Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 69


__ADS_3

"Ada apa?" tatap Malvin tajam.


"Paman, kau pasti juga curiga dengan kegaduhan di kamar Kayla semalam kan?"


"Apa kau terlibat didalamnya?"


"Hemm..." Angguk Gara menatap Malvin."Saat itu ada penyusup dikamarnya, dan kami sempat terlibat sedikit perkelahian."


Malvin tersenyum tipis.


"Jadi kau kucingnya?"


"Apa yang kau lakukan didalam kamarnya malam-malam begitu?"


Gara terdiam, mengatur nafasnya.


"Bukankah Paman juga tau? Kebiasaan ku mendatangi kamar Kayla lewat balkon?"


"Kau tau itu bukan cara yang sopan Gara."


"Maaf."


"Kami tidak menentang hubungan kalian, hanya, kita sama-sama tau, bagaimana Daniel. Aku tak ingin Kay terluka." tegas Malvin,"Saat ini Kay lah yang paling mudah... dan itu melalui kamu. Karena itu Gara, paman mohon...."


"Maaf paman, aku tidak akan melepaskan Kay." potong Gara tegas."Tujuanku kemari untuk sebuah penawaran dan kesepakatan. Tentu saja hanya antara kita berdua."


"Malam ini Di kamar Kay sudah dua kali di masuki orang asing. Yang pertama, sebelum aku datang, dan yang kedua setelah aku pergi. Bisakah paman memperkuat penjagaan di rumah paman? Dan bodyguard yang benar-benar profesional di sampingnya?"


"Tentu saja. tanpa kau katakan pun, pasti akan kulakukan."


"Terima kasih."


Malvin tersenyum kecut.


"Gara! Kayla adalah putriku."ucap Malvin, "Sekarang, katakan apa kesepakatan yang ingin kau buat dengan ku?"


###


Malam itu sangat meriah, dan juga ramai dengan kedatangan Henri di rumah Makyun.


"Henri! Kenapa ibumu juga tidak ikut kemari?"


"Ibu sibuk bibi."


"Bohong. Dia bahkan belum bertemu ibunya." sahut Kenan datar sambil memasukkan sejumpit sayur ke dalam mulutnya.


"Benarkah itu?" bibi Gati berbalik bertanya pada Henri.

__ADS_1


"Aaah, bibi, tentu tidak. Jangan percaya padanya. Dimana aku tinggal selama ini jika tidak bertemu dengan ibu. Kaaannn?? hahaha." sanggah henri cepat dengan tawa yang dipaksakan.


"Dia tinggal di apartemenku bibi gati."


Henri menatap Ken dengan mata protes bin kesal.


"Ada apa denganmu?" bisiknya kesal. Ken hanya membalasnya dengan tawa mengejek.


"Honey, ini lobak oren kesukaanmu." Catty tanpa canggung mengambilkan meletakan lobak oren kepiring Henri. Ken yang melihatnya membulatkan matanya kesal.


"Aku saja tidak dia ambilkan, bisa-bisa nya dia mengambilkan untuk henri. Apa dia ini sudah lupa dia istri siapa?" batin ken menggerutu.


Henri sudah kalang kabut mendengar Catty sembarangan memanggilnya honey didepan para tetua. Sedangkan Catty sendiri tak menyadari tindakannya, menciptakan atmosfir yang berbeda.


"Honey?" bibi gati dan suaminya serentak.


"Kenapa memanggilnya honey?"


"Haaa?" Caty memasang tampang bodoh.


"Kenapa kau memanggilnya honey? Bukankah suamimu sekarang itu kennan?"


"Benar! Harusnya kau memanggilnya honey bukan Om." timpal mak Yun menunjuk Ken dengan sendok."Kalian kan sudah menikah, Jadi kau harus merubah nama panggilanmu."


Entah kenapa henri merasa lega. Para tetua akhirmya membahas kennan dan Caty yang memanggil tidak pada tempatnya.


Henri mengangkat tangannya dan menggeleng bersamaan.


"Caty, benarkah? Dia tidak mengganggu kalian membuat bayi kan?" Bibi Gati bertanya pada Caty.


"Bibi Yun! Tidak begitu. Mereka memang sudah tidur terpisah sejak sebelum aku datang!" sela Henri cepat, jangan sampai dia disalahkan lagi.


"Apa? Benarkah?"Mak yun terlihat gusar karena kesal.


"Malam ini biarkan mereka tidur di kamar pengantin lagi.


Ken dan Caty serentak menatap protes.


"Jangan!"


"Ibu, disana dingin dan banyak nyamuk. Juga ada bara api dibawah lantainya. membuat kami kepaanas." rengek Caty.


"aha-ha-ha" henri tergelak. "Aauuu.. Bibi, kenapa memukulku?" protesnya mendapat pukulan dari mak yun dan bibi Gati yang menendangnya dibawah meja.


"Itu karena kau sudah terlewat batas. Kpan kau juga akan menikah seperti Ken?"


"Itu, aku tidak tertarik untuk menikah bibi.."

__ADS_1


"Apa? Kau ini mau dipukuli apa?"


"Kami sudah selesai." ucap kennan berdiri."Caty ayo."


"Uumm?" Caty yang masih menjejalkan makanan kemulutnya menoleh. "Tapi aku masih mau makan."


"Kita makan ditempat lain saja. Disini kau bisa terkontaminasi." ucap Ken menarik lengan Caty hingga berdiri lalu asal menariknya pergi.


"Ibu, paman, bibi, kami duluan." pamit Caty sebelum tak terlihat lagi.


"Baiklah Hendri, berhubung mereka sudah pergi, ayo kita selesaikan pembicaraaan kita." Para tetua terlihat sedang menggulung lengan mereka.


"Pertama beri kami alasan kenapa Caty memanggilmu Honey."


"Kau tidak menyimpang kan Sayang?"


"Haaaiiissshhh...." Henri mendessaah kesal.


______


Ken dan Caty berjalan menyusuri jalan desa, di tengah suasana yang masih sangat asri dan tenang, dengan lampu yang berpedar redup di setiap rumah yang berjarak cukup berjauhan.


"Om, aku capek." rengek Caty.


"Biasanya kamu sangat bersemangat, sekarang malah bilang capek."


"Iyaaahh, Ini kan salah Om ken juga,"


"Kenapa jadi salahku."


"Tentu saja ka....Aaaaa...."


Mata ken membulat, mereka sudah dikelilingi orang asing.


____^_^____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat


☺️

__ADS_1


__ADS_2