
Kayla membuka akses untuk meretas beberapa kamera keamanan. Ia ingin mengetahui Kemana suaminya pergi tanpa lebih dulu bicara padanya.
Tangannya dengan lincah menari diatas keyboard. Gadis itu pun memasang earphone di telinga nya. Gara tak bisa dihubungi saat ini. Dia hanya meninggalkan pesan untuk istrinya agar tak khawatir. Namun tetap saja, Kayla tak suka cara Gara pergi.
Dihadapan Kayla ada beberapa layar datar yang hanya mengarah padanya. Mata indahnya berpindah dari satu layar ke layar yang lain.
"Aku, tidak bisa menemukannya. Aku tau dia pasti sudah menghapus jejaknya. Tapi, harusnya, dengan cara ini aku bisa mendapatkannya." Kayla masih mencari di setiap jengkal dan sudut lokasi yang terpampang di layar."Dimana, dimana?"
Kayla tersentak, ia mendapatkan petunjuk. Mata gadis itu membola, dia menggigit bibir bawahnya.
...****************...
"Uuummppp..."
Dalam pekatnya malam dengan rintik hujan yang terus membasahi belahan bumi yang lain. Catty dan Kennan berbagi kehangatan malam itu, Ken dengan rakus nya memakan Cathy tanpa memberi gadis itu jeda. Sekedar hanya untuk bernafas.
"My Sunny."
Lirih suara Cathy terdengar diantara suara rintikan air hujan di luar kamar mereka.
"Bisakah kamu memanggil ku dengan nama itu lebih sering?" tatap Kennan pada gadis yang tengah berpeluh itu dengan sayang.
"Iya, Om."
"Kenapa Om lagi?"
"Yes, My Sunny." ucap Cathy lemas, dengan mata yang terpejam."Tapi, itu kepanjangan."
"Kalau begitu, MS saja." Ken menggeser tubuhnya kesamping Cathy terbaring. Ken memiringkan tubuhnya kearah Cathy dan dan menggunakan lengannya sebagai penyangga.
"MS?"
"Hmmm..." Jari Ken memainkan bintil kemerahan pada dada Cathy.
"Jelek."
"Aku nggak mau dipanggil Om lagi." Ken masih melanjutkan keusilan jarinya."Kalau kamu masih bandel dengan panggilan Om, akan langsung dapat hukuman ditempat."
Cathy mengernyit, ia membuka matanya yang masih setengah menutup.
"Maksud Om?"
Kennan mengulas senyum."Hukuman ditempat."
Kennan mencondongkan tubuhnya pada dada Cathy dengan rakusnya menggulum bintil yang tadi dia mainkan.
"Uuummppp,, Omm..." Dessaah Cathy menggelinjang kegelian.
"Dua kali." gumam Ken tanpa melepaskan permen abadi favoritnya.
"My Sun~ny~"
"Okey, hukuman pertama selesai." Kennan mengangkat wajahnya menggeser sedikit tubuhnya. Menatap wajah Cathy, istri kecilnya itu menatapnya balik dengan mata menggantung. Nafas Cathy terhembus tak beraturan, Kennan tersenyum lebar dengan jarak wajahnya yang hanya beberapa inci itu.
__ADS_1
"Untuk hukuman yang kedua." Ken menautkan bibirnya dengan bibir Cathy.
"Uummmpp...." Tangan Cathy terangkat memeluk leher suaminya.
"Season two?" dessah Cathy masih dalam guluman Kennan.
...****************...
Hujan masih terus mengguyur bumi disisi bagian yang lain. Tak terlepas juga di kediaman keluarga Malvin. Ditengah pasangan Embun dan Malvin yang terlelap dibawah selimut malam itu, satu kamar tampak menyala cukup terang. Di pintu kamar itu tertulis name plate Twins.
"Sean, hubungi kak Kay."
"Aku? Kenapa bukan kau saja?"
