Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 59


__ADS_3

"Mood-ku hilang, mau jalan-jalan keluar?" Ajak Kennan.


"Memangnya kita bisa keluar Om?" tanya Cathy bingung."bukankah mereka mengunci pintunya?"


Kennan tersenyum, bangkit dan mengambil baju Cathy.


"Pakai dulu." Kenan mengansurkan baju itu pada pemiliknya.


"Aku mau ngecek jendela, mungkin saja mereka lupa menguncinya." Ken berjalan mengelilingi ruangan berdinding kayu jati itu.


Sedangkan Cathy mengenakan pakaian nya kembali. Cathy mengekori Ken. Pria matang itu menemukan jendela, lalu mencoba membukanya.


"Aaahhh,, terbuka." Kennan sumringah menoleh pada istri kecilnya. Lalu kembali mencoba membuka lebar jendela agar mereka bisa keluar.


"Ayo! Aku bantu kamu naik." Ken mengulurkan tangannya.


Setelah berhasil keluar lewat jendela. Ken dan Cathy jalan-jalan malam itu. Menyusuri persawahan. juga melewati beberapa jalan desa.


"Waaahh,, Om.. Langit malam di desa sangat bagus...." Cathy memandangi langit malam diatas kepalanya. Dia mendongak melihat ribuan bintang di langit.


"Bagus sekali...."


Ken tersenyum melihat Cathy yang terus takjub dengan langit pedesaan.


"Cat! Perhatikan langkahmu..." Belum sempat Ken menyelesaikan kalimat nya Cathy sudah terlihat oleng Karena hampir terperosok ke sawah. Untung Ken cepat menangkap tubuh gadis itu. Sehingga Cathy jatuh di pelukannya.


Mata mereka saling bertubrukan, Sesaat nafas keduanya menderu. Membawa asap putih yang keluar dari hembusan hangat nafas mereka. Saking dinginnya malam itu di desa. Jantung Cathy mengentak kuat.


"uuuggg.. moment nya... pas banget... bikin jantung nggak karuan aja si Om ihh.." batin Cathy menggigit kecil bibirnya.


Kenan tersentak segera melepas jauh tubuh Cathy sampai bocah itu terkaget dan malah jatuh.


"Aaaduuhhhh....." ringis Cathy memegangi pinggang belakangnya.


"Maaf... maaf...." Ken mengulurkan tangannya. Membantu Cathy berdiri.


"Apa yang kupikirkan? Singkirkan pikiran jahat itu Ken. Kau makin kacau." pikir Kennan.


"Sakit tau,Om.."


Mereka berjalan dalam diam, hening hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar bersahutan begitu indah membentuk nyanyian malam. Pasangan itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Uuuhhh,, si Om Ken kenapa sih? Tarik ulur terus dari kemarin. Udah manis-manis ditinggal. Udah cium-cium terus ngajak keluar. Bukannya diterusin juga..." Kata Cathy dalam pikirannya sedikit melirik pada pria matang di sampingnya.


" Aku sudah sering lepas kontrol akhir-akhir ini. Walau sudah menikah, tapi dia masih anak-anak. Jika kami sungguh melakukan itu dan dia hamil. Cathy akan jadi mamud yang menggemaskan, tapi aku semakin tua....." Dalam pikiran Kennan.


Keduanya menghela nafas bersamaan.


"Haaahhh... Om Ken payah..."


"Haaahhh... Meresahkan..."


Batin kedua nya bersamaan memalingkan wajahnya ke arah lain yang berlawanan. Mata Cathy melebar melihat ular melata melintas didekat kakinya. Sontak Cathy melompat histeris pada suaminya.


"Wwaaa~ " teriaknya melompat dalam gendongan Kennan, pria itu juga reflek mengangkat tubuh Cathy ala pengantin. Walau dia juga terlihat bingung.


"Uulaar Om!" ngeri Cathy menelusupkan wajahnya ke dada Kennan.


"Haaahh?"


