Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 90


__ADS_3

Dila kembali menemui Henri yang dengan santai duduk di cafe tenpatnya tadi nongkrong. Langkah Dila terhenti, melihat ada sepasang orang yang sangat tidak menyukainya juga duduk disana. Siapa lagi kalau bukan Max dan Sera. Sejak ia dan Kennan sempat berselisih lalu ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Kennan keluar negri, mereka menjadi tidak ramah setelah Dila kembali ke tanah air.


Dila membuang nafasnya dengan kasar melihat kearah lain dengan mata berair hampir menangis. Bagaimana tidak, ia sudah kesakitan akibat tendangan Cathy diwajahnya. Hingga ia tersungkur.


"Kenapa aku sial begini?" gumamnya masih berdiri dan enggan untuk mendekati meja Henri."Siapa sangka gadis itu begitu berani dan kasar. Aahh, wajahku yang cantik."tangisnya menyentuh pipinya yang sakit.


"Sudahlah, sebaiknya aku kembali saja. Tak usah pedulikan mereka." gumam Dila lagi sembari melangkah jauh. "Setidaknya aku sudah dapat nomor Kennan dari si ganjen Hendri.Xixixi..."


...----------------...


Cathy dan Kennan berjalan mengitari danau dalam diam. Cathy mempercepat langkahnya, Ken pun ikut menyesuaikan. Cathy membuang nafasnya melihat suaminya ikut-ikutan berjalan cepat. Ia pun memelankan langkahnya. Ken pun ikut pelan juga. Dengan kesal Caty menolehkan tubuhnya pada Kenan denga wajah ditekuk.


"Apa kau sama sekali tak ingin minta maaf padaku?"


"Apa? Aku kan sudah minta maaf."


Cathy menyipitkan sebelah matanya, dengan mulut yang manyun menatap suaminya.


"Sudahlah." Cathy berjalan mendahului, Ken menyusul.


"Apa lagi salah ku?" menahan lengan Cathy.


"Om!"


"Kau mau dihukum ya?"


"Om! Om! Om! Om Kennan!"


"Baiklah, lima kali sama yang tadi." ucap Kennan menunjuk kan kelima jarinya."Bersiaplah untuk hukuman."


"Om! Om! Om! Om Ken!" dengan nada mengejek dan bibir yang mencibir.


Kennan terkekeh, "Sepertinya kamu emang mau dihukum banyak-banyak." Kennan mencubit kedua pipi Cathy.


"Aaaaaa~ " Cathy membalas dengan menendang betis Kenan.


"Aaaaauuuu~" erang Ken reflek memegangi kakinya dan menggosok nya.


"Kau!"


"Om! Harusnya kau minta maaf padaku! Setelah berusaha mencium mantan pacarmu itu, kau bahkan dengan sengaja mengajak bertemu lagi. Didepan ku!" Ujar Cathy menendang kaki Kennan yang satu lagi.


"Aaaakkkhhh~" erang Ken lagi menggosok kakinya yang baru saja ditendang istrinya.


"Setelah aku pikir-pikir tadi, ternyata Om sangat keterlaluan. Sama sekali tidak memikirkan perasaanku."


"Cathy." Panggil Ken memandang istrinya yang berjalan lebih dulu.


"Om Ken, Kejar aku, kejar. Tahan aku. Aku tidak benar-benar marah, bagaimana bisa aku marah padamu? Aku hanya mengikuti saran Henri, pura-pura marah, lalu buat dia cemburu. Aku pasti bisa." batin Cathy mengepalkan tangannya di depan dada menyemangati dirinya.


"Duuhh, Om Ken ngejar nggak ya?" batin Cathy lagi, ia sangat ingin menoleh memastikan suaminya itu menyusul atau tidak, tapi ia tahan.


Flash back dikit.


Cathy dan Henri berbisik-bisik di depan toilet wanita di cafe tempat mereka nongkrong.

__ADS_1


"Dengar, hari ini aku akan memancing Kennan, kau pura-pura lah marah padanya. Kau lihat cewek itu kan?" Henri menunjuk Dila yang tengah menunggu bersama seorang temannya di bangku kafe.


"UM!" angguk Cathy, "Mantannya Om Ken yang pergi. Sepertinya dia tak menyukaiku, terlihat sekali tadi dia begitu memaksa."


"Aku tau, aku tau. Pasti dia kesal kau sudah merebut kekasihnya."


