
"Belajar menembak?"
"Heemmm.... ini akan sangat berguna disaat genting."
Kay terdiam menatap wajah pria dingin didepan wajahnya.
"Apa itu akan membuatku jadi pembunuh?"
Gara tersenyum geli,
"Apa kau tau Polisi, tentara dan sejenisnya? Mereka juga ahli menembak, dan mereka tidak sembarang membunuh."
Gara mengusap bibir basah Kayla dengan tangannya yang memegang pistol. Mata pria itu terus berpusat disana.
"Semua itu bergantung pada hati nurani masing-masing, juga etikat nya."
Gara melummat habis bibir Kayla yang terus menggoda gairah nya. Mengeratkan tangan kirinya yang memeluk pinggang Kayla. Tangan kanan nya yang masih memegang pistol itu menekan tengkuk gadisnya, memperdalam ciumannya.
Gara membuka matanya lagi, melirik kecil kerimbunan di bawah sana. Tangan kiri nya berpindah dari pinggang gadisnya bergeser kesaku celana, mengambil peredam yang sempat dia simpan. Lalu memasangnya pada pistol yang dia bawa di balik punggung Kay. Tanpa melepas panggutan nya, Gara ngearahkan moncong pistol ke titik yang dia curigai bersembunyi anak buah Ayahnya.
Satu per satu, peluru kaliber 11mm keluar dari mulutnya melesat menembus udara dan mengenai jantung satu,
"Uugghh!"
Dua.
"Aaakkhh.."
Tiga.
Bruuukk!
Tumbang. Menyisakan satu orang saja. Gara sengaja tidak membunuhnya, hanya mengacungkan pistol, mengancam. Orang asing itu berlari menyeret beberapa temannya yang telah tertembak kedalam mobil dan pergi menjauh.
Gara melepas panggutan nya. Tersenyum setelah menyelipkan pistol berperedam di balik punggung nya.
"Bagaimana? Mau belajar menembak?"
"Baiklah."
Gara membawa Kayla ke sebuah tempat Khusus menembak di areal vila itu. Gara memasangkan peredam di telinga Kayla. Tangan Kayla sudah memegang pistol, Gara berdiri memutari tubuh Kayla, kepala Gara menunduk, kakinya dia tempatkan disela-sela kaki Kay.
Lebarkan jarak kakimu." Gara menggeser kakinya ke kiri dan ke kanan. Hingga kaki kaki Kay berjarak seperti yang dia inginkan.
"Ya bagus. segini." Gara mengambil langkah lagi bergeser di samping Kay.
Tangan Gara meluruskan tangan Kay yang memegang pistol.
"Moncong pistol dan pandangan matamu lurus sejalan. dan pusatkan pada bidikan disana. Cara menggenggam pistol seperti ini."
Gara membenarkan tangan Kayla. Kayla hanya menurut saja.
"Sekarang, tarik pelatuk nya."
Kayla menarik pelatuk Pistol.
DOORR!
Peluru Kayla berada diluar lingkaran target, hanya nyaris di tepian lingkaran. Wajah Kay tampak kecewa. Gara mengulas senyum nya. Gara membenarkan lagi tangan Kayla.
"Tembak!"
Kayla menarik pelatuk.
DOOR!
Kini tembakan Kayla berada di dalam lingkaran target.
"Bagus." Gara mengumbar senyum puas."Coba lagi."
Kay menarik lagi pelatuknya.
DOORR!
"Mendekati titik lingkaran. Lagi!"
DOORR!
"Masih sama." ucap Gara, "Sepertinya kamu masih kurang fokus."
Gara berdiri dibelakang Kayla, mengambil peredam yang terpasang melemparkan nya sembarang. Kedua tangannya ikut memegangi pistol yang Kay pegang. Pria itu menempel kan pipinya ke pipi Kayla. Mata Gara memejam sebelah.
"Perhatikan!"
__ADS_1
Gara mulai menembak.
DOOR!
Tembakan Gara tepat mengenai titik pusat sasaran. Kayla tercengang.
"Bagaimana bisa?" tanyanya takjub.
"Fokuslah." Tangan Gara turun berpindah ke pinggang Kayla. "Sejajarkan pinggang mu."
"Lebih fokuslah!" Tangan Gara masuk kedalam baju Kayla, merayap semakin keatas.
"Tembak!"
Kay menembak, bersamaan dengan tangan Gara yang meremas sebelah dada Kayla. Mulut Kayla reflek terbuka merasakan remasan tangan Gara di bagian dadanya itu.
"Gara! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku tidak fokus." protes Kay menoleh ke arah Gara.
"Oh ya?" Gara menurunkan Tangannya. "Lihatlah!"
Gara menunjuk kearah sasaran. Kayla melihat pelurunya melobangi tepat di titik targat. Kay terkejut,
"Bagaimana bisa?"
"Coba sekali lagi!"
"Kondisikan tanganmu Gara!"
"Tangan ku terkondisikan dengan sangat baik."
"Jangan meremas dadaku lagi." pinta Kay dengan mata yang semakin berkabut. Merasakan tangan Gara yang semakin nakal.
"Hmmm... bagaimana kalau disini?"
Tangan Gara menelusup kedalam celana Kay. Bermain-main dengan bagian sensitifnya. Mulut Kay terbuka, merasakan kegelian disekitar sana.
Gara mengulas senyum, "Tembak!"
