Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 56


__ADS_3

Ken menyusuri jalan yang tadi dia lewati, bertanya pada setiap orang yang dia temui, menyebutkan ciri-ciri fisik Cathy. Seorang bule dikampung terpencil pasti sangatlah mencolok dan harusnya mudah ditemukan.


Akan tetapi, Ken masih saja kebingungan, mencari Cathy dan bertanya pada orang-orang tak ada yang tau. Ken serasa lemas. Kenapa orang yang harusnya begini mudah jadi sulit ditemukan.


"Semoga kau baik-baik saja, Cathy." gumam Ken masih melanjutkan pencariannya.


"Aku ingat masih membantu nya turun dari gerobak. Saat itu dia masih ada di sisiku." gumam Kennan mengingat-ingat.


"Lalu, ibu-ibu itu mengerubungi ku. Dan..." Ken tersentak.


"Benar. di perayaan! Mungkin saja dia masih disana!" Ken berlari secepatnya menuju balai desa dimana perayaan itu terselenggara.


Sesampainya di perayaan, tempat itu begitu ramai. Ken kembali ke titik dimana gerobak Pak Isa berhenti. Tempat itu kosong. Gerobak pak isa pun sudah tak ada. Begitu juga dengan Cathy. Kenan mengusap wajahnya dan menjambak rambutnya kesal.


Ken frustasi, istri kecilnya hilang dan dia tidak menyadari selama itu.


"Aaaarrrgg!" teriaknya.


Ken geram pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa begitu ceroboh meninggalkan Cat ditempat yang asing bagi gadis itu.


"Maaf tuan Malvin, aku tidak menjaga putrimu dengan benar." sesalnya.


Kenan mengedarkan pandangan matanya. Melihat ke segala arah. Berharap melihat Caty entah dimana. Namun tak ada jejak sedikit pun.


Ken berjalan dengan lemas di tengah perayaan festival desa itu.


"Hei, pertunjukan dari gadis bule itu bagus sekali." suara seseorang yang berbincang dengan teman menarik perhatian Kenan.


Gadis bule? pikir Kennan.


"Iya. Dia juga cantik, padahal itu tarian tradisional tapi gadis bule itu mengikuti dengan sangat baik."


Cathy! pikir Kenan langsung mendekati orang yang sedang bercakap itu.


"Haha... benar. Sayang nya terhenti ditengah pertunjukan..."


"Maaf. Apakah. Gadis bule yang kalian maksud itu, ini?" Ken menunjukan foto Cathy yang ada di hpnya.


"Benar!"


"Dimana dia? Apakah dia masih dipertunjukkan?" tanya Kenan antusias. Akhirnya menemukan titik terang.


"Iya tadi memang ada di pertunjukan, tapi dia lalu pergi dengan seorang pak tua."


Mata Ken membulat,


"Apa? kemana dia pergi?"


"Kami tiidak tau."


"Dimana pertunjukan nya?"


"Itu! disana." tunjuk orang itu. Ken melihat kearah yang orang itu tunjuk.


"Terima kasih." Ken pun berlari kearah pertunjukan. Ditengah keramaian, Ken terus melihat sekeliling. Netranya mengedar kemana-mana. Namun dia tetap belum menemukan istri kecilnya.


"Cathy.... Kamu dimana?"


Ken sangat menyesal. Kenapa dia bisa begitu lalai. Dia marah pada dirinya sendiri.


Ken masih mencari, dan bertanya. Ada beberapa yang memberi petunjuk, melihat Cathy. Namun ada juga yang menggelengkan kepalanya.


Ken tetap tidak putus asa. sampai malam semakin larut. Ken masih berada di festival itu. Bertanya dan mencari. Ken bersandar lemas pada sebuah tiang penyangga.


Ken menutup matanya. Dalam bayangannya, wajah Cathy terus berkelebat, tersenyum dengan sangat manis. Wajah Cathy saat marah, saat cemberut, saat tertawa senang, silih berganti memenuhi otaknya.

__ADS_1


"Cat, jika aku membuka mata, muncullah dihadapan ku." Gumamnya pelan.


Kenan membuka matanya perlahan. Berharap Cathy sungguhan ada didepannya dengan senyum atau wajah cemberutnya. Kenan tertawa kecil dengan mimik sedihnya. Ken menertawai dirinya sendiri. Tak ada Cathy disana.


Kenan mengatur nafasnya yang serasa begitu sesak. Kenan merasakan hpnya bergetar. Bergegas dia melihat layar hpnya. Mak Yun menelpon. Ken menggeser tombol hijau.


šŸ“ž :"Iya Bu."


šŸ“ž: ["Nak, pulanglah."]


šŸ“ž: "Nanti Bu, aku masih belum menemukan Caty."


šŸ“ž: ["Aahh,, gadis bule itu sudah ada dirumah..."]


Mata Ken membola. Tanpa mematikan lagi hp nya Kenan berlari secepat kilat kembali ke rumah.


Ken sampai di ambang pintu rumah yang ramai itu. Tangannya berpegangan pada pinggiran pintu dengan tubuh yang sedikit membungkuk. Ken mengatur nafasnya yang tersengal. Dada pria itu naik turun. Kepalanya terangkat, melihat ke dalam rumah.


Cathy duduk di kursi yang dikerubungi oleh ibu-ibu yang sembarangan menyentuh rambutnya yang pirang kecoklatan. Wajah gadis itu tersenyum kikuk dan terpaksa. Dia juga terlihat sangat bingung. Ken tersenyum lega. meluruskan badannya.


"Cathy!" serunya memanggil.