"Hei! Mereka sudah putus lama, hati-hati kamu bicara honey."


"Iya, tapi dia berfikir kalau kamu sudah merebut kekasihnya."


"Huh, siapa suruh dia meninggalkan Om Ken."


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Itu tidak penting. Kita manfaatkan saja dia. Aku akan memanggil Kennan kemari, lalu... Kamu taulah, biarkan mereka bertemu..."


"Apa?"


"Kau pura-pura lah marah padanya."


"Itu tidak perlu pura-pura aku sudah marah."


"Ingat ya, jangan pakai kekerasan."Henri mengingatkan Cathy jangan sampai gadis itu hilang kontrol seperti saat menghajarnya dulu.


Kembali ke masa kini.


"Hiiisssshh sial, aku tak tahan ingin menoleh." umpat Cathy dalam hati." Tahan Cat, tahan. Kamu harus kuat iman. Hiiissh...kenapa nggak di susul-susulin sih? Rencana si Heni ini bikin kacau saja."


Selama ia berjalan sendiri Cathy hanya merasa kesal tak jelas.


"Jangan-jangan Om Ken nyusulin cewe tadi lagi... Hiiiissshh.... Kesel kesel kesel!" batin Cathy lagi *******-***** tangan di depan wajahnya. Ia pun menendang kerikil ke danau. Tanpa ia sadari Kennan yang masih berjalan membuntuti nya dengan menjaga jarak itu tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah istri kecilnya itu.


"Om Ken keterlaluan sekali, ia tidak mengejar ku. Apa artinya aku baginya." pikir Cathy menyenderkan punggungnya kebelakang.


"Haaii..."


Cathy menoleh kearah suara seorang pria yang menyapanya.


"Apa kau sendirian Baby?"


"Kau siapa? kenapa sok kenal sok akrab padaku?"


"Aku, hanya orang yang kebetulan melintas, melihat mu begitu sedih aku jadi tertarik mendekat."


Cathy membuang nafasnya, "Suasana hati ku sedang buruk kenapa ada orang menyebalkan begini? Pikir Cathy malas.


"Aku akan duduk disini."


"Terserah."


"Kamu cantik, kenapa jutek begitu?" pria itu menyibakkan rambut Cathy kebelakang telinganya.


"Orang ini, malah nglunjak, apa dia belum pernah dapat bogem mentah?" pikir Cathy geram.


"Bagaimana kalau kita...." tangannya terulur hendak memeluk bahu Cathy. Namun tangannya tertahan oleh cengkraman tangan Kennan. Pria itu menoleh melihat siapa yang mencengkram nya. Ken dengan kasar melepaskan tangannya.


"Dia istriku, jangan ganggu dia."

__ADS_1


Pria itu tergelak,


"Hei hei, carilah mangsa lain sobat. Dia milikku."


"Dia istriku."


"Ayolah." kekeh pria itu melirik Cathy."Benarkah?"


Cathy berdiri dan menepuk bokongnya. "Aku ingat kau akan mengajakku kelain tempat. Ayo." ucapnya pada pria asing yang duduk disampingnya.


"Cathy!"


Pria itu melihat Ken dengan mencemooh.


"Dia memilih ku."


"Cat-thy!"


Cathy berjalan bersama pria asing itu, tanpa memperdulikan suaminya yang menggeram pada nya dan pria yang kini berjalan disampingnya. Setelah melewati gang Cathy membuang nafasnya, pria itu terus terdengar mengoceh tanpa dia perhatikan.


"Hei!"


Cathy menoleh dengan malas,


"Apa kau tidak mendengarkan ku bicara tadi?"


"Semua omonganmu membosankan. Aku pergi." Cathy melangkahkan kaki nya. Pria itu menahan lengannya.


"Hei, jadi kau pergi denganku karena pria itu? Dia sungguh suamimu?"


Cathy narik tangannya, "Itu bukan urusanmu, suasana hatiku sedang buruk jadi menyingkir lah."


"Wahh, kau membuatku bersemangat wanita cantik. Ayo temani kakak main sebentar." ucap pria itu dengan seringai mesum. Cathy melirik sinis padanya.


"Tidak tertarik."


"Kalau begitu aku akan menarikmu dengan paksa." menyeringai dengan mata pemburu napsu.


"Jangan salahkan kami jika sedikit kasar." seru seseorang yang lain dibelakang pria itu.


____^_^____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih


salam

__ADS_1


🥰☺️


__ADS_2