
Kayla melangkahkan kakinya memasuki vila Daddy dan mommy nya. Ia hanya sendiri tidak ditemani oleh Gara, suaminya. Saat Kayla pergi, Gara sedang pulas sehingga Kay memutuskan untuk kembali kerumah Daddy Malvin seorang diri.
"Twins."
"Twins."
Kayla memanggil-manggil kedua adik kembarnya.
"Sean! Kian!"
Kay mengetuk pintu kamar Twins yang ternyata mereka kunci. Kay pun tak bisa masuk.
TOK TOK TOK
"Twins."
Pintu dibuka, Sean tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih.
"Ka Kay udah datang. Ayo masuk kak."
"Kenapa dikunci?" Kayla melenggang masuki kamar adiknya.
"Biar nggak ada yang sembarangan masuk."
Kay menjitak kepala adiknya. Kay melihat kondisi kamar si kembar. "Twins, sepertinya ada yang harus kita bereskan."
"Apa? kamar kami tidak seberantakan itu kak." protes Kian mengendikkan bahu dengan tangan terbuka.
Kay mengulas senyum. "Bukan. Kita butuh markas."
Kayla dan Twins menata ulang kamar Kayla, membuat sekat di ruang ganti Kayla dengan menderetkan lemari.
"Huuuffff, ternyata tenaga kita saja kurang."
Kayla ngos-ngosan setelah menggeser satu lemari bersama twins.
"Aku cari bantuan kak." usul Sean.
"Tunggu." tahan Kayla memegang tangan Sean."Bantuan siapa?"
"Jo?" ucap Sean dengan mata polosnya.
"Hmm, Jo, sepertinya dia bisa dipercaya."
Sean keluar dari kamar Kayla untuk mencari Jo, saat itu ia berpapasan dengan Catty.
"Kau mau kemana bocah?" Cathy asal menyaut tubuh Sean, memitingnya dan mentoyor kepalanya.
"Aaaarrrgg, kak Cat."
"Jawab, kamu mau ngapain?"
"Uuuggghh..."
.
.
.
Sean membawa Cathy masuk keruang ganti, dimana disana ada kian dan Kay yang sedang menata ruang. Mereka terkejut melihat Cathy.
"Wuuaahh, pesta apa ini?"
__ADS_1
"Kau mengagetkan saja Cat." Kay yang terkejut melihat Cathy tiba-tiba masuk itu bernafas lega.
"Apa yang akan kalian lakukan?"
"Membuat ruang rahasia."
"Ruang rahasia?" tanya Cathy heran."Ini ruang pribadimu, bagaimana jika saat kamu bercinta mereka keluar dari ruang rahasia? Itu tidak bagus untuk perkembangan otak mereka."
"Kau punya saran?"
Cathy mengulas senyum yakin.
"Tentu saja."
Beberapa saat kemudian diruang paling ujung Vila Keluarga Malvin.
"Disini?" Kay dan juga si kembar melihat gudang tak terpakai itu berkeliling.
"Ini cocok sebagai tempat rahasia." Senyum puas tampak terukir diwajah Cathy.
"Okey, ayo kita bekerja anak-anak."
Setelah hampir seharian bekerja akhirnya ruang rahasia itu bersih dan disulap menjadi ruang kontrol tempat Kayla dan Twins bergerak.
"Hmm... sampai dimana perkembangan perusuh di perusahaan Daddy?" Cathy.
"Mereka menanganinya dengan baik." Kay.
"Oh ya?"
"Jadi, adik kembar ku sekarang seorang hacker juga?" Cathy melirik kedua adik kembarnya dengan senyum bangga.
"Kalau begitu, Kaka juga akan mengajari kalian bela diri. Itu juga penting."
...****************...
"Kau kemana saja? Kenapa telponku tidak kau angkat?"
"Aku sudah meninggalkan memo di nakas. Kalau aku pergi mengunjungi Twins." Kay sedikit bingung dengan reaksi Gara yang berlebihan.
"Tidak ada suatu apapun yang terjadi padamu kan?"
"Heemm... Apa yang kami khawatirkan?"
"Syukurlah." Gara menatapa wajah istrinya yang justru bingung dengan sikap suaminya itu."Tempat ini sudah tidak aman."