Kay menarik pelatuknya. Peluru Kay melesat jauh dan tepat mengenai titik sasaran.
"Aaahhh..."
Kayla serasa lemas, Gara sangat lihai memainkan bagian sensitif nya. Mulut kay terbuka lebar.
"Kamu sangat hebat menembak dalam keadaan begini."bisik Gara tersenyum nakal."Lihatlah tepat sasaran lagi."
"Aaahhh...."
"Basah." bisik Gara menggigit telinga Kay. Menggulum ya sesaat.
"Aaaahhh....." Kay memejamkan matanya, mulutnya terbuka lagi.
Gara menarik tangannya dari dalam celana Kay. Gara sedikit mundur, dan bergeser kesamping menatap wajah Kayla yang pasrah menggemaskan. Kay mengatur nafasnya. Melirik tajam pada Gara. Kay merasa marah, Gara mempermainkan nya seperti itu. Ditempat terbuka lagi. Walau memang Tak ada orang disana. Hanya ada mereka berdua, tetap saja Kay merasa kesal.
Kayla menodongkan pistol ke wajah Gara. Terlihat Kay marah, Gara tersenyum. Dia menunjuk dada.
"Disini, letak jantung ku. Jika kau tembak, aku akan langsung mati." ucap Gara. Dia menarik pistol dengan tangan Kay yang masih menggenggam pistol itu. Menuntun nya tepat di jantung.
"Tembak!"
Kay mengigit bibir bawahnya. Menatap nanar pada Pria didepannya.
...----------------...
Kembali ke situasi Ken dan Cathy.
"Om, kenapa sekarang jadi dingin?"
Ken terdiam. "Mungkin, mereka mematikan Baranya."
"Tapi ini terlalu dingin."
Ken mengeratkan pelukannya. "Masih dingin?"
"Lebih hangat."
Wajah Cathy memerah sampai ke telinga nya.
"Apa yang terjadi tadi sore? kau menghilang, lalu tiba-tiba berada di rumah ibu?" tanya Kenan, nafas hangat nya menerpa pipi dan telinga Cathy. Wajah Caty semakin memerah.
"Om yang meninggalkan ku."
"Maaf." lirih Ken, "Kamu kemana? Aku mencari mu kesana-kemari, tapi tidak ketemu. Malah tiba-tiba berada dirumah."
__ADS_1
"MMM.. waktu itu, pak Isa membawaku ke WC umum, dia ingat aku mencarinya tadi." ucap Cathy pelan, "Lalu, pak Isa juga mengajakku menonton pertunjukan. Anak pak Isa ternyata juga salah satu pemain nya. Lalu menarik ku serta menari."
"Kami dapat banyak tips." Cathy terkekeh kecil. Kenan mengeratkan lagi pelukannya.
"Apa anak pak Isa lelaki?"
"Heemm..."
"Apa dia tampan?"
"Heemm.. Masih sangat muda, sepertinya seumuran denganku."
Ken semakin mengeratkan pelukannya.
"Namanya Seto."
"Aku tidak tanya."
"Dia sangat kuat, tubuhnya juga bagus."
"Aku tidak tanya." ketus Kenan.
"Dia bahkan kuat memanggul tubuhku.....Aaaakkkhhh..."
Cathy tak sempat melanjutkan ucapannya, Kenan sudah memutar tubuh dan menjatuhkan tubuh Cathy kelantai kayu, mengukung tubuh istri kecilnya.
Dada Cathy naik-turun, menatap wajah Kenan yang hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Om..."
"Jangan memanggilku, Om."
Mata Cathy melebar.
"Jangan memanggil Om? Apa maksudnya? Kalau tidak memanggil Om, aku harus memanggilnya apa?" pikir Cathy dengan wajah memerah.
Ken semakin mendekatkan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan benda kenyal milik gadis yang berada dibawah tubuhnya.
"Aaaarrrgg, Om Ken menciumku... Apakah aku sedang bermimpi? Jika benar mimpi , ini mimpi yang indah sekali...." Batin Cathy berbalik menggulum mulut Kennan.
("Sepertinya sebentar lagi, mereka sudah berciuman.")
("Benarkah? Minggir, aku juga mau lihat.")
("Kennan sudah menindihnya.")
("Minggir lah. Aku juga mau lihat.")
("Wah jika seperti ini aku bakal beneran menimang cucu.")
("Ssssttttt jangan berisik.")
Suara bisik-bisik di luar ruangan itu, terdengar jelas walau samar di dalam kamar Kennan dan Cathy. Pria matang itu melepas panggutannya. Menatap wajah Cathy yang memerah.
"Sepertinya satu RT sedang mengintip kita, berisik sekali." ucap Kennan berbisik pelan. Mukanya juga memerah.
Wajah Cathy makin memerah. Cathy membuka mulutnya hendak bersuara. Jari Kenan sudah menempel di bibir lembab Cathy.
"Ssssttttt..."
("Hey, berikan mereka privasi. Besok kita tanyakan pada gadis kecil itu.")
("Dia polos. Pasti dia akan menjawab dengan jujur.")
Suara bisikan diluar terdengar lagi, Lalu di ikuti suara langkah pelan yang semakin menjauh.
Kennan menatap Cathy lagi. Dia tersenyum geli.
"Mood-ku hilang, mau jalan-jalan keluar?" Ajak Kennan.
______^_^_____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
☺️
__ADS_1