
Kenan dan Cathy tidur dibawah seelimut yang sama, dengan alas tikar diatas lantai kayu yang dibuat panggung.
Dalam keheningan malam itu, keduanya saling membelakangi. Cathy teringat kejadian sebelumnya, saat Kennan masuk dan menciumnya di muka umum. Wajah gadis langsung memerah.
Uuuggghhh... apa ini? Begini saja kah? Tidak terjadi apa-apa kah? Tadi kan sudah sangat bersemangat menciumku. Sekarang kenapa malah memunggungi ku? Batin Cathy sedikit menoleh pada Kennan lalu kembali lagi, membenarnya posisi tidur yang nyaman.
Cathy mencoba memejamkan matanya. Namun tidak bisa tertidur juga. Kaki beberapa kali ia gesek-gesekkan satu sama lain.
Ken yang merasakan Cathy begitu gelisah menoleh.
"Cat?"
DEG!
Jantung Cathy berdetak kencang.
Duuhh.. Om Ken memanggil gimana nih? batinnya mematung saking tegang dan gugupnya.
"Cat! Kamu belum tidur kan?"
Aku pura-pura tidur ajalah, mana tau ntar dia nyium aku. pikir Cathy lagi memejamkan matanya.
"Cat?" Kennan semakin mendekat, menyentuh lengan Cathy.
"Cat!"
"Cathy, ada kecoa dirambutmu."
Cathy langsung membuka matanya, bergegas bangun dan berteriak.
"Wuaaaa.... Om Kenn.... singkirkan! singkirkan dari rambutku!" jerit Cathy mengacak rambutnya sendiri histeris. Hingga matanya menangkap basah Kenan yang tertawa geli.
"Om!"
"Hahaha! Habis dipanggil bukannya nyahut malah ngapain sih? Pura-pura tidur lagi." Protes Kennan.
Cathy memanyunkan mulutnya. "Lagian Om juga ngapain sih manggil malam-malam kek gini." kesal Cathy.
Kennan membuang nafasnya.
"Kamu ngerasa panas nggak sih?"
"Panas? Om kali yang mesum, makanya panas." ketus Cathy masih kesal.
Ken memicingkan sebelah matanya.
Cathy terdiam, memang dia merasakan hawa dikamar itu cukup panas. padahal ditengah sawah.
"Iya om. Panas." Cathy mengibaskan tangannya di sekitar mukanya.
"Kan udah kubilang?"
"Kenapa ya?"
Kenan mengedarkan matanya berkeliling. Cathy pun ikut-ikutan. Ken melihat ada asap yang mengepul di bawah lantai kayu di sisi dekat pintu masuk. Ken beranjak mendekat.
"Wuih, lantai sini panas. Apaan sih ini?" Kennan mengintip dari sela-sela celah lantai kayu. Ada bara yang menyala di bawah sana.
"Astaga!" seru Kenn terlonjak kaget.
__ADS_1
"Ada apa Om?" Cathy mendekat.
"Gilak! Pantas saja panas, dibawah sana ada bara."
"Haaahh?? Kok bisa? Apa mereka mau memanggang kita hidup-hidup? Om, aku nggak mau mati." rengek Cathy sedikit gelisah.
Ken menatap wajah Cathy yang memelas itu terlihat begitu menggemaskan.
"Ck! Sialan!" umpatnya.
Ken mencoba membuka pintu, tapi pintu tampak tak bergeming meski dia terus mengguncangkan nya berulang kali.
"Ck! Mereka menguncinya dari luar." geram Kennan.
"Om! Apa kita akan mati? Disini panas sekali."
Ken memejamkan matanya, dia cukup tau maksud adanya bara dibawah lantai kayu itu. Agar, mereka kepanasan dan membuka baju. Lalu terjadilah hal-hal yang diinginkan.
"Duduk ditengah sana!" titah Ken menunjuk tengah ruangan. Cathy pun menurut.
"Dasar Gila!" gumam Ken kesal melihat ke pintu keluar.
Kenan duduk agak jauh dari Cathy gadis itu sudah kebingungan saking panasnya. Ken hanya memperhatikan saja. Sementara diluar ruangan khusus itu, para tetua dan tetangga sibuk menjaga bara dibawah ruangan panggung itu tetap menyala.
"Hei, bagaimana? Apakah mereka sudah kepanasan?"
"Sebentar biar ku intip."
Bibi Gati mengintip dengan menaiki tangga yang sengaja dipasang disamping bangunan yang terdiri dari kayu jati itu. Bibi Gati mengintip di celah dibawah plafon. Dia lalu turun dengan hati-hati.
