Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 98


__ADS_3

"Ken, kapan keluargamu akan kemari?" Malvin yang berdiri memandang gedung-gedung melalui kaca jendela ruang kantornya.


"Akan segera saya agendakan tuan."


"Tunggu." Malvin berbalik dan menatap tangan kanannya sekaligus menantunya itu.


"Kau bilang agendakan?" Malvin mendekat pada Ken,"Resepsi kalian tinggal menghitung hari, bagaimana bisa baru mau kau agendakan? Bagaimana kau ini." lanjut Malvin menunjuk-nunjuk kesal.


"Sabar Malvin, kenapa kamu terus merasa kesal karena dia sudah mengambil anak gadismu. Sangat kekanakan." Malvin melirik Kenn, yang juga sedang melihatnya tanpa sepatah kata pun."kenapa matanya itu seperti sedang mengataiku?"


"Kau.... Apa kau sedang mengataiku kekanak-kanakan?"


"Tidak, tuan Mertua." balas Ken datar,


"Sudahlah," Malvin mengibaskan tangannya diudara. "Biar kita saja yang kesana."


"Mak-sud-nya?"


"Kennan apa IQ mu turun setelah menikahi gadis dibawah umur hah? Aku bilang, kita yang akan kesana. Ke kampung halamanmu memberi kabar. Jadi, kosongkan jadwal untuk beberapa hari kedepan."


"Baik."


"Kau dan Cathy juga ikut."


"Kami?"


"Tentu saja, sangat aneh jika hanya aku dan Embun yang datang, aku tak bisa membayangkan. Kami juga besan yang tak saling kenal. Pasti akan canggung. Jadi kalian harus ikut."


"Baik."


...****************...


Hari itu tiba, Malvin memboyong keluarganya dalam satu mobil. Tentu, Cathy tidak masuk didalamnya. Hanya ada Embun, dirinya dan Twins. Sedangkan Cathy satu kendaraan dengan Kennan.


Sepanjang perjalanan yang hanya pepohonan dan aspal tanpa kendaraan lain yang melintas membuat Embun sedikit bergidik.


"Sayang, benarkan ini jalannya? kenapa begini sunyi?"


"Aku hanya mengikuti Kennan, kenapa bertanya pada ku?" Malvin masih fokus menyetir.


"Jadi, kau belum pernah kesana?"


"Tentu saja bagaimana aku bisa kesana, aku hanya sibuk mengurusi perusahaan dan kalian."


"Yaahh, siapa yang tau kalau dulu waktu muda kamu pernah kesana. Sebelum kita menikah."


"Buat apa aku kesana sayang? Menjodohkan Cathy dengannya? Ha-ha-ha." Malvin tertawa garing.


"Dad, bisa kah kita menepi sebentar dan melihat pemandangan? Di kota tidak ada yang seperti ini." pinta Sean memajukan tubuhnya hingga berada diantara kursi mommy dan Daddy-nya.


"Tidak."


"Why?"


"Sean, kita bisa tertinggal jika main berhenti saja sayang." balas Embun dengan senyum lembut diwajahnya.


"Momm.. Kita bisa telpon kak Cathy untuk berhenti sebentar." sahut Kian dari kursi belakang. Sean pun mengangguk membenarkan. Tak lupa memasang wajah menggemaskan.


"Tidak sayang, perjalanan masih jauh, dan kami juga tidak mau bermalam dijalan." ucap Embun memberi pengertian.

__ADS_1


"Benar. Tidak ada penginapan di sekitar sini."timpal Malvin masih sembari fokus mengemudi."Kampung kakak ipar kalian sangat terpencil."


"Oke Dad, kami tau." Dengan malas Sean kembali ke jog belakang.


Sementara di mobil Kennan dan Cathy, yang melaju dibarisan depan. Kennan sesekali melihat ke Sepion, memastikan mertua nya masih dibelakang dan tidak tertinggal. Ini perjalanan ke dua Cathy ke kampung Kennan. Tentu gadis itu tak mau melewatkan untuk tidur. Mengingat dulu mereka hampir seharian hanya terdampar di pinggir jalan karena ban mobil Kenan kempes. Jadi, Caty harus menggunakan waktu ini untuk tidur dengan baik.


Kennan masih begitu fokus menyetir, Ia melirik Cathy yang tertidur dengan tenang disampingnya. Ken tersenyum kecil, mengelus pelan kepala istrinya. Cathy menggeliat perlahan membuka netranya.


"Om?" Ken bergegas menarik kembali tangannya.


"Udah sampai ya?"


"Emang kamu ngrasain mobilnya berhenti?"


Cathy melihat kedepan, masih tampak jalanan seolah tanpa ujung.


"Nggak."


"Ya udah. Berarti belum."


"Ck! Ditanyain ketus banget." Cathy kembali membenahi posisi tidurnya, dan memejamkan mata lagi. Hening, hanya suara perut Cathy yang berbunyi memecah kesunyian. Malu? Jelas. Cathy membuka matanya melirik Ken yang seolah tak acuh. Fokus menatap kedepan.


