
Gerobak pak Isa berhenti disebuah bangunan balai desa. Kebetulan saat itu sedang ada perayaan hasil panen.
Ken turun lebih dulu, tangannya terulur pada Cathy yang sebenarnya, dia sendiripun bisa. Tapi kesempatan tidak datang dua kali. Cathy menyambut tangan Kennan. Lalu melompat turun, entah sial atau mujur, kaki Cathy menginjak batu kecil dan oleng, tentu saja jatuhlah dia ke dada Kennan.
Ken yang khawatir Cathy terjatuh menahan dengan tangan nya. Memeluk tubuh istri kecilnya. Sesaat tatapan keduanya bertemu. Jantung Catty berdebar kencang, nafasnya pun ikut berirama cepat. Catty sedikit terkejut menatap lagi wajah Kennan. Catty juga merasakan jantung Ken yang tak berirama. Mungkin detaknya sama cepat dengan miliknya.
Ken tersadar oleh akal sehatnya. Cepat-cepat Ken melepaskan tubuh Catty menjauh darinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya-nya canggung.
"Aaa, iya.."
Ken beralih melihat Pak Isa. "Terima kasih pak isa."
"Ya ampun! Bukankah itu Kennan?" seru salah satu emak-emak bertubuh tambun melihat pada kennan.
Ken dan Catty menoleh kearahnya.
"Waah, benar! Itu memang Kennan anaknya mak Yun." timpal mak-mak yang lain.
Beberapa ibu-ibu membuat kerumunan. Melihat pada dua orang yang terlihat asing di desa itu. Namun lebih berpusat pada Kennan.
"Waahh . benarkah? itu anak Mak yun?"
"Cepat! Cepat, panggil mak Yun kemari." seru mak-mak yang lainnya celingukan.
Mereka pun mendekat berbondong-bondong. Para mak-mak itu mendekat pada Kenan dan tergeserlah tubuh Cathy. Cathy terperangah melongo, Suaminya kini dikerubungi mak-mak berbagai ukuran tubuh.
"Hei! Itu suamiku! Yang kalian kerubungi seperti lalat itu suamiku!" Geram Cathy dalam hati, berkacak pinggang mencari celah untuk masuk ke kerumunan. Namun depetan mak-mak itu sangat rapat.
"Wahh, kau benar-benar tampan. Seperti yang dikabarkan." seru salah satu ibu-ibu.
"Juga tinggi.."
"Aku dengar kau belum menikah. Bagaimana kalau kau menikah dengan anakku saja."
Ken hanya tersenyum canggung.
"Jangan, menikah dengan anak ku saja. Anakku Mila sangat cantik. Cocok denganmu."
Para mak-mak itu terus mengoceh mengagumi Kennan. Cathy yang tergusur itu makin kesal mendengar barisan mak-Mak berniat menjodohkan Ken dengan anak-anak mereka.
"Dasar Ibu-ibu sialan. Dia itu suamiku. Dia sudah punya istri." Batin Cathy kesal. Dia masih saja belum berhasil menerobos kerumunan mak-mak. Malah tersikut sampai tubuhnya mundur kebelakang.
"Heeii!"suara lantang seorang perempuan.
Semua menoleh.
"Wah, itu bibimu."
Gati, bibi Kennan, datang dan menyingkirkan barisan emak-emak itu.
"Akhirnya kau pulang juga. Lama sekali bibi tidak melihat mu. Mak Yun sangat merindukanmu." bibi Gati memeluk Kenn.
"Maaf bi, bagaimana ibu? Aku dengar dia sakit."
Wajah Bi Gati sedikit berubah,
"Aahh,, kita bicarakan dirumah saja. Ayo."ucap sang bibi menuntun langkah Kenan untuk pulang kerumah. Ken hanyut dalam rindu dan pembicaraan dengan bibinya sampai tak ingat jika dia bersama Cathy.
Mak-mak ganjen pun pada mengekori Ken dengan obrolan dan gibahnya.
"Dia tampan sekali."
"Benar. Tapi bagaimana bisa dia masih melajang."
"Iya, padahal usianya sudah sangat matang."
"Akan kusuruh Mila berdandan dan datang kerumah Mak Yun." ucap mak-mak yang lainnya, melipir dari kerumunan dan kembali kerumahnya.
__ADS_1
Cathy masih terbengong di tempatnya.
"Aaahhh... Dasar gila. Om Ken bahkan meninggalkanku disini." serunya kesal.
"Neng?" panggil pak Isa.
Cathy pun menoleh, melihat pada pak Isa yang tersenyum ramah.
...----------------...
Kenan sampai dirumahnya. Rumah dengan nuansa Jawa kental itu terlihat adem dan nyaman. Ken tersenyum melihat rumahnya lagi. Rasanya sangat rindu. Senang bisa kembali ke kampung halaman.
"Ayo masuk. masuk Ken." ajak bi Gati.
Bi Gati pun melihat pada kerumunan mak-mak yang masih mengekor dibelakang.
"Hei. Kalian mau sampai kapan mengikuti terus?" gertaknya kesal pada mak-mak dibelakang.
"ya kami kan mau lihat anak nya Mak Yun yang tampan dan tinggi itu."
"Haaahh nggak puas-puas kalian. Tentu saja kalau bisa malah mau kujadikan mantu.hahahah."
