Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
Bab 11 ¤ Kencan Kay dan Gara ¤


__ADS_3

"Tuan!"


"Ada apa? Kau mau mengeluh soal Catty?"


"Lupakan kalau itu!" Malvin sudah cemberut saja. Kesal dengan anak gadis nya yang satu itu. Malvin menyenderkan punggungnya di kursi kebesarannya itu.


"Bukan, Tuan Malvin." Ken menyerahkan tablet yang di bawa nya. Malvin mengulurkan tangan dan menerimanya. Lalu melihat pada layar tablet itu. Netra nya langsung melebar.


"Apa ini?"


Malvin mendongak menatap Asistennya itu.


####


Malvin dan kenan berjalan dengan langkah lebar menuju ruang rapat darurat. Dalam perjalanan, mereka sempat terlibat percakapan.


"Bagaimana bisa kita diretas lagi? Bukankah Seven dan Kay sudah memberi proteksinya?"


"Entahlah, kali ini sepertinya lawan kita kuat."


"Apa kau tak bisa memanggil Seven?"


"Dia, menghilang." ucap Ken,"Aku tak bisa menghubunginya sejak hari itu."


Malvin mendesis.


###


Minggu pagi. Kayla yang selesai membersihkan diri itu keluar dari kamar mandi, dengan bathrobe ditubuhnya. Gadis belia itu tampak sangat bersemangat dan ceria.


Kay mengeringkan rambutnya dengan hairdyer. Selanjutnya memilih-milih baju, menempelkannya di tubuhnya satu persatu, dengan melihat diri di cermin. Lalu melempar begitu saja di atas ranjang.


Kay turun dari lantai dua dimana kamarnya berada. Menuruni anak tangga dan berhenti di ruang keluarga. Semua berkumpul disana. Kay mendekat untuk menyapa.


"Kay? Kau mau kemana?" tanya Embun heran melihat Kay begitu cantik dengan dandan make up tipis di wajahnya. Gadis itu memakai sweater lengan panjang berwrna krem, dengan dipadukan rok rample selutut. Serta sepatu Cats warna senada.


"Waahh. putri Daddy cantik sekali."


Kay tersenyum malu.


"Apa kak Kay akan berkencan?"


"Benarkah?" Daddy Malvin tersentak kaget.


"Dengan siapa? Anak mana? Apa dia seumuran atau pria tua seprti Kenan?"


"Daddy!!" jeritt Catty kesal.


"Tidak! Aku hanya mau keluar sebentar."


"Jelaskan dulu dia laki-laki seperti apa?"


"Haaa... yang jelas dia tak mungkin laki-laki mesum seperti Daddy." oceh Catty mencemooh.


Malvin melirik tajam pada Catty.


"Yaahh, setidaknya Kay tidak sampai mengintili pria tua sampai kekantornya. Dan sampai sekarang masih tidak membuahkan hasil. Iya kan sayang?" sindir Malvin melirik anak gadisnya yang satu lagi.


Catty menatap tajam penuh permusuhan pada Daddy nya. Begitupun dengan Malvin. Ayah dan anak itu justru perang tatapan saat ini.


"Hentikan kalian berdua."Embun menepuk punggung suaminya.


"Hati-hati di jalan kay, dan jaga dirimu baik-baik heemm?" ucap Embun menatap lembut anak gadisnya."Perkenalkan dia pada kami jika kalian sudah siap."


"Iya buu.."


Kay mennyalimi dan mencium tangan ibunya. Lalu berganti mencium tangan Dady Malll. Setelah berpamitan Kayla melangakh keluar dari ruang keliarga.


Dengan lemas Caty membalas lambaian tangan Kay.


Haaahh.. Aku yang sudah berjuang lama malah stuck di sini-siini aja. Kay malah sudah mulai berkencan. Omm Kenan, kenapa kau sulit ditaklukkan? batin Catty nelangsa.


###


Di natural nasional park.


Gara melihat jam dilengannya. Lalu melihat ke pintu masuk, beralih melihat ke jalanan, dimana Kay diperkirakan akan muncul. Di tangan pria itu tergenggam dua tiket masuk kedalam taman hutan nasional.


Setelah menunggu beberapa saat yang ditunggu akhirnya menampakkan diri. Senyum terukir diwajah tampannya.


