Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 44


__ADS_3

Caty dan Ken berlari ke ruang utama, Mata Cathy membulat sempurna, dilihatnya Honey terjerembab di lantai dengan dua orang bocah yang menindih tubuhnya.


Satu mencapit leher dan menarik tangan Honey, satu lagi memeluk kaki kiri honey. Kaki bocah itu menjejak tepat di selanggkaangan Honey. Wanita, eheemm, pria malang itu menjerit tak karuan.


"Sean! Kian!"


"Beraninya wanita ini berada di apartemen Abang Om." Sean.


"Kak! Kami sudah meringkus penyihir ini untukmu!" Kian.


"Twins! Turun dari sana!" pekik Cathy histeris.


***


Kian dan Sean berlutut dengan tangan yang terangkat keatas. Mulut mereka cemberut. Ken duduk di sofa tamu dengan Menahan geli, sedang Henri merintih ngambek. Cathy tentu saja merasa tak enak dan bersalah atas kelakuan kedua adiknya itu.


Honey menatap sengit pada Caty juga pada twins yang sedang di hukum kakaknya.


"Kalian satu keluarga punya dendam apa padaku?" teriak Honey kesal."Tadi kau! Sekarang adikmu!"


"Sudahlah Henri! Mereka ini hanya anak-anak. Seberapa besar sih tenaga mereka!" Ken bersuara membela twins.


Henri melirik sadis pada Ken. "Kau sebenarnya saudara siapa?"


"Maaf kak, aku akan menghukum mereka. Tolong maafkan kami.." mohon Cathy dengan tangan yang ditangkupkan didepan dadanya. "Hhuuuummm??"


Honey menyentak nafasnya kesal.


Ken tersenyum geli melihat pada Twins,


"Ayo berdiri. ikut Om kebelakang, Om punya makanan enak."


Wajah Twins sumringah kegirangan. Keduanya melirik Cathy meminta ijin.


"Nggak usah melirik kakakmu! Ayo ikut aja." Ken menarik tangan Twins bersamaan.


"Hoorrreee...."


"Abang Om, terima kasih. Kak Cathy suka kelewatan kalau menghukum!" Adu Sean mengikuti langkah Ken ke dapur.


"Oh ya?"


Ketiga pria itu sudah tak terlihat lagi. Cathy merasa canggung melirik Honey.


"Maaf kak."


"Haaaahhh!!" menyentak nafas kasar."Pokoknya aku menginap disini sebulan!"


Cathy melemas pasrah. Wajah gadis itu berubah jadi lesu.


Sebulaann??


***


####


Hari H


Kay berjalan keluar dengan gaun merah muda selutut, yang melebar di bagian bawahnya. Malvin tersenyum melihat anak gadisnya secantik itu.


"Kamu akan jadi bintang yang paling bersinar malam ini."puji Malvin mengacungkan jempolnya.


Kay tersenyum dengan pipi yang merona.


"Gara sangat beruntung..."


"Dia bertunangan dengan gadis lain malam ini, Dad." Ucapan Kay membungkam Malvin. Memang benar, malam ini Gara bertunangan dengan gadis bernama Sanum. Dan Kayla datang untuk itu.


Kay berjalan melewati Malvin, membuka pintu penumpang mobil dibelakang Daddy-nya.


"Ayo berangkat." senyum Kay menelusupkan tubuhnya memasuki mobil berwarna putih.


Malvin mengantar Kay menghadiri acara pertunangan kekasihnya. Sesekali Malvin menoleh pada anak gadisnya. Kay hanya menatap keluar jendela. Tanpa suara apapun keluar dari mulutnya.


"Kau baik-baik saja, Nak?"


Kay menoleh dengan senyum tipis diwajah cantik nya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus tidak baik-baik saja."


"Entahlah Kay, Daddy pikir kau terlalu memaksakan diri. Terlihat tegar di luar, namun rapuh didalam. Seperti Ibumu..."