"Ada cemilan nggak Om?"


"Tuh, di jog belakang." tanpa memalingkan wajahnya. Cathy menoleh kebelakang. melihat tumpukan makanan dan bingkisan disana. Dia nyengir.


"Maksud Om, aku ngambil parsel dan bingkisan buat oleh-oleh Mak Yun?" Cengirnya kikuk.


"Kenapa? Kamu kan pandai memanipulasi."


"Itu pujian apa ledekan?"


"Entah kenapa aku merasa diledekin." Cathy memalingkan wajahnya dari Kennan dengan melipat tangannya didada. Tak ketinggalan bibirnya yang mengerucut.


Kennan terkekeh. "Coba ambil satu bingkisan."


Cathy meraih salah satu bingkisan dan memangkunya.


"Nah, Sekarang, coba buka bagian bawahnya sedikit sampai bagian pinggir, ambil satu makanan. Lalu tutup lagi." Cathy mempraktekkan apa yang Kennan ucapkan.


"See! Nggak keliatan kan kalau ada satu yang terambil." lanjut Ken dengan senyum diwajahnya.


Cathy memicingkan matanya melirik Ken."Dasar licik. Kau pasti sering mempraktekkan nya." seketika senyum yang terkembang di wajahnya memudar.


"Berikan padaku!" Ken mengulurkan tangannya hendak menyaut makanan di tangan Cathy. Gegas Cathy menjauhkannya dari jangkauan Kennan.


"Aku yang berusaha, kenapa Om jadi yang mau menikmatinya."


"Kalau bukan petunjuk dariku bagaimana kau bisa mendapatkannya." Sergah Ken tak mau kalah masih dengan tangan yang terulur, sedangkan tangan yang satu lagi masih memegang setir, matanya tak fokus pada jalanan.


"Om! Om kan lagi nyetir. Mau kita berdua mati?" pekik Cathy yang melihat laju mobil tak lagi lurus.


"Ck. sial." Ken kembali memfokuskan pandangannya.


Cathy memcebik, ia mengulurkan satu biskuit kemulut Kennan. Pria itu membuka mulutnya, menggigit dan mengunyah.


"Jadilah anak penurut Om, kan enak gini."


Ken mendengus.

__ADS_1


Sesampainya mereka di depan halaman rumah Mak Yun. Mereka disambut oleh beberapa tetangga dan para tetua. Setelah semua turun dari mobil dan mengeluarkan bingkisan. Tentu saja tak lepas dari mulut lemas para mak-mak kampung.


"Apa itu besan mu Mak Yun?"


"Waahh,, walau sudah tua ganteng juga."


"Istrinya juga cantik."


"Apa dia masih punya anak lain, mungkin bisa kujodohkan dengan anakku."


"Waah, mereka punya anak kembar. Lihat, tampan sekali. Masih kecil, ingin rasanya ku peram dan kujadikan menantuku."


"Kenapa harus diperam? Dikarbit saja biar cepat. Ha-ha-ha..."


"Diamlah kalian semua, jangan membuat malu." oceh bibi Gati mengibaskan tangan di udara. Ia pun ikut menyambut rombongan besannya.


"Waahh, selamat datang, jadi ini ayah dan ibu nya Cathy? Pantas saja Cathy begitu cantik."


"Tentu saja, karena dia anakku... Ha-ha-ha.... Saya merawatnya dengan sangat baik." balas Malvin sambil menjabat tangan Mak Yun.


"Gati, kenapa orang ini begitu menyebalkan?" bisik Mak Yun pada adiknya.


"Kau besannya. Kenapa tanya padaku?"balas Gati berbisik.


"Ha-ha-ha," tertawa canggung.


"Ini ada sedikit bingkisan dari kami." ucap Embun sembari memberikan bingkisan dari mobil Kennan. Diikuti oleh yang lainnya, menyerahkan parsel dan oleh-oleh.


"Terima kasih, sebenarnya kalian tak perlu repot-repot.


Mak Yun melirik bingkisan yang Kennan bawa, ada sedikit janggal karena itu adalah bingkisan yang tadi terambil oleh Cathy.


"Kennan, apa kau berbuat curang, Nak?" tegurnya dengan senyum terpaksa. Ken menggaruk tengkuknya.


"Dia yang mengambilnya Bu," Ken menunjuk Cathy, gadis itu membulatkan mulutnya tak percaya suaminya itu akan mengadu.


"Om Kenn..." Geram Cathy mencubit pinggang Suaminya."Dia yang mengajariku Buu..." Aku Cathy menatap mertuanya dengan memelas. Mak Yun tersenyum kesal pada Ken.


"Yaaa.... ibu tau...."


"Ada apa ini?" Malvin memandang bergantian pada Mak Yun Ken dan Cathy.


____^_^_____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih


salam


🥰☺️

__ADS_1


__ADS_2