus merasakan kehilangan sepertiku."


"Kenapa kau lakukan ini?"


"Kenapa?" Daniel terkekeh,


"Apa kau sudah melupakan Hana? Aahh, tentu saja. Kau sudahh menikah. Tentu saja kau lupa."


"Kapan dendam tak beralasanmu ini akan usai?" Malvin menyipitkan matanya.


"Setelah melihatmu hancur! Tentu saja." Daniel kembali terkekeh."Aku ingin kau dan orang-orang yang kau cintai menderita."


Malvin mengepalkan tangannya. Malvin menatap Gara. Lalu tertawa kecil.


"Aku tidak perduli apa yang kalian lakukan padaku. Tapi jika kalian menyentuh keluargaku. Aku juga tidak akan tinggal diam."


Siang itu setelah melakukkan diskusi yang alot, mereka tetap tidak mendapatkan kesepakatan apapun.


Tentu Daniel sangat kesal karenanya. Pria itu mengamuk begitu sampai dirumahnya. Barang-barang dia banting , bahkan pria itu memukul beberapa anak buahnya saking kesalnya.


Gara hanya menghela nafasnya.


"Kenapa ayah tak mengatakan apapun tentang ini padaku?" protes Gara dingin. Begitu mereka memasuki bar pribadi.


"Jangan membuat ayah makin kesal Gara." Daniel menggeretakkan giginya. Melirik kesal pada anaknya.


Gara tertawa palsu.


"Aku sudah muak dengan semua ini ayah. Aku keluar." Gara melangkahkan kakinya.


"Ayah masih memegang ucapan ayah Gara. Gadis itu,, " ancaman Daniel membuat Langkah Gara terhenti.


"Dia putri Malvin bukan? Itu membuat Ayah semakin bersemangat."


Daniel mengambil mirasnya. Membuka tutupnya dan menenggaknya langsung dari botol.


"Ayah tau kau sedang mengembangkan virus baru. Ayah mau kau menggunakannya pada jaringan milik Malvin."


"Itu belum sempurna." ucap Gara singkat.


"Lakukan saja."sentak Daniel. "Atau kau benar-benar ingin ayah menyentuh gadis itu?"


___^_^___


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2