"Hei tambah Baranya, mereka bahkan duduk berjauhan." bisik Bibi Gati.
Kembali ke situasi didalam kamar yang panas.
"Om aku sudah tidak tahan. Panas Sekali." seru Cathy. Mencoba membuka bajunya. Mata Ken melebar,
"Tunggu Cat, jangan dibuka..."
Terlambat Cathy asal melemparkan bajunya, dan hanya memakai bra dan celana jeans yang tadi dia pakai. Kenan langsung beranjak mendekati Cathy menarik selimut dan melilitkan pada tubuh Cathy.
"Panas Om!" rengek Cathy. mencoba melepas selimut yang membungkus tubuh nya.
"Diam Cathy, Diam!"
Ken kewalahan juga menghadapi istri kecilnya yang memberontak. Ken memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
"Diam! Jangan bergerak."
Wajah Cathy memerah, antara panas suhu ruangan dan panas didalam tubuhnya. Cathy terdiam, tak memberontak dalam pelukan Kennan. Nafas hangat Ken terhembus di telinga Cathy, Jantungnya terponpa kuat. Dadanya naik-turun. Kobaran didalam diri Cathy makin besar.
Duuhh,, bagaimana ini? Aku jadi ingin nyium Om Ken... Nggak kuat.... Pikir Cathy dengan wajah yang semakin merah.
Gati yang mengintip kembali memberi instruksi dengan bisikan.
"Singkirkan Baranya. Sekarang buat mereka kedinginan."
"Apa? Jangan labil dong!"
"Ck! Gadis itu sudah melepas pakaiannya, sekarang Ken sedang membungkusnya dengan selimut dan memeluk. Sekarang buat mereka kedinginan. Singkirkan Baranya."
__ADS_1
"Astaga, Mau punya cucu saja serepot ini."sambil menyingkir bara.
...----------------...
Di lokasi lain di waktu yang berbeda.
Kayla dan Gara berkendara dijalan yang sedikit ramai, Dari plat nomor yang tertera pada setiap kendaraan yang melintas atau menyalip, itu adalah kendaraan dari luar daerah. Bisa dipastikan mereka adalah pelancong.
Kay membuka kaca jendela pada pintu disamping jog depan dimana dia duduk. Mengeluarkan tangan dan kepalanya bersandar di sana.
Menikmati semilir angin yang menerpa. Kay memejamkan matanya. Mengulas senyum merasai setiap belaian lembut angin yang menyentuh pori-pori kulit nya.
Gara yang sedang menyetir melirik melalui ekor matanya tersenyum simpul. Mobil itu berhenti di sebuah vila di pegunungan yang dingin dan asri.
Kay keluar dari mobil dan menutup pintu nya. Matanya mengedar di setiap sudut vila yang yang berada di tempat yang paling tinggi dan jauh dari keramaian. Kay menatap Gara yang berjalan mendekat.
"Sewaan atau salah satu milikmu juga?"
"Menurut mu?" Gara balik bertanya dengan senyuman diwajahnya.
Gara menggandeng Kay memasuki vila. Disana mereka Langsung makan, karena memang belum makan dari perjalanan yang jauh. Selepas makan. Gara membawa Kay ke balkon dikamar atas. Dari sana tampak pemandangan alam yang indah.
"Kalau pagi menjelang pemandangan dari sini akan sangat bagus." Jelas Gara memeluk tubuh Kayla dari belakang, menumpukan dagunya pada pundak wanita itu.
"Oh, ya? Apa Kita akan menginap disini malam ini?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Itu, tidak buruk." Kay menoleh kan wajahnya kearah Gara. Pria itu menyambut nya dengan sesapan di bibir Kayla. Hingga mereka saling menyesap dan membelit lidah.
Mata Gara terbuka, melirik kerah pepohonan dibawah sana. Tangan kanannya meraih pistol di balik punggung nya yang terselip dibelakang celana. Gara mengarahkan pistol kearah pepohonan dimana disana ada salah satu dari orang Daniel yang mengikuti. Dengan tatapan dingin Gara menembaknya.
DOORR!
Kay terperangah melepas panggutan, menatap Gara dengan pandangan cemas. Kay melihat pistol ditangan pria itu.
"Kau, yang menembak?"
Gara tersenyum tipis. "Ada binatang liar dibawah sana. Sangat berbahaya jika dibiarkan hidup."
Kay masih menatap Gara curiga.
"Apa kau mau belajar menembak?" tawar Gara,"Ini sangat berguna disaat genting."
______^_^_______
Wwahh,, belum dapat Empe keknya Kenan Dan Cathy ya. Sabar ya my Readers, mungkin di part berikutnya.😅
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
☺️
__ADS_1