Kay terdiam sesaat.


"Dad, Jikalau aku menangis sekarang pun, itu tak akan merubah apapun."


"Tapi Kay, setidaknya, kau mengurangi sedikit sesak di dadamu jika kau menangis." ucap Malvin masih fokus pada jalanan.


"Apa gadis kecil ku ini sudah tak ingin menangis lagi didepan Daddy-nya?"


"Aku tidak bawa make up Dad, air mata akan merusaknya. Aku harus terlihat lebih cantik dari gadis tunangan nya."


Malvin mengulas senyum kecil. Tangannya terulur meletakkan set make up di dasboard.


"Daddy bisa membantumu mempercantik lagi." ucap nya.


Kay tertawa geli. Malvin menepikan mobilnya, menatap prihatin pada Kay. Yang hingga sejauh ini tak menunjukan air matanya.


Mata gadis itu berembun, tawanya berubah menjadi isakan kecil. Butir bening meluncur bebas dari indah bola matanya. Rasa sesak yang terus menghimpit dadanya menyeruak dengan tiba-tiba.


Malvin melepaskan sabuk pengaman nya, menarik tubuh Kay dalam pelukannya.


"Menangis lah sayang..." ucapnya mengelus kepala Kay yang sesenggukan di dadanya.


"Sejak awal jika bukan karena aku, kau tak perlu mengalami ini. Maafkan aku, Nak." Batin Malvin dengan mata yang berkaca. menatap keatas agar air matanya tak jatuh.


Setelah sekian lama menangis, Malvin membantu Kayla merias wajahnya lagi. Seperti yang Kay katakan sebelumnya, dia harus terlihat lebih cantik dari Sanum.


Tentu saja,tanpa make up pun, Kay sudah cantik. Apa lagi dengan full make up ala Malvin yang jauh lebih sempurna polesannya.


"Lihatlah!" Malvin memegangi kaca didepan wajah Kayla. Agar gadis itu bisa melihat hasil dari riasan selama beberapa menit itu.


Kay terkesima. Hasil dari make up an Daddy nya bahkan mengalahkan make up artis profesional.


"Aku tidak tau Daddy bisa merias sebagus ini."


Malvin terkekeh,


"Sekarang sudah lebih baik?"


"Heemmm.." angguk Kay.


"Baiklah.. Ayo kita pergi."


Malvin mengemudikan mobilnya hingga ke hotel tempat Gara dan Sanum bertunangan. Mereka memasuki Hall yang begitu luas dan megah.


Daniel saat itu sedang berbincang dengan ayah Sanum. Laos mendekat dan berbisik kepadanya.


"Tuan, Nona Kayla sudah tiba, bersama Malvin."


Daniel mengulas senyum puas dan menang.


"Bagus! Ini akan jadi pukulan telak buat gadis itu." gumam Daniel,"Berani sekali gadis seperti nya bermain-main denganku."


Daniel kembali tersenyum,


"Permisi, Aku masih harus menyambut tamu yang lain.." pamit Daniel pada ayah Sanum.


"Silahkan."


Daniel berjalan mengikuti Laos yang membawanya pada Kayla yang sedang berdiri dengan segelas minuman ditangannya. Disampingnya juga berdiri Malvin, Sang Daddy yang selalu menjadi pelindung dan teman bagi anak sambungnya itu.


"Waaahh,, benar-benar gadis yang berani dan kuat." puji Daniel mendekat pada Kayla. "Kau benar-benar datang."


Malvin menatap Daniel tajam, jelas Daniel hanya mencemooh. Kay mengulas senyum termanisnya.


"Terima kasih, Paman. Saya sangat menghargai pujianmu."


"Yaahh, walau aku sedikit kecewa, kedua orang tuamu lebih mementingkan diri mereka sendiri dibanding kebahagiaan anak gadisnya."


Kay tersenyum lagi,


"Saya rasa kalimat itu lebih cocok untuk Paman Daniel."


