
"Apa yang kau lakukan,Gara?"
Gara yang sedang mengangkat tongkat baseball nya, menoleh sebentar. Melihat pada suara yang mengganggu konsentrasi nya. Lalu kembali fokus pada lobang pelontar bola.
"Ada apa,Ayah?"
Bola terlontar kearah Gara, dengan sigap, pria itu mengayunkan pemukul nya.
TAAKK!
"Ayah diretas! Apa kau tahu?"
Gara terkekeh.
"Oh ya?"
Gara kembali fokus pada lobang tempat bola keluar. Mengambil ancang-ancang memukul.
"Siapa yang berani melakukannya?"
"Gara! Jangan bermain kesabaran dengan ku!" sentak Daniel dengan mata merah.
TAK!
Bola kembali terpukul oleh Gara. Pria muda itu lalu meletakkan semua yang melekat padanya.
"Apa yang ayah Lihat?" ucap Gara keluar dari tempatnya berlatih baseball.
"Aku tidak melakukan apapun. Hanya berlatih fisik. Sejak tadi."
Daniel mengepalkan tangannya menatap mata Gara penuh amarah.
"Apa ayah melihatku sedang meretas? Apa ayah pikir aku lah yang melakukan nya. Cobalah buka matamu. Mungkin kau sedang ngelindur." bisik Gara di samping telinga Daniel.
Gara melangkah meninggalkan ayahnya.
"Aku masih akan berlatih menembak. Jika masih menganggap aku yang melakukannya. Aku akan benar-benar melakukannya, tanpa perduli hubungan antara kita, ayah."
Daniel mengepalkan tangannya, dia sudah tak tau lagi siapa yang mungkin. Namun, benar apa kata Gara, saat ini dia bahkan tidak menyentuh kamarnya. Tempat biasa anaknya bekerja.
Tapi siapa yang memiliki kemampuan yang setara dengan anaknya. Daniel berfikir keras. Didalam ruangannya, beserta beberapa orangnya sibuk dengan pertahanan serangan Cyber nya.
Melihat semakin lemahnya pertahanan yang tidak di imbangi dengan kemampuan SDM nya membuat Daniel terus berfikir.
"Panggil Gara." titahnya masih fokus menatap layar di depannya.
Laos menunduk, lalu pergi.
***
"Tuan Muda."
Gara sedang berlatih menembak. Kedua telinga nya terpasang peredam suara. Sedang tangannya bersiap menembak kan peluru ke target sasaran.
DOORR!
"Mau apa?"
"Tuan Daniel memanggil."
Gara tersenyum kecil.
"Aku sibuk."
"Tuan muda. Ini mendesak."
"Katakan padanya, Jemput aku." ucap Gara dengan senyum tipis.
Laos kembali dengan tangan kosong.
"Mana Gara?" Daniel mendelik melihat Laos hanya datang sendiri.
"Tuan muda ingin anda menjemput nya."
Daniel tertawa terbahak-bahak.
"Anak sialan!" Daniel geram menendang apapun yang terlihat dimatanya. Sebuah kursi melayang dan jatuh membuat bunyi dentangan yang sangat keras.
__ADS_1
"Jika itu maunya akan kulakukan."
Daniel menggertak kan giginya.
***
###
Cathy ikut memanggang ikan dengan adik kembarnya. Dikejauhan, Ken hanya melihat ke-tiga nya berinteraksi.
"Kak, beneran Om Kennan sudah sudah menikah dengan mu?"tanya Sean.
"Kenapa?"
"Om Ken mau?"lanjut Sean lagi.
"Apa maksud ucapan mu itu?" Cathy menatap tajam adiknya itu.
"Om Ken terpaksa, Sean."celetuk Kian.
"Apa maksudmu terpaksa?" Cathy menjitak kepala Kian.
"Daddy yang memaksanya, kan?"
"Jadi apakah Kak Cathy melakukan hal licik agar Daddy menikah kan kalian?" tanya Sean dengan mata polosnya.
"Sean! Kau terlalu banyak melihat dan mendengar yang tidak perlu. Jangan racuni otakmu dengan urusan orang dewasa."Sergah Cathy yang kekesalanya sampai diubun-ubun.
Kian dan Sean mendekatkan diri. Dan saling berbisik,
"Kau dengar itu. Kak Cathy berlaku licik." bisik Kian.
