Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 83


__ADS_3

Damian duduk di antara ribuan layar datar didepannya. Netranya memicing, bola matanya bergerak gerak kesana kemari. Raut wajahnya terlihat begitu serius.


"Apa yang terjadi Damian?" Daniel yang melihat gurat tak wajar dari Hacker barunya itu.


"Mereka menghapus semua data kita." lapor Damian dengan masih terus fokus pada layar dan ketikan jarinya.


"Apa?"


Daniel ikut memperhatikan layar dengan seksama. "Apa yang kau lakukan, Damian?"


"Hanya mencoba memulihkan."


"Tanpa melakukan balasan?" suara Daniel meninggi."Jangan membuatku meragukan kemampuanmu."


Damian tersenyum miring dengan lirikan sinisnya.


...----------------...


Hari ini Kennan dan Cathy bermaksud mengantar beberapa undangan pernikahan mereka. Terutama untuk teman sekolah Cathy, dan beberapa teman Kennan.


Kala itu, mereka memang hanya menggunakan motor. Mengingat salah satu teman Kennan rumahnya agak terpelosok dan sulit di jangkau oleh mobil. Yah, itung-itung sekalian jalan-jalan dan kencan.


Setelah berhasil menyebar beberapa undangan yang tersisa.


"Jadi sekarang kemana?" Tanya Kennan yang menjadi pengendara.


"MMM... Kearah kawasan M. Dirumah Susi."


"Kawasan M? Itu jauh sekali. Apa itu temanmu sekolah?"


"Yah, begitu lah. Salah satu teman dekatku."


Kennan terkekeh. "Ini jauh, bukan dekat."


"Yang jauh itu rumahnya. Dia kembali kerumah orang tuanya. Dulu dia tinggal di panti karena orang tuanya tidak mampu. Dan ayahnya juga sudah meninggal."


"Aaahh,, begitu?"


"Hanya dia itu pintar. Bisa masuk sekolah kami karena prestasinya. Dia itu bibit unggul."


"Heemmm..."Ken menyimak dengan masih mengendarai motornya."Abis ini ada persimpangan. Terus kemana?"


"Aahh, sebentar." Cathy mengecek hapenya lagi. Dia melihat titik lokasinya. Gadis itu sebenarnya tidak tau juga alamat rumah Susi. Hanya berbekal map pada hape saja.


"Simpang depan belok kanan."


"Oke." Ken menyanggupi.


Begitu sampai di Simpang depan Kennan belok kanan. Cathy pun masih melihat layar ponselnya. Tiba-tiba jalur biru berubah.


"Tunggu! tunggu!" Cathy menepuk bahu suaminya.


"Bukan simpang yang ini. Simpang yang depan lagi."


"Apa?" Ken sedikit menoleh, lalu melihat kedepan lagi."Kamu bilang belok kanan."


"Iya, Cathy kan bilang simpang depan."


"Ini tadinya juga simpang depan."


"Salah, Om. Masih didepan lagi." Balik! Balik!" omel Cathy.


Walau kesal Kenan balik arah juga. Begitu sampai disimpang yang di maksud, Kennan memastikan lagi.


"Ini kan, simpang depannya?"


"Iya om." sahut Cathy sambil memperhatikan layar hp yang menampakkan jalur biru dan petak peta satelit.


"Nggak salah, kan?"

__ADS_1


"Enggak! Ih, Om apaan sih. Buruan, ntar keburu malam."


Kennan kembali mengikuti instruksi Cathy. Mereka melewati jalanan kampung. Cathy masih melihat petunjuk di hpnya. Tepat didepan jalan yang akan dilewati, ada palang menandakan hajatan. Kennnan menghentikan laju motornya.


"Ada hajatan Cat. Lewat mana nih?"


"Apa? Hajatan?" Cathy tersentak melihat beberapa meter di depan yang terlihat ramai."Yaah, hajatan kok ditengah jalan sih? Terus lewatnya gimana dong?"


Kennan menghela nafasnya,


"Nyari jalan alternatif dong Cat."


Cathy melepas helmnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melihat lagi rute yang bisa dilalui.


"Belok kiri Om."


"Yakin belok kiri?"


"Iya."


"Tanya warga aja deh."


"Tanya warga yang mana? Orang mereka lagi hajatan. Lagian belum tentu juga mereka orang sini." oceh Cathy mulai kesal.


"Ya sudah." Kennan menghidupkan lagi motornya dan menjalankannya mengikuti arahan Cathy.


Belok kanan, lurus, belok kiri. Aah, rupanya salah belokan. Balik lagi. Sampai akhirnya mereka bertemu palang jalan lagi.


"Ya Ampun, palang jalan lagi." Keluh Kennan, kali ini berkibar bendera putih. Tanda ada kemalangan orang meninggal. Kennan menghentikan laju motornya. Menoleh.


"Cat?"


Gadis itu terlihat begitu bete. Cathy mengangkat tangannya.


"Apa kita trabas aja om?"


"Apa?"


Kenan menghela nafasnya,


"Cathy, nggak ada orang yang mau meninggal juga."


"Iya aku tau."


"Dan, kalau mereka punya cukup uang pasti akan sewa gedung untuk pernikahan mereka. Kalau punya halaman luas pasti dihalaman sendiri. Nggak bakal makan jalan juga. Jadi..."


