Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 74 • Hareudang skip-skip •


__ADS_3

Kennan menelusup masuk kebawah selimut, merangkak diatas tubuh istrinya. Menatap wajah samar Catty yang memerah. Ken mendekatkam wajahnya, melummat perlahan bibir kenyal istri kecilnya. Tangan Kennan meraba dan memegang pergelangan tangan Catty Mengusapnya diatas kasur dan membawanya hingga ketas kepala gadis itu. Menekan menyatukan dalam satu cengkraman.


Kennan mengelus pipi wanitanya. Membuat jarak untuk melihat seberapa menggemaskannya wajah cantik istrinya. Kennan menarik sudut bibirnya keatas. Dalam samar-samar wajah Catty dibawah selimut. Ken kembali melummat benda kenyal milik Catty. Tangannya mulai nakal menarik keatas kaus yang Gadis itu kenakan, hingga menyembul bola-bola kenyal di depannya. Tanpa ragu Ken menarik penutupnya, menggulum dan menggigit kecil pucuk permen abadinya. Meski berulang dia gulum pun tak akan habis.


Catty menggeliat, matanya menggantung merasai geli yang menjalari tubuhnya.


"Oomm....." Dessaaahh gadis itu.


Ken yang semula begitu bersemangat tiba-tiba melepas gulumannya menatap wajah istrinya. Yang memejam dan menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa masih memanggilku Om?"


Netra Catty terbuka, meski kelopaknya terlihat menggantung.


"Kenapa kamu begitu bandel?"


Kenan memasukkan tangannya kedalam celana Catty. Tangannya mulai bermain dengan bagian sensitif istrinya itu.


"Aaaaa~"


"Sampai kapan kamu. bakal bandel?"


"Aaaaa~" Catty menggelinjang-gelinjang, kedua tangannya masih Ken cengkram.


"Sudah berapa kali aku katakan jangan memanggilku begitu.."


"Aaaa~~ Ampuunn Oomm~" Merasakan Jari-jari ken makin nakal dibawah sana.


"Om lagi....."


"Aaaaa~~" Catty tak bisa berkutik lagi kecuali menggeliat tak karuan. Kedua kaki nya ditahan dan ditindih kuat oleh Ken.


"Aammppuunnn..... Ampuunn Keenn~"


Kenan tersenyum, walau bukan itu yang dia harapkan, setidaknya Catty tak lagi memanggilnya Om saat dirinya sedang on Fire. Ken menarik lagi tangannya. Menatap wajah pasrah Catty yang makin memerah. Ken meyentuh dagu wanitanya, dan menautkan kedua bibir itu. Lidahnya menelusup masuk kerongga mulut Gadis dibawah tubuhnya. Menyambar satu sama lain. Satu persatu pakaian terlempar keluar dari bawah selimut.


Tangan Ken terus memberikan sentuhan lembut yang membawa Catty semakin melayang entah dimana. Ken membelah kaki gadis itu, menyusup masuk diantaranya.


Mulut Catty terbuka saat merasakan benda asing memasuki tubuhnya. Menghentak dengan ritme cepat. Suara lolongan Catty membuat mata Ken melebar.


"Cat! pelankan suaramu!"


Tangan Catty menampar wajah Kennan. Pria itu menghentikan aksinya.


"Kenapa menamparku?" protesnya menatap Catty yang mulai membuka matanya perlahan.


"Keeeennn~"


"Hiiiiissshh.... " Desis Ken, antara senang dan kesal.


Ken melanjutkan lagi hentakan pinggangnya.

__ADS_1


"Aaaa~" jerit Catty menjambak rambut kennan dengan kuat.


"Aaaarrggg.... Kalau begini habis rambutku kau jambakin Cat!"


"Maaf Keenn~" Catty dengan nafas cepat melepas cengkraman di rambut Kennan.


Ken kembali beraksi, Kali ini dengan ritme yang lebih slow. Takut juga dia kena tamparan dan jambakan Catty.


"Keennnn~" Mulut Catty terbuka lagi, matanya yang menggantung perlahan menutup sempurna. "Le-bih ce-pat!"


"Siluman Cilik!"


Ken mempercepat ritme hentakannya.


"Jang-an ber-hen-ti~"


"Sebentar lagi aku keluar."


"Jangan!"


"Lututku sudah lemas Cat."


"Se-ben-tar la-gi~"


"Hiiiiiissshhh.... Rasakan ini!"


Ken menghentak dengan kuat.


Catty mencakar punggung suaminya dengan kuat, hingga membekas dan menorehkan luka yang memerah. Semburan hangat memenuhi seluruh jalan rahimnya menyatu dengan liquit yang dia hasilkan. Tubuh Catty menjadi lemas. Cengkraman kuku-kuku di punggung Ken melemah. Gadis itu tertidur setelah lelah bertempur. Kennan mengecup seluruh tubuh yang basah oleh peluh mereka yang menyatu. Lalu ikut terkapar disampingnya.


###


Keesokan paginya, Cathy dan Kenan melakukan ritual mandi bersama. Cathy tersentak kaget melihat punggung Ken yang banyak goresan cakar.


"Omm!"


"Heeemm?" Ken sedikit menoleh dengan malas.


"Kenapa punggungmu sampai begini?"


"Aaahh.. itu...."


"Apa kau diserang singa sampai seperti ini?"


Ken menghela nafasnya,


"Iya, aku diserang singa betina semalam."


"Apa?" Cathy tersentak dan menatap Wajah suaminya dari belakang saat menggosong punggungnya.


"Kenapa tidak membangunkan ku? Apa singa nya ganas?"

__ADS_1


"Iya... Ganas sekali..."


"Apa yang kau lakukan sampai membuat singa itu marah dan mencakar mu seperti ini?" tanya Cathy prihatin dan antusias secara bersamaan. Menyentuh luka-luka itu dengan hati-hati.


Ken menyentak nafasnya.


"Aku hanya mencoba masuk kedalam sarangnya."


"Itulah, kenapa Om harus masuk ke sarang singa?" Cathy menepuk punggung Ken tanpa rasa bersalah.


Mungkin gadis itu lupa jika dialah singa yang di maksud. Seusai melakukan ritual mandi bersama, Cathy dan Kennan berpamitan dengan Mak Yun dan penduduk desa juga para tetua disana.


"Kenapa cepat sekali? Padahal Ibu belum mengadakan arakan pengantin untuk kalian." sesal Mak Yun mengusap sudut matanya.


"Ibu, kita bisa lakukan lain kali."


"Lain kali sudah lain lagi yang diarak. Itu akan jadi cucu ibu." Mak Yun mengusap ingusnya.


"Ibu, kami pamit dulu."


"Iya, iya, hati-hatilah dijalan."


"Bawa Henri juga, dia hanya menyusahkan disini."


"Heeiii...." protes Henri berteriak.


"Ibu, kami pergi ya." Cathy menyalami dan mencium punggung tangan Mak Yun.


"Iya. Jangan panggil suamimu Om lagi ya." pesan Mak Yun mengelus kepala Cathy.


Usai pamitan yang mengharu biru itu, mobil Ken bergerak meninggalkan desa Mak Yun menuju pusat kota dimana Malvin dan Embun menunggu kedatangannya mereka.


Bersambung ...


____^_^_____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih


salam


🥰☺️

__ADS_1


__ADS_2