Gadis Berdarah Panas

Gadis Berdarah Panas
bab 85


__ADS_3

Kayla duduk termangu di atas kloset kamar mandi. Sesaat dia mengambil benda pipih panjang, ia memejamkan matanya, menarik nafas dalam lalu mengembuskan. Kayla membuka lagi netra nya yang sempat terpejam. Melirik pada benda panjang yang dia bawa kedepan wajahnya. Senyum diwajahnya mengembang.


Gara saat itu tengah menelpon seseorang disamping ranjang kamarnya, saat Kayla tiba-tiba keluar dari kamar mandi, Gara menoleh.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti." Gara memutuskan sambungan telpon. Ia tersenyum melihat wajah cantik istrinya yang begitu berseri, mendekat kepadanya.


"Apa yang membuatmu begitu senang?"


"MMM, aku ingat sangat lapar sekarang. Apa kau mau mengajakku makan diluar?" Kayla memeluk manja pada suaminya. Menatap pada wajah dingin yang menatap dengan hangat.


"Sangat berbahaya untuk keluar sekarang. Kita makan disini saja ya? Kita punya koki terbaik. Mintalah menu apapun yang kamu mau."


"Okey."


###


Malam harinya, Kayla terjaga. Sejak pertempurannya dengan Gara beberapa saat yang lalu, ia belum tertidur. Kayla terlalu bahagia, walau ada sedikit kekhawatiran dihatinya. Kayla mengambil sesuatu di laci nakas samping dia tidur. Itu adalah sebuah amplop berwarna merah jambu dengan pita yang mempercantik tampilannya.


Kayla membukanya, mengambil benda pipih panjang yang tadi membuatnya tersenyum. Dua gadis merah tampak jelas disana. Ia melirik Gara yang pulas disampingnya.


"Sayang, bagaimana reaksimu jika mengetahui ini?" gumamnya lirih mengurut rambut Gara.


Kayla meletakkan kembali bungkus kertas berwarna pink itu kedalam laci dan menyimpannya. Kay pun ikut merebahkan diri disamping Gara dan memejamkan matanya. Netra Gara terbuka, ia melirik Kay yang sudah terlelap. Gara bangkit dari pembaringan melangkah perlahan keluar kamarnya.


"Micky!"


Orangnya yang tengah berdiri diujung tangga menunduk padanya.


"Siapkan baju dinasku."


"Baik tuan muda."


...****************...


Kennan membuka pintu kamar, dilihatnya Cathy yang membungkus tubuh dengan selimut tebal menatap layar datar dengan tokoh-tokoh bermata sipit. Kennan mendekat, dengan segelas jahe hangat. dia duduk disamping istrinya, menyodorkan jahe hangat pada Cathy.


"Minumlah. Ini bisa menghangatkan tubuhmu."


Cathy memajukan tubuhnya, tanpa mengambil cangkir yang Kenan sodorkan. Entah kenapa gadis itu merasa malas saja mau memegangnya. Cathy mendekat kan bibirnya ke cangkir, sedang Kenan mengerti maksud Cathy yang sedang malas dan manja itu. Ia membantu Cathy mendekatkan cangkir kemulut gadis itu.


SRUUPUUTT...

__ADS_1


Suara yang terdengar begitu enak ditelinga. Cathy sedikit menjauhkan bibirnya menelan cairan hangat melewati kerongkongan nya.


"Lagi?"


"UM."


Kennan mendekatkan lagi bibir cangkir ke mulut Cathy.


"Udah Om."


Kennan tersenyum kecil kini giliran dia minum dari cangkir yang sama. Sejenak dalam keheningan.


"Om, "


Kennan menoleh.


"Om, bagaimana kalau aku hamil?" Cathy masih lurus menatap kedepan.


"Kita sudah menikah. Apa yang kamu takutkan?"


"Aku..... Belum ingin punya anak."


Kennan membuang nafasnya.


"Aku....."


Kennan mengusap kepala Cathy, membawanya ke dada dan mengecup punca kepala gadis itu.


"Lakukan apapun yang membuatmu senang. Kami tidak akan menghambat langkahmu. Selesaikan kuliahmu, dan kita pikirkan pelan-pelan."


"Apa Om Kennan tidak marah?" Cathy mendongakkan kepalanya melihat wajah tampan suaminya.


Kennan tersenyum teduh. "Bagaimana aku bisa marah padamu, Cat?"


Ken mengambil dagu Cathy menautkan bibirnya pada Cathy. Memberinya kecupan singkat.


"Om, kalau ibu bertanya gimana?"


"Ibuku?"


"Heemm... Mereka sepertinya sangat ingin cucu."

__ADS_1


"Hmm... aku akan cari wanita lain yang bisa segera hamil dan memberi mereka cucu."


"Apa?" Cathy reflek menjauh dari tubuh Kennan, memukul dadanya beberapa kali. "Kau berniat mau poligami?"


Ken terdiam membatu. Tangan Cathy menelusup masuk ke dalam rongga diantara kaki Ken yang masih mengenakan bathrobe itu. Ken membuka mulutnya, menahan nyeri akibat tangan nakal Cathy.


"Kau mau aku membelahnya jadi dua? Satu untuk ku dan satu untuk maduku." geram Cathy meremes tongkat sakti Kennan.


"Kau kejam sekali...." erang Ken,"Aku hanya bercanda, Cat. Lepaskan tanganmu."


"Tidak mau! Siapa suruh kau menggalaukan hatiku..." Cathy makin kesal meremasnya semakin kuat.


"Cathy Kau...." erang Ken, mendorong tubuh istrinya.


"Aaakkhh!" Cathy terjatuh, hingga cengkraman tangannya terlepas.


"Kau! ngajak main-main Haahh?" Ken menindih tubuh istrinya dan menyeringai. Kedua tangannya menahan lengan Cathy.


"Sepertinya aku harus mengajarimu bagaimana bertata Krama siluman kecil."


Mulut Cathy ternganga, kesempatan untuk Ken menelusup masuk melumatt bibir ranum istrinya. Ken menyatukan kedua tangan Cathy melewati kepalanya. Menekan dan mencengkram kuat. Tangan nya yang lain sibuk merayau kemana-mana. Menjelajahi setiap jengkal tubuh istrinya.


"Om... ummpp.."


"Jangan panggil aku Om..."


____^_^____


Readers, jangan lupa dukung si Othor ya


like


komen


vote


gift


terima kasih


salam

__ADS_1


🥰☺️


__ADS_2