Daniel tergelak..

__ADS_1


"Hahahaha.... Aku suka dengan mu, sayangnya kamu tidak berjodoh dengan Gara." ujar Daniel dengan pandangan merendahkan."Yah, aku masih harus menyambut beberapa tamu penting. Nikmatilah malam ini."


Daniel melangkah pergi dengan senyuman diwajahnya.


"Jangan lepaskan pandangan mu pada iblis kecil itu."


"Baik Tuan." tunduk Laos.


***


Malam itu, Gara terlihat tampan dengan setelan tuksedo yang melekat ditubuhnya. Gara berdiri di panggung, disampingnya Sanum dengan gaun berwarna putih yang merekah lebar sampai ujung kaki. Terlihat cantik bagai putri kerajaan.


Gara tak menampakkan ekpresi apapun. Hanya datar dan dingin. Berbanding terbalik dengan Sanum yang terlihat begitu bahagia.


Gara mengambil nafas dalam. Mata Gara melebar. Dia terkejut, melihat Kay berdiri tak jauh panggung.


Gadis itu hanya diam menatap nya. Hati Gara bergetar, serasa perih menelusup didadanya. Mata Gara menatap sedih pada gadisnya yang begitu tegar berdiri didepan menyaksikan nya berada diatas panggung dengan gadis lainnya.


"Silahkan, tuan muda Gara untuk menyematkan cincin di jari manis Nona muda Sanum." ucap sang MC.


Gara menelan ludahnya, netranya kembali melihat Kay. Gadis itu masih melihat padanya.


"Apa yang kau lakukan Kay. Kenapa kau berada disini? Jangan melihat kemari.. "


Gara menelan ludahnya kasar. Jarinya mengambil cincin yang disodorkan kepada nya. Tangannya menyusupkan cincin diujung jari Sanum.


"Kenapa kau bahkan tidak mengedipkan mata mu?"


Mata Gara masih terus menatap wajah Kayla. Sanum melihat kearah mana Tunangan nya itu melihat.


"Gara.... Kemana arah pandanganmu? Tak bisakah kau melihat pada ku?"


Gerakan Gara tiba-tiba terhenti. Tepat saat cincin itu masih diujung jari manis Sanum.


"Aku tidak bisa." ucap Gara menarik kembali cincinnya.


"Apa?"


Mata Gara melihat pada Kayla. Gadis itu masih melihat padanya. Tanpa ekspresi apapun.


"Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Maaf.."


Gara mengambil langkah lebar menuruni panggung.


"Ga-ra!!"


Daniel merasa geram dengan sikap dan ucapan Gara. Tentu saja itu merusak rencana nya. Mata Daniel melirik Laos, dengan gerakan kepalanya memerintahkan bawahannya itu untuk menghentikan anaknya.


Beberapa orang datang menghadang langkah Gara, tanpa aba-aba Gara melayangkan tinju. Hingga orang itu jatuh tersungkur. Gara mempercepat langkahnya, menarik lengan Kayla. Salah satu orang Daniel kembali menghalangi langkahnya, Gara melakukan tendangan memutar. Orang itu terjerembab.


Gara menarik tangan Kay membawanya lari keluar hall room..


"Bodoh! Kejarr!" suara bariton Daniel memenuhi seluruh ruangan.


Beberapa orang berlari mengejar, Malvin menekan Earphone di telinganya.


"Lindungi Nona muda Kayla." Ucapnya memberi instruksi.


"Kau! Datang kemari untuk merusak pertunangan anakku hah?" tuduh Daniel geram. menuding Malvin.


Malvin tergelak..


"Apa kau lupa kau yang memberi kami undangan. Dan apa matamu buta? Anakmulah yang menculik putriku sekarang." ucap Malvin tak kalah lantang, "Mau aku bawa kemana kasus ini?"


____^_^_____


My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


salam hangat


☺️

__ADS_1


__ADS_2