
Wajah Kayla diliputi kesedihan. Rasa sakit tiba-tiba menyeruak menatap pria yang kini berdiri didepan nya dengan senyum manis diwajah dinginnya.
Kay berhambur memeluk tubuh pria yang dia rindui selama ini. Gara membalas pelukan gadisnya.
"Bawa aku pergi. Bawa aku pergi jauh dari sini." pinta Kay dengan Isak tangisnya dalam pelukan Gara.
Gara menghembuskan nafasnya pelan, matanya menyiratkan kesedihan yang sama.
_____
Kayla menyenderkan kepalanya pada kaca jendela jog penumpang depan. Melihat pemandangan alam diluar. Gara melirik melalui ekor matanya. Lalu memancangkan pandangan kedepan. Tak ada percakapan diantara mereka.
Mobil Oren itu melaju, membelah jalanan beraspal yang sepi. Daun daun kering terlindas dan beterbangan oleh kecepatan laju kendaraan yang melintas.
Mobil itu berhenti di pinggiran jalan beraspal yang kanan kiri nya ditumbuhi pepohonan. Disisi mobil Gara terparkir beberapa terdapat danau alami. Airnya begitu jernih dan tenang. Hanya angin yang membuat permukaan nya meliuk-liuk halus.
Gara dan Kayla berjalan santai menyusuri pinggiran danau. Sesekali Gara mengambil batu dan melemparkannya jauh ke ujung danau.
"Aku...." Kayla menghentikan langkahnya. Gara menoleh pada gadis nya.
"Ibu dan Daddy Mal ingin hubungan kita berakhir."
Gara menatap intens Kay. Menunggu gadis cantik dihadapannya menyelesaikan kalimat. Kay mengangkat wajahnya, hingga kedua mata mereka bertemu. Kayla lalu menunduk.
"Minggu ini... Ibu ingin aku bertemu dengan anak dari salah satu kenalannya."
Denyut jantung Gara serasa menyakitkan. Membuat dadanya begitu sesak.
"mungkin ini yang Kayla rasakan saat tau aku akan bertunangan. Rasa sakit yang menyiksa, namun tak bisa berbuat apa-apa untuk meredamnya." pikir Gara menatap gadis yang masih menunduk dihadapannya.
Gara mengangkat tangannya, membingkai wajah cantik Kay dan menegakkan kepala gadisnya. Agar Gara bisa melihat wajah kekasihnya.
"Maafkan aku, Kay."
Mata Kayla mulai berembun, genangan tampak memudarkan pandangannya. Kay menelan ludahnya. Sekuat-kuatnya menekat perih didada.
"Eeeemmmmm...." Kayla menggelengkan kepalanya."Akulah yang minta maaf."
Kristal bening mulai jatuh membasahi pipi. Gara masih menatap intens gadisnya. Dengan jempolnya mengusap pipi Kay. Kedua tangan Gara masih menangkup wajah Kayla. Dengan mimik yang sama sedihnya, Gara mengecup bibir Kayla, dikuti oleh sesapan kecil. Kay pun menyambut. Membalas sesapan kecil Gara.
Isak kecil Kayla mengiringi. Air matanya jatuh lagi. Gara dengan lembut dan perlahan menyatukan bibir dan lidahnya. Jempolnya mengusap pelan pipi Kay yang basah. Tangan Kayla memeluk pinggang Gara. Lidahnya merasai setiap sentuhan lembut daging kenyal tak bertulang. Mungkin, ini adalah ciuman terlama nya dengan Gara.
"Apa yang harus aku lakukan Ga? Aku hanya ingin kamu. Aku..."
Gara menuntun Kayla untuk duduk diatas rumput dimana mereka berpijak. Menatap beningnya air danau didepan.
"Aku tau hubungan antara kita memang sulit. Kita berada di kubu yang berbeda yang hanya saling menyerang."ucap Gara pandangan matanya lurus pada jernihnya air danau.
"Bawa aku pergi Gara. Bawa aku pergi ketempat dimana tidak ada permusuhan orang tua kita. Bawa aku pergi jauh dari ini. Hhheeemmm?" rengek Kay memohon.
Gara tersenyum menoleh pada kekasihnya,
"Aku juga ingin pergi jauh."
"Ayo kita kawin lari saja."
Gara tertegun mendengar permintaan Kayla untuk kawin lari sedikit menggelikan. Gara tersenyum geli.
Kayla memukul lengan Gara. Karena pria itu malah menertawakan nya.
__ADS_1
"Aku akan kembali menemui pria itu saja." kesal Kay mulai akan beranjak.
Gara menahan tangan Kayla dan menjatuhkan tubuh gadis itu ke rerumputan. Memutar tubuhnya sendiri hingga menindih tubuh Kayla.
"Jangan pernah berfikir untuk jauh dariku, ataupun menghianatiku. Kau milikku Kayla."
Gara menyatukan bibirnya, membelit lidah Kayla dengan sedikit agresif. Hingga dia puas merasai semua rongga mulut gadisnya. Bibi Gara berpindah menyusuri leher Kay menyesap ringan tanpa meninggalkan jejak disana.