"Itu! Disana! Ular!" pekik Cathy kengerian menunjuk arah ular itu melata.


Kenan melihat kesana, hanya terlihat ekornya yang kemudian hilang diantara rimbunan tanaman padi.

__ADS_1


"Aahh, di desa memang biasa begitu. Banyak ular, kodok.. MMM... Apa lagi ya?"


"Om.... "


Cathy menatap protes pada suami nya, yang kini mengulas senyum jahil.


"Tunggu rasanya tadi, detak jantung Om Ken..." Cathy kembali menelusup kan kepalanya di dada Kennan.


"Aaakkkkhh.. Benar! Ternyata Om Ken juga, bahkan detaknya lebih kencang dariku. Uuuggghh, beneran bikin gemes... Bagaimana aku harus menghukum nya?" Lanjut Cathy membatin.


"Turun! Kamu berat!" ujar Kennan dengan wajah yang sedikit memerah ketahuan jantungnya berdetak kencang.


"Tuh kan, Om Ken ternyata selama ini kau pandai menyembunyikannya, aku sudah nggak karuan begini." Batin Cathy menatap wajah suami yang mulai menurunkan tubuhnya. "Nggak bisa dibiarkan..."


Cathy memeluk leher Kennan tanpa aba-aba menyatukan bibir mereka, mata Kenn melebar sempurna, terkejut dengan serangan dari Cathy.


"Cathy....Ummmppp....." gumam Ken yang tak kuasa dengan panggutan Cathy yang semakin liar. Beberapa saat berlalu, Cathy yang sudah kehabisan nafas melepas panggutan nya. Hembusan yang keluar dari mulut dan hidung mengepul membentuk asap putih tipis.


Begitupun Kennan. Pria itu segera menurunkan Cathy dalam diamnya dan melangkah lebih dulu.


"Ayo kembali."


Wajah Cathy berubah menjadi sendu, merasa malam semakin dingin, dengan sikap Kenn yang bahkan lebih dingin dari malam ini. Kennan dan Cathy kembali kerumah panggung. Didepan pintu ada dua koper milik Kenn dan Cathy yang memang sengaja para tetua letakkan disana. Cathy yang melihatnya langsung berlari.


"Aahh, ini koperku. Aahh, akhirnya aku bisa ganti juga." Cathy berucap senang berlutut memeluk dan mencium kopernya. "Muaahh..." kembali memeluk koper dengan erat.


Ken tersenyum tipis, membuka slot yang mengunci pintu dari luar. Kemudian dia membuka pintu ruangan itu. Menarik kopernya tanpa sepatah kata pun. Cathy yang merasa diabaikan suaminya itu, menjadi sedih, hatinya serasa sakit bagai dicabik. Cathy pun bangkit dan ikut masuk sambil menyeret kopernya.


Sesampainya dia dalam, Kennan menutup pintu. Cathy melirik suaminya sedih. Menarik nafasnya, lalu membuka kopernya. Mata Cathy mendelik, melihat isi kopernya.


"Apa ini?"


Ken menoleh.


"Haaahhh??"


Kain tipis yang sangat kekurangan bahan. tertulis pada memo yang dijepit dengan pita rambut.


Merah, Kamis


Itulah tulisan pada memo. Wajah Cathy memerah seketika, saat Kennan ikut berjongkok disampingnya.


"Apa ini isinya linggeri semua?" tanya Kennan datar. mengambil beberapa linggeri dikoper Cathy,


"Jum'at, Sabtu, Minggu..."


Ken geli melihat setiap linggeri ditulisi memo. Cathy menatap melas pada suaminya,


"Om, ini kerjaan Henri. Dia yang memaksa untuk menata isi koperku selagi aku mandi." tangis Cathy dengan mimik hampir menangis.


"Ya sudah. pakai saja." jawab Kennan enteng.


"Pakai saja bagaimana? Semua isinya cuma linggeri, apa maksud Om aku harus memakainya juga di depan warga dan tetua?" protes Cathy kesal.


