Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 45


__ADS_3

"Kenapa kau datang Kay?"


Gara yang fokus menyetir melirik kecil gadis cantik disampingnya.


"Maksud mu aku tak boleh? Paman Daniel yang memberiku undangan. Tentu saja aku harus datang." ucap Kay datar.


"Apa kehadiranku mengurangi kesenangan mu bertunangan?"


Jantung Gara berdenyut,


Gara membanting setir dan menepikan mobilnya. Melepas sabuk pengaman, dan menekan tombol pengatur kursi penumpang milik Kay hingga mundur jatuh kebelakang.


Gara memutar tubuhnya, menindih tubuh mungil Kayla melummatt bibir gadis itu. Membelit lidahnya dengan penuh penekanan, mengorek seluruh rongga mulut gadis cantik itu, Tangan Gara mencengkram kuat lengan Kayla. Menahan dan melummat benda kenyal gadis cantik itu. Hingga kedua kehabisan nafas.


Nafas Gara terenggah, sesaat melepas kecupannya.


Dada Kay naik turun, mengatur pernafasannya yang tersengal. Matanya menatap sayu.


Gara mengecup bibir Kayla lagi, kali ini lebih lembut dan sabar. Perlahan menggerakkan bibir dan lidahnya. Menikmati setiap rasa yang lidahnya sentuh. Kay memeluk leher Gara, dan mencium dalam-dalam.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, Ayah mengirimimu undangan?" Gara menetap intens gadis dibawah tubuhnya.


"Untuk apa? Agar kau mencegahku datang?"


"Bodoh!" Gara menggulum lagi bibir gadis dibawah Kungkungan nya.


"Kau tidak memberiku pilihan." ujar Gara mengusap bibir basah Kayla.


"Apa aku mengecewakan mu dengan datang kesana?"


"Tidak, bodoh!" Gara membungkam mulut Kay dengan bibirnya. Menyatukan lidah mereka.


"Aku punya rencana, Kayla."


"Apa maksudmu rencana melanjutkan pertunangan itu?"


Mata Gara menyipit.


"Iblis betina!" Gara kembali menautkan bibirnya, melummat perlahan benda kenyal milik Kayla. "Mau sampai mana kamu bertindak? Aku harus memakan mu malam ini."


"Uuummmmppp...."


***


###


Malvin berada dalam mobilnya yang melaju. Malvin menekan Earphone ditelinga nya.


"Tuan, Nona Kay sudah kembali. Mengenai orang-orang yang mengikuti mereka sudah kami bereskan."


Malvin bernafas berat.


"Baiklah. Terima kasih."


Malvin membawa mobilnya kembali. Didepan vila nya mobil Gara sudah terparkir dengan rapi. Malvin berjalan memasuki vila, disambut oleh kepala pelayan pak Niar.


"Dimana mereka?"


"Apa maksud anda Nona Kay?"


Malvin mengangguk.


"Nona di kamarnya, tuan."


"Baiklah. Terima kasih Niar."


Malvin berjalan menaiki tangga, berhenti tepat didepan pintu kamar Kay yang sedikit terbuka. Malvin melangkah kan kaki memasuki ruangan itu. Langkah pelan. mengelilingi ranjang.


Sejoli itu duduk di lantai, bersandar pada pinggiran ranjang dengan tangan yang saling bertautan. Keduanya memejamkan mata, Kay menyenderkan kepalanya pada lengan Gara, pria itu pun memeluk tubuh gadis.


Malvin menatap sendu keduanya.

__ADS_1


"Padahal mereka saling mencintai, Kenapa jalann cinta mereka begitu sulit?"gumam Malvin pelan.


Gara membuka matanya, melihat Malvin berdiri tak jauh darinya. Dia tertegun.


"Paman..."


"Turunlah kebawah. Kita bicara."potong Malvin cepat.


Malvin melangkah keluar kamar. Gara terdiam melihat pada Kayla yang terlelap dalam pelukannya. Gara mengangkat tubuh gadisnya, membaringkan Kay di atas ranjang. Gara menatap sekali lagi wajah cantik Kay. Mengusap lembut bibir mungil Kay.


"Apapun yang terjadi, aku milikmu, dan kau milikku. Selamanya."


Gara mengecup dalam kening gadis yang terlelap di depannya. Gara pergi ketempat dimana Malvin menunggu.


"Duduklah." ucap Malvin yang sudah duduk lebih dulu diruang utama.


Gara duduk diseberang Malvin.


"Apa rencanamu setelah ini?"


"Menurut paman?"


"Menurutku Daniel tidak akan tinggal diam. Kau sudah mengacaukan rencananya mematahkan hati putriku."


"Maaf Paman."