"Aku sibuk!"
"Apa kamu pikir aku tak sibuk?"
Suara jari yang terus beradu dengan kotak-kotak hitam beralfabet itu makin keras terdengar seiring dengan rasa kesal pada masing-masing si kembar.
"Baiklah. Kita suwit saja. Yang menang hubungi Kaka."
"Ck! Ok!"
Sean dan Kian bersuwit dari meja masing-masing. Yang berjarak sekitar satu meter itu.
"Batu, gunting, kertas." Seru keduanya bersamaan.
Sean mengeluarkan gunting dan Kian mengeluarkan batu.
"Ck!"
Kian segera melangkah keluar kamar. Dia mengambil ganggang telpon yang ada di samping tangga. Setelah memutar nomor kakaknya Kian menunggu sesaat.
📞:["Halo?"]
📞:"Kak, ini Kian. Ada masalah."
📞: ["Aku tau, kembali kekamar, kita ganti saluran."]
📞:"Apa?"
Setelah cukup serius mendengarkan instruksi dari Kayla, Kian segera menutup telponnya. Kian kembali masuk kedalam kamarnya. Tak lupa ia menguncinya. Kian kembali ke depan komputernya.
"Apa yang dikatakan Kak Kay?"
"Pasang Headset mu." Ujar Kian sembari memasang headset di kepala nya.
Sean pun mengikuti jejak saudara kembarnya itu.
"Kak!"
"Apa Kalian bisa mendengar ku?"
__ADS_1
"UM." angguk Kian dan Sean bersamaan.
"Bagus! Sekarang dengarkan instruksi ku."
...****************...
Di dalam vila lain milik Daniel, Damian dan beberapa rekannya dibuat sibuk oleh beberapa kekacauan di webnya. Dan beberapa data yang tiba-tiba menghilang. Juga sulitnya akses karena terblokir. Karena alasan keamanan Damian tidak bermarkas di kediaman utama milik Daniel.
Sementara bosnya itu, berada di kediaman utamanya, menyambut anaknya yang menerjang masuk. Tepat di pusat vila itu, yang terguyur oleh air hujan, Daniel berdiri. Sedangkan Gara ada disisi yang berbeda. Dengan beberapa luka ditubuhnya.
"Apa yang membawamu kemari?"
"Menurutmu apa ayah?" tatap tajam Gara pada Daniel yang berdiri didepannya."Ah, atau mungkin aku menyebutmu orang asing?"
Gara melemparkan selembar kertas ke wajah Daniel. Daniel meliriknya, dia pun mengulas senyum. Selembar kertas itu menunjukkan sebuah laporan test yang menunjukkan Daniel bukanlah ayah biologis nya.
" Darahku, mengalir di tubuhmu."
"Kebohongan apa lagi ini, ayah?"
"Jadi kau mempercayai sampah itu?"
"Sampah itu adalah pembuktian."
Daniel terkekeh,"Pembuktian atas apa Gara? Kau tak bisa memungkiri darahku mengalir ditubuh mu, meski kau sudah memaksakan mengembalikannya padaku. Darahku tetap masih ada disana selama kau masih hidup."
Mata Gara menyipit, ia memang pernah mendapatkan donor dari Daniel saat dia masih kecil saat Gara dulu pernah terluka parah. Karena itu jugalah, Gara masih memandang ikatan antara dirinya dan Daniel.
"Jika bukan karena aku, kau sudah mati. Nak." tukas Daniel.
"Ayah juga pernah hampir membunuhku. Anggap kita sudah impas."
Daniel terkekeh lagi,
"Lalu apa tujuanmu kemari?"
"Tentu saja, untuk ini."
Gara mengangkat tangannya yang menggenggam pistol, lurus di wajah Daniel.
____^_^____
Readers, jangan lupa dukung si Othor ya
like
komen
vote
gift
terima kasih
__ADS_1
salam
🥰☺️