
Pagi itu Malvin dan sekeluarga berpamitan. Mak Yun menggenggam tangan Cathy dan mengelusnya.
"Kenapa kalian juga ikut kembali? Apa tidak bisa kalian tinggal lebih lama lagi?"
"Ibu, kami juga masih ada hal yang harus dikerjakan. Tidak bisa meninggalkan terlalu lama. Kenapa ibu tidak ikut saja?"
"Yah, kami masih ada ladang dan ternak. Besok jika sudah tinggal dua hari, ibu akan kesana."
"Okey. Ibu, sehat-sehat ya selama di sini." Cathy memeluk tubuh mertuanya dengan hangat.
Seusai berpamitan, Cathy dan rombongan bertolak ke kota. Dalam perjalanan, Cathy hanya menatap keluar jendela mobil. Ken tersenyum melihat istrinya hanya melamun saja.
Ken mencubit pipi Cathy. Cat pun menoleh.
"Sakit Om."
"Kenapa berwajah begitu?"
"Kenapa memangnya dengan wajahku?"
"Cantik."
Cathy mencibir, dan kembali melihat keluar mobil.
"Tapi, terlihat masam."
Cat menoleh,
"Om...."
"Heemmm?"
"Aku kepikiran Kayla." ucap Cathy tanpa menoleh pada suaminya."Apa yang dia lakukan setelah ini? Dia, hanya menunggu Gara yang tidak pasti. Walau, Micky bilang tak usah khawatir, tapi..."
"Mereka memiliki cara untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri Cat."
Cathy menoleh menatap suaminya.
"Kita hanya berbahagia saja. Jangan tampak kan wajah sedih atau iba padanya. Karena bukan itu yang Kay butuhkan."
Cathy menundukkan kepalanya, berfikir dalam wajah yang sendu.
"Percayalah, apa yang Kay pilih dan percayai. Itu sudah ia perhitungkan. Lagipula, gara...."
Cathy menoleh, memandang suaminya penuh minat. Menunggu Ken menyelesaikan ucapannya. Ken mengulas senyum dan mengelus kepala Cathy.
"Bagaimana kalau kita mampir kepantai? Atau taman bermain?"
"Ke taman bermain saja."
"Okeeyy... Kalau begitu, kita belok disini saja." ucap Ken begitu melihat ada persimpangan. Dimana mobil Malvin yang berjalan didepan tetap lurus, sementara Ken membelokkan mobilnya.
"Kita mau kemana?"
"Taman bermain."
"Di kota ini?"
"Heem... Kamu belum pernah kan?"
Cathy menggeleng. "Daddy pasti panik mobil kita tidak lagi ada dibelakang mereka."
"Kamu mau tetap membuatnya panik atau menghubungi mereka?"
Cathy terkekeh, "Biar ku kirim pesan pada Mommy."
Sesampainya Cathy dan Ken di sebuah taman bermain dengan banyaknya permainan. Mereka menjajal berbagai macam permainan ekstrim. Mulai dari roller coaster sampai kora-kora.
Hingga mereka memutuskan menaiki gondola berputar.
"Waahh, dari sini bagus sekali." ucap Cathy melihat keluar sangkar gondola yang hampir 50% nya berupa kaca transparan.
__ADS_1
Ken menyelipkan tangannya diperut Cathy memeluknya dari belakang.
"Ini mengingatkanku pada Mommy dan Daddy."
"Kenapa?"
"Heemmm... Dulu, Daddy melamar Mommy diatas sini."
"Aahh, yang itu?"
"Om Kennan kan tidak ada disana. Kenapa malah sok merasa tau?"
"Aku yang mengatur agar sangkarnya berhenti tepat diatas."
"Aaaahhh, begitu..." Cat menoleh,memandang wajah Ken. kedua mata mereka saling mengunci. Tau-tau keduanya sudah menyatukan bibir mereka. Melahap satu sama lain.
Dering suara hp Kennan berbunyi nyaring memenuhi sangkar kaca yang perlahan membawa keduanya turun.
"Sepertinya itu dari tuan mertua." kekeh Kennan dengan senyum geli.
"Yaahh,, dia selalu saja mengganggu." gumam Caty begitu Ken melepas pelukannya dan mengambil hpnya. dia tersenyum kecil dan menunjukannya pada Cathy.
"Ternyata Mommy."
"Yah, tetap saja itu pasti atas perintah Daddy."
Dengan senyum geli nya Ken menggeser tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga.
"Yes Mom."
["kalian dimana? Daddy Mal sangat khawatir kalian di culik."] suara Embun terdengar seperti ledekan pada suaminya.
"Kami sedang berbisnis."
["Apaa? bisnis apa?"] suara Malvin dengan sangat tak sabar dan meninggi.
Ken tesenyum dengan lirikan nakal pada istrinya.
["Menantu sialan. Kau ....."] suara Malvin terputus oleh suara lain dari embun
["Ya sudah, kalian selamat bersenang-senang. Cepatlah menyusul Kayla. Mommy ingin bayi kalian lahir bersamaan."] kekeh Embun lalu menutup telponnya.
"Huufft...." Ken bernafas lega, menyimpan hpnya lagi.
"Kemana selanjutnya?"
"Aku sudah puas, bagaimana kalau kembali saja."
"Baiklah."
Akhirnya malam itu mereka kembali. Bukan ke apartemen Kennan melainkan ke vila Malvin. Di ruang tamu, Ken dan Cathy justru dikejutkan oleh kehadiran tamu yang tak di undang, namun bersikap sok-sokan. Siapa lagi kalau bukan Honey.