"Apa? Kenapa?"
"Kita pergi dulu." Gara menarik tangan Kay berganti mobil jenis lain dan membawanya menjauh dari Vila itu. Gara memancangkan pandangannya kedepan. Sesekali ia melirik Sepion. Memang terlihat ada beberapa mobil yang juga mengikuti. Gara melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
"Gara, apa yang terjadi?" Kay mulai gusar melihat sikap Gara yang terlihat lebih cemas dari biasanya.
"Kay, dengarkan aku. Kita akan hidup berpindah-pindah, dan tidak bisa sembarangan kembali kerumah. Orang-orang Daniel mengikuti kita, dan masih ada beberapa yang lainnya."
Kayla tercengang,"Maksudmu.... Apa karena aku kembali ke rumah mereka jadi tau keberadaan kita?"
"Heemmm."
Kay tercengang, menutup mulutnya.
"Gara, maafkan aku, aku tidak ..."
"Jangan berfikir terlalu keras, kamu harus menjaga diri. Aku akan membawamu ketempat yang lebih aman setelah mengecoh mereka."
__ADS_1
Gara tiba-tiba membelokkan kendaraannya. Sampai ditempat tertentu ia berhenti memarkirkan mobilnya dengan rapi, lalu menarik Kayla keluar. Gara berganti mobil yang berada di depannya. Sebelum orang yang mengikutinya sampai ditempat itu.
"Apa mereka masih akan mengikuti kita?" tanya Kayla begitu berada didalam mobil baru yang berjalan.
"Kurasa tidak. Gantilah pakaian mu."
Gara menyerahkan paper bag pada Kay.
"Ganti? Disini?"
Gara tersenyum lucu. "Kau akan terbiasa setelah beberapa lama bersamaku."
"Baiklah, lagi pula mobil ini bergerak, siapa juga yang perduli." gumam Kay mengganti pakaiannya.
"Kay, kemampuanmu menembak sudah cukup bagus. Tapi nanti ditempat yang baru kamu masih harus sedikit berlatih merefil peluru."
"Baiklah, aku ikuti saja apa maumu."
Setelah berganti pakaian dan berganti mobil lagi, akhirnya mereka berhenti di sebuah vila yang lebih terpencil diatas bukit tak jauh dari laut.
"Disini lebih bagus." seru Kay melihat sekeliling."Bagaimana kamu bisa memiliki tempat persembunyian sebanyak ini?"
"Sudah kujelaskan padamu, aku bukan orang biasa."
"Ck! Benar-benar sombong."
"Ayo masuk."
Malam itu Gara memperkenalkan beberapa jenis senjata pada Kayla, juga bagaimana cara menggunakan nya. Cara merefil dan menembak dengan lebih akurat lagi. Hingga tanpa terasa sudah hampir tiga hari mereka tinggal disana dengan tenang.
Kayla melihat test pack yang baru saja dia pergunakan. Karena yang sebelumnya tertinggal di vila yang lain. Kay sangat ingin menunjukkan pada suaminya, tapi, ia ingin memberi kejutan pada Gara.
"Bagaimana caraku memberikan padanya Dengan romantis ya?" Kay tersenyum, "Besok saja saat makan malam."
Kay menyimpan test pack nya di laci nakas. Lalu mematikan lampu tidur dan membaringkan tubuhnya disisi sang suami. Setelah ia cukup lelap, Gara membuka matanya. Melirik Kayla. Gara turun dari ranjangnya, membuka laci dimana Kayla menyimpan test pack nya. Gara mengulas senyum diwajahnya melihat dua garis disana.
"Ayah, Mari kita selesaikan malam ini."gumamnya dengan sorot mata tajam.
...****************...
Laos menyelipkan Beberapa senjata api di tubuhnya. Ditangannya menggenggam pistol. Tatapan matanya yang tajam melihat kedepan.
"Kapten Laos."
seseorang menunduk padanya dibalik tubuh kekarnya.
"Semua sudah siap."
"Baiklah, bergerak sekarang." titahnya berbalik dan melangkah lebar.
____^_^____
Readers, jangan lupa dukung si Othor ya
like
komen
vote
gift
terima kasih
__ADS_1
salam
đĽ°âşď¸