"Ya ampun.." bibi Gati menggelengkan kepalanya. Dia berpindah melihat pada Kennan.
"Ken masuk lah, ibumu ada didalam."
"Baiklah Bi. " Ken tersenyum geli. lalu melangkahkan kakinya memasuki rumah. Sementara bibi Gati masih menangani Mak-mak rempong itu.
Kenan melihat ruangan yang baru saja dia masuki. Rasa rindu begitu menyeruak. Senyum pun mengembang diwajahnya. Rasanya sudah sangat lama. Ken memandang berkeliling. Rindunya serasa terobati.
Dari arah dalam rumah, Ibu Ken keluar dengan membawa keranjang berisi sayuran. wanita itu tertegun melihat Ken. Keranjang yang dia bawa jatuh kelantai.
"Ibu....."
Ken bergegas mendekat.
"Ibu,,"
Ken memeluk tubuh ibunya. Begitupun dengan Mak Yun. Air mata wanita tua itu mengurai bahagia.
"Anak ku Kennan... akhirnya bisa memeluk tubuh mu juga. Ibuk kangen. kenapa baru pulang sekarang."
Ibu Yun menepuk punggung Kennan, Ken melepas pelukannya. Menatap wajah tua ibunya.
"Maaf Bu, Ibu terlihat sangat sehat."
"tentu saja. Apa kau mengharapkan ibu sakit?" ujar Mak Yun memukul lengan anak, tangannya mengusap pipi dan ujung matanya yang berair.
Ken tersenyum kecil menampakkan deren gigi putihnya.
"Henri bilang, ibu sakit."
"Jadi kau pulang karena mendengar ibu sakit? Apa kalau ibuk tidak sakit kau tidak akan pulang?" ucap Mak Yun dengan nada jengkel, namun juga senang anaknya kembali.
"Hahah... tentu saja tidak."
"Sudahlah, ayo. kamu sudah makan belum?"
Ken menggeleng.
"Ayo kita makan dulu."
Ken menyantap makanan yang ibunya siapkan dengan ditemani oleh ibu dan bibinya juga beberapa mak-mak rempong yang masih tak mau pergi. Dalam suasana yang begitu hangat dan gembira. Saudara-saudara Mak Yun pun berbondong datang mendengar kabar Kennan telah kembali.
"Waaahh, putramu tampan sekali Mak Yun."
"Terima kasih, tentu saja. dia kan putraku."
"Sudah seusia ini dia masih belum menikah, bagaimana jika kita jadi besan saja?"
__ADS_1
"Ahahaha... Mak inah ini bisa saja."
"Hei Ken, lihat, sudah ada yang melamarmu."seloroh bi Gati.
Ken hanya mengulas senyum.
"Bagaimana kalau kau segera menikah saja disini."
"Ahahah... Aku sudah...."mata Kenan melihat berkeliling. Mimik mukanya berubah, tidak mendapati Cathy disana. Ken lalu berdiri menoleh kesana kemari.
"Ken? Ada apa?" tanya bi Gati bingung.
Kenan abai, dia masih melihat berkeliling mencari istri kecilnya. Namun di ruangan itu tidak ada.
"Dimana dia?" gumamnya.
"Ken! Ada apa?" Mak Yun ikut merasa kesal Kennan mengabaikan sekitar. Dan justru terlihat bingung sendiri. Ken menoleh.
"Ibu, apa tadi saat aku masuk ada gadis berambut pirang ikut serta bersamaku?" Tanya nya panik.
"Tidak. Kau hanya masuk sendiri." jawab Mak Yun bingung.
Wajah Ken berubah pias. Tubuhnya serasa lemas.
"Ken! Ada apa?"
"Apa bibi tadi melihat gadis bule di sekitarku?"
"Apa sih yang kamu tanyakan? Bibi hanya melihatmu di kerubungi mak-mak ini."
Ken tersentak. Pria itu langsung berlari keluar tanpa memperdulikan sekitar yang memanggilnya bingung.
"Cathy!" panggil Ken melihat sekeliling halaman. Tempat itu kosong, tak ada siapapun, hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang lewat.
Ken semakin panik.
"Kennan. Ada apa?" tanya Mak Yun menyusul. Ikut panik juga melihat Ken begitu gelisah dan panik.
"Ibu, aku membawa seorang gadis blasteran bersamaku. Aku terlalu tenggelam dengan diriku sendiri. Sampai aku melupakannya. Sekarang aku ingat dia tak ada disini." jelas Ken yang diliputi kecemasan dan khawatir.
"Apa?"
"Tapi tidak ada siapapun disini."
"Aku tau." ucap Ken cepat. "Aku akan mencarinya Bu." Menatap ibunya yakin. Ken bergegas pergi menyusuri jalan yang tadi dia lewati.
Mak Yun menatap kepergian anaknya. Begitupun dengan bi Gati.
"Jadi, apa itu artinya dia sudah punya calon istri?" seloroh seorang Mak-mak Desa.
Mak Yun dan bi Gati saling berpandangan.
"Cepat! Bantu cari!"seru Bi Gati, "Dia bilang gadis bule. Pasti gampang mencarinya. Karena mencolok." serunya memberi instruksi.
"Jangan ada yang kembali jika belum menemukannya!"
____^_^_____
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
☺️
__ADS_1