Bibir Gara berpindah dari leher turun hingga kedada Kay. membuka dua kancing teratas kemeja Kayla. Menyibak hingga sebatas lengan. Menampakkan bahu dan sebagian dada gadis itu. Bibir Gara menyusuri kulit mulus Kayla.
Menyesap kuat pada pundak hingga meninggalkan jejak kemerah-merahan. Menyusuri lagi dada atas gadisnya. Tangan Gara mulai bergerilya, meremas gundukan kenyal di barengi sesapan kuat disana. Kayla melenguh.
"Uuuggghhh..." Tangan Kay menekan kepala Gara hingga pria itu kesulitan untuk bernafas. Samakin kuat tangannya meremas. Gara membuat jarak menatap wajah pasrah Kayla yang menggemas. Tangan kirinya masih tertempel kuat di dada Kayla. Gara membuat gerakan meremas sedikit kuat.
Kayla melenguh. Gara semakin gemas melihat wajah cantik yang memejamkan matanya itu. Perlahan Kayla membuka mata, memandang Gara yang tersenyum nakal dengan mata berkabut.
"Lanjutkan." lirih Kay meminta.
Gara menarik tangannya, membenahi lagi baju Kayla yang terbuka hingga menampakan sebagian dada atas dan pundaknya.
"Gara ..." sebut Kayla. Ada secuil kekecewaan disana.
"Aku menginginkan lebih Kay. Aku sangat menginginkan mu bahkan sampai aku tak bisa mengontrol diri. Aku ingin ...."
"Aku juga." potong Kay.
Gara menatap wajah cantiknya. Tercengang dengan gadis didepannya. Mungkin hubungan kontak fisik mereka sudah terlalu jauh.
"Jangan mengujiku Kay."
"Aku ingin melewati batas bersama mu."Ucap Kay dengan yakin.
Hari sudah semakin sore, Kayla dan Gara duduk diam-diam didalam mobil yang melaju. Menembus jalanan yang tak dilalui kendaraan lain.
Hingga mobil itu berhenti disebuah bangunan mewah bergaya Yunani kuno. Mungkin bangunan itu lebih pantas disebut kastil. Kay memandang berkeliling.
"Bagus sekali..." Kay berdecak kagum.
"Ini salah satu vila pribadiku. Tidak ada orang yang tau tempat ini selain beberapa orang ku."
"Terima kasih sudah membawaku kemari."
"Masuklah."
Gara menggandeng tangan Kayla memasuki bangunan itu. Di dalam begitu luas dan mewah. Begitu berkilau sejauh mata memandang.
"Seleramu mengerikan sekali." puji Kayla dengan senyumnya.
"kau suka?"
Kay mengangguk.
Salah satu orang Gara mendekat. Membungkuk memberi salam.
"Tuan muda."
"Ini kekasihku. Antarkan dia kekamar utama."
"Baik." tunduk orang itu. Memanggil salah satu orang pelayan wanita.
__ADS_1
"Bantu nona ini kekamar utama."
"Baik."
Kayla menatap Gara. "Kenapa."
"Istirahatlah dulu. Aku masih ada sedikit urusan dengannya."
"Baiklah."
Gara memeluk pinggang Kayla memberinya kecupan ringan.
"Uugghh... Apa-apaan dia ini menciumku di depan orangnya begini." pikir Kay sedikit malu.
"Jika butuh apapun, katakan saja padanya." ucap Gara lembut.
"Uummm." angguk Kay.
"Mari Nona." pelayan wanita itu mempersilahkan Kayla dengan tangannya.
Pelayan itu menuntun Kay menuju Kamar utama. Kay melihat berkeliling.
"Siapa namamu?" tanya Kay pada sang pelayan.
"Yuna, Nona."
"Apa kau sudah lama disini?"
"Iya Nona...."
"Kayla. Panggil aku Kayla."
"Baik Nona Kayla."
Kay mengulas senyum.
Sesampainya di kamar utama, ruangan itu didominasi oleh warna putih cerah. Kay melihat berkeliling melihat kamar yang artistik dan mewah itu.
"Aku mau mandi dulu."
"Kamar mandi ada di sisi sebelah kiri." pelayan Yuna menunjuk sisi sebelah dengan tangannya.
"Baiklah. Terima kasih."
Kay memasuki kamar mandi. Dia mengisi bathtub dengan air hangat dan sabun dengan aroma terapi. Sangat wangi dan menenangkan. Kayla menanggalkan semua pakaiannya. Memasuki bathtub dan berendam. Kay memejamkan matanya. Suasana begitu tenang untuk sesaat, Kay mengulas senyum mendengar suara alunan musik soft yang tiba-tiba terdengar ditelinga.
_____^_^_____
My Readers, beberapa bab setelah ini mengandung Hareudang. Skip aja jika mengganggu. Untuk Part-nya akan Othor kasih tanda.
My reader, kasih author ini semangat dong biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
salam hangat
__ADS_1
☺️