"Iya, iya Om. Cathy tau kok."


"Ya udah, jangan ngomel."


Ken berbalik memegang stang motornya, toleh sana toleh sini. Sebuah motor mengklakson dan menyalip, memberi petunjuk arah dan berbelok ke sana.


"Oke, ikuti motor itu." ucap Kennan mengegas motornya, setelah beberapa meter, jalan kecil itu memutari beberapa bangunan dan sampai pada tembusan jalan yang di tutup.


"Kita sudah kembali kejalur sayang." ucap Kennan puas."Sekarang, beri petunjuk yang benar."


"Iya Om." balas Cathy lesu.


Cathy masih mengikuti petunjuk dari hp nya. Laju motor sore itu sampai di jalan yang hanya ada hamparan persawahan yang mulai menguning. Beberapa bahkan sudah dipanen. Para petani dan pekerja buruh terlihat lalu lalang dengan bongkahan rumpun padi yang diikat dijog motor mereka.


Cathy dan Kennan melambatkan laju motor dan menikmati pemandangan yang menyegarkan mata itu.


"Cat." panggil Kennan.


"Heemmm?"


"Masih jauh nggak?"


Cathy melihat lagi jalur biru dihp nya.

__ADS_1


"Nggak jauh sih Om, harusnya dari sini ntar ada persimpangan, belok kanan, dan persimpangan lagi lurus. Baru nanti masuk gang. Rumahnya disitu."


"Heemm..." Kennan menjelajahi lokasi itu dengan pengelihatannya."Didepan udah nggak ada persimpangan Lagi Cat. Itu depan udah sungai."


"Eehh? Yang bener?"


"Sebenernya kamu tau rumah temanmu itu nggak sih?" Kennan menepikan motornya dan berhenti. Menoleh kebelakang. Melihat Cathy tengah sibuk melihat layar ponselnya. Kennan mengintip sedikit.


"Kamu dari tadi pake Gugel MEP?"


Cathy mendongak. "Eh, iyaa~" cengirnya dengan wajah bersalah.


"Dan kenapa kita bisa jadi tersesat?"


"Aaa~ itu~" Cathy menggaruk rambutnya yang tak gatal. Selama di jalan desa, Cathy sama sekali tak mengenakan helmnya lagi sejak dia melepasnya tadi.


Kennan melihat sekitar, ada seorang pria tua yang sedang membelah kayu. Sepertinya mau dijadikan sumbu bakar didapur. Kenan turun dari motor, dan berjalan mendekat setelah melepas helm. Ia pun memilih bertanya ketimbang mengikuti arahan istrinya yang sedikit-sedikit berubah. Tentu saja setelah dia menanyakan nama desa tempat Susi tinggal.


Setelah bertanya, Kennan kembali dengan wajah lebih riang tersenyum kecil pada Cathy.


"Om~" Cathy menggigit bibir bawahnya.


"Kita kelewat jauh banget." ucapnya menaiki motornya. Memakai helm dan menjalankan laju motor."Kita balik kejalan utama. Dari sana aku ngerti dikit arah jalannya. Kamu simpen aja hpnya, ntar batrenya habis."


"Iya~" jawab Cathy lesu.


Benar saja setelah melewati jalan utama, tak lama mereka masuk ke kampung Susi tinggal. Kennan kembali bertanya alamat rumah Susie itu. Begitu sampai dirumah Susi, mereka hanya disambut oleh ibunya saja. Karena Susi sudah berangkat kerja masuk malam di sebuah hotel tak jauh dari kampungnya. Setelah bertamu sebentar, menghilangkan penat, mereka pamit dan kembali.


"Hujan Cat."


"Neduh dulu Om."


Kenan menepikan motornya disebuah bangunan kosong. Hari sudah mulai gelap. Hanya ada mereka dan beberapa kendaraan yang sesekali lewat. Rintik air makin banyak yang berjatuhan. Membawa hawa dingin menyerang kulit mereka. Kennan melirik istrinya yang tampak berdiri dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Ken menarik tubuh Cathy, memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Menggunakan jaketnya sebagai selimut untuk mereka berdua.


"Bagaimana sekarang?"


"Lebih hangat." lirih Cathy malu-malu.


Sesaat lamanya, mereka terdiam dalam hujan yang tak kunjung reda.


"Om, mau sampai kapan kita disini?"


"Sampai hujannya reda. Kita nggak bawa mantel Cat."


"Nerabas aja gimana?"


"Jangan, ntar malah sakit lagi."


"Terus?"


Mata Ken berkeliling, menyisir setiap jengkal jalanan itu. Dia terkesima, beberapa meter terlihat ada motel.


"Cat, mau kesana nggak?"


"Hheemm?" Cathy mendongakkan kepalanya, hingga hanya berjarak beberapa meter saja dengan wajah Kenn.


Nafas hangat Kennan menerpa wajah Cathy. Gadis itu bersemu merah.


"Cathy, kenapa kamu begini menggemaskan?"


"Om?"


Kennan menelan ludahnya. Sepertinya malam ini ia butuh selimut yang hangat.


"Malam ini nggak usah pulang. Kita menginap di sana saja."


Bersambung.....

__ADS_1


___^_^___


Next bakal ada part Hareudang nya. Dan sedikit ketegangan.


__ADS_2