
Gara membuka matanya, perlahan. Menatap wajah Kayla yang terus bertumpu kepadanya. Wajah cantik itu terlihat begitu cemas dengan lelehan di pipinya. Sesekali gadis itu mengusap pipinya. Tangan nya menggenggam erat tangan Gara.
Gara tersenyum,
"Berapa lama aku pingsang?"
"Tiga jam." Isak Kayla, terlihat ada kelegaan diwajahnya. Melihat kekasihnya itu sadar.
Gara mencoba untuk bangun, Kay membantunya.
"Jangan banyak bergerak. Lukamu belum kering."
"Nggak apa-apa."
Gara duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Kau mau makan atau minum sesuatu?"
Gara menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit."
"Kau memang sedang sakit, Gara."
Gara tersenyum melihat Kay yang begitu gelisah.
"Aku hanya tertembak. Sebentar lagi juga baikan."
Kay yang jengkel memukul lengan dan dada Gara.
"Itu luka tembak! Kenapa kau begitu sepele? apa kau tidak mengerti betapa khawatir nya aku? Kupikir kau akan mati...." tangis Kay masih memukul tubuh Gara. Gara menangkap tangan Kayla. Tersenyum dengan nakal dan memeluk nya.
"Ini sungguh tidak apa-apa."
Kay tersedu dalam pelukan Gara.
"Kenapa kau jahat sekali padaku. Aku benar-benar akan kehilanganmu..." tangisnya.
"Maaf..." Gara melonggarkan pelukannya, mengusap pipi Kayla yang basah. Lalu mengecup ringan kedua matanya bergantian.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka ini?"
Bibir Gara berpindah ke hidung. Lalu ke bibir, menyesapnya begitu lama.
"Ga-ra~"
"Aku bertemu ayah...."
Kay tersentak, menatap netra Gara dalam-dalam.
"Dia yang menembak mu?"
Gara hanya menjawabnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Ayah macam apa dia?"
Kay masih tak habis pikir, dia begitu terkejut mengetahui Daniel begitu tega menembak anaknya sendiri.
"Kay."
Kayla menoleh, melihat wajah Gara yang terlihat sedikit pucat.
"Menginap lah disini malam ini."
"Baiklah."
...----------------...
Malam itu, Kayla menelpon ibunya, ia mengabarkan bahwa malam itu ia akan menginap dirumah temannya.
Masalah perijinan selesai, Kayla pun kembali ke kamar Gara. Menyuapkannya makan malam yang sudah di siapkan.
"Kamu juga makanlah." Gara merebut sendok yang Kay bawa lalu mengambil nasi beserta lauknya dan menyuapkannya pada kekasihnya itu.
Beberapa kali mereka saling suap kemudian tertawa bersama. Satu piring habis, Kayla beranjak hendak menyingkirkan, tangannya ditahan Gara.
"Biarkan saja disini." Gara mengambil piring di tangan Kayla, meletakkan nya diatas nakas. Gara menarik tangan gadis hingga terduduk. Mengambil pinggangnya dan mendudukkan diatas tubuh pria itu.
"Gara, kau sedang sakit." Kay hendak beranjak, namun cepat ditahan oleh Gara.
"Aku baik-baik saja. Kenapa kamu sangat tidak percaya?" Gara menatap wajah cantik Kay yang duduk diatas pangkuannya.
Kayla tersenyum kecil. Menangkup wajah kekasihnya, saling menggulum lidah.
...----------------...
Hari itu, Cathy sudah sampai di kediaman keluarga Malvin. Pria itu menyambutnya bersama dengan Embun dan ke dua adik kembarnya. Memeluk Cathy secara bergantian.
"OOO... Kenapa wanita jadi-jadian itu sekarang berubah jadi pria?" seru Kian menunjuk Henri yang baru saja keluar dari mobil.
Henri dengan penuh gaya melepas kacamata hitam dari wajahnya. Seraya berkata:
"Siapa yang kau bilang wanita jadi-jadian, haah?" ucap Henri sok Cool.
"Wwaaahh.. Ternyata dia laki-laki.."
"Mungkin saja dia waktu itu hanya melakukan penyamaran." bisik Sean di telinga Kian.
"Itu artinya dia mau mengganggu kak Cathy."
"Untung saja sudah dapat bantingan dari kak Cathy."
"Benar-benar..."
Melihat kedua anak kembar nya berbisik-bisik, embun tersenyum lalu mengusap kepala keduanya.
__ADS_1
"Jangan begitu. Ayo Salim sama kakak itu. Mungkin saja dia sudah bertobat."
"Uummm.." Twins serentak mengangguk dan berjalan menyerbu Henri.
Dengan pandangan terkejut, saking takutnya akan diserang kedua bocah yang pernah menyerangnya itu, Henri mundur.
"Hei! Singkirkan bocah-bocah ini Ken." pekik Henri kengerian.
"Mereka hanya ingin menyapamu. Jangan berlebihan."
"Apaa maksud mu? Mereka lebih terlihat seperti serigala yang hendak menerkam ku." rengek Henri.
"Twins jangan berlebihan."
Twins meraih tangan Henri lalu menyalami dan mencium tangan nya.
"Kaka sudah bertobat ya, ayo kak, ke kamarku. Aku ada banyak mainan." Ajak Twin menarik tangan Henri masing-masing satu.
"Tidak mau!" Henri memekik dengan gelengan, namun tetap terbawa oleh tarikan Twins.
Ken terkekeh.
"Om, Sepertinya keluarga kita saling terikat ya?"
"Kenapa?"
"Twins sepertinya jadi suka dengan Henri bukan Honey."
"Bagaimana denganmu? Kamu suka yang mana?"
Kenan dan Cathy berjalan memasuki vila, mereka tertegun, ada mobil lain yang juga baru datang. Cathy melirik Daddy-nya.
"Who's Dad?"
Malvin hanya tersenyum tanpa jawaban. Embun dan Malvin menyambut tamunya yang baru datang itu.
Danu dan Yura keluar dari dalam mobil yang baru datang. Bersama dengan anak mereka.
"Dad? Ada apa? Kenapa Ayah Kayla juga datang kemari?"
"Yaahh, nanti kau juga akan tau." ucap Embun dengan senyum misterius.
__^_^__
Readers, kasih Othor semangat donk biar bisa up terus setiap hari..
like
komen
salam hangat.
__ADS_1
☺️