Pria cantik itu bermain PS dengan si kembar. Kedua bocah itu begitu menyukai Henri meski sedikit menyimpang. Namun Honey mudah mengakrabkan diri pada kedua adik Cathy itu. Mereka bertiga terlihat sangat asyik bermain.
"Apa yang kau lakukan disini Hen?" Ken tersenyum kesal pada sepupunya itu.
"Matamu kemana? aku sedang main." balas Honey dengan masih memainkan stik nya dan tak lepas dari layar didepannya.
"Menantu asisten. Kenapa mahluk ini jadi kemari?"sinis Malvin melirik Honey.
"Kenapa tuan mertua tidak menanyakannya langsung pada yang bersangkutan?"
"Mungkin dia ingin melihat foto spektakuler itu Dad." timpal Cathy meledek ayahnya.
Malvin menggeretakkan giginya.
"Sayang, kau sudah menghapusnya kan?" Malvin lirik istrinya yang baru muncul dengan minuman diatas nampan.
"Tentu saja. Aku sudah menghapusnya sayang." Ucap Embun sambil duduk disamping suaminya, mengambil gelas jus berwarna kuning dan menempelkannya di bibir Malvin. pria itu mengulas senyum puas. lalu menyeruputnya.
"Tapi, Mommy sudah mengirimkan nya pada kami." Cathy dan Ken kompak menunjukkan layar ponselnya pada Malvin. Hingga mata pria bule itu membulat dan menyemburkan jus yang tadi dia minum.
__ADS_1
"UHUK UHUK... Sayang, kenapa kau menghianatiku?" protes Malvin menatap Istrinya yang justru tertawa.
"Ha-ha-ha, sayang, ini harga yang yang harus kau bayar karena sudah memecahkan pot bunga kesayanganku."
"Apa?" Malvin menatap liar Anak gadisnya.
"Aku tidak bilang. Kita sudah bersepakat Dad." balas Cathy mengendikkan bahunya.
Malvin berbalik memandang istrinya.
"Aku tau kau sudah memecahkan pot bunga ku sayang. Dan aku menunggu permintaan maafmu, tapi kamu malah membuat kesepakatan konyol dengan Cathy." ucap Embun melirik Cathy dengan senyum nakalnya."Jadi aku menbalasmu.. Anggap saja kita impas."
"Sayang, kau menjatuhkan harga diri ku."
"Aku masih mencintaimu, Mal." Embun dengan nakalnya menjilat bibir.
"Ck, Wanita nakal."
Malvin meraih tengkuk Embun dan melahap bibir yang menggoda nya itu. Cathy menyentak nafasnya, ia menoleh dan melirik Ken yang ternyata juga sedang memandangnya.
"Apa? Kau juga mau?"
"Issshhh..." Cathy mendorong tubuh Ken yang seolah memajukan tubuhnya hendak menciumnya. Ken tergelak.
"Honey, ayo kita pulang." Ken beranjak dari duduknya.
"Aku sedang main."
"Oiya, para tetua dikampung sudah tau kau menyimpang."
Mata Henri melebar. "Apa?"
Henri berdiri untuk protes menatap sepupunya itu. "Apa kau sedang berusaha membunuhku?"
"Cepat atau lambat mereka juga pasti akan tau. Hanya tinggal menunggu waktu. Ayo cepat pulang." Ken berjalan mendahului setelah pamit pada mertuanya dan sang istri. Malam ini Caty memang akan tidur di rumah orang tuanya.
"Ken Tunggu!" pinta Honey manja menyusul Ken.
"Kak, bagaimana permainannya?" seru Sean masih memegang stiknya. Namun karena Henri abai dan sibuk mengejar Ken. Twins hanya mengangkat alisnya. Sedangkan Cathy merebut stik Hendri yang ada ditangan Kian.
"Biar akak saja yang gantikan."
...****************...
Hari yang di nanti pun tiba. Besan dari kampung menginap di apartemen Kennan dan sisanya di lantai bawah milik Embun. Sementara Henri, dari pada jadi bulan-bulanan keluarga besar memilih menginap di hotel. Hingga kini dia bahkan tidak kembali kerumah. Meski Mama-nya terus bertanya kapan pulang. Ia masih belum siap menerima amukan dari Mama-nya.
Hari itu, Ken tampak begitu tampan dengan toxedo berwarna putih. Pria itu tengah menanti didepan gedung beserta rombongan dari kampung. Ken mengatur nafasnya berkali-kali, mengusir ketegangan yang menyerangnya. Hingga sang MC mempersilahkan Ken dan rombongan masuk.
Melakukan beberapa sesi rangkaian pernikahan adat. Hingga Ken dan Cathy di pertemukan. Dengan malu-malu saling menatap, Cathy yang membawa sebakul beras dan beberapa bumbu berjalan mendekat dengan anggunnya.
Akan tetapi, kakinya justru terselip karpet dan tersandung tubuh Cathy condong kedepan, netra nya melebar saking kagetnya. Bakul yang ia bawa pun ikut melayang dan mengenai wajah Ken, namun pria itu berhasil menangkap tubuh istrinya. Walau tubuhnya pun penuh dengan beras dan berbagai macam bumbu.
Wajah Cathy menghangat karena malu. Ken tersenyum geli.
"Rasanya, aku kembali ke masa lalu. Kenapa kamu selalu terjatuh di depanku Cat?"
Sekian.
____^_^____
Readers, Gadis berdarah panas end sampai disini ya? Terima kasih karena sudah mendukung sampai disini. I love you All.
like
komen
ya
tengkyu
☺️
__ADS_1