Kennan masih terkekeh,


"Oomm...."


"Kamu ini juga salah, kenapa percaya saja pada Henri?"


"Kan sudah ku bilang dia memaksa." tangis Cathy, air matanya sudah mau keluar saja saking jengkelnya.


Ken jadi gemas melihat wajah cemberut istri kecilnya. Ken mengacak rambut Cathy, lalu membawanya ke dadanya.

__ADS_1


"Sudahlah, pake itu dulu buat ganti, besok kita beli baju untukmu." hibur Ken mengecup punca kepala Cathy.


Malam itu Kennan dan Cathy tidur dibawah selimut yang sama, saling memunggungi. Cathy tersedu tanpa suara.


"Om Ken pasti berfikir macam-macam. Mungkin saja dia mengira aku wanita murahan yang sedang menggoda nya setelah tadi kesal aku menciumnya. Uuuggghh.. kenapa nasib permintaanku begini..." Pikir Cathy bersedih mengusap airmatanya.


Kennan masih belum memejamkan matanya, tidur dibawah satu selimut yang sama dengan gadis belia yang bahkan sangat layak untuk dia sentuh itu membuatnya tak bisa tidur. Apalagi, Cathy berulang kali menyerangnya laki-laki normal mana yang tidak tergoda. Tentu saja insting kejantanan nya bangkit. Akan tetapi, Ken tetap berusaha mengontrol diri.


Ken berbalik, melihat Cathy yang memunggungi nya.


"Cat?"


"Cathy?"


Masih tak ada jawaban. Ken mendengar suara seperti ingus dihisap. Ken menyentuh lengan Cathy.


"Cathy! Kamu belum tidur?"


Gadis itu masih tak membalikkan badannya. Kennan menarik lengan Cathy agar dia bisa melihat wajah istrinya, memastikan apakah istrinya itu menangis atau alergi dingin. Namun, pertahanan Cathy kokoh, sedikitpun tidak bergerak. Ken menjadi gelisah.


"Cathy."


Kennan mencondongkan tubuhnya melihat Cathy yang berbaring miring. Gadis itu sedang mengusap pipi pelan. Hati Ken berdenyut sakit.


"Hanya melihatnya menangis saja hatiku sesakit ini."


Kennan menarik paksa tubuh Cathy hingga terlentang, Kennan menahan dengan mengukung tubuh Cathy di bawah tubuhnya. Cathy memalingkan wajahnya sesamping.


"Om Ken pasti berfikir aku ini wanita nakal yang sedang menggodamu kan?"


"Apa?" Kennan terkejut dengan ucapan Cathy.


"Pasti begitu."


"Tidak Cat.... Aku ..."


"Pasti begitu, aku sudah menciumu, dan kau langsung bersikap dingin padaku, sekarang membawa banyak baju linggeri dan...." Cathy mengusap lagi matanya yang basah.


"Aku tidak berfikir begitu... Aku hanya..." Kennan melihat wajah sendu istrinya,


"Dia pasti sangat tertekan. Aku bersalah, karena terlalu bereaksi pada nya Sampai tanpa sadar malah bersikap dingin padanya karena kesal pada diriku sendiri. Sekarang malah menangis begini...." batin Kenn menatap wajah istrinya yang melihat kesamping.


Kennan mengambil dagu Cathy membawanya lurus menatap wajahnya, Kennan melummat bibir mungil istri kecilnya.


"Untuk apa sibuk memikirkan Cathy lebih muda atau aku yang jauh lebih tua. Tidak melihatnya menangis saja sudah cukup..." pikir Ken melepas panggutannya.


Ken membuat jarak beberapa inci, melihat wajah dan tubuh Cathy yang hanya memakai linggeri yang sangat menggoda, semakin membangkitkan jiwa serigala yang lama tertidur. Ken menelan ludahnya.


"Kau! Siluman kecil, Haruskah aku memakanmu malam ini..."


______^_^_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat


☺️

__ADS_1


__ADS_2