"Kenapa kau setuju bertunangan Gara. Kau juga mencintai Kay. Kenapa justru menyakiti hatinya?"


"Saya tidak bisa mengatakannya."


"Baiklah aku menghargai tindakanmu malam ini. Aku menghargai keputusanmu. Nak, Kayla adalah putriku yang berharga, tidak akan kubiarkan siapapun mematahkan hati nya lagi. Itu berlaku juga untuk mu!"


"Saya mengerti."


"Apapun alasanmu menerima pertunangan dengan gadis pilihan Daniel. Itu sudah melukai hati Kayla."ucap Malvin menatap tajam Gara.


"Jika kamu tidak bisa membahagiakan Kay. Sebaiknya mundur dan menjauh darinya. Jangan temui dia, jangan memberinya harapan yang tak bisa kau wujudkan. Kita sama-sama tau bagaimana ayahmu."


Gara terdiam mencerna maksud Malvin.


"Saya mengerti."


***


###


Malam ini di apartemen Kennan.


Ken tidur dikamar utama, bersama dengan twins dan juga Henri. Sedangkan Cathy tidur dikamar yang lain.


"Abang Om!"


"Hmmm...."


"Kenapa wanita itu tidur dikamar yang sama dengan kita?"


"Hmmmm.. Sean, Dia sama dengan kita."


"Maksud om?"


"Dia juga laki-laki."


"Apa? Tapi dia wanita Om."


Kennan bernafas berat.


"Dia juga punya burung dalam sarung. pegang saja."


"Apa?" Honey yang mendengar ucapan Ken kesal bukan main. Honey yang tidur di sofa kamar menoleh dan melirik tajam sepupunya itu. "Apa-apaan kau Ken! Bisa-bisanya kau menyuruh anak kecil seperti itu!"


"Itu juga salah mu! Kenapa berpenampilan begitu. Kau membuat mereka bingung!"

__ADS_1


"Sialan Kau Ken! mereka bukan anak kecil!"


Kennan membuang nafas beratnya.


"Kau baru saja menyebut mereka anak kecil. sekarang kau mengingkarinya."


Ken melihat pada twins.


"Dia bukan wanita twins. Dia wanita jadi-jadian...." Ken mencoba menjelaskan.


Twins pun mendengarkan dengan serius.


"Apakah jadi-jadian seperti di film-film?" tanya Sean antusias.


"Yah semacam itu..." Ken pun jawab dengan ragu dan sedikit malas.


"Dia akan berubah jadi serigala atau babi?" timpal Kian penasaran.


Ken terdiam bingung, mendengar pertanyaan Kian.


"Huuummmm, dia jadi-jadian yang mana Om? serigala atau babi?" tanya Sean penasaran.


Ken tersenyum geli. Honey sudah berurat di ujung sana. Giginya bergemeletuk menahan kesal.


"Andai mereka tidak bertiga, sudah kujitak bocah-bocah sialan itu."gumam Honey. "jika sekarang justru aku yang babak belur. Sialan!"


"Kita tidur saja anak-anak."ajak Ken memejamkan matanya.


"Om, bagaimana kalau kita diserang mahluk jadi-jadian itu saat tidur?" bisik Kian pelan.


"Tidak akan! sudah tidur...." Ken menjawab malas karena ngantuk.


"Omm... Sean takut!"bisik Sean memeluk tubuh Ken.


Honey yang mendengar bisikan itu makin kesal bangun terduduk menatap sengit pada bocah-bocah yang tidur diatas ranjang Ken.


"Kalau kalian takut, tidur sana dikamar kakakmu yang ganas itu!" seru Honey meletup-letup.


"Henri diamlah, kenapa kau ladeni bisikan anak kecil?" tegur Ken yang masih memejamkan matanya.


"Mereka sangat berisik Ken. Tak bisa kah kau menyumpal mulut mereka?" kesal Henri.


"Saat ini kaulah yang berisik."


"Ini juga karena bocah itu!"


Ken menjadi tak sabar dia bangkit dan berjalan mendekati Honey menarik tangannya dan mendorongnya keluar kamar.


"Kau tidur saja diruang depan!" Ken melemparkan bantal dan selimut ketubuh Honey.


Tentu saja Honey makin kesal.


"Kennan!"


BLAM (suara pintu ditutup)


"Ken sialan! bocah-bocah sialan! Awas kalian! Aku sunat sampai tidak punya burung lagi..."


Honey mengumpat-mengumpat tidak jelas didepan pintu kamar Ken.


"Baiklah, aku juga tidak mau tidur diruang depan." gumamnya melirik pintu kamar Cathy dengan senyum licik.


____^_^____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


salam hangat


☺️


__ADS_2