Cathy melihat ke sumber suara yang dikenalinya.


"Om Ken!" Serunya berdiri dengan cepat.


Kenan pun berlari mendekat, semua serasa sunyi. Hening, dan hanya ada mereka berdua. Ditengah waktu yang seperti berhenti berputar. Kenan begitu bahagia melihat lagi istri kecilnya. Tangan pria itu menangkup kepala Cathy dan mendarat kan bibir nya pada bibir lembut Istrinya.


Cathy terdiam mematung. Tentu saja gadis itu terkejut. Kenan tiba-tiba menciumnya. Netra Cathy melebar sempurna, merasai penyatuan bibir di ikuti lidah Kennan yang menerobos masuk ke mulutnya. Membelit lidahnya dengan antusias. Pria itu terus memperdalam ciumannya. Cathy mulai menikmati. Menutup Netranya, dan balas membelit lidah suaminya. tangannya memeluk pinggang Kennan.


Ken melepas panggutan nya. Menatap wajah Cathy yang memerah karena malu. Kennan juga tersenyum malu, geli, dan lega. Ken mendekat kan lagi wajahnya hendak menyatukan lagi bibirnya.


"EEHHEEEEMMM..."


Suara deheman saling bersahutan, Kennan mengedarkan pandangannya berkeliling. Dia tersenyum canggung. Dia bahkan lupa tengah berada di keramaian rumah ibunya yang penuh dengan Ibu-ibu tukang gibah.


"Maaf Bu, Ini Cathy istriku." Ken malu-malu.


"Oohh... istrinya... " gumam ibu-ibu biang gosip saling bersautan. Mak Yun pun mengangguk-angguk dengan senyuman.


"istrinya..." Mata Mak Yun langsung membulat. "ISTRI?"


...----------------...


Kenan duduk disamping Cathy. Kenan menyodorkan buku nikahnya pada sang ibu yang duduk dihadapannya. disamping dan belakang Mak Yun, banyak ibu-ibu dan bapak-bapak saudara dari ibunya ikut melihat karena penasaran.


Mak Yun bernafas berat.


"Ibu senang kamu sudah menikah. Tapi kenapa kamu nggak ngabari ibu?"


"Maaf Bu, semuanya terjadi begitu saja."


Mak Yun membuang nafasnya. Mak Yun menatap Cathy.


"Menantuku cantik sekali."


Cathy mengulas senyum.


"Apa kamu bisa bahasa?"


Cathy mengangguk.


"Berapa umurmu?"


"Tahun ini 20 tahun."

__ADS_1


"Waahhh.... dia suka gadis muda ternyata." bisik Ibu-ibu tetangga.


"Ssssttttt!" bibi Gati melirik tajam kebelakang."Nah, kalian tidak punya kesempatan jadi besan."


Beberapa mak-mak tampak lesu.


"Sekarang sudah sangat larut, kalian pasti lelah. tidurlah dulu." ucap Mak Yun. "Ibu sudah menyiapkan. kamar pengantin yang di ujung sana."


"Tidak usah Bu, aku akan tidur dikamar ku. Biar Caty saja yang tidur disana." tolak Ken cepat.


"Apa?" Mak Yun tercengang."Kalian itu suami istri bagaimana bisa tidur terpisah?"


"Itu....." Ken mencoba menjelaskan walau ragu.


"Suami istri itu harus tidur dalam satu kamar. Kalau tidak bagaimana bisa ibu punya cucu?!"


Kenan tertawa canggung...


"Ibu, itu...."


"Tunggu! Apa selama ini kalian tidur terpisah?" selidik paman suami dari bibi Gati.


Ken tersenyum kikuk. Cathy pun menggaruk belakang telinganya.


"Ternyata mereka tidur terpisah.." suara rusuh dibelakang Mak Yun. Tentu saja membuat Mak Yun dan Bibi Gati geram.


"Hei! kalian? Apa tidak bisa pulang?" sentak bibi Gati kesal mengusir para tetangga menyebalkan itu.


"Sekarang masuklah ke kamar di ujung sana. Tidak akan ada yang mendengar meski kalian berteriak-teriak dan membuat kegaduhan." ujar paman pada Pasangan didepannya.


"Tapi itu...."


"Sudah masuk saja kekamar." Mak Yun dan bibi Gati menarik lengan Cathy agar berdiri juga Kenan.


Mereka mendorong pasangan itu masuk ke dalam ruangan yang hanya sepetak dan berada di tengah sawah di samping rumah ibunya itu.


"Ibu, bibi, Paman. Kami tidak bisa tidur disini." Kenan yang terus terdorong hingga masuk kedalam kamar bersama Cathy masih mencoba menegosiasi dengan keluarganya.


"Sudah! Masuk! Selamat malam!" Bibi Gati dan paman menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Hei! Kalian tidak bisa seperti ini!" seru Ken menggedor-gedor pintu yang ditahan oleh paman dan bibinya dari luar.


"Sudah! Cepat buatkan kami cucu! Ingatlah kau sudah sangat tua. Apa kau mau ibumu mati dalam keadaan tidak menimang cucu?"


"Bibi!"


Kenan terus menggedor pintu. Tiba-tiba saja semua jadi sunyi. seperti tak ada suara diluar. Ken menghentikan tindakan yang sia-sia itu. Ken menoleh menatap Cathy yang terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Ken membuang nafasnya.


Sepertinya kami memang harus berbagi kamar. pikir Kennan.


____^_^_____


Readers, kasih MP nggak ya mereka malam ini?😁😁


...----------------...


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


salam hangat


ā˜ŗļø


__ADS_2