"Apa aku terlambat?"


Kay membungkuk bertumpu tangan pada lututnya. Gadis itu mengatur nafasnya karena sempat berlari tadi.


"Tidak! Aku yang datang terlalu cepat."


"Benarkah?"

__ADS_1


Kay menegakkan punggungnya.


"Ayo masuk! Mumpung masih pagi."


Gara mengulurkan tanganya. Dengan senyum manisnya Kay menyambut tangan pria yang pernah mengajarinya meretas itu.


Didalam taman NNP itu, Kay dan Gara berjalan setapak demi setapak melewati gundukan bertingkat dari tanah. Menikmati pemandangan hijau dan suara kicauan burung yang syahdu. Semilir angin membawa sejuk menembus pori-pori kulit mereka.


"Dimana rumahmu, seven?"


"Jangan tanyakan itu, aku tidak punya rumah."


"Kau tinggal dimana?"


"Dimana pun."


Kay cemberut, Gara sama sekali tidak memberi celah informasi tentang dirinya.


"Berhenti menyelidiki tentang aku, kau tidak akan dapat apa-apa."


Kay menunduk. Gara tersenyum tipis melihat Kay. Dia meraih tangan gadis itu, menggenggam dan memasukkannya ke saku jaket yang dia kenakan.


"Pagi ini masih sangat sejuk."


"Aku memang alergi dingin."


Wajah Kay memerah merasakan hangatnya genggaman Gara di dalam saku jaket pria itu.


"Oohh ya? Kenapa memakai rok setinggi itu?"


Wajah Kay semakin memerah saja.


"Aku tidak bisa meminjamkan celanaku padamu. Lain kali pakailah celana panjang."


"Aku pikir kita hanya akan berjalan ditaman bukan di hutan seperti ini."


"Udahlah! Ayo percepat langkah agar tidak kedinginnan."


"Eemm...."


"Pemandangan diatas lebih indah. Kau akan bisa melihat awan di bawah kakimu. Dan kota kecil dibawahnya lagi."


Seperti yang Gara katakan, pemandangan diatas sangat bagus. Bener-benar seperti di di negri atas awan.


"Indahnyaa..."


Kay menghirup udara yang masih murni itu dalam-dalam. Mengganti oksigen di paru-parunya.


"Minumlah dulu."


Kau membasahi tenggorokannya yang kering kerontang efek daei perjalanan ke atas. Setelahnya, gadis cantik itu memberikannya pada Gara kembali.


Kay menatap lagi lautan awan dan kota kecil dibawahnya. Dia masih merasa takjub saja. Kay menoleh kesamping. Gara sedang menenggak mineralnya, lalu pria itu menuangkan sisa airnya ke wajahnya. Hingga basah dan terlihat begitu mempesona di mata Kay.


Gara mengusap wajahnya, dengan sedikit mengibaskan kepala beberapa kali untuk mengurangi air di rambutnya. Gara menutup botol meneral dan menoleh, beradu tatap dengan Kay. Gadis itu menjadi malu dan memalingkan wajahnya yang memerah, melihat lagi kota2 dibawahnya.


Hari menjelang sore, Gara dan Kay memutuskan untuk turun. Hanya membutuhkan dua jam untuk turun lagi. Menurut perhitungan, mereka akan sampai di bawah pukul empat sore. Masih sempat kembali sebelum petang.


Ditengah perjalanan. Gara merasakan pegerakan yang tak biasa. Pria itu melirik kekiri dan kekanan. Sepertinya dia sedang di ikuti oleh pria- pria ber baju hitam. Wajah Gara berubah menjadi serius.


"Kay!"


Kayla menoleh,


"Masih sanggup untuk berlari?"


Wajah Kay menyiratkan tanya. Gara menarik tangan Kay untuk semakin turun, Namun ditengah perlariannya, mereka dihadang oleh sekelompok pria berbaju hitam lagi. Dengan cepat Seven menarik Kay kesisi kiri. Berbelok ke arah hutan yang tanpa pijakan yang dibuat.


Kay dan Seven berlari melintasi semak-semak tanpa tau arah. Mereka juga msih dikejar.


"Gara!"


"Gara! Siapa mereka?"


"Orang jahat."


"Kenapa mereka mengejar kita? Apa salah kita?"