"Yah, tidak heran Om Ken mau dengannya."
"Ya ya ya.. terpaksa kan?"
Walau begitu bisik-bisik adiknya tetap Cathy dengar. Tangan gadis itu mengepalkan dan menjitak kepala mereka satu persatu.
"Aauu.. sakit kak!"
"Makanya jangan menggibah! Cepat panggang ikannya!"
"Om! Sini!" panggil nya.
twins pun menoleh,
"Hei, kita harus memanggilnya apa sekarang?" bisik Sean pada kian.
"Entah lah, mungkin Om Abang."
"Atau Abang Om?"
"Heemmmm..." kedua bocah kembar itu menggosok jarinya di dagu pertanda mereka sedang berfikir.
"Apa sudah ada yang matang?" tanya Ken mendekat mengamati ikan bakar dipembakaran.
"Belom, Om."
Twins saling pandang.
"Lihat, kak Cathy saja masih memanggil nya Om. Bagaimana dengan kita?" bisik-bisik.
Ken tersenyum mendengar bisikan twins.
"Panggillah yang membuat kalian nyaman." Ucap Ken membungkuk dan mengacak rambut Twins. Tentu senyuman manis Khas milik Ken dia umbar juga.
Om Ken.. tampan sekali... batin Cathy dengan mata penuh cinta dan hati.
"Lihatlah muka konyol kak Cathy..." Kian meledek dengan cengiran.
"Apa maksudmu hah?" Cathy kembali hendak menjitak adiknya itu.
"kenapa terus berlaku keras pada twins?" protes Ken.
"Mereka susah melewati batas." Cathy mendelik pada kedua adiknya yang bersembunyi dibelakang Ken, dengan lidah terjulur keluar menghina kakaknya.
"Apa kau juga akan begini pada anakmu kelak?"
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu tau tidak? Sekarang ini rasanya seperti, Kamu sedang menghukum anak-anak kita dan mereka bersembunyi mencari perlindungan padaku."
Wajah Caty bersemu merah mendengar penuturan Ken dengan membuat perumpamaan.
Ken tersenyum kecil.
"Cepat kabur!" bisik Ken pada twins. Yang disambut anggukkan dan cengiran.
"Kak Cathy wajahnya memerah!" ledek Kian berlarian kedalam rumah.
"Hahhaha.. Kak Cathy malu-maluin..." Sean ikutan meledek dan berlarian.
"Bocah sialan!" geram Cathy.
Gadis itu melirik kesal pada Ken.
"Sudah lah, mereka hanya anak-anak."
Cathy cemberut membuang mukanya. Ken tersenyum gemas, tangan nya terulur mencubit pipi istri bocah nya itu.
"Aaaaaaa....."
Ken melebarkan senyumnya. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu,tapi urung begitu dering ponsel nya berbunyi.
Ken merogoh kantong nya. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
đ:"Halo?"
Diam sejenak. Raut wajah Ken berubah, tampak gurat tak senang di sana.
đ:"Baiklah. Tunggu aku di sana."
Ken menutup telponnya, menatap Cathy yang masih terus melihat padanya.
"Aku pulang dulu."
"Siapa?"tanya Caty sedikit ragu.
Tanpa menjawab, Ken hanya tersenyum sekilas. Lalu pergi dengan wajah serius.
"Apa begitu sulit Hanya untuk menjawab nya saja?" lirih Caty menatap punggung Ken yang kian menjauh.
Cathy membuang nafas berat.
***
Kenan membawa mobilnya kembali ke apartemen miliknya, berjalan melalui lobi dan masuk kedalam lift. Didalam sana Ken menghela nafas berat. Mengusap wajahnya dan memejamkan matanya.
Pintu lift terbuka, Kenan berjalan hingga dilihatnya seorang wanita berdiri didepan apartemennya. Bersandar pada tembok disamping pintu.
Wanita itu menoleh, melihat pada Kennan, wanita itu tersenyum sumringah.
"Ken!"
Wanita itu berlari dan memeluk tubuh Ken.
"Aku merindukanmu."
Ken mematung membiarkan wanita itu memeluknya.
____
Duhh .. wanita ini siapanya Kennan yaa?
_____^_^_____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
__ADS_1
âşď¸