Gara menarik tangan Kay bersembunyi ke salah satu pohon yang agak besar. Mereka berjongkok, dengan tangan yang masih saling menggenggam. Gara memeluk tubuh Kay.


DEG!


DEG!


DEG!


DEG!

__ADS_1


Jantung terponpa dan berdetak dengan sangat cepat. Mungkin karena telah berlari, mungkin juga karena takut akan tertangkap oleh pria berbaju hitam yang kini mencari-cari mereka dibalik pohon. Atau mungkin juga, ada perasaan yang lain.


Pria-pria berbaju hitam itu pergi karena tak mendapati kedua mangsanya, memutuskan kembali.


Kay dan Gara bernafas lega. Netra keduanya beradu, dengan cepat Gara mengalihkan pandangannya dan melepaskan pelukan ditubuh Kay. Juga dengan genggaman tangannya, perlahan dia lepaskan.


"Ki-kita kembali lewat jalur lain."


Gara berdiri untuk memimpin.


****


Beberapa saat lamanya, hari mulai gelap. Kedua orang itu masih berputar-putar dihutan. Tidak juga menemukan jalan kembali, ataupun rumah penduduk. Tangan Kay mulai dingin. Seven melepas jaketnya dan menyelimutkannya ditubuh Kayla.


"Pakailah jaketku dulu."


Kayla memakai jaket Gara. Tubuhnya masih menggigil. Gara melirik gadis disampingnya itu.


Apa sebaiknya beristirahat dulu? Tapi jika tidak bergerak tubuh akan semakin dingin.


"Aaaaarrrrhhhhh...." jerit Kay, Gara segera menarik tangan Kay, Namun keseimbangannya hilang, hingga keduanya malah tergelincir dan berguling bersama, jatuh kedalam sungai yang cukup dangkal.


"Kay! Kamu nggak apa-apa?"


Tubuh keduanya terduduk diair sungai setinggi lutut.


"Airnya dingin."


"Ayo naik."


Gara mengulurkan tangannya. Kay pun menyambutnya. Kay menjejakkan kakinya di dasar sungai.


"Aaaaawww...."


"Ada apa?"


"Sepertinya, kaki ku terkilir."


Gara menatap iba pada Kay. Kenapa kencan mereka malah berakhir begini. Dengan hati-hati Gara menggendong Kayla. Mata Gara mengedar keseluruh lokasi itu. Disebrang sungai, samar terlihat gubuk.


"Kita kesana. Ada rumah kecil, siapa tau ada orang."


Kay mengangguk pelan.


Gubuk itu kosong, banyak debu dan sarang laba disana sini.


"Sepertinya lama ditinggalkan."


"Lebih baik dari pada tidur diluar."


Gara menurunkan Kay.


"Berdiri sebentar."


Gara mengelilingi rumah yang hanya ada dua ruangan itu. Setelah mencari. Gara mendapatkan selembar selimut tipis dan tikar anyam bambu yang sudah koyak dan lusuh.


Gara membuat perapian dengan kayu yang ada dirumah itu, Dia melepas kausnya, dan menjemurnya di dekat perapian. Gara melirik Kay.


"Bajumu basah."


"Aku tau."


"Tidak baik memakai baju basah ditengah gunung sperti ini."


Kay tak menghiraukan. Bagaimana mungkin dia melepas baju ditubuhnya, sedang ada seorang pria bersamanya?


"Kau bisa terkena hypo jika keras kepala. Pakai selimut ini untuk menutupi tubuhmu."


Gara melempar selimut pada Kay. Dia berbalik membelakangi gadis itu.


"Aku tidak akan mengintip."


Lama Gara menunggu. Tapi tak ada pergerakan dari Kay. Hanya suara racauan tidak jelas dari balik punggungnya. Gara menelan ludahnya. Dia berbalik.


Melhat Kay sudah menggigil hebat dan meracau tak jelas. Gara menyentuh tubuh Kay, wajahnya langsung berubah. Bibir Kay mulai sedikit membiru.


Hypo! Jangan ! Kumohon!!


____^_^____


My readers, mohon dukungannya ya, biar othor semangat up terus ngk bolong-bolong. 😣


like


komen


ma kasih...

__ADS_1


😊


________


__ADS_2